<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048</id><updated>2012-02-12T05:01:07.083-08:00</updated><category term='katawarga'/><category term='FSJ 2009'/><category term='opini'/><category term='agenda'/><category term='kabar'/><category term='bisnis'/><category term='lainlain'/><category term='tokoh'/><category term='potensi'/><category term='cerita'/><title type='text'>DUSUN NGLARAN | DESA CAKUL</title><subtitle type='html'>| kecamatan dongko | kabupaten trenggalek | provinsi jawa timur |</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>113</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-245004296400620346</id><published>2012-02-12T05:00:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T05:01:07.108-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='katawarga'/><title type='text'>MEMULIAKAN GUNUNG BOGANG?</title><content type='html'>"Trenggalek lambangnya Gunung. Orang Trenggalek semangat dan karakternya sekokoh gunung, mengakar ke tanah, tak roboh diterjang angin. Memberi pertumbuhan pada kehidupan"... (Prof. Gendut Suprayitno dalam Sambutan Aksi Sejuta Pohon di Gunung Orang-Arik tadi siang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;--Nurani Soyomukti: Grup "Dewan Kesenian Trenggalek"&lt;/i&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-A_QEjd2M0Go/Tze3xhDLY9I/AAAAAAAAAr4/CYwQ5a26gs0/s1600/Sumber-Gondang-Rayut-di-pun.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="291" src="http://3.bp.blogspot.com/-A_QEjd2M0Go/Tze3xhDLY9I/AAAAAAAAAr4/CYwQ5a26gs0/s400/Sumber-Gondang-Rayut-di-pun.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;--sumber air Gondang Rayut, di lereng Gunung Bogang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya gerakan "memuliakan gunung" seperti itu sangatalah bagus. Kapan ada DIALOG melibatkan aktivis gerakan (dalam bahasa orang kampung saya, "gerakan" = kerja bakti) semacam ini dengan LMDH dan Perhutani? --kampung halaman saya dikepung wilayah "Perhutqani" dulu memang hutan, tetapi sekarang lebih sekadar sebagai ladang yang dieksploitasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terbaca adanya konsep pemeliharaan hutan yang bagus. Menanami kawasan-kawasan tertentu dengan pohon yang "tidak dipanen" (misalnya durian -dipanen buahnya) seperti sudah dilakukan di Watulimo adalah sangat bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tahun 80-an saya masih melihat hutan. Sekarang, sekali lagi, semua di sekitar kampung  halaman saya (desa Cakul, kec. Dongko) menjadi ladang, bahkan puncak Gunung Bogang yang masih ada kaldera-nya itu pun menjadi ladang singkong. Di sini, Gunung tidak dimuliakan, tetapi dinistakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai kesempatan datangnya tokoh-tokoh sekaliber Prof Gendut Riyanto ini di Trenggalek sekaligus dimanfaatkan juga untuk berdialog dengan pihak-pihak seperti saya sebut tadi itu, niscaya pekerjaan yang sangat mulia (menanam pohon) seperti tadi pagi itu akan semakin mendapatkan maknanya. demikian, mohon maaf belum bisa nimbrung dalam aksi nyatanya, dan terima kasih. [BON]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-245004296400620346?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/245004296400620346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/02/bagaimana-memuliakan-gunung-bogang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/245004296400620346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/245004296400620346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/02/bagaimana-memuliakan-gunung-bogang.html' title='MEMULIAKAN GUNUNG BOGANG?'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-A_QEjd2M0Go/Tze3xhDLY9I/AAAAAAAAAr4/CYwQ5a26gs0/s72-c/Sumber-Gondang-Rayut-di-pun.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-7879850028666209849</id><published>2012-02-09T00:17:00.000-08:00</published><updated>2012-02-09T00:27:54.030-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainlain'/><title type='text'>PERTOLONGAN PADA STROKE MENDADAK</title><content type='html'>Untuk kita amalkan, semoga bermanfaat : Orang yg kena STROKE mendadak (jatuh di toilet, di jalan atau tempat2 lain), pembuluh darah ke otak biasanya akan pecah sedikit demi sedikit. Ingat, untuk mengatasi hal ini janganlah gugup/panik.&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika korban berada di tempat kejadian seperti di kamar mandi/ruang tidur/ruang tamu dll. JANGAN di-pindah-pindahkan ke tempat lain, karena akan mempercepat pecahnya pembuluh darah, dan janganlah sampai dia terjatuh lg. Caranya adalah dengan mengeluarkan darah korban dgn menggunakan jarum yg telah dibakar/disteril kan dengan alkohol yg kemudian ditusukkan ke ujung setiap jari masing2 sampai darahnya keluar± 1-2 tetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau darahnya tidak keluar dapat diurut sampai keluar, sesudah itu korban akan sadar setelah beberapa menit kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika korban mulutnya miring, tariklah kedua daun telinganya sampai merah dan langsung tusuk bagian bawah daun telinga dg jarum steril sampai darah keluar ± 1-2 tetes.&lt;br /&gt;Setelah korban sadar dan mulutnya sudah pulih kembali, barulah dibawa ke dokter/Rumah Sakit. Biasanya orang yg terkena STROKE pembuluh darahnya akan lebih cepat pecah karena goncangan dalam perjalanan ke RS/dokter.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-WpL1XBUivjI/TzOBEVjTrkI/AAAAAAAAAqM/onvJ691pP3Q/s1600/stroke-ringan.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="267" width="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-WpL1XBUivjI/TzOBEVjTrkI/AAAAAAAAAqM/onvJ691pP3Q/s400/stroke-ringan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tsb dapat tidak sadar kembali/pingsan dan biasanya akan cacat/lumpuh.&lt;br /&gt;(Kita harus ingat untuk MENGELUARKAN DARAH dari jari orang yg terkena STROKE tsb, maka kita sudah bisa n berusaha menolong orang tsb dari penyakit STROKE).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sebaiknya diteruskan pd tmn2 lain &lt;br /&gt;Maka Tak terhinggalah jasa pahala anda. &lt;br /&gt;Aamiin&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari Pak Dh Abadinar yang mengopipaste tulisan  Yuntri Junaedi/Jakarta untuk menambah pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-7879850028666209849?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/7879850028666209849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/02/stroke-mendadak-pertolongan-pertama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7879850028666209849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7879850028666209849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/02/stroke-mendadak-pertolongan-pertama.html' title='PERTOLONGAN PADA STROKE MENDADAK'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-WpL1XBUivjI/TzOBEVjTrkI/AAAAAAAAAqM/onvJ691pP3Q/s72-c/stroke-ringan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-3481619780642150154</id><published>2012-02-04T03:14:00.000-08:00</published><updated>2012-02-04T03:14:06.747-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainlain'/><title type='text'>WASPADALAH: Gantungan Kunci Jebakan</title><content type='html'>Info dibawah ini saya copas dari teman (Yuntri Junaedi), semoga ada manfaatnya bagi kita semua.&lt;span id="fullpost"&gt;  Info BARESKRIM:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap berhati-hati !! MODUS BARU PERAMPOK : Ada sindikat penjahat menyamar sebagai promotor penjualan yg memberikan Gantungan Kunci Gratis di pompa bensin, tempat parkir di mall2 dan pusat2 perbalanjaan lainnya. Gantungan kunci itu memiliki Chip alat pelacak yang memungkinkan mereka u/ mengikuti Anda. Jangan terima barang dr mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memilih calon korbannya yg berpotensi, &amp; jika Anda menerima, maka Anda sudah masuk perangkap mereka. Gantungan kunci itu memang sangat indah, sulit u/ menolaknya, tapi Anda hrs ingat.&lt;br /&gt;Anda mungkin akan membayar lebih dari harga gantungan kunci tsb, termasuk resiko yg menimpa hidup Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon beritahu anggota keluarga Anda &amp; teman-teman lainnya (y):)&lt;br /&gt;Berita ini sangat PENTING bagi Anda dan Saudara,, juga Keluarga anda..&lt;br /&gt;WASPADALAH...!! [dari aku FB Pak Dh Abadinar]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-3481619780642150154?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/3481619780642150154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/02/waspadalah-gantungan-kunci-jebakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3481619780642150154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3481619780642150154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/02/waspadalah-gantungan-kunci-jebakan.html' title='WASPADALAH: Gantungan Kunci Jebakan'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-4395201331530763834</id><published>2012-01-30T19:08:00.000-08:00</published><updated>2012-01-30T19:08:43.088-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>Gagrag Bonarian</title><content type='html'>&lt;i&gt;Oleh Sucipto Hadi Purnomo&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-wDDWlQB8Vn8/Tyda5Eza5LI/AAAAAAAAAp0/_d4vY_UwXdE/s1600/IMG00477-20111027-2055.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-wDDWlQB8Vn8/Tyda5Eza5LI/AAAAAAAAAp0/_d4vY_UwXdE/s400/IMG00477-20111027-2055.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERCERITA tentang sastra Jawa masa kini, saya merasa mesti berkisah soal Bonari. Bonari Nabonenar lengkapnya. Apa istimewanya? Bonari, jelas nama Jawa, berkesan ndesa pula. Tapi Nabonenar, rasa-rasanya belum pernah ada anak Jawa yang diberi nama itu. Bukan Jawa? Entahlah. Toh saya tak hendak menyoal lebih jauh ikhwal nama, kecuali saya anggap ia bisa menjadi pambukaning warana untuk menyibak gambaran sebagian dari kehidupan sastra Jawa masa kini.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;  Saya mengenal Bonari kali pertama bukan sebagai sastrawan Jawa. Saya dengar nama itu ketika gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman mampir ke kampus saya, IKIP Semarang di Sampangan, tahun 1990. Saya tak ingat benar, dia datang atau tidak, apalagi dengan paras seperti apa. Yang saya ingat, dia salah satu dari sederetan anak muda-sastrawan yang tengah melawan hegemoni pusat dalam hal bersastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari majalah berbahasa Jawa "Panjebar Semangat", sepanjang dekade 90-an, saya makin mengenal nama itu sebagai penulis geguritan dan cerita cekak (cerkak). Saya mengenalnya sebagai sastrawan Jawa, hingga pada tahun 2001 di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, saya tahu dialah salah satu dari penggerak Kongres Sastra Jawa (KSJ). Konon nama lain yang berada di barisan ini adalah Keliek SW, Daniel Tito, Dhanu Priyo Prabowo, dan sejumlah nama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh saya jatuh hati pada KSJ I "pada pandangan pertama". Bukan saja pada spirit perlawanan yang diusung, tetapi pada keguyuban yang kemudian membangun kemandirian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, ketika Kongres Bahasa Jawa (KBJ) dihelat dengan biaya miliaran rupiah dari pemerintah, KSJ justru hadir dari hasil "bantingan". Alih-alih mendapatkan honorarium, para penyelanggara justru harus "cucul dhuwit" untuk transportasi, akomodasi, konsumsi, dan berbagai kepentingan lain. Tak hanya penyelenggara, para peserta, bahkan pembicara pun harus menjalani nasib serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun justru di situlah kemandirian terbangun. Justru karena itulah, KSJ mampu hadir sebagai ajang konsolidasi bagi para sastra Jawa, baik muda maupun senior, untuk terus menghidup-hidupi "tlatah cengkar" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud mengecilkan peran yang lainnya, Mas Bon --begitu biasa saya menyebutnya-- pantas mendapatkan catatan secara khusus. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Surabaya (kini Unesa) ini hampir selalu saya jumpai dalam setiap pertemuan sastra Jawa. Mulai dari Semarang, Ungaran, Yogyakarta, Solo, Bojonegoro, Surabaya, Trenggalek, hingga Tulungagung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari setiap pertemuan, saya makin tahu, dialah pejuang terdepan untuk mengupayakan pertemuan  dan penerbitan buku-buku  sastra Jawa. Saya tak melihat sama sekali upaya "mbathi" dari usaha itu, kecuali malah "nomboki", setidaknya untuk diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, ketika saya bersedia menerima tongkat komando pada KSJ II di Semarang, salah satunya karena "iri" pada Mas Bon. Saya ingin belajar darinya untuk turut berbuat bagi sastra Jawa. Begitu pula tatkala diamanahi teman-teman sastrawan untuk memimpin Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya merasa tak banyak berbuat, saya justru melihat upaya gigih Mas Bon untuk terus-menerus membangun jejaring dengan teman-teman sastrawan dan pencinta sastra Jawa. Penerbitan buku sastra Jawa senantiasa ia upayakan, kegiatan sastra Jawa juga ia dedikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival Sastra Jawa di Desa, yang digelar di Desa Cakul, Dongko, Trenggalek, Jawa Timur 2009 lalu, salah satunya. Saya lihat dalam kegiatan itu, Mas Bon mendedikasikan dirinya "luar-dalam".  Lagi-lagi ya saksikan suasana yang nyaris sama dengan KSJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Anda akan keliru jika menganggap Mas Bon hanya "memainkan" sastra Jawa hanya pada wilayah "ndesa" atau pada ranah domestik belaka. Tidak. Mas Bonlah yang pantas disebut sebagai penggerak utama sasatra Jawa di dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dunia ini menawarkan fasilitas jejaring sosial, Mas Bon membuat grup Sastra Jawa Gagrag Anyar (SGJA). Ribuan orang bergabung di sini. Sebagiannya menjadi kreator sastra Jawa di situ, sebagian yang lainnya menjadi komentator, sedangkan sisanya memilih jadi pembaca pasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat kekuatan dahsyat di sana. Nama-nama baru bermunculan. Sejumlah geguritan yang diunggah bahkan makin membelalakkan mata saya, betapa karya-karya itu memiliki capaian estetis di atas rerata karya-karya yang dimuat di berbagai majalah berbaha Jawa, bahkan yang telah diterbitkan dalam bentuk buku sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grup SGJA saya lihat sebagai sebuah terobosan cerdas, sekaligus bangunan kemandirian, buat sastra Jawa. Keluh kesah tentang sedikitnya publikasi dan penerbitan buku sastra Jawa, sebagiannya telah dijawab oleh forum ini. Sekaligus di sana, tegur sapa kreatif senantiasa terjalin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pada Mas Bon saya melihat daya jelajah itu: desa dan kota, penerbitan dan gerilya, juga nyata dan maya. Mas Bon telah dengan nyata menyuguhkan sebuah gagrag dalam memperjuangkan sastra Jawa. Izinkanlahn saya menyebutnya sebagai gagrag bonarian. [suara merdeka, minggu, 30 Oktober 2011)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-4395201331530763834?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/4395201331530763834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/01/gagrag-bonarian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4395201331530763834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4395201331530763834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/01/gagrag-bonarian.html' title='Gagrag Bonarian'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-wDDWlQB8Vn8/Tyda5Eza5LI/AAAAAAAAAp0/_d4vY_UwXdE/s72-c/IMG00477-20111027-2055.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-4825609629527958228</id><published>2012-01-27T02:21:00.000-08:00</published><updated>2012-01-27T02:21:56.579-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Ukum mung Galak marang Wong Cilik</title><content type='html'>Gek iki jaman apa ta ya? Pendhak melek nonton televisi utawa maca koran, saben-saben mung wong gedhe, para pejabat, padha eker-ekeran rebut bener, rebut kuwasa. Sajak padha lali ayahan kang kudu diemban kadidene pamong, momong rakyat, ngayomi wong cilik. Ukum kang kudu dijejegake kanggo ngudi adil, amrih negara ayem tentrem, malah galak-e mung yen ngadhepi wong cilik. Yen adhep-adhepan karo wong gedhe, pejabat, panguwasa, bebasan nglumpruk tanpa daya.&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saka palapurane media cetak apadene elektronik bisa kinawruhan manawa saiki jantraning ukum ing Indonesia lagi ruwet ora karuwan. Wiwit jamane Sengkon-Karta, prekara wadon tuwa nyolong woh coklat/kakau mung telung iji, Si Kholil sing nyolong semangka siji merga mung prelu arep dipangan ing sawijining awan ngenthang-enthang ing tlatah Kediri, Jawa Timur, prekarane Prita Mulyasari kang malah dilorobake menyang pakunjaran, kamangka niyate mung arep ngudi adil, prekara wong wadon kang trima nggajuli/makili dadi napi ing Bojonegoro, nganti kang dinane iki isih anget dadi rembug: prekara sandhal jepit, kabeh nuduhake manawa ukum ing negara iki mung landhep mengisor, nanging kethul mendhuwur. Kethul mendhuwur, katitk saka prekara-prekara gedhe: BLBI, Century, Mafia Pajek, Mafia Hukum, seprana-seprene isih pijer kompal-kampul ing donyaning pakabaran, ora cetha jluntrunge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wus dikawruhi ngakeh saka maneka-warna sumber pakabaran, kepriye nasibe wong cilik yen wis nyemplung pakunjaran, mlebu bui, apa kuwi pancen murwat karo kadurjanan kang ditindakake apadene mung kalorob merga ora bisa nyewa pengacara gamben kang bisa cilike ngenthengake, gedhene mbebasake saka paukuman. Miturut gotek, ana sing dipilara kaya dianggep dudu manungsa, ana sing trima nglalu gantung dhiri sajroning pakunjaran kuwi, lan liya-liyane. Nanging yen wong gedhe (diarani gedhe  amarga kalungguhane utawa saka akehe dhuwite) bisa nyulap kamar pakunjaran dadi kaya kamar hotel berbintang. Ana uga sing kamar pakunjarane malah mung kanggo ampiran, ing saliyane wektu kanggo nglakoni urip bebas mblakrak tekan ngendi-endi, malah uga nglencer menyang luwar negri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancen angel dinalar. Wong mung nyolong semangka siji wae kok diancam ukuman 5 taun. Rugine sing duwe semangka ya mung saregane semangka siji kuwi. Bisa ora kepetung rugi, kepara malah isih kudu nomboki yen kuwi dilebokake jatah (kuwajiban) zakat –yen kang kawogan nggunakake paugeran mbayar zakat. Utawa, lamon dieklasake kadidene sedhekah, apa kabotan tenan? Sejene kuwi, prayogane wong Jawa kuwi rak ngelingi unen-unen, ”Tuna satak bathi sanak,” ta? Apamaneh sing nyolong semangka kuwi isih klebu tanggane dhewe. Yen olehe ngetung tuna apa bathi ora mung kanthi dhuwit, endi sing luwih aji: semangka siji apa sesambungan paseduluran, kekadangan, rukun karo tanggane?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yen kanyatane kaya mangkono kuwi, apa bisa diarani yen ukum wis bisa nindakake ayahane: njejegake adil? Apa ukum wis ditindakake kanggo ngayomi bebrayan? Apa lembaga pemasyarakatan bisa dadi ”sekolahan” kareben para durjana bisa sinau urip dadi wong becik? Apa malah dadi sekolahan amrih dadi durjana kang sangsaya ”sekti”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gajah Ngidak Rapah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang sangsaya nyedhihake, akeh kadurjanan kang pranyata malah ditindakake dening paraga kang pinracaya nyekel bang-bang pangalum-aluming praja –saka tataran kelurahan nganti sapendhuwur— uga dening paraga-paraga kang dipasrahi amanat mligi kanggo njejegake adil: pulisi, jeksa, hakim. Ngono kuwi rak ya wis aran sungsang bawana balik? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim, jeksa, pulisi, lan paraga-paraga saka bebadan kang ingaran DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) malah akeh kang mlebu pakunjaran. Iku wae mung sing kewiyak. Liyane, sing satemene klebu murwat lamon dilebokake pakunjaran nganti tetaunan, mbokmanawa luwih akeh –tinimbang kang wis dikunjara. Iku kabeh paraga-paraga kang diarani ”Gajah ngidak rapah.” Ya kuwi  paraga-paraga kang duwe wenang gawe lan njejegake ukum, nanging nyatane malah tumindak nerak ukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paraga-paraga kang kudune dadi panutan, tibake malah aweh conto tumindak nistha. Wis bayarane gedhe, tunjangan maneka-warna, urip mubra-mubru, tibake isih akeh kang padha kanthi slinthutan nyaut kene, nyaut kana. Rakyat kaya-kaya wis padha kelangan panutan. Yen wis kaya mangkono, saka ngendi maneh olehe arep nyangkani mangun bebrayan kang kebak kautaman? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana pitutur ing serat Tripama, ora mung tumrap para prajurit, nanging uga kabeh pawongan, luwih-luwih kang sinebut pamong utawa pejabat, narapraja, prayogane ngugemi ” … triprakara: guna kaya purun ingkang den antepi, nuhoni trah utama”. Emane, saiki kaya wis padha kelangan lacak, trah-e sapa sing arep dienut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebungah lan Pidana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing kahanan sungsang bawana balik, ya jaman sungsang-sarik, wong nistha malah dialembana, dene sing tumindak utama malah disiya-siya, dipilara, dipidana. Iki kaya janturane ki dhalang nalika miwiti adegan Gara-gara. Mbokmanawa kahanan saiki iki memper karo Gara-gara ing pakeliran. Alam-e murka, lindhu bumi gonjing, gunung njeblug, pereng jugrug, samodra rob, banjir, udan salah mangsa, lan sapiturute. Manungsane ya padha bilulungan kaya gabah deninteri. Laku durjana mratah ing ngendi-enti, sedulur manjing satru, memungsuhan, paten-pinaten kaya padha ora ngreti tata. Sing jeneng demonstrasi dumadi saben dina. Rakyat adhep-adhepan karo aparat, aparat malah sok tawur karo sapepadhane aparat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ora pejabat, ora rakyat, kabeh padha bilulungan. Padha mbingungi. Kabeh padha lalen-lalen, ora ngreken unen-unen, ”Sabeja-bejane kang lali isih luwih beja kang eling lawan waspada,” (Ronggowarsita: Kalatidha) sajak wis diplintir dadi, ”Sakpenak-penake sing eling, isih luwih penak sing lali lan kuwasa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jroning lali, pamarentah utawa bebadan resmi sok malah banjur kaladuk ngalembana, aweh bebungah, marang paraga apadene bebadan kang satemene bisa nuwuhake prakara, kaya ta gelar Dr. Hc. kang ditibakake marang Raja Arab Saudi sawatara wektu kepungkur, jroning kahanan akeh wanita pramuwisma kang dipilara, gedhene malah pinatrapan pidana pati ing kana. Uga pangaji-aji marang Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia kang dianggep becik, luwih didhisikake diwenehi penghargaan tinimbang bebadan-bebadan sosial, lan uga para pekerja migran kang wus nuduhake bektine kanggo ngayomi kaum-e. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejeging adil kudune bisa winangun kanthi patitis miji-miji, milah-milih, endi utawa sapa kang pantes pinaringan bebana, lan endi utawa sapa kang kudu dipatrapi pidana. Angger isih kerep klera-kleru ing bab iki, tangeh bisane adil dijejegake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Intelijen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhek biyen ana buku sejarah kanggo murid sekolah dasar (SD) kang ngemot saweneh crita ngenani Kraton Kalingga. Embuh piye persise, ukara-ukara kapisane kira-kira mangkene: ”Pada abad ketujuh, berdirilah sebuah kerajaan. Kerajaan Kalingga namanya. Rajanya seorang putri, Shima namanya,” lan sateruse. Ratu Shima digambarake kadidene ratu kang adil. Adhine dhewe kang kadenangan tumindak durjana, dipatrapi ukum, dikethok sikile. Uga kacarita, paukuman iku dipatrapake merga tumindak kadurjanan-e konangan langsung (tertangkap basah) ing sawijining wengi, nalika Sang Ratu lagi namur-lampah nitipriksa kahanane rakyate. Lakon-lakon namurlaku (miturut dedongengan) uga kerep ditindakake dening Raja Harun Ar-Rasyid ing Bhagdad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dudutan kang bisa dipethik, saka crita-crita kuwi bisa kinawruhan manawa fungsi bebadan intelijen lumaku kanthi becik. Saiki, ing negara iki, angger disebut tembung ”badan intelijen” kang paling gumawang dhisik dhewe yaiku anane ancaman katentreman saka pihak teroris lan sapiturute. Prekara-prekarane rakyat cilik, kang ngancam rakyat cilik lan dianggep ora ngancam ”negara” kaya-kaya luput saka kawigaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunge isih ana kang aran media cetak apadene elektonik. Kabukten, meh kabeh prakara ukum kang gegayutan karo wong cilik banjur dadi kawigaten awit saka gumregute para jurnalis, awis saka anane media cetak apadene elektronik kang saiki ora dibungkem dening pamarentah kaya jaman kang wus kawuri. Muga-muga ora panggah kandheg mung rame ing pakabaran. Nuwun. &lt;i&gt;[Bonari Nabonenar/Suara Merdeka]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-4825609629527958228?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/4825609629527958228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/01/ukum-mung-galak-marang-wong-cilik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4825609629527958228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4825609629527958228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/01/ukum-mung-galak-marang-wong-cilik.html' title='Ukum mung Galak marang Wong Cilik'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-1307188260498346403</id><published>2012-01-23T05:49:00.000-08:00</published><updated>2012-01-23T16:45:33.506-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='katawarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Komunitas Suket Indonesia dan Silaturahmi Budaya</title><content type='html'>Tadi malam 22 Januari 2012, saya menonton teater, lakon Negri Sungsang yang dipentaskan oleh Komunitas Suket Indonesia, di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro. Luar biasa menariknya, menurut saya! Mengapa? Nanti saja. Sekarang, kita simak dulu apa dan siapa Komunitas Indonesia, melalui catatan yang dibuat oleh Riris D Nugrahini melalui media Facebook dan dibagikan pula melalui Grup Dewan Kesenian Jawa Timur ini:&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;--Komunitas Suket Indonesia (KSI) adalah bagian kecil dari masyarakat umum, dan dengan kecilnya itulah KSI mencoba senantiasa untuk belajar kepada masyarakat baik secara umum maupun khusus. Menimba ilmu, pengetahuan, ketrampilan dan apapun. Belajar untuk saling bersentuhan dengan media kesenian – kebudayaan. Dengan harapan untuk bisa menyentuh sisi kemasyarakatan dan kearifan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dalam kehadiran KSI, besar harapan kami untuk tidak hanya berlangsung suatu pertunjukan panggung dimana ada yang ditonton dan ada yang menonton, namun lebih jauh lagi ada kemungkinan ruang untuk berbagi (sharing) bahkan diaplikasikan langsung dengan masyarakat setempat dan bermanfaat untuk bersama. Tumbuhnya budaya, apapun namanya, tetap harus dimulai dari potensi lokal masing-masing, minimal menjadi persaudaraan lahir dan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kemudian dalam persinggungan itu muncul suatu yang besar, manfaat yang panjang, maka yang besar bukanlah KSI. Yang tumbuh, yang ada, yang berkembang, adalah murni pelaku-pelaku didalamnya dengan segala bentuk perjuangan yang dilakukan dalam mencari pemanfaatan yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini, KSI, bersama Komunitas Jaran Kepang WAHYU BUDAYA Mojowarno – Jombang, kembali berproses dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya pada tempat-tempat yang akan dikunjungi dalam proses NEGRI SUNGSANG ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.      Minggu, 22 Januari 2012&lt;br /&gt;Bekerjasama dengan Sanggar Anugerah Desa Wisata Budaya Njono, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro&lt;br /&gt;Lokasi Pertunjukan      : Sanggar Anugerah Njono&lt;br /&gt;Waktu Pertunjukan     : 19.30 wib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.      Senin, 23 Januari 2012&lt;br /&gt;Bekerjasama dengan Karang Taruna Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban&lt;br /&gt;Lokasi pertunjukan      : Balai Desa Maibit&lt;br /&gt;Waktu Pertunjukan     : 19.30 wib&lt;br /&gt;Dengan rangkaian kegiatan latihan gabungan bersama beberapa komunitas teater di wilayah setempat dan sharing bersama petani setempat untuk praktek pembuatan insektisida organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.      Sabtu, 28 Januari 2012&lt;br /&gt;Bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Blora, Komunitas Mobil Kawuk Mbloro (KMKM), Jamaah Shalawat Embongan Blora, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Blora.&lt;br /&gt;Lokasi Pertunjukan      : Gedung Sasana Bakti, Alon-alon Blora&lt;br /&gt;Waktu Pertunjukan     : 19.30 wib&lt;br /&gt;Dengan rangkaian kegiatan diskusi tentang kearifan lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Blora dan BEM se-Blora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.     Minggu, 29 Januari 2012&lt;br /&gt;Bekerja sama dengan Kelompok Tani Kecamatan Cepu dan Kecamatan Kedungtuban Kabupaten Cepu.&lt;br /&gt;Lokasi Pertunjukan      : Aula SD Sumberpitu, Cepu&lt;br /&gt;Waktu Pertunjukan     : 19.30 wib&lt;br /&gt;Dengan rangkaian kegiatan sharing bersama petani setempat untuk praktek pembuatan insektisida organik.**--&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-q8HgCtNhJ3c/Tx3_J33NbcI/AAAAAAAAApo/ssnRP-e4PUc/s1600/ksi-dhe%2Buban.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-q8HgCtNhJ3c/Tx3_J33NbcI/AAAAAAAAApo/ssnRP-e4PUc/s400/ksi-dhe%2Buban.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Kepala Desa Mojowarno (Jombang) sebagai Ketua Rombongan yang mengantar KSI ke Desa (Wisata) Jono, peristiwa ini sungguh menjadi peristiwa budaya yang sangat asyik! Saya melihat ini sebagai bentuk silaturahmi budaya yang sangat bagus, di tengah-tengah kondisi masyarakat yang nyaris dipenuhi pertikaian antarkampung, perkelaihan pelajar, bentrok supporter, dan lain-lain itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking bagus dan strategisnya, menurut saya model-model seperti ini layak ditradisikan. Jika saja tradisi semacam ini bisa dibangun di antara desa-desa (antardesa) yang ada di wilayah Kabupaten Trenggalek untuk menggantikan model ”Safari Kesenian” made in Orde Baru itu, alangkah bagusnya, ya?* [bonari nabonenar/foto: Pakdhe Uban]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-1307188260498346403?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/1307188260498346403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/01/silaturahmi-budaya-la-komunitas-suket.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1307188260498346403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1307188260498346403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/01/silaturahmi-budaya-la-komunitas-suket.html' title='Komunitas Suket Indonesia dan Silaturahmi Budaya'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-q8HgCtNhJ3c/Tx3_J33NbcI/AAAAAAAAApo/ssnRP-e4PUc/s72-c/ksi-dhe%2Buban.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-2036512150234193388</id><published>2012-01-08T23:37:00.000-08:00</published><updated>2012-01-08T23:37:13.064-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainlain'/><title type='text'>PENIPUAN MODUS BARU</title><content type='html'>BI sdh memblokir 1.702 rekening yg disinyalir merupakan rekening utk menampung hasil kejahatan dengan nilai Rp 3.2 milliar (baca detik.com)&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sms minta pulsa, sms transfer ke rekening tertentu ini sdh ber-evolusi menjadi sms masuk dgn kalimat : hi ini siapa ya? Atau sms minta nama &amp; alamat seolah mau kirim undangan nikah, yg membuat org iseng sms balik utk tanya balik dan dgn otomatis akan register content 2rb/sms tiap hr kena potong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sms nawarin e-ticket pesawat dgn harga murah: jika kita terjebak, mrk akan tanya nama, umur, tujuan &amp; data detail, mrk akan book sesuai permintaan &amp; akan minta kita check sendiri ke maskapai utk menyakinkan nama kita sdh ter-booked di slh satu penerbangan, setlh kita check &amp; mmg bnr sdh ter-booked, mrk akan minta kita bayar, setlh bayar maka mrk akan lgsg cancel ke maskapai yg sdh kita book, akhirnya kita tdk akan dpt ticket tsb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sms penawaran hp/electronic murah: sama modus nya, begitu kita reply sms nya kita akan otomatis ter-register content &amp; akan terpotong 2 rb/sms tiap hr kena potong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pura2 ☎ slh sambung &amp; missed call, mrk akan sms minta maaf salah ☎, kalo kita iseng ladenin sms bilang : g&gt;:/ pa2, maka otomatis akan ter-register content lg yg kena 2 rb/ sms setiap hr kena potong ( ZR ) met pagi man teman.. Have a nice day..... salam*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi buat teman semua yg saya copy dari teman di FB (Yuntri Djunaedi), mudah2an ada manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;--dikopipaste dari FB Pak DH Abadinar&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-2036512150234193388?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/2036512150234193388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/01/penipuan-modus-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2036512150234193388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2036512150234193388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/01/penipuan-modus-baru.html' title='PENIPUAN MODUS BARU'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-9061132463783686879</id><published>2012-01-08T20:05:00.000-08:00</published><updated>2012-01-08T20:05:20.438-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainlain'/><title type='text'>AKU RINDU</title><content type='html'>aku rindu&lt;br /&gt;tumbuh pohon jambu&lt;br /&gt;di depan rumahku&lt;br /&gt;dan angin mengelus kembang&lt;br /&gt;sambil bersiul&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku rindu&lt;br /&gt;pohon-pohon kembali tumbuh&lt;br /&gt;di bukit di hutan mengepung kampungku&lt;br /&gt;aku rindu santhiyet dan markisah menjalar&lt;br /&gt;liar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku rindu&lt;br /&gt;pohon dan perdu tumbuh berpacu&lt;br /&gt;sebab di ditulah aku membaca kemerdekaan&lt;br /&gt;bukan di rimbun pinus yang dipaksakan&lt;br /&gt;atas nama keberlangsungan&lt;br /&gt;industri pengolahana getah itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku rindu&lt;br /&gt;hutan tempat aku bermain&lt;br /&gt;sambil belajar merasakan tusukan&lt;br /&gt;dan barutan duri semak&lt;br /&gt;di antara hidup yang keras dan yang lunak&lt;br /&gt;yang indah dan yang menantang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kapan hutan dikembalikan&lt;br /&gt;dari lipatan&lt;br /&gt;untuk menambal peta&lt;br /&gt;kawasan bencana dan terdampak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bergegaslah&lt;br /&gt;sebelum kota-kota yang kaubangun&lt;br /&gt;tenggelam ketika kau nyenyak&lt;br /&gt;hingga rinduku pun kehilangan alamat&lt;br /&gt;ketika kelak semua lumat&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Sawojajar, 2012&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-9061132463783686879?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/9061132463783686879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/01/aku-rindu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/9061132463783686879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/9061132463783686879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/01/aku-rindu.html' title='AKU RINDU'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-4048392506253422624</id><published>2012-01-04T18:33:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T07:02:40.955-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainlain'/><title type='text'>S A N T H I Y E T</title><content type='html'>Maka ketahuilah, salah satu tanda bahwa hutan kita sudaha begitu parah adalah ketika anak-anak kita sudah tidak kenal lagi dengan “Santhiyet”. Anda bisa menjadi salah seorang penyelamat dengan cara menanam di pekarangan, di pagar atau di mana. Buahnya rasanya manis. Kambing pun begitu menyukai daunnya!&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RATU THE GRIP: wahahahahahaha.. jenenge santhiyet tho... wakakakakakk.. bbrp hari lalu q juga lihat di hutan. cm g tau nama nya.. tapi q tau enak di makan.. q suka skali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANA SEPTIANINGRUM: nggen kula nek ngarani pelikethek..amargi pliket2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAHYU SUSILO: &lt;br /&gt;Neng kampungku jenenge "konth*l jemb*ten" hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADI UTOMO: &lt;br /&gt;Wonten daerah Tegal dipun wastani "ciplukan". Kalebet taneman liar, thukul piyambak wonten pekawisan ingkang rungkut.Menawi sampun mateng werninipun jene utawi abrit nem,raosipun manis radi kecut.Panci leres,lare2 alit remen madosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRI ENDAH EW: &lt;br /&gt;wonten Jombang diwastani rombusa, wonten ugi ingkang mastani rembusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJOKO PRAKOSA: &lt;br /&gt;itu namanya buah kontholangin....dinggo tambah anyang-anyangen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NANIK AGUSTIN: &lt;br /&gt;ndek bantur jenenge cimplonan,legi bnget lek wis mateng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IIN RACHMAWATI ABAD: &lt;br /&gt;Santhiet ingkang kados menika tasik wonten ing pekarangan wingking griya kula :) –omahe Watulimo, peny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEILASARI: &lt;br /&gt;menawi ing desa kula, Genteng-Banyuwangi, menika dipun sebat "cemplukan dhor" :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Terima kasih kepada kawan-kawan Facebooker, yang telah sudi berkomentar. [bonari]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-vRDqcOCwY9E/TwUMAUGJGCI/AAAAAAAAAnw/NXA5d6GttAg/s1600/santhiyet.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://2.bp.blogspot.com/-vRDqcOCwY9E/TwUMAUGJGCI/AAAAAAAAAnw/NXA5d6GttAg/s640/santhiyet.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-4048392506253422624?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/4048392506253422624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/01/s-n-t-h-i-y-e-t.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4048392506253422624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4048392506253422624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2012/01/s-n-t-h-i-y-e-t.html' title='S A N T H I Y E T'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-vRDqcOCwY9E/TwUMAUGJGCI/AAAAAAAAAnw/NXA5d6GttAg/s72-c/santhiyet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-226859314333746469</id><published>2011-12-27T10:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T10:26:25.764-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainlain'/><title type='text'>SELAMAT TINGGAL TAHUN PENUH LUKA</title><content type='html'>seperti biasa&lt;br /&gt;kita akan menutup tahun ini dengan pesta&lt;br /&gt;memeriahkan kesedihan dan ketakutan&lt;br /&gt;atas hari-hari penuh kecelakaan dengan penyebab utama:&lt;br /&gt;keteledoran manusia&lt;br /&gt;dan kita menyebutnya sebagai bencana&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;  seperti biasa&lt;br /&gt;kita akan menutup tahun ini dengan bangga&lt;br /&gt;membusungkan daftar hutang dan janji-janji belum terlunasi&lt;br /&gt;sejauh mata memandang panjangnya&lt;br /&gt;yang seperti biasa pula kita selesaikan dengan cara seksama&lt;br /&gt;dengan menggali lubang yang lebih menganga&lt;br /&gt;: luka lama ditutup dengan luka baru&lt;br /&gt;  atau dengan tablet penghilang rasa sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;sebab kita tak pernah benar-benar berniat membasmi&lt;br /&gt;penyakit kita sendiri&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat tinggal tahun-tahun penuh luka&lt;br /&gt;dan kita sambut tahun baru &lt;br /&gt;: borok baru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;sebab memang biasanya kita selalu begitu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonari, Desember 2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-226859314333746469?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/226859314333746469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/12/selamat-tinggal-tahun-penuh-luka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/226859314333746469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/226859314333746469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/12/selamat-tinggal-tahun-penuh-luka.html' title='SELAMAT TINGGAL TAHUN PENUH LUKA'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-3920819177352452913</id><published>2011-10-21T17:01:00.000-07:00</published><updated>2012-01-05T07:22:19.940-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Momentum untuk Seni Tradidional [5]</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-hDrPpH9FAjI/TwXAGwCO2mI/AAAAAAAAAn8/bgAjqtsW6H0/s1600/20357_100139913351753_100000672331626_941_4701869_n.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="233" width="148" src="http://1.bp.blogspot.com/-hDrPpH9FAjI/TwXAGwCO2mI/AAAAAAAAAn8/bgAjqtsW6H0/s400/20357_100139913351753_100000672331626_941_4701869_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Usulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah hal yang bagus, Provinsi Jawa Timur telah menjadikan pemberian penghargaan bagi seniman terpilih sebagai tradisi tahunan, dan memberikan asuransi kesehatan kepada para senimannya. Akan lebih bagus lagi jika hal serupa dilaksanakan pula di tingkat kabupaten/kota.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;  Politik anggaran kesenian seharusnya dibuat lebih pro-produksi. Saya tidak memegang bukti seperti apa postur anggaran kesenian di lembaga pemerintah. Tetapi, sebagai pelaku atau orang yang bergiat di kesenian, sangat terasa bagi saya bahwa biaya promosi justru jauh lebih besar daripada (subsidi) biaya produksi-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering terdengar seruan agar yang namanya seniman itu harus kreatif. Dengan kreativitas, krisis bisa menjadi peluang. Tetapi, kapan kita memberikan kesempatan untuk menikmati fasilitas pengembangan diri semacam studi banding ke luar negri kepada para pelaku sejati kesenian tradisional ini, dan bukan hanya kepada orang-orang yang mewakili mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menyadari semua itu dan berani mengambil langkah yang baru, sekarang ini adalah momentum yang bagus untuk kebangkitan kesenian tradisional kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa catatan untuk  bahan diskusi kita, yang saya buat dengan agak tergesa-gesa ini.* [selesai]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)dibuat sebagai bahan diskusi “Eksistensi Media Tradisional di Tengah Globalisasi” Dinas Infokom dengan Forum Komunikasi Media Tradisional (FK-Metra) Jatim, Rabu, 19 Oktober 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonari Nabonenar&lt;br /&gt;Lahir di Trenggalek, 1964. Menamatkan program S-1 pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Surabaya (1987). Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, pernah menjadi pengurus harian (Komite Sastra Dewan kesenian Jawa Timur), pernah bermain ludruk, pernah bermain jaranan. Kini tinggal di Malang, menjadi kontributor Majalah Peduli (diterbitkan/diedarkan bagi komunitas tenaga kerja asal Indonesia di Hong Kong).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-3920819177352452913?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/3920819177352452913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/10/momentum-bagus-untuk-kebangkitan-seni_8869.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3920819177352452913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3920819177352452913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/10/momentum-bagus-untuk-kebangkitan-seni_8869.html' title='Momentum untuk Seni Tradidional [5]'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-hDrPpH9FAjI/TwXAGwCO2mI/AAAAAAAAAn8/bgAjqtsW6H0/s72-c/20357_100139913351753_100000672331626_941_4701869_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-877110920878202888</id><published>2011-10-21T16:59:00.000-07:00</published><updated>2011-12-27T09:27:07.128-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Momentum untuk Seni Tradidional [4]</title><content type='html'>&lt;b&gt;Potensi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih beruntung, di tengah-tengah masyarakat masih ada individu-individu maupun kelompok-kelompok seniman yang sangat militan, dan dengan segenap kemampuan mereka menjaga tradisi warisan leluhur. Mereka tidak berpikir apakah kesenian bisa menghidupi mereka atau tidak, karena mereka memang tidak mencari nafkah dari kesenimanannya. Laku kesenian bagi orang-orang seperti ini, adalah seperti olahraga yang baik bagi kesehatan, yang melengkapi hidup mereka. Dan lebih dari itu, merupakan salah satu jalan untuk menjadi orang yang bahagia di dalam hidupnya&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;  Di kampung saya yang jauh dari ibukota kabupaten (Trenggalek) itu misalnya, ada kelompok-kelompok kesenian trebangan yang hanya mendapatkan honor tak sampai sejuta rupiah (dibagi belasan orang) untuk tampil semalam suntuk. Tetapi, mereka dengan suka-cita hangrungkebi keseniannya. Sehari-harinya, mereka bekerja sebagai petani. Begitu dari dulu. Hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kota Surakarta juga telah menempuh cara yang baik untuk menjaga keberadaan Wayang Orang Sriwedari. Para pemain wayang orang tersebut direkrut sebagai pegawai negri. Dan karena menjadi pegawai negri adalah cita-cita banyak orang di masyarakat, lalu tumbuh kesadaran di masyarakat bahwa jika memiliki bakat dan ketrampilan bermain wayang (orang) masa depannya bukan hanya jadi ’pengamen’ melainkan boleh pula berangan-angan menjadi pegawai negri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Surabaya ada kebijakan serupa terhadap pemain ludruk, tetapi tampaknya tidak konsisten seperti di Surakarta. Bahkan, Dinas Pariwisata Kota Surabaya pun tidak memiliki agenda Pementasan Ludruk kecuali, barangkali, hanya sekali atau beberapa kali dalam setahun. Sedangkan Wayang Orang Sriwedari di Surakarta (Taman Sriwedari) pentas hampir tiap malam. [bersambung]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-877110920878202888?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/877110920878202888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/10/momentum-bagus-untuk-kebangkitan-seni_3731.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/877110920878202888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/877110920878202888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/10/momentum-bagus-untuk-kebangkitan-seni_3731.html' title='Momentum untuk Seni Tradidional [4]'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-2588927241257274148</id><published>2011-10-21T16:57:00.000-07:00</published><updated>2011-12-27T09:26:42.284-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Momentum untuk Seni Tradidional [3]</title><content type='html'>&lt;b&gt;Kesenian Tradisional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai jenis kesenian tradisional kita keadaannya semakin menyedihkan. Di Surabaya, ludruk sudah hampir tamat. Untung masih cukup berjaya di Mojokerto, Jombang, dan sekitarnya. Ketoprak juga nyaris, kalau bukannya sudah: tamat. Dan sekian banyak jenis kesenian tradisional, seperti: kentrung, terbang jedhor, kuda lumping, reog, dongkrek, dan sebagainya, seolah-olah sudah tinggal serpih atau cuilan-cuilan fosil di dalam museum tanpa perawatan yang memadai. Tragisnya lagi, museum itu bernama: masyarakat pendukungnya sendiri! &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;  Lalu, sebagian seniman (tradisional) mengatasi ketersisihan itu dengan melakukan ’inovasi’ membuat lebih banyak orang melirik dan menyukainya, tetapi tak jarang pula membuat pihak lain menyumpahinya sebagai tak lebih hanya merendahkan kualitas kesenian dan kesenimanannya hanya demi uang, hanya –meminjam istilah yang marak di kalangan masyarakat kita-- waton payu (asal laku). Jika kita saksikan di beberapa kasus, tudingan ’’waton payu’’ itu memang sangat beralasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya kelompok-kelompok jaranan campursari (jaranan atau seni kuda lumping yang dikemas dengan ramuan lagu-lagu campursari) adalah bukti betapa ruh ’tradisional’: sakralitas, kewibawaan, hilang dari jaranan. Kegelisahan semacam itu bahkan terjadi pula di kalangan pecinta seni pedhalangan (wayang kulit) ketika untuk merebut perhatian penonton banyak dalang melakukan ’terobosan’ yang kebablas sampai pada wilayah sensualitas yang vulgar, atau terlalu banyak menampilkan pelawak yang mengeskploitasi keseronokan atau ’kelemahan fisik’ untuk bahan lawakan-lawakan yang dangkal. Pada tahap ini, tontonan yang seharusnya sekaligus menjadi tuntunan nyaris hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi seperti itu, adalah sangat tidak adil jika kita hanya menuding senimannya. Dan itu hanya aan menambah perlakuan tidak adil terhadap para seniman tradisional itu. Mereka, para seniman tradisional di desa-desa, di kota-kota kecil, sering dikerahkan untuk bekerjabakti untuk memeriahkan hari-hari besar nasional seperti Agustusan. Tetapi, giliran kabupaten/kota atau provinsi berulangtahun atau punya hajat dengan anggaran besar, yang ditampilkan adalah seniman-seniman paling ngetop dengan honor selangit, dari desa lain, kabupaten/kota lain, dari provinsi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah melalui kementerian/dinas terkait sering menyelenggarakan kegiatan untuk ’mengangkat’ kesenian tradisional, misalnya dalam format festival, dengan membawa mereka ke etalase-etalase yang sepi. Menyelenggarakan festival Ludruk di tengah Kota Surabaya, adalah tindakan yang kurang tepat, mengingat kesenian ini sekarang tumbuh di pinggiran kota, terutama di wilayah Mojokerto dan Jombang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, ketika ludruk dikemas sebagai tontonan indoor, di dalam gedung (Cak Durasim, misalnya) ia sering sepi penonton. Lalu para pengamat berteriak, ’’Ludruk sudah tidak disukai lagi!’’ Dan ketika teriakan itu dimuat di koran dan ditayangkan televisi, serta-merta menjelma mantra kutukan, menyugesti masyarakat bahwa Ludruk tidak populer lagi, dan lebih-lebih: tidak bergengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tataran konsep pemberdayaan, sering juga terjadi ’’salah kaprah’’ ketika seniman (bukan hanya seniman tradisional) mengajukan permontaan bantuan kepada Bupati atau Walikota, untuk berproduksi atau menghadiri kegiatan-kegiatan inspiratif di kota lain, pulau lain, atau bahkan negara lain, dana bantuan lalu dicairkan melalui Biro Kesra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesannya kemudian, seniman itu seperti dipandang sebagai fakir miskin atau korban bencana alam. Boleh saja hal seperti ini tidak terlalu dipersoalkan. Tetapi, harus diingat bahwa suka atau tidak suka, itulah gambaran ’ketidakjelasan’ yang diberikan kepada masyarakat oleh Pemerintah melalui birokrasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggilasan terhadap kesenian tradisional juga nyata-nyata didukung oleh Regulasi yang memperbolehkan perusahaan-perusahaan memberikan hadiah "kejutan" hingga ratusan juta, bahkan milyaran rupiah kepada orang-orang yang tidak (perlu) berprestasi, cukup dengan hanya menjadi konsumen yang setia. Karena itu kita sering melihat seniman tradisional tetap miskin hingga akhir hayat, sementara di sekitar mereka banyak orang mendadak kaya hanya karena memenangkan lomba egolan yang diseponsori perusahaan besar. [bersambung]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-2588927241257274148?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/2588927241257274148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/10/momentum-bagus-untuk-kebangkitan-seni_5681.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2588927241257274148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2588927241257274148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/10/momentum-bagus-untuk-kebangkitan-seni_5681.html' title='Momentum untuk Seni Tradidional [3]'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-7924014144385572176</id><published>2011-10-21T16:53:00.001-07:00</published><updated>2011-12-27T09:26:09.060-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Momentum untuk Seni Tradidional [2]</title><content type='html'>&lt;b&gt;Titik Balik Kesadaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar gembiranya adalah, sekarang ini menguat tanda-tanda kesadaran untuk semakin menghargai hal-hal yang bersifat tradisional. Di bidang pertanian, semakin tumbuh kesadaran bahwa pertanian organik adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup yang baik. Mengbonsumsi beras organik, misalnya, adalah lebih sehat dibandingkan dengan mengonsumsi beras nonorganik. Dengan kesadaran sedemikian, pasar pun terbangun, sehingga hasil panen pertanian organik dihargai jauh lebih mahal dibandingkan dengan yang nonorganik. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;  Lihatlah pula di kota-kota besar bermunculan rumah-rumah makan dengan bangunan dan setting tradisional, dengan menu-menu tradisional. Bahkan, kita bisa menyaksikan yang terang-terangan memakai nama ’’Dapur Desa’’. Itu nama yang langsung berasosiasi dengan tradisionalisme. Walau masih pada taraf ’’kembali tumbuh’’ itu sudah merupakan kabar baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komuitas-komunitas ’pembela tradisionalisme’ pun  tumbuh di mana-mana, dari yang bernama Paguyuban Macapatan hingga ’’Kelompok Studi’’. Dari yang berupa organisasi tanpa bentuk hingga yang mengukuhkan diri sebagai lembaga resmi (nonpemerintah). Dari yang berbasis pertemuan langsung di kampung-kampung hingga yang berbasis jejaring sosial di ’’dunia maya’’. Sayangnya, sebagian besar di antaranya tampak sebagai hanya bertahan, sekadar mengabarkan keberadaan dan bertekad ’’nguri-uri’’ kebudayaan tradisional, dan belum sampai pada tahap ’melawan’ apa yang di sini kita sebut sebagai gempuran Globalisasi itu. Mereka adalah potensi yang sangat bagus sebagai semacam barisan ’’Pertahanan Rakyat Semesta’’ untuk membela kebudayaan tradisional kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, lebih banyak di antara komunitas-komunitas itu adalah komunitas-komunitas ’’klangenan.’’ Ibarat orang memelihara burung, tidak tampak upaya sungguh-sungguh untuk membudidayakan, menangkarkan, melainkan cukup puas hanya dengan mendengar kicauan (seekor) burung kesayangan di sangkar yang sempit itu. Padahal, Globalisasi menggilas kita dengan hasil produksi. Seharusnya kita melawannya juga dengan ’berproduksi.’ [bersambung]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-7924014144385572176?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/7924014144385572176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/10/momentum-bagus-untuk-kebangkitan-seni_21.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7924014144385572176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7924014144385572176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/10/momentum-bagus-untuk-kebangkitan-seni_21.html' title='Momentum untuk Seni Tradidional [2]'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-6029200594693083987</id><published>2011-10-21T16:52:00.000-07:00</published><updated>2011-12-27T09:24:45.979-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Momentum untuk Seni Tradidional [1]</title><content type='html'>&lt;b&gt;Pengantar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak merasa getir dengan keberadaan kesenian tradisional di negeri ini, yang dipandangnya sebagai kerakap di atas batu (hidup segan mati tak mau) di tengah-tengah pertarungan global, atau di tengah-tengah gempuran arus globalisasi. Pihak lainnya, ada yang dengan senang menyiasatinya, mengawinkannya (sering juga dengan kawin paksa) dengan unsur-unsur modern, mengikuti arus globalisasi, dan tak sedikit pula yang, ’’Mbuh kono, karepmu, ra ngurus!’’&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;  Globalisasi memang dapat dilihat dari berbagai sudut. Ia dapat didefinisikan sebagai keniscayaan akibat dari kemajuan zaman, terutama kemajuan bidang perhubungan: transportasi dan terutama telekomunikasi. Begitulah, ketika telepon genggam, Iphone, Ipad, berada di tangan, serta-merta kita menjadi pemilik cupumanik astagina, menguasai aji pameling. Dunia ada di genggaman kita. Dan jangan lupa, gara-gara cupumanik astagina itulah Sugriwa dan Subali berubah jadi kera. Dari sudut lain, adalah kenyataan bahwa globalisasi juga merupakan gerakan negara-negara adidaya untuk menguasai dunia melalui kekuatan modal, yang sesungguhnya sudah menimpa kita sebagai bangsa sejak Zaman V.O.C. Transnasionalisasi perusahaan-perusahaan besar, semakin meningkatnya modal asing di dalam negri, hingga tergusurnya pasar-pasar tradisional dari benteng-benteng terakhir pertahanan mereka di kampung-kampung adalah bukti betapa kuatnya gempuran globalisasi dalam pengertian ini (gerakan negara-negara adidaya untuk menguasai dunia melalui kekuatan modal). –Untuk selanjutnya globalisasi dalam pengertian terakhir inilah yang dimaksud dalam kaitan dengan ’’gempuran atau gilasan’ tak kunjung henti yang harus diderita oleh kesenian (dan bahkan semua hal yang bersifat-) tradisional, termasuk sistem pertanian tradisional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi Hijau merupakan sebuah contoh bagaimana mesin ekonomi-politik globabal menggilas pertanian di Indonesia, termasuk Jawa. Sebagai bagian dari paham modernisasi, Revolusi Hijau yang masuk ke Indonesia sebagai pelaksana teknis developmentalisme ini bukanlah program pertanian semata, melainkan sebuah strategi melawan tradisionalisme. Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah, beragam pengetahuan pertanian manusia di muka bumi mengalami penggusuran besar-besaran dan dijadikan satu pola pertanian saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari program ini ribuan varietas tanaman tradisional tergusur. Lebih parah lagi, petani menjadi tergantung pada industri benih dan tak lagi mampu mengontrol serta mereproduksi benihnya sendiri. Benih telah berubah menjadi sumber kentungan dan kontrol karena di tangan lembaga penelitian dan perusahan-perusahaan transnasional benih merupakan komoditi komersial.Revolusi Hijau ternyata juga menjadi sebuah program untuk menyingkirkan atau melemahkan pengetahuan rakyat. Budaya pemuliaan benih dibabat habis sebagai bentuk kontrol penguasaan pasar. Bahkan, tak jarang petani yang dengan pengetahuan tradisionalnya melakukan pemuliaan benih sendiri dituntut ke pengadilan dengan tuduhan melakukan pembenihan ilegal (kasus Mbah Suko Magelang). Budaya (tradisi) pertanian kita telah dimatikan. Demikianlah Globalisasi menggempur budaya tradisional di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan, kesenian, itu bersifat hidup. Artinya, ia tumbuh, berproses. Dalam proses itulah terjadi dialog, bahkan juga tarik-menarik antara yang lama dengan yang baru, antara yang tradisi dengan yang modern. Pertanyaannya kemudian, mengapa ada pihak, dan bahkan selayaknya kita berada di antaranya, tidak merelakan begitu saja yang tradisional tergerus oleh modernisasi? Ketika modernisasi tumbuh secara alamiah, mungkin kita tidak perlu terlalu gelisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, seperti sudah digambarkan tadi, ada kekuatan yang dengan sengaja menciptakan mesin-mesin pelumat kebudayaan, kesenian tradisional itu. Sebenarnya, motivasi utama penggilas itu bukanlah pada urusan kesenian itu sendiri, melainkan motiv penguasaan aset atau modal. Ketika semua orang memiliki selera yang (relatif) sama, adalah sangat gampang bagi mereka untuk menyediakan (memroduksi) segala kebutuhan, baik barang atau jasa. Bukannya tumbuh dan berkembangnya tradisionalisme yang tidak disukai oleh pemilik modal transnasional itu, melainkan adalah: hak patennya tidak berada di tangan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, ketika generasi terkini kita menganggap karawitan adalah musik bergengsi rendah, identik dengan kaum tua yang tidak mengikuti kemajuan zaman, para akademisi asing, dari negara-negara maju berbondong-bondong memelajarinya ke negri kita ini. Dan pada saatnya kelak, bisa jadi kita yang harus balik memelajarinya ke negri mereka, dengan harga pembelian yang jauh berlipat-ganda dibandingkan dengan saat kita ”menjual”-nya. Bahkan, sudah terjadi sekarang, banyak akademisi kita harus mau berjauh-jauh ke Negeri Belanda untuk mendapatkan S-3 bidang sastra/budaya Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih menggelikan lagi adalah pengalaman Ki Manteb Sudarsono Si Dalang Setan itu. Ketika wayang diakui sebaga Warisan Budaya Dunia ia dapat kesempatan ndhalang di beberapa negara Eropa. Di Perancis, didapatinya ’’Dharma Wanita’’ KBRI setempat berlatih karawitan, dan pelatihnya adalah ’’asli tiyang Perancis.’’ [bersambung]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-6029200594693083987?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/6029200594693083987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/10/momentum-bagus-untuk-kebangkitan-seni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/6029200594693083987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/6029200594693083987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/10/momentum-bagus-untuk-kebangkitan-seni.html' title='Momentum untuk Seni Tradidional [1]'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-7620825794690084158</id><published>2011-04-03T08:27:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T08:27:05.655-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>MEMBANGUN TRENGGALEK [5]</title><content type='html'>&lt;b&gt;Dinas Budaya dan Pariwisata&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tahu, di Trenggalek nama dinas ini senyatanya adalah Dinas Pemuda, Olah Raga, Pariwisata, dan Budaya, diakronimkan menjadi: Poraparibud. Saya yakin, nama itu ditentukan agar menjadi enak diakronimkan saja, tidak dibuat berdasarkan urutan alfabetik maupun kepentingannya. Betapa pentingnya urusan kebudayaan itu, beberapa kali ada usulan agar di negri ini ada Departemen Kebudayaan tersendiri. Sebelumnya, ’Kebudayaan’ digandengkan dengan Kementerian Pendidikan  (dahulu bernama: Departemen Pendidikan dan kebudayaan). Kali ini, ’Kebudayaan’ benar-benar terdegradasi karena (hanya) digandengkan (walau ditaruh di depan) dengan ’Pariwisata’. Dengan wilayah garapan seluas itu, saya kira, seorang Kepala Dinas Poraparibud di Kabupaten Trenggalek memiliki tugas yang jauh lebih berat daripada bupatinya.&lt;span id="fullpost"&gt;  Kritik yang sering terlontar kepada Kementerian Budaya dan Pariwisata, seolah-olah ia lebih sebagai ibarat loket penjualan karcis masuk: gua, taman, pantai, candi, dan tempat-tempat wisata lainnya. Seolah ia melupakan pembangunan peradaban bangsa seperti yang diamanatkan oleh nama yang disandangnya: kebudayaan, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kementerian Budaya dan Pariwisata kita memang antara lain bertugas memromosikan potensi-potensi wisata di seantero negri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sekali lagi, itu hanyalah salah satu di antara tugas-tugas lain, termasuk menjaga warisan budaya, mengembangkannya, dalam rangka memberikan layanan kepada masyarakat. Saya baru bisa menyebut dua contoh negri yang cukup bagus mengelola potensi wisatanya: Singapura dan Hong Kong. Saya merasakan, di Hong Kong, taman-taman kota, pantai wisata, terasa sekali dibangun dengan tujuan utama sebagai bentuk pelayanan publik. Di Hong Kong ada yang namanya Taman Victoria atau Victoria Park, yang setiap hari ramai dikunjungi orang, baik yang hanya perlu berjalan-jalan, jogging, atau duduk-duduk menikmati suasananya. Pada hari libur, termasuk hari Minggu, ribuan orang, sebagian besar adalah pekerja rumah tangga asal Indonesia tumplek bleg di taman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berani bertaruh, dengan potensi pengunjung seperti itu, seandainya Taman Victoria ada di Indonesia tentulah akan mengundang pihak terkait untuk memasangi loket karcis masuk dan menarik uang retribusi kepada setiap pengunjung. Demikianlah, seolah kita memandang kepariwisataan hanyalah proyek untuk menambah pundi-pundi PAD, dan bukannya sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya, memberikan makanan jiwa rakyat, dan akan memetik keuntungan berupa produktivitas yang meningkat ketika jiwa-raga rakyat (masyarakat) menjadi semakin berkualitas karena selain cukup makanan jasmani juga terpenuhi kebutuhan rohani, termasuk rekreasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, izinkan saya menceritakan pengalaman saya di wilayah Trenggalek. Pada hari ke-2 atau ke-3 Lebaran tahun lalu, jika tak salah ingat itu hari Minggu, saya iseng-iseng mampir Pantai Pelang (Kecamatan Panggul).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendapati di kawasan pantai itu, pada hari itu, digelar pertunjukan musik dangdut, dan hanya ada satu pintu baik bagi pengunjung yang datang untuk dangdut dan/atau untuk menikmati pemandangan pantai Pelang saja. Karenanya, setiap pengunjung wajib membayar tiket yang harganya sudah diatur untuk nonton pertunjukan musik sekaligus menikmati pemandangan Pantai Pelang. Saya berpikir, jika saya adalah pengunjung yang senyampang berlebaran di kampung halaman, yang datang jauh-jauh dari Surabaya atau Jakarta, atau bahkan dari pulau lain di tanah air ini, dan ingin bernostalgia di pantai yang indah itu, hak saya sebagai masyarakat telah dirampas atau disandera, atau dipaksa mengeluarkan sejumlah uang (walau jumlahnya kecil) untuk sesuatu (dalam hal ini pertunjukan dangdut) yang tidak saya inginkan. Jadi, cara-cara mendapatkan uang seperti dilakukan oleh ’’Dinas Kebudayaan dan Pariwisata’’ bekerja sama dengan sebuah event organizer seperti itu menurut saya tidaklah fair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, bandingkanlah dengan Taman Victoria di Hong Kong, yang di dalamnya juga tersedia vasilitas WC dan kamar mandi yang sepertinya tidak pernah pesing, dan kita bisa masuk ke dalamnya dalam 24 jam sehari, kapan saja, secara gratis! Saya sempat mengajukan perbandingan ini di pertengahan tahun 2000-an ketika Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Jatim ketika itu berbicara dalam sebuah forum di Hotel Hayam Wuruk (Trenggalek), dan jawabannya antara lain adalah: ’’Belum saatnyalah membandingkan negara kita dengan negara-negara yang sudah maju seperti Hong Kong dan Singapura.’’ Sayangnya, waktu membatasi saya untuk punya kesempatan menimpali jawaban itu. Padahal, saya ingin mengatakan ini, ’’Kalau untuk hal-hal seperti itu kita tidak boleh mengaca ke negara lain yang lebih baik mengelolanya, mohonlah dihentikan saja semua program yang bernama Studi Banding yang biasa dilakukan anggota DPR maupun para pejabat elit di negri ini.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung halaman saya, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, ada seorang bocah yang sudah berprestasi di tataran nasional. Ia seorang siswa SMP, yang ketika di SD sudah mengantongi gelar Juara Dalang kategori Anak-anak (Bocah). Ia sering diundang untuk mendalang di Surabaya, dan bahkan pernah pula ditanggap untuk mendalang di Istana Wakil Presiden di Jakarta di era Pemerintahan SBY-Boediono ini. Kepala Sekolah SD dan SMP bocah dalang ini adalah sahabat saya, dan sering mengungkapkan rasa bangganya atas prestasi anak didiknya ini, serta mengaku bersyukur bahwa pihak-pihak terkait, dari Dinas Pendidikan sampai Pemkab selalu enteng untuk memberikan bantuan dana, minimal dana transportasi ketika Galih, begitulah nama sapaan bocah dalang ini, diundang instansi pemerintah untuk tampil di tataran provinsi atau di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hal yang baik. Tetapi, menurut saya masih ada yang dilupakan. Bantuan perangkat fisik berupa gamelan, misalnya pernah diterima sekolah satu atap (SD dan SMP jadi satu manajemen) itu, tetapi saya belum mendengar adanya bantuan berupa buku-buku berkaitan dengan ilmu dan ketrampilan pedalangan atau seni karawitan langsung kepada Galih maupun melalui sekolahnya. Itu juga menunjukkan kesadaran literasi para pemangku kepentingan di kabupaten ini masih jauh dari bagus. Lebih jauh lagi, kita juga layak bertanya, di manakah Perpustakaan Daerah kabupaten Trenggalek? Apakah kita dengan mudah bisa mendapatkan buku-buku bagus yang baru terbit? Kalau yang ’’kebul-kebul’’ belum ada, maka apakah belum ada pula di sana buku sebagus ATLANTIS, Indonesia Ternyata merupakan Cikal-bakal Peradaban Dunia [?]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah kita memiliki anak muda bernama Nurani Soyomukti, yang dengan segala upayanya telah membangun kesadaran literer di Kabupaten yang kalau terkenal pun sering karena kemiskinan dan keterpencilannya ini, yang membangun dan membangkitkan gairah baca-tulis dengan mendirikan lembaga Quantum Litera Center (QLC), dan menyelenggarakan acara Arisan Sastra sekali dalam sebulan. Tanpa upaya seperti dilakukan orang muda asal Watulimo ini, Trenggalek, pun walau sudah memiliki perguruan tinggi, saya kira akan semakin kokoh sebagai masyarakat ’pendengar’ dan ’penonton’ --aktivitas yang oleh orang kampung asal saya sering diplesetkan menjadi: ’’kelompok pendengor’’ (ndengor = ndomblong).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih mengherankan lagi, di Zaman Blogger, Facebook, dan YouTube ini, banyak orang, pengambil kebijakan, masih memandang Jakarta sebagai pusat segala-galanya. Maka, atas nama memromosikan potensi kesenian dan pariwisata kabupaten kita, uang ratusan juta rupiah dengan enteng dikeluarkan untuk biaya promosi dengan berbondong-bondong ke Jakarta. Sementara itu, kesenian rakyat: kuda lumping, terbang jedhor, dan sejenisnya terengah-engah dan kurang gizi di desa-desa. Adalah mengherankan, ketika membangun dan merawat website Kabupaten Trenggalek dengan segenap potensinya yang barangkali hanya menghabiskan dana puluhan juta rupiah per tahun pun tampaknya keberatan, sedang di sisi lain dengan gampangnya –maaf, menurut saya diplokotho oleh Jakarta, Taman Mini, atau apalah namanya itu-- untuk ditanggap bukan saja secara gratis, tetapi bahkan harus menanggung ongkos ’produksi’ termasuk biaya transportasi yang ratusan juta rupiah itu. Apakah kita perlu menagih janji Pak De Karwo: ’’APBD untuk Rakyat’’ --dan bukan untuk Taman Mini Indonesia yang Tidak Indah itu? Wassalam. [wis/Bonari Nabonenar]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-7620825794690084158?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/7620825794690084158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/04/membangun-trenggalek-5.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7620825794690084158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7620825794690084158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/04/membangun-trenggalek-5.html' title='MEMBANGUN TRENGGALEK [5]'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-8585210073266751155</id><published>2011-04-03T08:21:00.001-07:00</published><updated>2011-04-03T08:21:57.643-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>MEMBANGUN TRENGGALEK [4]</title><content type='html'>&lt;b&gt;Membangun Desa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus 2009 (4 - 5) saya bersama warga Desa Cakul menyelenggarakan Festival Sastra Jawa dan Desa di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Dengan dukungan dana dari Pemprov Jatim, Pemkab Trenggalek, dan swadaya masyarakat Desa Cakul, kami berhasil mengundang para akademisi dari Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Surabaya, wartawan, seniman, budayawan, sastrawan dari berbagai pelosok Jawa, dari Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Ngawi, Madiun, Ponorogo, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Blora, Madura, Jember, Surabaya, Banyuwangi, Malang, Blitar, Tulungagung, dan tentu saja dari Trenggalek sendiri. Semula, kami hanya ingin menyelenggarakan Festival Sastra Jawa. Tetapi, kemudian terpikir pula untuk menyelenggarakan pula Festival Desa pada saat bersamaan, terutama agar dalam kesempatan yang bagus itu masyarakat desa tidak hanya menjadi penononton, melainkan juga menjadi subyek dan terlibat langsung di dalam kemeriahan festival.&lt;span id="fullpost"&gt;  Maka, beberapa bulan sebelumnya kami kirimkanlah 5 orang pemuda kampung untuk magang, studi banding, atau apalah istilahnya, di pusat-pusat pertanian modern yang membudidayakan tanaman organik di Yogyakarta untuk hampir sepekan lamanya. Selain belajar bertani secara organik, kelima pemuda ini juga sempat diajak mengunjungi sebuah Sanggar Seni yang dikelola oleh seorang pemuda desa di pinggiran Kabupaten Bantul, yang karena kreativitasnya pernah mendapatkan kunjungan dari luar negri, dan sang pemuda pelopor itu, Kabul namanya, laris diundang menjadi narasumber sesuai dengan bidang garapnya: menggerakkan pemuda desa dengan media: Sanggar Seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Festival Desa, para petani pelopor dan pemuda desa yang kreatif itu pun diundang sebagai narasumber. Sambutan peserta Sarasehan Desa sangat bagus. Terbukti, ada yang kemudian menjadi semakain penasaran dan secara mandiri belajar langsung ke Yogya,mengikuti jejak 5 pemuda kampung yang sebelumnya kami kirimkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak menilai Festival Sastra dan Desa sebagai sebuah kegiatan yang bagus, dan hingga kini pun masih ada saja yang melalui telepon atau SMS menanyakan, kapan acara serupa diadakan lagi. Sayang, terlepas dari bantuan dana yang diberikan, Pemkab Trenggalek sepertinya tidak begitu tertarik untuk menangkap gagasan Festival Desa ini sebagai sesuatu terobosan yang menarik, dan, misalnya, lalu menjadikannya kegiatan pelat merah yang digelar oleh Pemkab, dilaksanakan bergiliran dari satu desa ke desa lain setiap tahun di wilayah Kabupaten trenggalek. Bupati Trenggalek Drs. Soeharto berkenan hadir membukanya, dan dan Wakil Bupati Machsun Ismail M.Ag (kala itu) berkenan menutupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, Kepala Dinas Pertanian yag secara langsung kami datangi dan kami undang sebagai narasumber untuk Sarasehan Desa, ternyata tidak bisa hadir, tanpa memberikan konfirmasi. Sementara bagian Bagian Humas Pemprov Jatim perlu beberapa kali menelepon panitia untuk menanyakan lokasi festival sampai kemudian terpaksa mengabarkan bahwa Gubernur yang semula sudah menyanggupi untuk membuka acara ini ternyata tidak bisa hadir  karena ada kesibukan mendadak di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat beraudiensi dengan Komisi D DPRD Trenggalek, ada sebuah pertanyaan tertuju kepada Panitia Festival, ’’mengapa Festival Sastra Jawa dan Desa diselenggarakan di desa yang jauh, dan bukan di pusat kota Trenggalek? Bukankah itu akan membuat peserta enggan datang? Sungguh, itu pertanyaan yang buruk. Tetapi, saya atas nama panitia pun menjawabnya dengan senang hati, ’’Kami tidak khawatir bahwa festival ini akan sepi peserta karena lokasinya yang jauh, sebab undangan dari Jakarta, Semarang, Blora, Yogyakarta, Solo, Banyuwangi, semua antusias untuk hadir. Bahwa warga Trenggalek sendiri merasa enggan karena menganggap Desa Cakul terlalu jauh, dan memutuskan untujk tidak hadir, semoga itu tidak akan mengurangi kemeriahan festival.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa di desa? Itulah pertanyaan yang sering kami terima waktu itu, bukan hanya dari wakil rakyat, tetapi juga dari beberapa teman saya. Apakah termasuk suara yang didengar atau tidak, kalau saya boleh agak pamer (sebab saya tahu kesannnya akan seperti itu), saya adalah salah seorang yang sering mengkritik Taman Budaya Jawa Timur karena terlalu banyaknya agenda kesenian, beberapa festival, dipusatkan di Surabaya. Lalu, lahirlah agenda baru bernama Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS), sepertinya  mengakomodasi usulan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di desa-desa, termasuk agenda kesenian, festival, dan sejenisnya, sesungguhnyalah merupakan bagian dari upaya pemberdayaan desa itu. Kegiatan berskala kabupaten, provinsi, bahkan nasional yang diselenggarakan di desa yang jauh dari pusat kota, satu hal yang pasti adalah merupakan tindakan tidak membiarkan uang selalu mengalir dari bawah ke atas, dari desa ke kecamatan ke kabupaten ke provinsi dan seterusnya. Demikianlah, secara kelakar kita bisa menyimpulkan tabiat uang kita sekarang ini sebagai: menetes pelan-pelan ke bawah (ke desa) untuk kemudian dengan cepat menyemprot ke atas, ke pusat-pusat kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival Desa, sesungguhnya pula bisa dijadikan agenda untuk mengimplementasikan apa yang pada Zaman Pak Basofi Sudirman sebagai Gerakan Kembali ke Desa (GKD). Dan di dalam Seminar Indonesia Kreartif yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jatim 2010 (Hotel Hayam Wuruk, Trenggalek) pun sempat mengemuka bahwa ’’One village one pruduct’’ tidak harus selalu dimaknai setiap desa menghasilkan satu produk (barang) unggulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang sebuah desa tidak memiliki potensi untuk memroduksi barang, ia tidak harus dipaksa-paksa untuk menghasilkan barang, tetapi secara kreatif ia bisa menciptakan iven unggulan. Semangat memroduksi iven inilah yang dalam tataran kota begitu sukses dilakukan di Jember dengan JFC (Jember Fashion Carnival)-nya itu. Atau, kalau kita mau melihat dalam skala negara/pemerintahan, tentu kita bisa melihat Singapura dan Hong Kong,  dua negara yang menjadi sebegitu makmur yang terutama bukan karena barang-barangnya, melainkan karena kepiawaiannya mengelola iven, saya kira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering hanya secara harfiah membanggaakan Nusantara pernah berjaya di Zaman Majapahit, yang wilayah kekuasaannya terbentang dari Hawai hingga Madagaskar (?), tetapi lupa mengambil pelajaran, atau resep apa yang membuat kebesaran itu terbangun. Wilayah-wilayah yang ditaklukkan Gajah Mada, sesungguhnya bukanlah wilayah yang dicaplok begitu saja, atau dikuasai sebagaimana penjajah pernah memperlakukan kita (Indonesia), melainkan dibiarkan tetap mengelola pemerintahan dalam negrinya dan mengeksploitasi segenap kekayaan alamnya. Pemerintah pusat (Mojokerto) tak sedikit pun mengusik urusan dalam negri masing-masing wialayah raja-raja taklukan itu. Yang menjadi wajib adalah tiap periode tertentu (tahunan?) kerajaan-kerajaan taklukan itu mengirimkan upeti ke pemerintah pusat, Kerajaan Majapahit.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita mengenal istilah ’’desa warnana’’ (bermacam-macam desa) seperti yang dikisahkan Empu Prapanca dalam Negara Kertagama, Prabu Hayam Wuruk berkunjung dari desa ke desa pada masa pemerintahannya. Para pemimpin di negri ini pun sekarang suka melakukan hal yang sama, sayangnya, bisanya hanya menjelang musim pemilu atau pilkada. Demikianlah, sesungguhnya rapuh dan kokohnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas semua desanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, semangat membangun desa ini seharusnya menjadi poin penting dalam upaya pembangunan bangsa kita. Itu tidak harus dengan gagah menggelontor dana Rp 1 milyar/desa/tahun, tetapi, sekali lagi, yang palin penting adalah sebesar apa empati kita kepadanya. Uang bisa menjadi kekuatan luar biasa memang, tetapi yakinlah, itu hanyalah kekuatan yang bersifat instan. [BERSAMBUNG]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-8585210073266751155?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/8585210073266751155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/04/membangun-trenggalek-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8585210073266751155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8585210073266751155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/04/membangun-trenggalek-4.html' title='MEMBANGUN TRENGGALEK [4]'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-5126079755515113183</id><published>2011-04-03T08:16:00.001-07:00</published><updated>2011-04-03T08:16:57.825-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>MEMBANGUN TRENGGALEK [3]</title><content type='html'>&lt;b&gt;Kekuatan Seni/Budaya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungghnya masyarakat itu tumbuh di dalam ketegangan terus-menerus antara tradisi dan modernisasi, antara konvensi dan inovasi. Demikian kata teori. Dan di dalam ketegangan yang disadari itulah sesungguhnya ada peluang bagi kreativitas. Kalau kita mau ambil contoh kongkret yang gampang: musik campursari lahir dari ketegangan antara yang tradisi (musik gamelan yang pentatonik) dengan musik modern yang diatonik. Sebagai jenis musik baru, campursari pun dielu-elukan oleh banyak orang, walau tak sedikit pula yang menilai ia destruktif bagi kesenian itu sendiri.&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu persoalan di luar pokok bahasan kita. Tetapi, esensinya adalah, upaya pembangunan yang berhasil biasanya dilakukan dengan memperhatikan gerak budaya masyarakat yang bersangkutan, dan oleh karenanya suara rakyat perlu benar-benar didengar hingga ke desahnya yang paling lembut agar berbagai program atau kebijakan bisa mereka terima dengan sungguh-sungguh dan berkembang sesuai harapan. Dengan kata yang jelas, Pemerintah atau lembaga lain yang berkeinginan memajukan masyarakat haruslah mendasari segenap upayanya dengan penuh empati, dan bukannya sebatas simpati seperti halnya kita memberikan recehan kepada pengemis di pinggir jalan. Karena itulah, setiap kali Pak De Karwo yang Gubernur Jawa Timur itu mengulang-ulang kalimat ini, ’’Ajaklah mereka (rakyat, Bon) bicara.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenian, terutama kesenian rakyat, sesungguhnya bukanlah hanya bisa dipandang sebagai sebentuk hiburan atau media ekspresi semata-mata. Ia juga mengusung suara-suara berisi pesan kultural dari masa lampau, dari nenek moyang,  yang dijunjung tinggi hingga batas kemampuan. Yang kadang dilupakan, tetapi pada suatu ketika sebegitu dirindukan. Seni sesungguhnya bisa pula menjadi semacam tombol untuk menggerakkan mayarakat menuju hari depan mereka yang lebih baik. Saya akan memberikan sedikit gambaran pengalaman pribadi saya, mengenai apa yang terjadi di Desa Cakul ketika tahun lalu saya memenuhi permintaan sekelompok anak muda yang didorong oleh sekelompok orang tua untuk membangun sebuah sanggar seni, yang, walau belum berakta notaris, sudah kami beri nama Sasangka Kumenyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh yang saya ketahui, di kampung halaman itu masyarakat terkotak-kotak ke dalam kelompok-kelompok yang secara diam-diam bersitegang karena faktor politis, ekonomis, ataupun karena faktor-faktor lain yang berorientasi kepentingan jangka pendek. Dusun Nglaran (Desa Cakul, Kecamatan Dongko) tempat sanggar Sasangka Kumenyar kami bangun, konon pada tahun 50 – 60-an berjaya berbagai jenis kesenian tradisional, ketoprak, ludruk, wayang orang, kuda lumping, dan terutama karawitan. Seni Tayub pun berkembang di wilayah ini, sampai-sampai ada semacam aturan tidak tertulis, laki-laki dari luar kampung yang hendak menikah dengan perempuan kampung ini haruslah pandai, atau setidaknya dapat langen-beksa (menari tayub). Lalu berbagai jenis kesenian tradisional itu pupus hingga mnyaris tak berbekas. Jika ada yang boleh disebut sebagai sisa jejaknya adalah seperangkat gamelan laras slendro yang nyaris tak dapat digunakan lagi karena sudah terlalu usang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sanggar mulai beroperasi, ada latihan karawitan, dan sempat diliput TVRI-Jatim untuk program siaran acara Dua Arah, tak saya sangka-sangka, berbagai tokoh kampung yang semula seperti membangun jarak karena apa yang saya sebut sebagai faktor kepentingan jangka pendek itu tiba-tiba saja dapat duduk melingkar, dalam suasana yang sangat akrap, dan bersama-sama berembug untuk merencanakan gerak selanjutnya Sanggar Seni Sasangka Kumenyar tersebut. Ada seorang ketua RT yang tiba-tiba mengatakan kesiapannya menggerakkan warganya membenahi fasilitas tempat berlatih yang dipandangnya kurang memadai. Ada yang menawarkan ini dan itu, dan yang paling penting dan menyentuh perasaan adalah: semua itu dikemukakan dengan ketulusan hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, saya menawarkan, jika disepakati, sanggar ini kelak bisa dikembangkan bukan hanya sebagai sanggar seni, tetapi juga sebagai sanggar budaya, dimana orang kampung bisa hadir di sini untuk berkesenian, membaca buku-buku sesuai dengan minat mereka untuk menambah wawasan dan mengembangkan ketrampilan mereka di bidang pertanian, peternakan, pertukangan, dan lain-lain. Mereka pun menyambut tawaran demikian dengan suka-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya saya berani mengatakan bahwa menyentuh hati rakyat melalui kesenian mereka adalah sangat bagus, dan kesenian rakyat sungguh dapat menjadi tombol untuk mengeksplorasi segenap potensi mereka. [teriring atur panuwun kepada Pak Suko Widodo/bersambung]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-5126079755515113183?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/5126079755515113183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/04/membangun-trenggalek-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/5126079755515113183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/5126079755515113183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/04/membangun-trenggalek-3.html' title='MEMBANGUN TRENGGALEK [3]'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-966394757961667693</id><published>2011-04-03T08:15:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T08:15:12.734-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>MEMBANGUN TRENGGALEK [2]</title><content type='html'>Di tengah-tengah situasi yang serba tidak menentu seperti sekarang ini, jika kita mau berpikir positif, kita akan melihat bahwa ada kreativitas di dalam masyarakat, rakyat yang tetap bisa survive,  tak peduli apakah harga bensin akan dinaikkan, apakah tarif dasar lintrik akan semakin tegang (=mahal), apakah pertikaian parpol akan berujung pecah kongsi koalisi, mereka itu, rakyat akar rumput yang saya sebut sebagai para kreator kehidupan (setidaknya kehidupan mereka sendiri) menunjukkan keuletan yang luar biasa. Datanglah ke kampung halaman saya, dan Anda akan menemukan orang-orang, keluarga, yang berdasarkan matematika ekonomi modern seharusnya (berdasarkan pendapatan mereka) telah lama mati, tetapi terbukti masih hidup dan dalam kondisi segar-bugar pula. Ketika tanaman cengkih seolah mogok tumbuh, ketika pohon-pohon tua mati ranggas karena hama, Di Kecamatan Dongko, tiba-tiba pula para petani menyulap pekarangan mereka menjadi ladang nilam. Dan jika saya tidak salah lihat, maraknya budidaya tanaman nilam dengan teknologi penyulingannya, tumbuh di tengah-tengah masyarakat tanpa diinisiasi oleh lembaga-lembaga bergengsi yang bernama: Dinas Pertanian maupun Dinas Perindustrian.&lt;span id="fullpost"&gt;  Untuk kasus berkembangnya peternakan kambing peranakan etawa di Sumberbening (Kecamatan Dongko), tampaknya juga demikian, tumbuh dari warga masyarakat yang kreatif –saya kenal dahulu ada tokoh bernama Muyono—yang, jika kemudian ada perhatian dari lembaga pemerintah, itu datang seperti polisi di dalam film India: selalu terlambat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang diberikan oleh Pemerintah kepada rakyat? Tentu banyak. Apalagi kalau kita menghitungnya dalam rupiah. Sebagai warga desa Cakul, kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, saya mencatat sangat banyak program bantuan (sejak 1970-an hingga 1980-an), dari proyek tanaman terasiring (kalantara, kaliandra, lamtoro gung, rumput gajah) hingga bantuan ternak, baik yang berupa hibah murni kepada petani/peternak hingga yang diberikan dalam format bantuan berguilir. Tetapi, sejauh yang saya lihat hingga sekarang, tidak ada jejak signifikan dari proyek-proyek bantuan itu. Tentu harus diupayakan evalusai terhadap semua itu, agar program-program selanjutnya tidak terjerembab ke dalam jurang kegagalan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi bentuk kredit supermikro yang pernah digulirkan pada era Orde Baru, namanya KURK (Kredit Usaha Rakyat Kecil) dan berjalan dengan baik di Kecamatan Dongko. Saya tahu cukup banyak mengenai program ini di tingkat implementasinya, karena untuk desa Cakul yang menjadi pengelolanya ada dua orang, dan salah seorang di antaranya ketika itu adalah paman saya (Tukimin, dan jika ada yang bersedia mewawancarainya, ia bisa ditemui di desa Cakul). Tetapi sayang, di tengah-tengah perjalanannya yang semakin menarik hati rakyat, tanpa alasan yang jelas tiba-tiba pengelolaannya diambil alih dan dilakukan langsung oleh pegawai kecamatan. Maka, pelan tetapi pasti, program yang baik itu pun menguap, hingga akhirnya lenyap tek berbekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara saya menyimpulkan, berbagai kegagalan itu disebabkan terutama oleh tidak adanya konsep holistik di dalam pelaksanaannya. Kita bisa dengan gampang menciptakan barang baru, dan tak peduli pada perawatannya. Bantuan diberikan hanya berupa ’’barang telanjang’’ tanpa disertai wawasan yang cukup untuk mengembangkannya. Ibaratnya, kita punya telepon genggam, dari merek terbaru pula, tetapi dalam diri kita tidak pernah ada perangkat kultural mengenai adab atau sopan-santun penggunaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat petani kita di pedesaan, berbeda dengan petani di negara maju, pada umumnya adalah masyarakat tradisional, yang secara bawah sadar masih melakukan pekerjaan sehari-hari sebagai laku upaya bertahan hidup, dan bukannya untuk menaikkan derajatnya menjadi kelas ’’pengusaha’’ walaupun untuk skala pedesaan. Sedangkan kehidupan modern memaksa mereka untuk mendapatkan penghasilan lebih untuk memenuhi tuntutan standar kehidupan modern: mobilitas tinggi, pendidikan, akses informasi, termasuk keharusan adanya pengeluaran rutin setiap bulan seperti kewajiban melunasi tagihan listrik, membayar SPP anak sekolah, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kultur yang tidak dibangun seiring tuntutan zaman modern itu juga tampak pada kenyataan ketika para TKI yang bekerja di luar negri mulai mengantongi modal. Yang biasa mereka bangun pertama kali adalah rumah, yang secara ekonomis adalah barang statis, dan anjlog nilainya begitu didapatkan. Berbeda dengan tanah, misalnya, yang setiap saat bergerak naik nilainya. Uang yang didapat oleh para pekerja kita dari luar negri itu sesungguhnya cukup signifikan untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi kita. Gubernur Jawa Timur mengakui, pernah ada masa, tahun, ketika PAD (pendapatan asli daerah Jawa Timur nilainya dikalahkan oleh remiten atau uang yang dibawa ke tanahair oleh para TKI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, ini adalah peluang bagi lembaga-lembaga (pembangunan) yang ada di Kabupaten Trenggalek khususnya, untuk mencari terobosan program pembangunan ekonomi yang seiring dengan kebutuhan para TKI/Purna TKI itu, tanpa harus mengintervensi urusan periuk mereka. Dan karenanya saya menganggap sangat lucu pernyataan seorang calon Bpati Ponorogo yang terlontar saat acara Debat Kandidat, lebih kurang begini, ’’Kita akan membantu mereka untuk mengelola modal yang mereka (Para TKI, Bon) dapatkan dari luar negri. Tetapi, itu kalau mereka mau. Kalau mereka tidak mau, ya bagaimana lagi, lha wong itu uang-uang mereka sendiri!’’ Saking lucunya, menurut perasaan saya, hingga kini saya masih menyimpan rekaman suara itu di dalam telepon genggam saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk berbagi wawasan dengan para pekerja/mantan pekerja migran itulah antara lain, bersama beberapa teman kini saya sedang terlibat dalam upaya membangun Paguyuban Pekerja/Mantan Pekerja Migran Trenggalek, agar mereka bisa mengakses informasi yang cukup mengenai peluang usaha dan bantuan seperlunya untuk mengelola modal yang mereka dapatkan dari luar negri. [bersambung]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-966394757961667693?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/966394757961667693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/04/membangun-trenggalek-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/966394757961667693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/966394757961667693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/04/membangun-trenggalek-2.html' title='MEMBANGUN TRENGGALEK [2]'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-395288185863275353</id><published>2011-04-03T08:12:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T08:12:36.132-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>MEMBANGUN TRENGGALEK [1]</title><content type='html'>&lt;b&gt;[1] Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Ayu Sutarto memetakan Jawa Timur sebagai provinsi yang multikultur, yang menaungi beberapa kelompok etnik, dan membaginya menjadi 10 subkultur: Jawa Mataraman, Jawa Panaragan, Arek, Samin (Sedulur Sikep), Tengger, Osing (Using), Pandalungan, Madura Pulau, Madura Bawean, dan Madura Kengean (Ayu Sutarto dan Setyo Yuwono Sudikan, 2004).&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta Budaya itu penting diketahui oleh para pemangku kepentingan proyek pembangunan bangsa karena seperti halnya jiwa dalam tubuh manusia, kebudayaan memberi informasi mengenai riwayat, termasuk riwayat kelahiran, asal-usul, karakter, dan bahkan ’penyakit’ yang pernah dideritanya, jika ada. Bayangkan, jika seorang dokter harus menangani seorang pasien yang kritis tanpa cukup diagnosis dan riwayat kesehatan si pasien. Potensi untuk terjadi malapraktek sangatlah tinggi. Demikian pulalah ibaratnya yang dapat terjadi di dalam Gerakan Pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir 2010 lalu Dewan Kesenian Jawa Timur menggelar Kongres Kebudayaan bertema ’’Dari Jawa Timur untuk Indonesia.’’ Satu hal penting yang mengemuka saat itu, menurut penilaian saya adalah sering dilupakannya pendekatan kebudayaan oleh para pemangku kepentingan pembangunan bangsa (Indonesia). Sesungguhnya itu hanya menegaskan kembali hal yang rasanya sudah terlalu sering diteriakkan oleh kalangan seniman/budayawan di negri ini. Itulah sesungguhnya seruan para seniman/budayawan, yang tampaknya belum benar-benar didengar, atau hanya sekadar didengar dan belum diimplementasikan dengan baik dalam setiap gerak pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan yang sering hanya berorientasi fisik dan material, sering justru menjauhkan manusia dari kemanusiaannya. Sudah berapa kali ganti rezim sejak Pemerintahan Orde Baru yang panjang, melelahkan, dan membosankan itu hingga kini, dan fakta membuktikan bahwa kita belum juga mendekati sukses mengentaskan bangsa ini dari persoalan kemiskinan. Sementara itu bangsa-bangsa lain, lebih tepatnya negara-negara lain yang pernah mengalami jatuh-bangun akibat penjajahan oleh bangsa lain dan atau perang saudara, kini telah bangkit menjadi bangsa maju, atau menampakkan diri semakin mendekati kualitas untuk berhak menyandang gelar sebagai bangsa atau negara maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, entah sejak kapan masih saja ’bangga’ menjadi bangsa yang sesungguhnya terbelakang, dan menghibur diri dengan istilah: negara berkembang. Memang berkembang pesat jumlah penduduknya, dan secara gawan bayi Indonesia adalah negara besar dan kaya akan sumberdaya manusia maupun sumberdaya alam. Tetapi, kekayaan SDM itu tidak bisa dikelola dengan baik, terbukti banyak orang pintar lebih memilih bekerja di negara lain, kekayaan alam kita justru dikeruk dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan (rakyat) negara lain, dan jumlah penduduk kita yang besar tak lebih dari ’’kue pasar’’ yang diperebutkan para produsen barang-barang, dari yang sesederhana tusuk gigi, jarum penthol, hingga barang-barang elektronika yang canggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, rakyat kita yang miskin secara harfiah itu, yang berpendidikan rendah, yang pola makannya jauh dari kriteria empat sehat lima sempurna, bahkan yang sudah divonis bergizi buruk alias kurang makan, ketika kepada mereka diberikan sejumlah uang, yang mereka beli pertama kali adalah pulsa! Itulah gambaran betapa ketahanan kulutural kita sangatlah rapuh, dan karenanya dengan gampang dilahap oleh kerakusan bangsa lain. Lagi-lagi, gambaran karikatural tersebut menunjukkan bahwa memanglimakan ekonomi adalah sama buruknya atau tidak lebih baik daripada memanglimakan politik. Mungkin juga kebudayaan tidak harus dijadikan panglima. Tetapi, penting untuk dilaksanakan: pembangunan manusia Indonesia seutuhnya seperti yang pernah digembor-gemborkan sejak era Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, setiap rezim memiliki jargonnya masing-masing. Sedangkan di pelosok-pelosok desa mamupun di tengah-tengah kota yang hiruk, kita masih sering mendengar celetukan polos rakyat bahwa lebih enak hidup di Zaman Orde Baru, atau bahkan, lebih enak ketika dijajah Belanda. Haladalah! Kalau mau berbicara kegagalan kita sebagai bangsa (janganlah selalu menimpukkan seluruh kesalahan kepada pemerintah) sesungguhnya tidak diperlukan penelitian dan angka statistik yang sukar dipahami itu. Datanglah ke warung kopi, ngobrol dengan rakyat jelata sekelas tukang becak, sambil menonton siaran berita televisi. Dengan cara pikir sederhana, kita bisa mengatakan bahwa sekitar 6 juta jiwa rakyat kita (80 % di antaranya bekerja di sektor rumahtangga) tidak perlu berbondong-bondong bertaruh nyawa di negara lain jika sebagai bangsa kita benar-benar bertekat mengupayakan agar apa yang disebut Bung Karno sebagai: ’’berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan,’’ itu menjadi kenyataan. Lupakanlah aneka macam hasil pooling, angka-angka statistik, dan lihatlah bahwa semakin derasnya arus pencari kerja ke negara lain, suka atau tidak kita sukai, adalah potret kegagalan kita sebagai bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pernah merasakan angin segar bertiup sebentar saat Gerakan Reformasi berhasil menumbangkan Rezim Orde Baru. Tetapi, pelahan-lahan harapan itu pupus seiring gerak perpolitikan di tanah air yang hanya semakin gaduh, semakin hiruk-pikuk, seolah-olah para elite politik hanya sibuk berdebat kusir, membangun koalisi, dan khasak-khusuk soal reshuffle kabinet. Rakyat sepertinya hanya dipandang sebagai bidak yang gampang diperalat untuk mendapatkan kursi kekuasaan, yang bisa disuap dengan duapuluh atau tigapuluh ribu rupiah untuk menusuk gambar partai tertentu di bilik suara pemilu. Betapa mengerikannya pula ketika mereka, pejabat/elit politik itu bahkan tak lagi hafal teks Pancasila. Dalam kenyataan seperti itu, apakah kita masih punya harapan pada mereka untuk membuktikan bahwa amanat Pembukaan UUD 45 itu benar-benar mereka upayakan? [bersambung]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-395288185863275353?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/395288185863275353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/04/membangun-trenggalek-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/395288185863275353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/395288185863275353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2011/04/membangun-trenggalek-1.html' title='MEMBANGUN TRENGGALEK [1]'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-355084334524971559</id><published>2010-12-20T23:15:00.000-08:00</published><updated>2010-12-20T23:15:01.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>JUARA DALANG BOCAH UNJUK KARYA</title><content type='html'>&lt;i&gt;Oleh : Henri Nurcahyo&lt;/i&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para Juara Festival Dalang Bocah, Wuwus Nanang Galih Carito dari Trenggalek,  dan Sadwika Aji Sembodo dari Surabaya, akan unjuk karya dalam acara Gelar Padang Rembulan 2010, di halaman Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Jalan Gentengkali 33 Surabaya, hari Rabu, tanggal 22 Desember 2010, diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuwus adalah Siswa SMP Negeri 2 Kec. Dongko, Trenggalek, pernah menjuarai Festival Dalang Bocah tingkat Jatim 2008 dan menyusul menjadi Juara Umum tingkat nasional tahun yang sama. Saat itu dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Sedangkan Sadwika adalah siswa SMP Negeri 12 Surabaya, Penyaji Terbaik  Festival Dalang Bocah tingkat Jatim tahun 2010. Kedua dalang ini akan membawakan pakeliran padat sekitar satu jam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sadwika akan mengawali acara tersebut pada siang hari, pukul 13.00 WIB, dengan pergelaran Wayang Kancil yang memilih lakon  Prabu Singa Barong. Pergelaran ini mirip wayang kulit biasa, namun tokoh-tokohnya berupa binatang, sehingga ceritanya berkisar pada nilai-nilai kearifan yang bercermin dari kehidupan dunia binatang (fabel).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedangkan Wuwus, akan unjuk karya dalam pergelaran wayang purwo, pukul 20.30 WIB, membawakan lakon Pembebasan Ekacakra, yang berkisah tentang ketamakan Raja Eracakra yang memakan rakyatnya sendiri. Kekejaman Prabu Baka ini kemudian dilawan oleh Pandawa yang membantu rakyat tertindas agar terbebas dari angkara murka rajanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah Wayang Kancil, pukul 14.00, acara dilanjutkan dengan Dialog Seni Budaya, menghadirkan dosen ISI Surakarta, Dr. Suyanto, S.Kar, MA dan Sumari, S.Kar, pengurus Pepadi Pusat  dan penulis buku wayang untuk anak sekolah. Malam harinya, pukul 19.00, diawali dengan pergelaran aneka tari oleh Sanggar Tari Pandu Siwi Surabaya, Tetembangan oleh SDN Rangkah VI Surabaya, dan musik Ul Daul dari Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) SMAN 3 Pamekasan serta tari Muang Sangkal oleh PPST SMKN IX Surabaya. Gelar Padang Rembulan yang kedua ini dipungkasi dengan pergelaran wayang purwo semalam suntuk, oleh Dalang Ki Sinarto dari Sidoarjo, dengan lakon Sang Bima.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masih dalam rangkaian acara yang sama, besok malamnya, Kamis, 23 Desember, juga dipentaskan Ludruk Lintas Generasi, yaitu gabungan Ludruk Karya Budaya Kota Mojokerto dengan Ludruk Remaja SMA Taman Siswa Kota Mojokerto. Juga tampil pelajar SD dan SMP Islam Terpadu Permata Kota Mojokerto. Kali ini pementasan dilakukan di Taman Krida Budaya, Jl. Soekarno Hatta, Malang. (*)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;i&gt;Surabaya, 17 Desember 2010&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBEr: dinding facebook-nya Heri Lentho&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-355084334524971559?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/355084334524971559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/12/juara-dalang-bocah-unjuk-karya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/355084334524971559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/355084334524971559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/12/juara-dalang-bocah-unjuk-karya.html' title='JUARA DALANG BOCAH UNJUK KARYA'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-4250834182232899396</id><published>2010-11-22T18:10:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T18:10:29.906-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainlain'/><title type='text'>PUISI BENI SETIA</title><content type='html'>&lt;b&gt;NGLARAN, CAKUL, TRENGGALEK *&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         kagem pake + bune bon,&lt;br /&gt;         pak + ibu dulhasim, dan&lt;br /&gt;         sedherek-sedherek kabeh&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;dari ponorogo lewat&lt;br /&gt;trenggalek menuju:&lt;br /&gt;nglaran, cakul. dari&lt;br /&gt;dataran rendah palung&lt;br /&gt;bengawan madiun mencari&lt;br /&gt;laut kidul lewat liuk bukit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti sang werkudara&lt;br /&gt;melacak tirta amerta di&lt;br /&gt;selaksa depa tepi jurang &lt;br /&gt;bibir tebing--yang setia&lt;br /&gt;menjanjikan kejatuhan di&lt;br /&gt;setiap helaan nafas cemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;hanya ada dua tikungan&lt;br /&gt;antara trenggalek-cakul&lt;br /&gt;: kanan-kiri. meliuk-liuk&lt;br /&gt;lihay bagaikan politikus &lt;br /&gt;yang selalu bersekongkol&lt;br /&gt;dengan jurang dan tebing &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di antara berangkat dan tiba&lt;br /&gt;tersambung juta tanda tanya &lt;br /&gt;: lengkung kail yang makin &lt;br /&gt;menyihir tatap. menyiulkan&lt;br /&gt;perbukitan tuntas menugalkan &lt;br /&gt;kelam jurang + dingin puncak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;ada sulur bukit di balik&lt;br /&gt;sulur bukit, seperti alur&lt;br /&gt;acak guludan raksasa pada&lt;br /&gt;ladang kaspi sang perkasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: dan cuaca segera dingin &lt;br /&gt;ketika pagi segera jumpa &lt;br /&gt;senja di teras rumah lengang&lt;br /&gt;di pinggang bukit tepi jurang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara segara cuma desah &lt;br /&gt;di balik bukit, gaung gedebur &lt;br /&gt;yang bersiendap menjadi embun &lt;br /&gt;--halimun di puncak bukit sejak &lt;br /&gt;dhuhur, hujan hilang sejak maret &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;selain belokan di mana-mana &lt;br /&gt;hanya turunan dan tanjakan:&lt;br /&gt;curam. the jet coaster’s route&lt;br /&gt;--bikin orang menekah-nekah&lt;br /&gt;dibebani kaspi dan jeriken air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pohon pinus menjaring sinar&lt;br /&gt;siang, liang-liang titik nadir&lt;br /&gt;terhunjam mencari tinggalan&lt;br /&gt;air. lantas putih tanah kapur&lt;br /&gt;dan senyum rawan dalam lelah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumah-rumah segera menutup&lt;br /&gt;pintu sebelum dingin bertamu,&lt;br /&gt;menyalakan sihir kemakmuran&lt;br /&gt;di tv, melupakan semak ranggas&lt;br /&gt;dan cengkih yang terbiar--masa&lt;br /&gt;lalu yang sangat ingin dilupakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;di panggul: hangat angin laut&lt;br /&gt;itu masih menyisakan ramah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di nglaran, cakul: udara dingin&lt;br /&gt;membangkitkan luka masa lalu&lt;br /&gt;di belikat. meski hangat ruang&lt;br /&gt;tamu serta obrolan dan banyak&lt;br /&gt;suguhan membuat kabut bagai&lt;br /&gt;pigura wisata dari dunia haiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini tersisa: hormat dan kangen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;06/08.2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Beni Setia, sastrawan, tinggal di Caruban, Madiu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;--Puisi ini dimuat dalam buku puisi &lt;b&gt;Jawa Timur Bertutur&lt;/b&gt;, 2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-4250834182232899396?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/4250834182232899396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/11/puisi-beni-setia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4250834182232899396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4250834182232899396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/11/puisi-beni-setia.html' title='PUISI BENI SETIA'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-511931799520869711</id><published>2010-11-04T09:53:00.000-07:00</published><updated>2010-11-04T09:53:13.138-07:00</updated><title type='text'>SEPARUH HATIKU TERTINGGAL DI CAKUL</title><content type='html'>&lt;i&gt;Puisi: Elnisya Mahendra&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucuk pinus menyambut &lt;br /&gt;Datangku&lt;br /&gt;Dalam deru roda roda lelah&lt;br /&gt;Datangku&lt;br /&gt;Diantara permadani hijau&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lekuk tubuh anggun sang perawan gunung&lt;br /&gt;Melenggang bersama wangi nilam&lt;br /&gt;Bercampur aroma cengkeh dan rempah&lt;br /&gt;Membaurkan rasaku yang terdiam&lt;br /&gt;Terpagut keindahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu&lt;br /&gt;Aku dalam kagumku&lt;br /&gt;Terekam dalam kristal mata&lt;br /&gt;Tersimpan dalam gulungan memory&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah Cakul&lt;br /&gt;Dalam kenang&lt;br /&gt;Tertinggal disana separuh bayang&lt;br /&gt;Lembayung senja&lt;br /&gt;Rembulan memerah diantara nebula&lt;br /&gt;Pendar galaksi yang mentautkan&lt;br /&gt;Aku dan penghuninya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Trenggalek, Oktober 2010&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elnisya Mahendra, lahir di Tuban 4 Desember 1976.Menulis dan menyukai sastra. Mantan buruh migran Hong Kong, yang tergabung di Teater Angin ini, mencoba eksis dan berkarya di negri sendiri. Di daerahnya bergabung dengan salah satu komunitas sastra di Bojonegoro.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-511931799520869711?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/511931799520869711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/11/separuh-hatiku-tertinggal-di-cakul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/511931799520869711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/511931799520869711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/11/separuh-hatiku-tertinggal-di-cakul.html' title='SEPARUH HATIKU TERTINGGAL DI CAKUL'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-4778259993506892778</id><published>2010-10-17T05:19:00.000-07:00</published><updated>2010-10-17T05:19:47.081-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Sanggar Seni Sasangka KUmenyar Dusun Nglaran "diliput " TVRI-Jatim</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/TLrpgU2KKkI/AAAAAAAAAlQ/e-yPJpy0rVo/s1600/sasangka-kumenyar2.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/TLrpgU2KKkI/AAAAAAAAAlQ/e-yPJpy0rVo/s400/sasangka-kumenyar2.gif" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Acara di Dusun Nglaran: Kemis-Kliwon, 14 Oktober 2010, diliput TVRI-Jatim untuk acara "Dua Arah" (rencana tayang 22 nov 2010 pukul 18.00 - 19.00). Di tempat yang sama berlangsung sarasehan dalam rangka Festival Sastra Jawa dan Desa, 4 - 5 Agustus 2009. --Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jatim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-4778259993506892778?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/4778259993506892778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/10/sanggar-seni-sasangka-kumenyar-dusun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4778259993506892778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4778259993506892778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/10/sanggar-seni-sasangka-kumenyar-dusun.html' title='Sanggar Seni Sasangka KUmenyar Dusun Nglaran &quot;diliput &quot; TVRI-Jatim'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/TLrpgU2KKkI/AAAAAAAAAlQ/e-yPJpy0rVo/s72-c/sasangka-kumenyar2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-2752389702550027620</id><published>2010-08-18T00:09:00.000-07:00</published><updated>2010-08-18T00:09:09.855-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='potensi'/><title type='text'>Petani Cengkih kembali Bergairah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/TGuG6NYf83I/AAAAAAAAAk8/Zy3hyGrxZD0/s1600/menjemur-bunga-cengkih.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/TGuG6NYf83I/AAAAAAAAAk8/Zy3hyGrxZD0/s320/menjemur-bunga-cengkih.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Cengkih mengalami kejayaan, terutama pada paroh kedua tahun 70-an. Trenggalek yang sejak lama dikenal sebagai wilayah tandus dan daerah termiskin di Jawa Timur pun mengukir mimpi bersama tumbuhnya tanaman cengkih yang ketika itu dipopulerkan oleh sang bupati, Soetran. Dipandang berjasa sebagai pemimpin yang memberikan banyak harapan bagi masyarakatnya, nama Soetran pun diabadikan sebagai nama jalan, di salah satu sudut ibukota Kabupaten yang di sisi Selatan-nya langsung berbatasan dengan Australia itu.&lt;span id="fullpost"&gt;  Dalam perjalanan waktu, orang menyadari, termasuk Pemerintah, bahwa berkembangnya pertanian cengkih yang bahkan sempat dijuluki sebagai emas hijau itu tak juga meningkatkan kesejahteraan para petaninya secara setimpal. Artinya, bahwa pendapatan petani meningkat, memang demikian. Tetapi, ternyuata petani menjadi bulan-bulanan tengkulak besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, pemerintah membentuk sebuah badan bernama BPPC (Badan Penyangga Perdagangan Cengkih) untuk mengurusi tataniaga cengkih, itu pada paroh kedua tahun 80-an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi kemudian ternyata semakin jauh dari harapan. Para pelaku perdagangan (tengkulak besar) ternyata tetap memainkan peran. BPPC ternyata kemudian hanya menjadi lembaga stempel untuk memungut sebagian keringat para petani.  BPPC sempat menjadi besar, dan petani makin menjerit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu datanglah penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan ndilalah namanya mirip BPPC, yakni BPBC (Bakteri Penggerek Batang Cengkih). Banyak tanaman cengkih ranggas dan kemudian ditebang untuk dijadikan kayu bakar. Sawah-sawah yang semula disulap menjadi kebun cengkih pun dikembalikan menjadi sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, BPPC sudah dibubarkan. Ada sebagian petani yang masih trauma, ada yang bangkit lagi dengan kembali menanam cengkih. Pasar pun kembali menggeliat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Trenggalek&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara geografis, wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, memang terdiri atas pegunungan dan perbukitan kapur. Mayoritas penduduknya adalah petani. Tanaman pokok yang selalu setia ditanam terutama diderah pegunungan adalah ketela pohon alias singkong sebagai bahan pangan pokok. Hal seperti itu bertahan hingga sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trenggalek pun dikenal dengan julukan penghasil gaplek (ketela pohon yang dikeringkan sebagai bahan baku untuk membuat nasi tiwul).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era ’60-an hampir seluruh wilayah Trenggalek yang berupa lahan kering ditanami ketela. Baru ada perubahan pada tahun ’70-an semasa Soetran menjabat Bupati Trenggalek, melakukan ujicoba dengan menggerakkan masyarakat petani  untuk menanam cengkih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu petani terutama di pedesaan diberi bantuan bibit cengkih secara gratis. Setelah cengkih ditanam dan dilakukan perawatan dengan sungguh sungguh beberapa tahun kemudian petani cengkih bisa merasakan hasil yang cukup menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya cengkih ternyata masyarakat Trenggalek terutama dipedesaan mengalami peningkatan ekonomi yang cukup lumayan . Hal itu dapat dilihat yang dulunya para petani hanya bisa menyekolahkan anaknya sampai tamat SD, dari hasil panen cengkihnya mereka bisa menyekolahkan sampai SMA bahkan banyak yang sampai perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun daerah yang paling banyak menghasilkan cengkih saat itu ada beberapa Kecamatan yaitu Dongko, Panggul, Pule, dan Munjungan. Wilayah ini merupakan lumbung cengkih di daerah Trenggalek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya pada tahun ’80-an setelah pemerintah membetuk badan yang mengurusi tentang tata niaga cengkih yaitu BPPC yang tujuannya semula untuk menolong petani dari perubahan harga cengkih yang fluktuatif ternyata ujung ujungya justru badan ini yang menyengsarakan petani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani cengkih mengalam frustasi. Karena monopoli yang dilakukan oleh BPPC lewat KUD yang melaksanakan kebijakan untuk penjualan hasil cengkih petani harus ke KUD itupun dengan harga yang ditekan semurah-murahnya. Selain itu petani tidak bisa menjual sendiri hasil taninya ke wilayah lain bila ada pastilah ditangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil petani seperti dipasung, dan setelah dihitung-hitung saat itu hasil dari  penjualan dengan upah petiknya yang harus dikeluarkan sudah tidak seimbang. Makanya banyak petani yang membiarkan bunga cengkihnya tidak dipetik bahkan tidak sedikit yang ditebang untuk diganti tanaman lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah terjadinya reformasi dan bubarnya BPPC, para petani cengkih mulai bangkit kembali, karena tataniaganya tidak dimonopoli lagi oleh perorangan ataupun pemerintah. Kembali pada hukum pasar. Yaitu bila barangnya banyak maka harga akan cenderung turun namun bila cengkih di pasaran tidak banyak maka harga akan melambung naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Musim Panen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini petani di Trenggalek ternyata mulai kreatif dalam hal bercocok tanam. Hal ini bisa dilihat ladang-ladang cengkih yang ada tidak lagi melulu tanaman cengkih saja, namun di sela-sela cengkih ternyata banyak ditanami coklat, pisang, nilam yang juga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu para petani mulai berpikir bila nantinya cengkih mengalami harga jatuh maka dari hasil tanaman selanya mereka masih memperoleh pendapatan, yang cukup lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini petani cengkih mulai panen raya. Musim panen setiap tahun sekali biayanya mulai bulan juni sampai agustus. Dengan harga cengkih basah di pasaran Rp 15.000 per kilogram, sedangkan cengkih kering mencapai Rp 50.000. Petani seperti mengalami kembali kejayaan masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dengan harga yang cukup bagus ekonomi masyarakat mulai menggeliat lagi tidak saja petani yang untung, para buruh tani juga kebagian rezeki, yang semula upah buruh tani Rp 20 ribu/hari maka sebagai pemetik buah cengkih dapat memperoleh upah Rp 30 sampai 35 ribu/hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tengkulak Kecil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa para pedagangnya juga ikut berlomba untuk meperoleh laba. Bila modalnya besar maka ia akan berperan sebagai pengepul cengkih kering. Sedangkan yang hanya memiliki modal pas-pasan maka mereka biasanya membeli cengkih basah untuk dikeringkan, kemudian setelah kering baru dijual ke pedagang pengepul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya mereka memperoleh laba dari selisih harga dan berat dari cengkih basah menjadi cengkih kering. Untuk menghasilkan 1 kg cengkih kering biasanya membutuhkan 3 kg cengkih basah, bahkan bila kualitas cengkihnya bagus 2,7 kg sudah bisa menghasilkan 1 kg cengkih kering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiyuk yang tekun membeli dari petani, mengeringkan dan kemudian menjualnya dalam kondisi kering, mengaku bisa meraup untung Rp 30.000 - Rp 50.000/hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setiap musim cengkih saya selalu membeli basah untuk saya keringkan. Bila cuacanya cukup bagus, panasnya dari pagi sampai sore tiga hari cengkih sudah siap dijual, sehingga ngirit tenaga dan kualitas cengkih jadi bagus hingga untungnya cukup lumayan. Bahkan untuk memperoleh untung yang banyak sebenarnya tinggal berapa modal kita dan seberapa banyak kemampuan untuk mengeringkan,” tutur Tiyuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daun Kering&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu cengkih ternyata tidak hanya bunganya saja yang laku dijual. Daunnya yang sudah keringpun laku untuk dijual dengan harga Rp 800 sampai Rp 1000 perkilonya. Daun kering ini disuling untuk diambil minyaknya sebagai bahan baku obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarpun panennya setahun sekali bunga cengkih bisa menyejahterakan ekonomi petaninya. Hal ini terlihat dimasyarakatnya, setiap panen tiba mereka tidak lagi binggung untuk biaya sekolah anak-anaknya, bahkan ada yang seperti berlomba membangun dan memperbaiki rumahnya dan banyak juga yang membeli kendaraan, terutama roda dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang jelas geliat ekonomi ini sangat kentara bila panen raya tiba, pasar-pasar, toko-toko selalu dijubeli pembeli.[pur]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-2752389702550027620?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/2752389702550027620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/08/petani-cengkih-kembali-bergairah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2752389702550027620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2752389702550027620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/08/petani-cengkih-kembali-bergairah.html' title='Petani Cengkih kembali Bergairah'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/TGuG6NYf83I/AAAAAAAAAk8/Zy3hyGrxZD0/s72-c/menjemur-bunga-cengkih.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-8616142420758921533</id><published>2010-08-17T05:02:00.000-07:00</published><updated>2010-08-17T05:02:26.565-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Megengan</title><content type='html'>Tradisi genduren (saka tembung kenduri +an-kenduren-genduren) megengan, utawa biasane disebut wae megengan, ngono, isih lumaku nganti tekan saiki ing Dhusun Nglaran.  Ya wis kaya mengkono kuwi sebutane, mbuh kepriye larah-larah etimologine. Sangretiku sing kerep kocap kuwi tembung ’megeng napas’, tegese nahan utawa mekak ambegan. Mbokmanawa, megengan kuwi secara psikologis dianggep kayadene ngerem ndadak kebat-kemrungsunge urip padinan merga mapag dina kawitan ing wulan Pasa utawa mapag dina Riyaya. Megengan padatane uga ditindakake kanggo mapag dina Riaya utawa dina Idul Fitri.&lt;span id="fullpost"&gt;  Dhek jaman cilikanku, genduren megengan kuwi ajeg dikembul wong samason. Mason iku kukuban warga nunggal sumber/belik kang diangsu. Ana kang samason mung dumadi 5 somah, ana kang nganti puluhan utawa las-lasan somah/kulawarga. Kulawargaku kang dhek semana isih dadi siji karombah buyut, melu mason Kali Poko, kang anggotane kepetung akeh, nganti 11 somah. Mangka yen genduren megengan iku biasane digelar gentenan ing saben omah. Beda karo genduren Muludan kang saben somah nggawa ambenge menyang omahe jurukunci mason banjur dikajatake lan dikembul bareng ing kono. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangke, genduren bergilir kang dilekasi jam lima utawa jam 6 kuwi bisa nganti tekan jam 10. Lha yen ing saben omah mangan telung pulukan wae wis kari ngepingke sewelas, dadi 33 pulukan. Pokoke angger rampung acara genduren ing 11 omah kuwi ajeg kewaregen. Lha, olehe salat tarweh? Dhek aku isih cilik kuwi, sadhusun kira-kira ora genep wong lima kang nindakake salat tarweh jamaah ing masjid. Lha, wong sing nindakake salat wajib wae ya isih siji-loro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mason Kali Poko kuwi jurukuncine Mbah Wiryosari (saiki wus suwargi), nglintir saka wong tuwane. Mula angger ana genduren ajeg Mbah Wir kang ngajatake utawa ngujupake ambengane. Olehe ngajatake nganggo basa karma. Mung kala-kala digenteni Mbah Poidjan (saiki uga wis suwargi) kang dhek nalika semana saben dinane makarya kadidene kuli ratan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawise dikajatake, sadurunge ambeng dipurak, luwih dhisik didongani. Dongane nganggo basa Arab, donga slamet lan donga kubur. Awit, sajake kang luwih baku ing genduren megengan kuwi kirim donga kanggo kang wis padha sumare. Kang kajibah ndongani, biasane Kek Giran utawa Lik Redi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajatan iku satemene uga ngemu donga, upamane, ’’Awit dipunmule lan dipun metri, panuwune slamet wilujenga wiwit dinten niki ngantos sakpengajenge sampun wonten godha rencanane kantuna manggih seger kuwarasan lan sekeca anggenipun pados sandhang tedha, sedaya mawon dipun seseni kabul.’’ Angger olehe ngajatake wis tekan tembung "kabul" ngono kuwi banjur kang padha ngepung melu nyahuti bebarengan, "Kabuuuuuulllllllllllllllll.............'' Kuwi biyen. Saiki, sajake olehe nyauti kajatan kuwi wis ganti tembung, ''Amiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnn........" Biyen ya kala-kala ana sing muni, "Amin," ngono, nanging isih kerep lan luwih akeh kang muni, "Kabuuuuuuullllllll." Ewadene, tembung "amin" kuwi jane wis kelet karo tradhisi genduren dhek jaman cilikanku, nganti "genduren" kuwi uga disebut "amin-amin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandonga sajroning kajatan iku diandharake sawise ngarani perangane ambengan, upamane, takir, metri, mule, buceng lan sapiturute, lan njlentrehake apa maknane siji lan sijine. Upamane, ’’Dipunwontenaken mule-metri (wujude sega dikemongi diwadhahi piring, ganep lan lawuhe srondeng karo irisan endhog dadar utawa iwak pitik, wedhus, sapi..) menika perlu ngariayani anggenipun nglampahi siyam…’’ (ngono ing genduren megengan mapag bada utawa genduren maleman). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genduren maleman iku, ing kukuban Mason Kali Poko biyen dianakake kaping telu sajrone wulan Pasa, yakuwi ing malem tanggal 21, malem 27, lan malem 29). Bedane, yen genduren maleman ambengan saka saben somah digawa menyang omahe jurukunci mason saperlu dikajatake lan dipurak bebarengan. Mbokmanawa kanggo ngentheng-enthengake, genduren maleman kuwi didum amrih ora saben somah nyepakake ambengan kaping telu. Upamane, kelompok lor kalen bageyan malem selikur, kelompok tengah malem 27, lan pomahan iring kidul sing melem 29.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadurunge genduren megengan digelar, bageyan domestik utawa kang nyambutgawe neng omah pawon, ora mung nyepakake ambengan kanggo genduren, nanging uga nyepakake sajen.  Wernane sajen ya: sega (kayadene mule),  kolak, wedang (kopi), rokok, lan sapiturute. Ujube, sajen kuwi kanggo arwahe kang wus padha sumare. Lha mengko angger olehe genduren rampung, sing duwe omah biasane njur nyang amben tengah lan ngetokake sajen sing wujud kolak utawa wedang saperlu disuguhake sing padha ngepung ambeng utawa peserta genduren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senajan tradisi genduren megengan isih lestari nganti saiki, pakulinan nyepakake sajen kuwi sajake wis ilang babarpisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing dina megengan, sadurunge bengine digelar genduren, wong-wong biasane padha nyekar menyang kuburan. Diarani nyekar, merga iku satemene acara sawur kembang ing kuburan, lan ndongakake amrih para ahli kubur, mligine anggota kulawarga kang wus katimbalan luwih dhisik, amrih nemu kamulyan ing kanane.  [Bonari Nabonenar]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-8616142420758921533?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/8616142420758921533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/08/megengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8616142420758921533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8616142420758921533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/08/megengan.html' title='Megengan'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-2658639955982320267</id><published>2010-08-11T05:35:00.000-07:00</published><updated>2010-08-11T05:39:41.328-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainlain'/><title type='text'>Warni: Semangat Pantang Menyerah!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/TGKZ8WfNZzI/AAAAAAAAAkw/iHRRZp1ay84/s1600/WARNI-DAN-ISTERI.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/TGKZ8WfNZzI/AAAAAAAAAkw/iHRRZp1ay84/s320/WARNI-DAN-ISTERI.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Di kota-kota di Indonesia, banyak kita jumpai orang yang seharusnya masih bisa melakukan banyak hal justru memilih mengantungkan belas-kasihan orang lain dengan meminta-minta. Pemandangan demikian akan sangat kontras dengan sosok Warni, seorang warga kampung yang benar-benar pantang menyerah!&lt;span id="fullpost"&gt;  Adalah Warni(45) warga RT 29/15 Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Sejak kecil ia sudah mengalami kebutaan total. Namun, Warni kecil kala itu tidak merasa minder untuk bermain dengan teman-teman sebayanya, biarpun ia merupakan satu-satu anak yang tidak dapat melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman temannya pun tidak ada yang pernah mengejek atau mengucilkannya. Bahkan warni ketika masih anak-anak setiap malam cukup rajin pergi belajar ngaji ke Masjid yang jarak dari rumahnya sekitar 1kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarpun cacat warni memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh teman-temannya yaitu daya ingatnya yang tergolong tajam, sehingga dalam hal mengaji ia lebih dulu hafal dan lancar dibanding teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan lain yang dimiliki warni adalah semangatnya yang melebihi orang kebanyakan. Ini tidak pernah surut mulai dari kecil sampai sekarang. Seperti halnya laki-laki lainnya Warni pun punya angan-angan untuk bisa hidup berumah tangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun wanita yang menjadi pilihan dan bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri warni adalah Menik, janda beranak satu dan masih terhitung tetangga sendiri yang dinikahi 32 tahun yang lalu. Dari pernikahannya itu mereka mendapatkan dua orang anak yang semua telah berumah tangga sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah Warni sebagai keluarga petani, dan sebagai kepala keluarga mau tidak mau ia juga harus terjun untuik bercocok tanam untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kelebihan yang dimiliki, biarpun tidak dapat melihat tetapi kegiatan apa saja yang dilakukan orang normal ia bisa melakukannya. Mulai menggarap lahan pertaniaan sampai penanaman dan pemanenan ia bisa melakukan sendiri, dan hasilnya tidak kalah dengan orang-orang yang bisa melihat dengan normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila di lingkungan ada kegiatan iapun tidak pernah ketinggalan turut serta, bahkan ia termasuk penabuh gamelan yang cukup trampil. Banyak gending Jawa dikuasainya dengan hanya mengandalkan daya ingatnya yang cukup tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketrampilan lain yang dimiliki adalah sebagai tukang pijat, pelanggannya biasanya masih dalam lingkup satu desa saja. Sebenarnya warni pernah mendapatkan pelatihan sebagai tukang pijat yang dilakukan oleh dinas sosial, bahkan selesai pelatihan ia mendapatkan sebuah dipan dari dinas sosial tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang dilakukan warni untuk menyambung ekonomi keluarganya. Bahkan, sampai ia bisa menyekolahkan kedua anaknya sampai tamat SMA, adalah dengan jualan rokok dan jajanan bila ada orang yang mempunyai hajatan, sementara itu istrinya melakukan kegiatan sebagai buruh tani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini warni dirumah hanya tinggal bersama istri dan anak tirinya yang juga memiliki penyakit epilefsi, sementara kedua anaknya sudah berumah tangga sendiri, yang satu di Jakarta sebagai pekerja pabrik yang perempuan mengikuti suaminya bekerja sebagai nelayan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Sakit-sakitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu istrinya saat ini sakit-sakitan dan sudah tidak bisa bekerja lagi, makanya tinggal warni sendiri yang berusaha banting tulang untuk makan sehari-hari. Tapi hal tersebut tidak menjadikan semangat hidupnya surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Orang hidup macam saya ini apalagi yang meu dikejar? Yang penting tiap hari bisa makan, itu sudah Alhamdulillah. Anak-anak juga sudah mentas semua. Kalau sekarang istriku lagi tak kuat bekerja, ya biar semampu saya bekerja. Dapat hasil sedikit disyukuri, banyak ya semakin alhamdulillah,’’ tutur Warni dalam bahasa Jawa, diiringi tawanya yang lepas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Satu hal lagi, jangan sampai terlalu merepotkan tetangga. Maka, sedapat mungkin seperti bikin meja, kursi, walaupun asal jadi ya semua kukerjakan sendiri.  Juga radio sebagai sarana hiburanku ini, dulu ini pemberian orang. Aku terima dalam keadaan rusak. Ya, saya utak-atik ternyata bisa bunyi. Walau harus menanggung risiko, hidungku kena soder yang sedang membara. Waktu menyoder itu, aku kan menandai apakah soder sudah cukup panas atau belum kan dengan mengetahui baunya,’’ kenangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Warni baru giat-giatnya mempersiapkan lahan pertaniannya yang sebetulnya tidak begitu luas untuk persiapan musim tanam yang akan datang karena saat ini hanya itulah satu-satunya sumber ekonominya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturannya biasanya yang ditanam pada lahannya ada beberapa jenis yaitu yang pokok ketela, kemudian ada jagung, kacang dan sayur. Selain sudah ada beberapa batang pohon cengkeh dan kopi yang dijadikan penghasilan tahunannya.[pur]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-2658639955982320267?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/2658639955982320267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/08/warni-potret-semangat-pantang-menyerah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2658639955982320267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2658639955982320267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/08/warni-potret-semangat-pantang-menyerah.html' title='Warni: Semangat Pantang Menyerah!'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/TGKZ8WfNZzI/AAAAAAAAAkw/iHRRZp1ay84/s72-c/WARNI-DAN-ISTERI.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-2344514081022859286</id><published>2010-08-10T06:14:00.000-07:00</published><updated>2010-08-10T06:14:53.392-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>Lungursanten: 1975</title><content type='html'>Saelingku, mangsa paceklik paling mbedeking kuwi taune 1972. Nalika semana, aku isih kelas loro sekolah dhasar (SD). Nanging, nganti aku lulus SD. Yen sampeyan takon marang wong-wong Desa Cakul kang menangi jaman mbedeking kuwi, angka 1972 kuwi mesthi akeh kang eling. &lt;span id="fullpost"&gt;  Satemene kang aran paceklik mono saemper ambah-ambah, ora mung dumadi taun 1972. Nganti taun 1976 (iku wektu nalika aku lulus SD lan kudu ngenger ing kecamatan seje amrih bisa nerusake sekolahku menyang SMP) aku menangi pirang-pirang ungsum paceklik. Titikane, angger wis ana rerasanane tangga manawa ana saperangan kang kerep kentekan gebing (gaplek) njuk mung njenang tela, sayure godhong tela, sok paribasane mung diuyahi, kaya ngono kuwi yen ambah-ambah paceklik nrajang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satemene ora nganti nemen kaya dek Jaman Jepang --miturut critane simbah-- nganti bonggol gedhang ya dipangan. Oh, iya, manut ujare crita, yen mundur rada adoh, saka 1972, taun kang paling mbedeking paceklike iku 1918. Lah, prekara paceklik iki kok becike dicritakke meneh mangko ya? Lha, wis 159 tembung kok durung nyrempet Lungursanten kang dirancang kadidene lakone crita iki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka taun 1975 iku isih kena dianyang kok. Tegese aku ora bisa njamin apa kuwi pas tenan. Pokoke sakiwatengene taun iku, sing cetha aku isih dadi tukang ngarit lan sinau ing sekolah dhasar. Saben dina sabaku alas, ndilalah mangsa paceklik, ana wuluwetune alas kang maune kaya ora pati digatekake, dumadakan dadi lakon: uwi. Neng alas, klebu neng Lungursanten iku akeh uwi. Merga kentekan tela lan palapendhem liyane ing pekarangan, alas dadi jujugan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manekawarna uwi ana ing alas, ana uwi kontholbantheng, uwi lus, lan uga ana gembili. Uwi kontholgantheng kuwi bisa gedhe, brongkalan, tur mapane isine ora pati jeru. Gampang le ndhudhah. Beda maneh uwi lus, iku saben uwit mung isi siji, ndlujur nunjem bumi. Gedhe cilike isine bisa katitik saka uwite. Yen nemu sing uwite sing mrambat kuwi gedhene sarokok ngono wae wong senenge ora jamak, jalaran isine uwi lus iku merit ing ndhuwur lan sangsaya mengisor sangsaya gedhe. Dene gembili, iku kondhang paling enak rasane, nanging le ngerah ya paling angel merga uwite rinengga marung (eri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saben dina ana wong tegalan (=golek menyang alas) uwi. Mula alas saelore padhukuhanku, kuwi, klebu ing Lungursanten, banjur dadi kebak jlondhangan, juglangan, tilase wong ndhudhuk uwi. Kadidene tukang ngarit kang kulina nunggangi grumbul utawa blusukan ing sangisore, kahanan iku ora nyenengake, merga yen ana blahine sawayah-wayah bisa kecemplung juglangan. Mbareng saiki kenal GoogleEarth, njuk dadi mbayangke, kepriye ya rupane Lungursanten (1975) nalika kebak juglangan kuwi yen disawang saka antariksa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lungursanten kuwi perangane alas ing lor padhukuhanku. Saka omahku (omahe wong tuwaku) udakara 4 utawa 5 km. Mung dhek nalika semana dalane isih dalan setapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambane ora nganti atusan hektar. Kira-kira ya sepuluhan hektar, utawa malah kurang, nggligir saka sangisore Lemah Abang (saka arah Gunung Bogang). Pereng sisih tengen anjog nyang Jurug, sisih kiwa ana kalen kang ing nggir kanane iku ana perangane alas kang katelah Rata-rata. Nggir kanane Rata-rata ana padhukuhan Banaran, kalebu Desa Sawahan kang wus kebawah Kecamatan Panggul. Lha yen terus bablas anjog mengalor, mengko bakal tekan tempuran Kali Ulik, kang nampani banyu saka arah Kecamatan Pule sisih Kidul lan saka saperangan Kecamatan Dongko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senajan saiki kahanane wis kaya pekarangan, merga wis dikapling-kapling dening warga kang diembani LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), Lungursanten dhek jaman cilikanku biyen wujud alas tropis kanthi manekawarna wit-witan, thethukulan, lan sato kewan. Ana wit jati, weru, mauni (mahoni), pule, bendho, tangkil, lan liya-liyane. Jare simbah, dhek aku durung lair alas Lungursanten kuwi wis tau dibukak. Lah, bukakan alas dhek jaman semana kuwi mung kanggo sawatara taun, ora kaya program LMDH saiki kuwi sing sajake ora diwatesi embuh nganrti kapane. Kewan khas Lungursanten, sing ora tinemu ing alas kidul (sakidule padhukuhanku) yakuwi lutung. Yen kethek iku neng Jurug ya ana, lan sing jan akeh tenan nganti dadi kaya kratone kethek, iku alas kidul. Si kethek ing alas kidul sajake durung cures nganti saiki. Nanging, lutung ing Lungursanten wis cures babarpisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbokmanawa bakal luwih akeh maneh kang ing tembene mung kari dongenge. &lt;i&gt;[Bonari Nabonenar]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-2344514081022859286?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/2344514081022859286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/08/lungursanten-1975_10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2344514081022859286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2344514081022859286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/08/lungursanten-1975_10.html' title='Lungursanten: 1975'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-104062655222649141</id><published>2010-08-05T15:01:00.001-07:00</published><updated>2010-08-05T15:01:56.076-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita'/><title type='text'>LMDH = Lembaga Masyarakat Desa (BUKAN) Hutan</title><content type='html'>Setiap kali pulang kampung (Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek), setiap kali pula perasaan saya dibetot pemandangan: alas atau hutan yang kini telah berubah menjadi ladang. Ini bukan soal mengkampanyekan kesadaran terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Itu soal lain. Ini persoalan yang sangat atau mungkin terlalu pribadi.&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghabiskan masa kecil di desa itu, dibesarkan bersama-sama oleh keluarga besar: ayah-ibu, nenek, dan bahkan buyut saya. (Bersyukurlah saya, masih bisa menyaksikan buyut saya menimang anak saya. Itu berarti, anak saya masih sempat ditimang oleh canggah-nya). Buyut saya itulah orang yang paling berjasa mengenalkan saya dengan kehidupan rimba, hutan. Saya sebut begitu, karena ketika saya kecil, hutan di sekeliling desa saya yang kini telah berubah jadi ladang itu adalah hutan tropis dengan aneka tumbuhan dan binatangnya. Binatang yang paling popular ketika itu adalah celeng alias babi hutan. (Nanti akan ada cerita tersendiri mengenai babi hutan ini.) Karena itulah, ketika kini hutan jadi ladang, saya merasa kehilangan sebagian dari masa kecil saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kelas 1 SD saya sudah belajar ngarit, mencari rumput dan dedaunan untuk pakan kambing. Begitu kelas 3 SD saya sudah ngarit bukan sekadar belajar, tetapi bekerja. Dan di kelas 4 atau 5, sepuluh ekor kambing sudah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Apakah masih ada anak sekarang seperti saya waktu itu? Atau jika pertanyaannya boleh sedikit di ubah, di manakah kini kira-kira seorang bocah kelas 4 SD mengalami seperti yang saya alami sekitar 35 tahun lalu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena waktu dan tempatnya, dengan beban seperti itu saya tak pernah merasa tersiksa. Saya menikmati pekerjaan itu, karena bekerja (ngarit) dan bermain seolah melebur sedemikian indahnya. Di desa, tidak ada anak gedongan. Tidak ada anak manja, yang bebas dari pekerjaan membantu orangtua. Dan Komisi Perlindungan Anak saya kira juga tidak perlu risau dengan cerita saya ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menamatkan SD dan harus ngenger di ibukota kecamatan yang berjarak 10 km dari rumah sendiri, saya merasa sudah mengenali setiap jengkal hutan di sekeliling desa saya itu. Di mana ada pohon kemaduh (yang sangat ditakuti karena gatalnya), di mana tumbuh rawe yang juga ditakuti karena gatalnya, terutama saat musim berebunga, di mana ada kedung yang bisa disinggahi untuk mandi dan bersukaria, di mana biasanya orang memasang jebakan dan welah (bambu runcing) untuk menangkap celeng, kami, anak-anak desa tahu semuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, hutan seperti yang saya kenali, yang saya jelajahi setiap hari di masa kanak-kanak itu sudah tidak ada lagi, telah menjadi ladang dengan tanaman singkong, nilam, cengkih, dan di beberapa tempat ditanami pinus. Para warga desa masih menyebutnya, ’’alas’’ (hutan), tetapi itu hanya tinggal namanya saja. Bahkan, atas prakarsa Perhutani dibentuklah Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), yang, menurut saya sebetulnya lebih tepatnya adalah ’’Lembaga Masyarakat Desa Bukan Hutan”.  [b]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-104062655222649141?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/104062655222649141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/08/lmdh-lembaga-masyarakat-desa-bukan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/104062655222649141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/104062655222649141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/08/lmdh-lembaga-masyarakat-desa-bukan.html' title='LMDH = Lembaga Masyarakat Desa (BUKAN) Hutan'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-4462321157436327213</id><published>2010-05-14T03:35:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T03:35:40.882-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Catatan Malam di Kota Bukit Kapur</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/S-0naBMrw9I/AAAAAAAAAkU/y77AkodUhqs/s1600/foto-Nia-Samsihono.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/S-0naBMrw9I/AAAAAAAAAkU/y77AkodUhqs/s320/foto-Nia-Samsihono.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Puisi: DIAH HADANING&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pepohonan di tanah kapur&lt;br /&gt;melatar depan rembulan 14&lt;br /&gt;mekar dalam diam di celah dahan&lt;br /&gt;menatapnya tak kata tak sentuh&lt;br /&gt;alam simpan panorama utuh&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan orang-orang saling bncang&lt;br /&gt;dan orang-rang rindu ruwatan&lt;br /&gt;nama-nama jadi kalung merjan&lt;br /&gt;menghias langit Cakul&lt;br /&gt;Trenggalek bersolek&lt;br /&gt;menyatu pentas wayang&lt;br /&gt;menyatu tari Nusantara&lt;br /&gt;menyatu macapatan Nursinggih&lt;br /&gt;menyatu gurit anak Ki Suto Kluthuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mencari apa lagi di tempat sunyi&lt;br /&gt;pada gurat 69 angka diri&lt;br /&gt;lupakan sejenak arus demo di kota raya&lt;br /&gt;kota tanah kapur tengah pentaskan lakonnya&lt;br /&gt;dalam berkah Gusti begitu nyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Trenggalek, Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Buku Puisi Perempuan yang Mencari, karya Diah Hadaning (Yayasan JAPEK &amp;amp; PUSTAKA YASHIBA, 2010)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Foto: Nia Samsihono&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;[Diah Hadaning sedang menerima ucapan selamat dari Bonari Nabonenar, yang diberi kesempatan membacakan puisi di atas pada hari peluncuran bukunya di Jakarta, 7 Mei 2010]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-4462321157436327213?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/4462321157436327213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/05/catatan-malam-di-kota-bukit-kapur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4462321157436327213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4462321157436327213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/05/catatan-malam-di-kota-bukit-kapur.html' title='Catatan Malam di Kota Bukit Kapur'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/S-0naBMrw9I/AAAAAAAAAkU/y77AkodUhqs/s72-c/foto-Nia-Samsihono.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-1835408989168647020</id><published>2010-04-27T12:34:00.000-07:00</published><updated>2010-04-27T12:34:24.417-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Menjadi Hantu yang Baik</title><content type='html'>Menjadi ghostwriter juga dijalani Bonari Nabonenar. Penulis yang juga jurnalis itu mengatakan, tidak ada yang salah dengan menjadi ghostwriter. Tidak ada yang dirugikan dan sama-sama menguntungkan.&lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya, Bonari mengatakan, dirinya melakukan sejumlah pembatasan-pembatasan terhadap ghostwriting. ”Yang pertama, saya tidak akan mau bila itu untuk keperluan akademis. Seperti skripsi, tesis, ataupun disertasi. Itu pantangan saya,” urainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, dia tidak mau melakukan ghostwriting dengan data-data palsu. ”Sebab, itu berarti saya membohongi publik,” ujar pria yang juga aktif dalam pembelaan hak-hak TKW di Hongkong tersebut. Dua hal ini merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maka, itulah yang membedakan saya dengan ghostwriter lain. Saya adalah ghostwriter baik yang punya prinsip, hahaha,” katanya kemudian tertawa. Menurut dia, jasa pembuatan skripsi dan sebagainya itu merupakan sebuah bentuk ghostwriter yang jahat. ”Karena itu betul-betul penipuan,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak satu anak itu berpendapat bahwa ghostwriter sebagai sebuah pekerjaan tidak bisa diharapkan. ”Sebagai pekerjaan, tidak bisa dijagakke,” urai Bonari. Menurut dia, penting bagi seorang ghostwriter untuk menjadi baik karena bila dibiarkan tak terkendali, mereka akan merusak dunia tulis-menulis secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karirnya di dunia ghostwriting dimulai pada 2000. Dia mau ketika ditawari salah seorang tokoh Jawa untuk menarasikan tiga naskah ludruk. ”Per naskahnya Rp 400 ribu. Jadi, bila tiga naskah setebal 100 halaman, honornya Rp 1,2 juta,” tambahnya. Dia mau mengerjakannya karena memang kepepet uang. ”Saya tak ambil pusing. Pokoknya, saya kerjakan secepatnya. Saya serahkan dan kemudian dapat uang. Habis perkara,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonari kemudian seperti berjalan dengan dua kaki. Satu proyek murni buku dan lainnya ya itu tadi, melakukan ghostwriting. Yang paling sering dan melegakan dia adalah pada 2008. Ketika itu, dia mendapat job melakukan ghostwriting untuk seorang petinggi di Jawa Timur. Tugasnya adalah membuat opini di sejumlah surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonari tak bekerja setengah-setengah. Dia mengikuti perjalanan tokoh tersebut ke sejumlah daerah. Memperhatikan caranya berkomunikasi, menghafalkan diksi tokoh tersebut, mengolah data, dan baru kemudian menuliskannya. ”Bagaimanapun, jangan pernah setengah-setengah untuk melakukan ghostwriting,” tuturnya. Seorang penulis bayangan yang berhasil, bagi Bonari, adalah penulis yang berhasil membuat tulisan begitu mirip dengan tokoh tersebut. ”Detail-detail kecil seperti celetukan khas atau gaya omong sedapat mungkin dimasukkan,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Jawa Pos, 28 Februari 2010 (dengan digunting sedikit)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-1835408989168647020?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/1835408989168647020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/04/menjadi-hantu-yang-baik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1835408989168647020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1835408989168647020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/04/menjadi-hantu-yang-baik.html' title='Menjadi Hantu yang Baik'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-3156143477966336444</id><published>2010-04-18T00:25:00.000-07:00</published><updated>2010-04-18T00:25:18.272-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Saatnya Rakyat Memberikan Contoh</title><content type='html'>Marilah terlebih dahulu kita sepakat bahwa memberikan contoh atau teladan adalah lebih baik daripada menyeru dengan kata-kata. Bisa jadi memang, ada saatnya kata-kata bisa cukup ampuh. Tetapi, kini udara kita sudah dipenuhi busa kata-kata. Disebut busa karena banyak yang kemudian kita ketahui hanya omong kosong belaka. Mereka yang kita sanjung-sanjung kepandaiannya pun tak malu-malu memanipulasi kata-kata. Bahkan, memertontonkan pokrol bambu di tempat-tempat terhormat.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya kemudian adalah: mengapa rakyat? Rakyat yang mana pula? Terus terang, tulisan ini sengaja dibuat dalam momentum menjelang pilkada. Selain Kota Surabaya, beberapa kabupaten/kota di Jatim kini tengah sibuk mempersiapkan pesta demokrasi yang popular dengan sebutan pilkadal itu. Maka, anggap saja bahwa semua yang berhak menggunakan hak pilihnya nanti adalah rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu saya menulis di dinding Facebook saya begini, ’’Manusia Indonesia itu ada tiga: [1] mendapatkan kompor gas ratusan ribu harganya, [2] mendapatkan komputer Rp 15 jutaan, dan [3] mendapatkan mobil seharga Rp 1,3 milyar. Hore, saya manusia Indonesia nomor satu!’’  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pejabat kita yang ada di Jakarta sana tampaknya memang tengah kemaruk-kemaruk-nya pamer: pokrol bambu dan keserakahan. Untuk mengetahui betapa trampilnya pejabat kita memanipulasi kata-kata, melebihi kawan-kawan saya yang penyair, kita hanya perlu nonton televisi. Mengenai keserakahan mereka, ingatlah, beberapa hari setelah diberi mobil mewah harga Rp 1,3 milyar/unit/orang, ramai pula berita mengenai rencana kenaikan gaji mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gaji saya nggak masalah mau naik mau turun. Tapi kalau kita lihat komparatif dengan beban tugas atau dengan direktur perusahaan swasta itu jauh,’’ kata Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi seperti dikutip detik.com.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba, kalau rakyat yang beralasan seperti itu mesti pejabat akan segera menyergap, ’’Siapa suruh kau jadi pejabat? Jadilah direktur swasta!’’ Apakah mereka tidak pernah risau dengan jutaan rakyat yang menganggur, dan jutaan lainnya bekerja sangat keras tetapi hanya dapat gaji senilai sekali makan mereka? Bayangkanlah, ada manusia Indonesia yang ongkos sekali makannya bisa setara dengan (atau jangan-jangan malah lebih dari) nilai gaji sebulan seorang pekerja sangat keras?  Artinya, ongkos sekali makan untuk satu orang kira-kira setara dengan ongkos hidup sekeluarga pekerja sangat keras itu? Begitu, kan, nalarnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak mundur lagi, rakyat juga sempat di-elus-elus dengan kata-kata ’’pendidikan gratis.’’ Ketika kemudian terbukti tidak gratis, pejabat pun berkilah, lha itu kan bahasa iklan. Pengertian gratis menurut pejabat, ternyata berbeda dengan yang dipahami rakyat. Nah, lalu kemakmuran dan kesejahteraan hidup macam apa yang dapat diangankan oleh segenap warga negara ini kalau pejabat dengan rakyatnya sudah tidak bisa berkomunikasi dengan baik seperti itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungannya semua itu dengan pilkadal? Jika Anda bertanya begitu, mohon dijawab pertanyaan ini: Apakah pejabat dari jenis yang kemaruk harta dan hanya pinter bermain kata-kata yang kita inginkan menjadi pemimpin di wilayah kita? Saya pastikan, jawaban Anda: ’’Bukan!’’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menginginkan pejabat yang amanah, jujur, cakap, tidak korup, lengkap dengan sifat-sifat yang baik lainnya. Jika Anda setuju demikian, marilah sekarang kita memarahi diri kita. Anggap ini sebagai ritual, sebagai lelaku, untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar kewahyon, dan bukan pemimpin karbitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda juga boleh segera memarahi saya, karena saya akan mengatakan bahwa sesungguhnya selama ini kita hanya mengharapkan atau bahkan menuntut segala macam kebaikan dari pejabat-pejabat dan pemimpin kita, sedangkan kita sendiri dari awal prosesnya sudah tidak jujur. Kalau saya memakai istilah ’kita’ maka pengertiannya adalah rakyat sebagai kesatuan. Sehingga, setitik keburukan akan memberikan alasan untuk mengatakan bahwa kita buruk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ternyata si serakah itu bukan hanya para pejabat. Rakyat pun selama ini suka aji mumpung. Mumpung musim pilkadal, mumpung ada yang bisa dipalak, maka beramai-ramailah rakyat memalak para calon pemimpinnya. Urusan palak memalak inilah yang kemudian menggelinding sebagai money politic alias politik dhuwit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita, rakyat, bukanlah kumpulan orang-orang bodoh. Tetapi, marilah kita berjamaah mengakui bahwa selama ini kita selalu silau dengan baliho, dengan umbul-umbul, dan gambar-gambar yang ditempel di pepohonan pinggir jalan itu. Bahkan, kita tidak ragu-ragu meminta sejumlah uang untuk memastikan siapa calon yang kita pilih. Kita menjual suara kita secara eceran dan kemudian menjualnya lagi dalam kemasan kelompok (per RT, per Dusun, per Desa, dan seterusnya).  Bahkan, tentunya ada pula di antara kita masih tega menjual suara kepada lebih dari seorang calon.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain cara penjualan dengan uang kontan yang bisa dibagikan kepada setiap pemilih, ada lagi kemasan (suara) kelompok yang harganya dipatok dengan aspal seruas jalan atau sebuah jembatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih ingat bukan, dalam Pileg yang lalu, banyak berita tentang penarikan kembali semen, bahkan juga karpet musala oleh caleg yang gagal. Itu bukti cetha wela-wela bahwa praktik jual beli suara bukanlah isapan jempol, bukan? Dan hanya berselang bulan, kita berteriak-teriak bahwa wakil kita nggak mutu, ternyata lebih mewakili partai ketimbang konstituennya. Sebentar-sebentar kita juga turun ke jalan, mengolok-olok, bahkan menghujat para pejabat kita, seperti bagian awal tulisan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah!  Sekarang ketahuan. Agaknya kita benar-benar keblinger kalau kemudian mengolok-olok atau menghujat para pejabat. Lha wong kita bisa lebih runyam dibandingkan mereka kok, andaikata kita punya kesempatan! Dan lagi, bukankah kita sudah menjual suara kita? Maka, kalau kita mau disebut konsekuen, kita mestinya mengakui bahwa kita tidak lagi punya wakil di lembaga bernama Dewan Perwakilan Rakyat itu. Kita telah menjualnya seharga lima belas atau dua puluh ribu rupiah! Sesungguhnya kita sudah tidak lagi punya hak untuk menuntut, bahkan untuk didengar suara kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menghendaki pejabat yang mau memerhatikan rakyatnya, pemimnpin yang mengayomi, yang amanah, cakap dan tidak korup, ya marilah bersama-sama memantang uang lima belas atau dua puluh ribu itu. Dan kita punya hak untuk berteriak atau bahkan melabrak jika kelak terbukti mereka serong. Soal pembangunan jalan atau jembatan, dan bahkan melindungi segenap warga negara dari segala macam mara bahaya, termasuk bahaya kelaparan, kemiskinan, maupun kebodohan, itulah tugas negara yang mesti dijalankan oleh pemerintah melalui tangan-tangan pejabat serta pemimpin kita.  Pejabat dan pemimpin yang hanya kita titipi ’suara’ kita, bukannya yang telah membelinya dari kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan contoh yang baik kepada para pejabat dan pemimpin kita, mau? Sekarang inilah saatnya! [bonarine@yahoo.com]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-3156143477966336444?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/3156143477966336444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/04/saatnya-rakyat-memberikan-contoh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3156143477966336444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3156143477966336444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/04/saatnya-rakyat-memberikan-contoh.html' title='Saatnya Rakyat Memberikan Contoh'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-8675507568959982075</id><published>2010-04-08T21:30:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T21:30:15.301-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>Elitisme Sastra Jawa</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh Beni Setia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan tersirat dari Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 di Nglaran, Cakul, Trenggalek, adalah fenomena kuatnya ego kreatif sastrawan Jawa modern. Para kreator beranggapan problem sastra Jawa itu penciptaan dengan masalah eksplorasi dan eksploitasi tema dan bentuk ungkap di satu sisi serta mengekalkan teks ciptaan dalam ujud buku di sisi lain.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjebak di dunia sempit yang hanya berparameter kreativitas. Sistem nilai yang hanya menuntut sastrawan untuk mencipta dan mencipta lagi dan akan mencipta apa lagi, seperti dituntut Iwan Simatupang. Yang mendorong Saini KM mengatakan bahwa bila sudah tidak kreatif lagi, sebaiknya cari profesi nonsastra, misalnya jadi bakul roti. Sesuatu yang menyebabkan Budi Darma menghalalkan pembunuhan karakter bagi sastrawan yang tak lagi mencipta, yang dianggap bekas sastrawan yang tinggal di museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah terbatasnya rubrik sastra di media berbahasa Jawa, di tengah kondisi naskah harus mengantre panjang sebelum bisa dipublikasikan, dan di tengah minimnya naskah berkualitas yang menyebabkan si redaktur bimbang membedakan naskah sastra dan panglipur wuyung sehingga masyarakat toleran pada kualitas karya yang ada: lahir tuntutan untuk mengekalkan diri sebagai si kreator. Obsesi sastrawan Jawa itu--tanpa membedakan produktivitas dari kreativitas--harus menerbitkan buku sebagai bukti tertulis dari kreativitas dan kesastrawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak peduli-mengutip Budi Darma-hanya buku, kreativitas, dan kesastrawanan di museum. Bahkan, lebih dari sekadar sinisme kepada pudarnya kreativitas, mungkin juga hanya kitsch yang tidak berhak menempati rak museum sastra. Dan di luar ikhwal kualitas sastra, bahkan tidak adanya terobosan pencarian alternatif estetika lewat satu usaha eksperimentasi yang orisinal, tuntutan akan sastra harus tertulis, dipublikasikan secara tertulis di media massa cetak berbasa Jawa, dan kemudian dikekalkan sebagai buku sastra Jawa-atau sekadar panglipur wuyung-terasa sangat kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka, sastra modern itu harus tertulis dan diapresiasi dalam satu kegiatan membaca yang serius dan khusus. Penghargaan pada sastra modern dengan membeli dan mengoleksi buku. Buku itu merupakan puncak karier kesastrawanan, seperti yang terbukti oleh transkripsi 10 cerita rakyat lisan Jawa ke dalam wujud buku sebagai hasil proyek PPSJS dan Gramedia. Dan almarhum RM Yunani Prawiranegara bilang pergelaran wayang bukan teks sastra yang dipergelarkan, tapi mutlak pergelaran. Tanpa melihat fenomena pergelaran yang bermula dari teks cerita tertulis atau teks lisan warisan dari ki dalang sebelumnya atau dikreasi sendiri oleh dalang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Puisi Rendra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra tak mungkin tampil lisan dengan kolaborasi dengan karawitan. Sastra itu tertulis, yakni buku. Tak dikenal adanya fenomena audiobook yang berupa rekaman audio atas pelisanan teks karya sastra oleh aktor atau oleh si sastrawannya sendiri. Padahal, rekaman kaset dan kemudian CD pembacaan puisi Rendra itu tetap mutlak dianggap publikasi sastra dan ini sejajar dengan rekaman macapat dari fragmen teks tertentu di album klenengan yang tidak dianggap kegiatan rengeng-rengeng dan tetap publikasi sastra. Gejala umum dari publikasi sastra nontertulis yang lupa dimaknai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, sastra bukan sekadar masalah kreator mencipta secara tertulis, kreator memublikasikannya di media massa cetak, dan kemudian mengekalkannya dalam wujud buku. Tidak sesempit itu. Tak seegois itu. Ego kreatif yang menyebabkan seorang Ikranagara pernah sampai kepada arogansi "teater tanpa penonton". Sebuah kegenitan mencipta dan mementaskan tanpa peduli pa- da keberadaan penonton yang melahirkan teater tanpa naskah, melulu sinopsis demi wujud bebas happening hasil olah improvisasi aktor yang direspons kolaboratif tata cahaya, musik, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sastrawan Jawa yang terfokus pada kreasi dan publikasi cetak nyaris ada di tataran itu. Dalam arogansi: sastra itu teks di majalah atau buku. Berkesastraan itu harfiah menulis agar dipublikasikan tertulis. Setelah itu semua tergantung inisiatif si pembaca. Apresiasi itu mencari bacaan, membeli bacaan, dan membaca hingga kritik hanya bukti tertulis apresiasi ahli. Upaya terobosan menyapa calon apresiator dengan melisankan dan mempergelarkan teks merupakan tindakan berlebih. Lalar gawe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau sastra Jawa modern kehilangan pembaca itu bukan karena langkanya penerbitan buku dan lemahnya distribusi ke toko buku. Bukan karena itu. Akan tetapi, lebih karena egoisme sastrawan modern Jawa yang serba harus ditulis dan apresiator aktif mencari buku. Padahal, secara tradisional masyarakat Jawa di pedesaan terbiasa mengapresiasi sastra secara lisan. Sejak awal sastra Jawa modern memang ditakdirkan terasing, elitistik, mengasingkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENI SETIA Pengarang Tinggal di Caruban, Madiun &lt;br /&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/08/15173383/Elitisme.Sastra.Jawa."&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 8 April 2010 | 15:17 WIB&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-8675507568959982075?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/8675507568959982075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/04/elitisme-sastra-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8675507568959982075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8675507568959982075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/04/elitisme-sastra-jawa.html' title='Elitisme Sastra Jawa'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-6089432461837149775</id><published>2010-02-10T11:33:00.000-08:00</published><updated>2010-02-10T11:33:54.573-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Hadiah bagi Gerilyawan Sastra</title><content type='html'>TEMPO Interaktif, Penerbitan buku-buku sastra berbahasa daerah jumlahnya mengalami pasang-surut, paling tidak dalam 10 tahun terakhir. Tapi, Hadiah Sastra Rancage terus bergulir. Tak terasa, 22 tahun sudah penghargaan khusus itu diberikan bagi para penulis, pembuat lagu, juga budayawan daerah. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah bentuk penghormatan dari sastrawan untuk sesama rekannya tatkala pemerintah tak melirik upaya gerilya mereka dalam mempertahankan pemakaian bahasa ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rancage, dari bahasa Sunda yang berarti kreatif, dirintis oleh sastrawan Ajip Rosidi, 72 tahun, pada 1989. Semula, penghargaan karya sastra modern berbahasa daerah itu hanya diberikan untuk buku-buku berbahasa Sunda. Sejak 1994, hadiah itu juga diberikan untuk sastrawan Jawa, Bali, mulai 1998, dan Lampung pada 2008. Sampai hari ini, penghargaan karya sastra itu masih diberikan untuk empat daerah tersebut. "Daerah lain tidak ada yang menerbitkan buku baru," kata Ajip kepada Tempo akhir pekan lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama lima tahun awal, uang hadiah senilai Rp 1 juta kepada setiap pemenang dirogoh dari kocek Ajip sendiri. Uang hadiah semakin besar sejak Yayasan Budaya Rancage berdiri dan donatur bertambah. Kini, Hadiah Sastra Rancage 2010 berupa piagam penghargaan dan uang hadiah masing-masing Rp 5 juta akan diberikan kepada tujuh pemenang. Upacara itu akan dilakukan pada Mei mendatang di Universitas Negeri Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga juri, yang terdiri atas Ajip Rosidi, Sri Widati Pradopo, dan I Made Darma Putra, memilih pemenang berdasarkan buku sastra berbahasa daerah yang terbit sepanjang 2009. Buku cetak ulang tak masuk hitungan. "Tujuannya untuk mendorong pengarang yang masih hidup untuk terus berkarya," kata Ajip. &lt;br /&gt;Dari 13 buku baru yang terbit di Jawa Barat, juri memilih kumpulan cerita pendek Sanggeus Umur Tunggang Gunung (Setelah Usia Lanjut) karya Usep Romli sebagai karya sastra Sunda terbaik tahun ini. Terbitan Kiblat Buku Utama itu berisi sembilan cerita yang melukiskan beragam masalah pembangunan yang dihadapi orang Sunda di perkampungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokohnya membandingkan keadaan alam, lingkungan, hingga pikiran dan kehidupan sekarang dengan kondisi ketika mereka masih kecil. Tema seperti itu sebenarnya hampir mirip dengan karya-karya Usep sebelumnya. "Tetapi (kini) lebih matang dan inovatif," kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Budaya Rancage itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, pada cerita Neangan Pajaratan (Mencari Makam), yang kisahnya disampaikan oleh orang pertama, Usep tak memakai kata "kuring" (saya). Ajip menilai Usep memaksimalkan sifat bahasa Sunda yang dapat membentuk kalimat tanpa subyek. Juri juga menilai seluruh ceritanya mengalir lancar dan wajar. "Sehingga terciptalah dunia imajinasi yang khas sebagai sastra," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ranah sastra Jawa, dominasi sastrawan Jawa Timur masih muncul seperti beberapa tahun terakhir. Menurut juri Sri Widati Pradopo, ada 12 buku sastra baru yang terbit. Isinya berupa guritan (sajak), kumpulan cerita pendek, dan roman. Menariknya, penulis bahasa Jawa itu tak hanya berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tapi juga ada yang tinggal di Jakarta dan Depok. Hadiah Sastra Jawa akhirnya jatuh ke tangan Sumono Sandi Asmoro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair dalam buku Layang Panantang terbitan Balai Bahasa Surabaya itu, kata Sri, menunjukkan keberanian memilih dan merambah pengalaman berbagai jiwa dengan teknik ekspresi yang tepat. "Semuanya dengan kesadaran bahwa keindahan harus selaras dengan bobot pikirannya," kata periset di Balai Bahasa Yogyakarta itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan sastra Bali, walau hanya ada sembilan buku baru, keistimewaannya lebih riuh. Kumpulan puisi Gerip Maurip Ngridip Mekedip karya I Nyoman Manda, misalnya, terdiri atas 3.500 halaman! "Dalam bahasa Bali modern maupun dalam bahasa Indonesia, tidak pernah ada kumpulan sajak seorang penyair yang setebal itu," ujar juri I Made Darma Putra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manda selama ini dikenal sebagai pengarang produktif yang menghasilkan sajak, roman, cerita pendek, dan naskah drama. Redaktur dua majalah berbahasa Bali, yaitu Canangsari dan Satua, itu dalam bab III khusus memuat terjemahan karya para penyair Indonesia, mulai Sanusi Pane, Amir Hamzah, hingga Afrizal Malna dan Oka Rukmini ke dalam bahasa Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraih hadiah Rancage pada 1998, 2003, dan 2008 itu juga menerjemahkan beberapa karya penyair Jerman, Australia, Afrika Selatan, dan Malaysia. Adapun karya Manda, lebih dari 2.000 sajak, dicetak di Bab I-II. Temanya beragam dari kenyataan sehari-hari dan hangat di koran, mulai komersialisasi budaya akibat industri pariwisata, korupsi, kampanye pemilu, sinetron, kasus Tukul Arwana, Prita Mulyasari, sampai peristiwa luar negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, juri menilai kualitas puisinya tidak merata. "Ada yang kuat penuh renungan dan sinisme yang tajam, tapi banyak yang mirip catatan pojok koran," kata Made Darma. Baginya, cerita pendek Leak Pemoroan karya I Wayan Sandha dalam kumpulan tujuh cerita pendek berbagai pengarang lebih menonjol. Juri pun memilihnya sebagai penerima hadiah Rancage 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leak Pemoroan berkisah tentang ketabahan pencari belut menghadapi gangguan setan di malam hari. Dia tidak takut menghadapi manusia jadi-jadian dan menyerangnya sampai mati. Lukisan suasana malam dan perang melawan setan, kata Made Darma, ditulis dengan deskripsi yang kuat. Bahasa yang digunakannya nyeleneh, tapi mampu menggali masalah dan menggambarkan watak tokoh cerita. Sandha dinilai menulis 41 ceritanya dengan narasi dan konflik yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik pedas dalam 41 cerita di dalamnya pun terlontar dengan bahasa yang jernih. Dalam cerita Wisian Bank Dunia, ujar Made, pengarang mengkritik pola multi-level marketing sambil menyentil, "Ah, gara-gara Bank Dunia iraga nepukin soroh jelema dot sugih kuala tusing bani ngetélang peluh." (Ah, gara-gara Bank Dunia aku menemukan kelompok manusia yang ingin kaya tapi tidak berani meneteskan peluh). "Pemakaian perumpamaan atau kiasan juga tepat sehingga membuat sketsa kehidupan ini memiliki aroma sastra yang kental," kata Made Darma.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan cerita pendek pula yang mengantar sastrawan Lampung Asarpin Aslami untuk meraih Hadiah Sastra Rancage 2010. Karyanya dalam Cerita-cerita Jak Bandar Negeri Semuong itu menyisihkan pesaing tunggalnya, yaitu buku kumpulan 57 sajak bertajuk Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya. Juri menilai seluruh sajak mahasiswa jurusan fisika di Universitas Lampung itu masih mentah. Peristiwa sehari-hari yang dituangkan lewat kata-kata sederhana dinilai tak mampu merangsang pembaca untuk merasakan hal yang sebenarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita-cerita dari Bandar Negeri Semuong, yang memuat 17 cerita pendek, menuturkan berbagai kebiasaan, tata cara, adat istiadat, perilaku, dan polah masyarakat di Bandar Negeri Semuong, sebuah kecamatan di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Lulusan Institut Agama Islam Negeri Raden Intan ini dianggap mampu menggambarkan budaya tradisional, seperti kebiasaan ibu-ibu mengumpulkan kayu bakar di kampung dan siahan atau kebiasaan pemuda yang berbisik di balik dinding rumah gadis pujaannya. Juri sepakat, buku Asarpin ini merupakan kumpulan cerita pendek modern pertama dalam bahasa Lampung yang banyak mengandung nilai-nilai tradisional dan modern. &lt;br /&gt;Hadiah Sastra Rancage kali ini juga diberikan bagi orang-orang yang berjasa dalam mengembangkan dan melestarikan bahasa daerah. Mereka adalah Karno Kartadibrata (bahasa Sunda), Bonari Nabobenar (Jawa), dan Agung Wiyat S. Ardhi (Bali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karno Kartadibrata dinilai berjasa besar memperkaya bahasa Sunda dengan tulisan sosial politik. Tulisan Wakil Pemimpin Redaksi Mangle--majalah mingguan berbahasa Sunda--itu rutin hadir sejak 1977. Sorotan lelaki kelahiran Garut, 10 Februari 1945 tersebut menghubungkan situasi masyarakat di sekelilingnya dengan keadaan masa lampau atau masyarakat selain Sunda. Meskipun kadang-kadang tulisannya berulang atau seperti kehilangan arah, juri menilai pekerjaan menulis selama lebih dari 30 tahun itu adalah prestasi tersendiri. Bahasa Sunda pun tak hanya terpakai untuk sajak, puisi, atau cerita pendek saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menulis di koran, bekas wartawan surat kabar Harapan Rakyat dan Harian Kami itu pernah menerbitkan sajak berjudul Lipstick (1981) dan Parfum (1997).&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang dinilai berjasa dalam kesusastraan Jawa modern tahun ini disandang Bonari Nabobenar. Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya itu dinilai aktif di Sanggar Triwida dan mengikuti berbagai diskusi sastra Jawa dan Indonesia semasa kuliah. Lulusan jurusan bahasa dan sastra indonesia IKIP Surabaya--sekarang Universitas Negeri Surabaya--itu kemudian mengembangkan sastra Jawa di tempat kelahirannya, Trenggalek, Jawa Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redaktur tabloid X-File kelahiran 1 Januari 1964 itu dan beberapa orang kawannya pernah melakukan gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman. Selain menulis guritan (sajak), cerita pendek, dan esai, mantan guru SMP tersebut dalam beberapa tahun terakhir menjadi fasilitator penulisan kreatif tenaga kerja wanita Indonesia di Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa Agung Wiyat S. Ardhi dalam melestarikan sastra Bali di antaranya lewat kegiatan menulis puisi, cerita pendek, juga naskah drama sejak 1976. Sastrawan kelahiran Gianyar, Bali, 3 Februari 1946 itu juga aktif dalam pembinaan bahasa, aksara, dan sastra Bali sejak 2000. Sasarannya adalah kelompok guru, pelajar, dan ibu-ibu PKK. Adapun di lingkup sastra Bali tradisional, Agung Wiyat banyak menyalin dan menguraikan arti bagian-bagian epos Mahabharata dan Ramayana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah Samsudi untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, kata Ajip, tahun ini urung diberikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari empat judul buku karangan Aan Merdeka Permana, semuanya berisi dongeng sasakala atau legenda tentang Cadas Pangeran, Candi Cangkuang, Kerajaan Arcamanik, dan Padjadjaran. Dalam dongeng itu, penulis di antaranya mencantumkan tahun kejadian yang tak jelas sumbernya sehingga dikhawatirkan menimbulkan salah pemahaman di kalangan pembaca anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah Sastra Rancage lahir dari keprihatinan karena pemerintah kurang memperhatikan sastra dan bahasa daerah. Padahal, sesuai dengan amanat konstitusi, kata Ajip, pemerintah bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian identitas nasional itu. "Sampai sekarang pemerintah belum pernah membeli karya-karya pemenang Rancage," katanya. Walau begitu, Ketua Dewan Pengurus Rancage Erry Riyana Hardjapamekas mengaku tak ambil pusing. "Asalkan pemerintah enggak ngerecokin aja, itu sudah bagus," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANWAR SISWADI&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/seni/2010/02/09/brk,20100209-224481,id.html"&gt;Tempointeraktif&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 09 Februari 2010 | 11:13 WIB&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-6089432461837149775?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/6089432461837149775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/02/hadiah-bagi-gerilyawan-sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/6089432461837149775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/6089432461837149775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2010/02/hadiah-bagi-gerilyawan-sastra.html' title='Hadiah bagi Gerilyawan Sastra'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-3533909166021750839</id><published>2009-12-16T11:59:00.000-08:00</published><updated>2009-12-16T11:59:37.455-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Boediono, Puntadewa atau Prabu Baka?</title><content type='html'>&lt;i&gt;Laporan wartawan KOMPAS Suhartono&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com - Usai membuka festival dalang bocah tingkat nasional 2009, Rabu (16/12/2009), Wakil Presiden Boediono menyaksikan lakon wayang kulit purwo yang berjudul "Pembebasan Eka Cakra". Ini adalah sebuah cerita yang diambil dari lakon pewayangan dengan dalang seorang siswa SMP kelas I Wuwus Nanang Galih Carito, asal Desa Cakul Kecamatan Jongko, Kabupaten Trenggalek. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wapres yang mengaku sejak kecil menggemari wayang, terlihat begitu serius menyaksikan suguhan lakon wayang dari si dalang bocah tersebut. Sebelumnya, Wapres sempat bercerita bahwa sejak kecil ia menonton wayang, karena wayang merupakan hiburan yang murah, bahkan gratis. Padahal, di kota kelahirannya Blitar kala itu sudah ada sebuah bioskop, toh itu tak menjadi pilihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap pagi saya dibangunkan oleh ayah saya, sekitar pukul 2 untuk menonton wayang. Karena memang, ayah saya melarang saya menonton semalam suntuk. jadi saya menonton ketika hari sudah mulai terang," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Humas Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Pusat, Bambang Asmoro lakon Pembebasan Eka Cakra bermakna tentang kejahatan dan angkara murka dikalahkan oleh kebaikan budi. Diceritakan, tentang adanya sebuah negeri yang dikuasai oleh raksasa pemakan manusia bernama Prabu Baka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari negeri Eka Cakra harus menyiapkan seorang manusia sebagai kurban untuk Prabu Baka. Pada suatu kali tiba giliran untuk keluarga Demang Widrapa, yang harus menyerahkan kurban. Keluarga tersebut ternyata kesulitan untuk mencari kurban manusia. Bukan karena tak ada, tapi karena masing-masing anggota keluarga mau mengorbankan dirinya, termasuk Demang Widrapa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesulitan untuk memutuskan siapa yang bakal menjadi kurban, keluarga ini didatangi oleh para Pandawa yang bermalam di rumah mereka. Untuk menjamu para tamu, demang menyajikan makanan terbaiknya untuk para tamunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat masalah di keluarga Demang diketahui oleh keluarga Pandawa. Ibu Pandawa, yaitu Dewi Kunti kemudian mengumpulkan anak-anaknya dan meminta anak tertuanya Puntadewa, untuk memerintahkan Bratasena menjadi kurban pengganti di keluarga Demang Widrapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Bratasena bukan menjadi kurban, tapi justru berhasil membunuh Prabu Baka, sehingga keluarga Demang Widrapa dan Negeri Eka Cakra terbebaskan. "Cerita ini mempunyai makna tolong menolong, dan balas budi. Cerita ini juga bermakna bahwa angkara murka yang berhasil dikalahkan dengan kebenaran dan kebaikan. Prabu Baka itu simbol kerakusan dan keserakahan," ujar Bambang Asmoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bambang, jika dikaitkan dengan kehidupan Indonesia saat ini, angkara murka ini bisa saja dibayangkan sebagai kasus korupsi yang sedang merajalela yang suatu saat akan dikalahkan oleh kebenaran. Tapi saat disinggung tentang pemilihan lakon berdurasi 25 menit ini dengan kasus Century yang tengah bergulir, Bambang mengelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah itu urusan politik mas, jangan dikaitkan dengan cerita pewayangan," kata Bambang. "Tapi makna cerita ini memang bisa diperluas ke dalam kehidupan manusia sekarang ini," cetusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/12/16/13001855/boediono.puntadewa.atau.prabu.baka"&gt;Kompas-Cyber; Rabu, 16 Desember 2009 | 13:00 WIB&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-3533909166021750839?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/3533909166021750839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/12/boediono-puntadewa-atau-prabu-baka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3533909166021750839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3533909166021750839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/12/boediono-puntadewa-atau-prabu-baka.html' title='Boediono, Puntadewa atau Prabu Baka?'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-3566791924999953308</id><published>2009-12-05T22:54:00.000-08:00</published><updated>2009-12-05T22:55:08.397-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lainlain'/><title type='text'>RINDU KAMPUNG</title><content type='html'>: cakul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di cakul orang menari&lt;br /&gt;dalam irama dan nada gamelan mengalun&lt;br /&gt;melintasi siang yang terik &lt;br /&gt;menyibak hujan&lt;br /&gt;di gelap malam&lt;br /&gt;pesinden pun menimpali&lt;br /&gt;suaranya meninggi&lt;br /&gt;seperti hendak mengatasi&lt;br /&gt;getir mengiris sepanjang hari&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di cakul orang menangis&lt;br /&gt;kehilangan air&lt;br /&gt;di puncak kemarau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di rentang paceklik&lt;br /&gt;orang cakul coba-coba menjual sisa suara&lt;br /&gt;mereka parau&lt;br /&gt;: terlalu banyak menjerit &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di cakul ada pula orang mabuk&lt;br /&gt;dan para kiai mengelus mereka&lt;br /&gt;dengan penuh cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedang aku hanya punya rindu&lt;br /&gt;juga buat perempuan memegang alu&lt;br /&gt;di bibir lesung itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bonari Nabonenar, Desember 2009&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jawa pos minggu, 6 desember 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-3566791924999953308?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/3566791924999953308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/12/rindu-kampung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3566791924999953308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3566791924999953308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/12/rindu-kampung.html' title='RINDU KAMPUNG'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-5096076972866390894</id><published>2009-12-05T09:33:00.000-08:00</published><updated>2009-12-05T09:33:08.830-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Google Penyubur Tanah</title><content type='html'>TEMPO Interaktif, Jakarta - Tiga tahun menggunakan pupuk organik benar-benar memberikan untung besar buat Suwito Wardi, petani Desa Cikutu, Kabupaten Serang, Banten. Kini produksi padinya melonjak dari 4 ton per hektare menjadi rata-rata 7,5 ton. "Bahkan pernah mencapai 9 ton," kata petani berusia 50 tahun ini. Suwito, yang memiliki 60 hektare sawah, pun lantas menjadi penangkar bibit sekaligus pemasok beras di sejumlah kios lokal.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk yang digunakan Suwito sejenis mikroba penyubur tanah yang sudah difermentasi. Pupuk mikroba ini temuan mahasiswa program doktor pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan Institut Pertanian Bogor, Ali Zum Mashar. Pada awal Oktober lalu, pupuk yang diberi nama BIOP 2000Z ini mendapat penghargaan bidang teknologi yang dilindungi hak paten dalam Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa yang pertama kali digelar oleh lima departemen dan kementerian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikroba temuan Ali menyuburkan tanah dengan cara mengaktifkan beberapa potensi pada mineral tanah yang tersembunyi dan tidak berfungsi. Mikroba ini tidak hanya menyuburkan lahan pertanian, tapi juga lahan kritis bahkan bekas tambang. "Lahan bekas tambang bisa disuburkan kembali dalam jangka tiga tahun. Padahal biasanya lahan tambang bisa kembali subur setelah 30 tahun," kata Ali, Selasa pekan lalu. Kehebatan temuan inilah yang membuat Ali mendapat anugerah luar biasa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tanah kritis atau berpasir, mikroba tersebut melacak potensi mineral yang tersembunyi dan menjadi bioaktivator tanah sehingga mampu menyuburkan tanah secara alami serta menetralkan racun dalam tanaman dan membangkitkan gen yang tertidur dalam tanaman tersebut. Jadi, selain menyuburkan tanah, mikroba ini juga membuat tanaman tumbuh maksimal. Karena cara kerjanya mencari potensi mineral, Ali menamakan temuannya itu Mikroba Google, meniru nama mesin pencari di Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nama BIOP 2000Z merupakan kepanjangan dari teknologi bioperforasi. Angka 2000 adalah tahun pencatatan pada paten internasional, sedangkan Z kependekan Zum, nama tengah sang penemu. Meski sudah memperoleh paten internasional pada 2000, Ali mengatakan proses penemuan mikroba tersebut berlangsung sejak 1996. Sampai saat ini, ia menambahkan, proses penyempurnaan temuannya terus berlangsung. Ia juga membuat produk-produk turunan dan variasi dari mikroba itu untuk keperluan pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali, ayah tiga anak, menceritakan penemuan mikroba itu berawal ketika ia diberi tugas mendampingi transmigran proyek lahan gambut sejuta hektare di Kalimantan Tengah. Proyek itu merupakan ambisi Presiden Soeharto pada 1996, yang ingin membuka sawah di lahan gambut di Kalimantan. Ali, yang baru menjadi pegawai Departemen Transmigrasi, bertugas mendampingi transmigran bercocok tanam di lahan gambut itu. "Saya ikut pada rombongan pertama," kata sarjana pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berbulan-bulan bercocok tanam, para petani setempat frustrasi karena padi tidak tumbuh. Bekerja di lahan gambut juga berdampak pada keadaan fisik petani. Tingkat keasaman yang sangat tinggi membuat petani kehilangan kuku tangan dan kaki. Ini dampak logam yang berinteraksi pada tanah asam sehingga menggerogoti kalsium kuku. Kelak, proyek lahan gambut itu memang dianggap gagal total, bahkan disebut-sebut merusak lingkungan karena ratusan ribu hektare hutan yang sudah dibuka dibiarkan terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah lahan gambut itulah Ali melihat ada tumbuhan pangan yang dapat hidup dengan subur di lahan terbatas. Tumbuhan itu ibarat seberkas cahaya di ujung lorong gelap. Ali yakin, ada jalan keluar untuk menyuburkan lahan gambut. Ia pun mengambil tanah di dekat pohon yang tumbuh subur itu, lalu memindahkannya ke lubang di lahan gambut yang akan ditanami pohon. "Ternyata berhasil, pohon yang ditanam tumbuh subur dan normal. Saya yakin ada sekelompok makhluk mini tak kasatmata yang menyuburkan tanah," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali lalu membawa contoh tanah itu ke Jakarta untuk diteliti. Benar saja. Di antara sampel tanah itu terdapat aneka mikroba seperti Lactobacillus sp, Rhizobium sp, Heterotrop, Saccharomyces sereviceae, Cianobacterium sp, Pseudomonas, dan Ectomycetes. Mikroba-mikroba itu dibiakkan lalu dicoba di berbagai kondisi tanah dan tumbuhan. Hasilnya, selain menyuburkan tanah, juga membuat pohon tumbuh lebih besar. Kedelai yang umumnya hanya setinggi satu meter, dengan diberi mikroba ini, bisa mencapai tiga meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikroba-mikroba tersebut menyuburkan tanah dan tanaman karena mengeluarkan zat bioaktif. Zat itu meningkatkan energi tanaman. Bila disemprotkan pada tanaman, mikroba masuk ke jaringan tumbuhan melalui stomata yang terdapat pada daun. Zat bioaktif adalah enzim yang berfungsi memotong rantai senyawa yang mengandung fosfat. Hasilnya berupa fosfat aktif yang mudah diserap tanaman. Mikroba seperti rhizobium pseudomonas membantu efektivitas penyerapan unsur hara oleh tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pohon yang bisa tumbuh jumbo, ada pengakuan dari Museum Rekor Indonesia. Pohon kedelai yang ditanam Ali di rumahnya berukuran 3,8 meter, memiliki 2.500 polong. Menurut Robertus L., Manajer Teknologi PT Alam Lestari Maju Indonesia, perusahaan pembuat BIOP 2000Z yang didirikan Ali dan teman-temannya, hasil kedelai dalam satu hektare lahan dengan menggunakan pupuk ini 3-4 ton. "Biasanya hasil kedelai satu hektare 1,5-2 ton dengan rata-rata seratus polong," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali mengatakan, penggunaan pupuk mikroba akan mengurangi ketergantungan pupuk kimia yang selama ini digunakan kebanyakan petani. "Ini bisa mengatasi kelangkaan pupuk," katanya. Apalagi dampaknya terhadap produksi pangan sangat besar. Selain menambah subur lahan di Jawa yang selama ini menjadi sentra beras dan palawija, pupuk mikroba bisa membuat tanah gambut dan bekas tambang menjadi lahan pertanian dan perkebunan. "Saya ingin menyuburkan lahan gambut yang terbengkalai," katanya.&lt;br /&gt;Meski hasil kerja pupuk itu sudah terbukti dan sejumlah kelompok tani memanfaatkannya, Ali mengaku penggunaan pupuknya masih terbatas. Padahal ia sudah berulang kali mempresentasikan temuannya di hadapan sejumlah petinggi Departemen Pertanian. "Mereka memang menyambut baik dan mendukung penggunaannya secara luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ya sudah, hanya sampai situ," katanya. Ia berharap pemerintah melalui penyuluh tani mengenalkan pupuk ini kepada petani sampai ke pelosok daerah, sehingga meningkatkan produktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak mendapat perhatian di negeri sendiri, Ali justru beroleh tawaran dari sejumlah negara untuk mengembangkan temuannya, antara lain Australia dan Qatar. Tawaran mereka macam-macam. Ada yang menawarkan kepemilikan bersama, pemenuhan kebutuhan hidup kelas satu hingga pindah kewarganegaraan. "Ini adalah bagian dari politik pangan mereka," katanya. Tapi Ali mengaku lebih memilih mengembangkan mikrobanya di Indonesia. "Saya sudah merasa cukup di sini." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2009/12/05/brk,20091205-212041,id.html"&gt;Sabtu, 05 Desember 2009 | 22:35 WIB&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-5096076972866390894?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/5096076972866390894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/12/google-penyubur-tanah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/5096076972866390894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/5096076972866390894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/12/google-penyubur-tanah.html' title='Google Penyubur Tanah'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-8744900963215567845</id><published>2009-12-01T15:34:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T15:34:51.965-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Pertanian Belum "Nyambung"</title><content type='html'>&lt;i&gt;Brigitta Isworo Laksmi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan iklim akhir-akhir ini menjadi isu laris di sejumlah media massa. Isu itu semakin mendapat panggung menjelang perhelatan global Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, 7-18 Desember 2009. Ironisnya, isu perubahan iklim ternyata masih elitis, antara lain di pertanian. Petani yang sehari-harinya bergulat dengan tanah dan iklim sebagai ranah utamanya ternyata sampai sekarang masih gagap dengan istilah perubahan iklim.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinator Aliansi Desa Sejahtera Tejo Wahyu Jatmiko menegaskan hal tersebut saat berbincang dengan Kompas di kantornya yang teduh di Jakarta, Selasa (1/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Petani memang sudah biasa mengamati musim dan itu dari tahun ke tahun memang selalu berubah. Lalu berurusan dengan musim, dan itu selalu berubah-ubah, terkadang maju dan terkadang mundur. Namun, ada kecenderungan musim hujan mulainya semakin mundur dengan intensitas hujan yang cenderung tinggi dan hanya berlangsung pendek,” ujar Tejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan Tejo terungkap dalam sebuah testimoni yang digelar Civil Society Forum beberapa waktu lalu. Dominggus Tse, petani jagung dari Desa Nusa, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengungkapkan, musim hujan yang normalnya berlangsung Oktober-Maret tidak lagi berlaku demikian. Alam mulai tak berpihak lagi kepada manusia. Dominggus pun kebingungan. ”Jika ditanam dan tidak ada hujan turun, tanaman jagung akan kerdil atau mati,” ujarnya. Adapun jika menunggu turun hujan dan ternyata intensitasnya langsung tinggi, jagung akan terlalu basah dan buah jagung pun akan lebih kecil dari biasanya. ”Kondisi seperti itu biasa kami sebut ’hujan tipu’,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya ukuran buah atau kondisi tanaman yang terpengaruh. Ketidakteraturan turunnya hujan juga menyebabkan maraknya penyakit ”bercak coklat”. Pada akhirnya, ”Kalau kami tidak hati-hati menghitung kapan musim hujan mulai, itu bisa membahayakan persediaan pangan keluarga,” tutur Dominggus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tejo menambahkan, masyarakat petani semakin terganggu karena peninggalan leluhur, yaitu secara kultural petani mengenal pranata mangsa sudah semakin hilang.&lt;br /&gt;”Sementara itu, para petani sering kali kecewa dan enggan menggunakan informasi prakiraan iklim. Mereka lantas menyimpulkan, prakiraan tersebut tidak bisa diandalkan”, demikian penjelasan dari hasil penelitian Rizaldi Boer (Petani Menduga Musim, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dari hasil penelitian yang dilakukan Mezak Ratag (2007), seperti dikutip pada buku Petani Menduga Musim (Climatejustice dan Oxfam Hongkong, 2009), telah tampak terjadi perubahan pola awal musim hujan dan kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil perbandingan data 1961-1990 dan 1991-2003 menunjukkan 22% awal musim kemarau teratur, 33% lebih cepat, dan 45% lebih lambat dari biasa. Adapun untuk musim hujan, 36% data memperlihatkan awal teratur, 40% lebih cepat, dan 24% lebih lambat. Perubahan mulai tampak setelah tahun 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, tutur Tejo, jika gangguan terkait iklim ini berlangsung berlarut-larut, suatu ketika ketersediaan pangan masyarakat—yang menjadi tujuan program Desa Mandiri Pangan— akan terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya terdapat kesenjangan antara isu perubahan iklim seperti dipahami para ahli dan yang dihayati petani berupa pergeseran saat pergantian musim. ”Petani sendiri masih butuh waktu untuk memahami isu tersebut. Informasi (perubahan iklim) masih dari luar. Pengalaman mereka itu perlu kami strukturkan agar mereka paham tentang perubahan iklim. Petani yang di Pulau Jawa mungkin ada yang memfasilitasi diskusi tentang itu, tetapi itu pun masih terbatas,” ujar Tejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sudah ada sekolah lapang iklim di beberapa desa yang bertujuan agar petani mampu memahami dan menerapkan informasi prakiraan musim (IPM) sebagai masukan strategi pola tanam (Boer, dkk., 2003). Yang terjadi ternyata, seperti dikatakan Manajer Kebijakan, Advokasi, dan Kampanye Oxfam P Raja Siregar beberapa waktu lalu, ”Petani ternyata tidak mengubah strategi pola tanamnya. Setiap tahapan proses tanam masih berdasarkan kebiasaan lama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun birokrat pertanian belum melakukan diskusi intens tentang perubahan iklim. ”Kalau secara agregat persediaan pangan masih aman, pemerintah juga menganggap aman saja. Ketika itu dipandang aman, isu perubahan iklim tampak semakin tidak nyambung,” ujar Tejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, lanjut Tejo, ”Ketika berbicara perubahan iklim, yang paling dekat adalah langkah adaptasi. Sementara kalau pemerintah melihat penyelesaian adaptasi perubahan iklim dari pertanian, itu selalu dengan bioteknologi. Jatuhnya adalah dengan benih transgenik. ”Berbicara segi kemandirian di sektor benih, itu masih merupakan pekerjaan rumah yang besar sekali,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih transgenik bisa jadi memang tersedia, tetapi di sisi lain petani akan semakin tergantung karena benih transgenik dimiliki perusahaan multinasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak bahwa dalam urusan perubahan iklim yang tak terhindarkan ini posisi petani kian terjepit. Di satu sisi adaptasi harus segera dilakukan, tetapi di sana juga menganga jurang yang akan bisa memerangkap kemandirian dan nasib petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/02/02463915/pertanian.belum.nyambung"&gt;Kompas, Rabu, 2 Desember 2009 | 02:46 WIB&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-8744900963215567845?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/8744900963215567845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/12/pertanian-belum-nyambung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8744900963215567845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8744900963215567845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/12/pertanian-belum-nyambung.html' title='Pertanian Belum &quot;Nyambung&quot;'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-3454017214432488814</id><published>2009-12-01T15:24:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T15:24:01.576-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Warsiyah, Benih untuk Perubahan Iklim</title><content type='html'>&lt;i&gt;oleh: Idha Saraswati Wahyu Sejati&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman Warsiyah (52) tentang istilah perubahan iklim baru muncul akhir-akhir ini. Namun, sebagai seorang petani yang sudah puluhan tahun bergumul dengan lumpur sawah, ia merasakan perubahan di sawah sejak lama. Beruntung ia terbiasa mandiri sebagai petani. Petani bisa mengantisipasi kerugian akibat perubahan iklim dengan kembali pada benih-benih padi lokal yang selama ini ditinggalkan.Di daerah asalnya, yakni di Desa Kalensari, Widasari, Indramayu, Jawa Barat, penanda perubahan itu antara lain tampak dari hawa di sawah yang semakin panas. Tanaman sampai layu karena tak tahan hawa panas. Pasokan air ke sawah juga tak lagi selancar dulu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani memang menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampak negatif perubahan iklim. Patokan musim tak lagi berlaku seiring dengan perubahan kondisi lahan. Perubahan itu membuat petani salah prediksi sehingga jerih payah mereka sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari pengalaman, Warsiyah mengerti perubahan kondisi lahan menuntut perubahan perlakuan. Benih padi yang sebelumnya cocok di sawah, kelak tidak akan lagi sesuai. Sebab, sejumlah lahan sawah yang dulu cukup pasokan air kini mulai mengering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau benih pabrik itu kan dibuatnya secara nasional. Jadi kalau kondisi tanah di daerah berubah, benih itu belum tentu sesuai dengan kondisi tanah di daerah,” kata Warsiyah, saat ditemui awal Oktober lalu dalam sebuah pelatihan pemuliaan tanaman di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kesimpulan semacam itu justru membuat Warsiyah lega. Ia merasa siap menghadapi perubahan itu karena telah memiliki cadangan benih padi yang tak biasa dalam jumlah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lama, ia telah menjadi kolektor benih-benih padi lokal yang kini jumlahnya semakin langka akibat kebijakan penyeragaman benih padi secara nasional. Ia juga sudah menyilangkan padi dari benih-benih itu hingga menghasilkan ratusan jenis padi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemulia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mendapat ilmu tentang teknik pemuliaan tanaman, Warsiyah yang menjadi petani sejak belasan tahun juga menanam benih buatan pabrik di sawahnya. Kebiasaan semacam itu sudah berlangsung sejak awal 1980-an, yakni ketika petani di desanya mulai diajak beralih dari benih padi lokal ke varietas baru yang berumur lebih pendek dan menghasilkan lebih banyak beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, petani mengenal benih pabrik sebagai benih yang kurang tahan serangan hama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan Warsiyah mengonsumsi benih pabrik berubah setelah dirinya mengikuti pelatihan yang diadakan Yayasan Farmer’s Initiative for Ecological Livelihood and Democracy (FIELD) Indonesia pada tahun 2002. Waktu itu, ia bersama sejumlah petani Indramayu diajak mengkaji padi hibrida yang ternyata keturunannya tidak bisa ditanam ulang oleh petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Itu kan bahaya. Petani tidak bisa seperti orang dulu yang mengambil benih dari lahan sendiri untuk ditanam sendiri,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengkaji padi hibrida, dari pelatihan itu Warsiyah yang lulusan sekolah dasar juga mendapat teori sekaligus praktik pemuliaan tanaman. Berbekal ilmu barunya, Warsiyah mencoba menyilangkan padi sendiri. Untuk menunjang percobaannya, ia mulai mengumpulkan benih-benih padi lokal di sekitar Indramayu, seperti gundil, jalawara, cengkong, glewang, warong, serta jambon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berada di Yogyakarta, ia membawa sebagian koleksi benihnya. Dikemas dalam wadah bohlam lampu pijar, benih-benih itu ada yang berwarna putih, merah, dan hitam. Ia juga membawa benih ketan lokal. Benih lokal dianggap penting karena terbukti lebih cocok beradaptasi dengan lingkungan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih-benih itu ternyata masih disimpan oleh petani desa dan bisa ditebus dengan harga mulai dari Rp 10.000 per malai. Sampai sekarang ia mengaku sudah mengoleksi sekitar 30 jenis benih padi dan ketan lokal. Benih-benih itu sering ditukar dengan benih milik petani lain di desanya yang telah ikut menjadi pemulia. ”Jadi, kalau ada tetangga yang punya varietas lain kami bisa saling pinjam,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan benih-benih itu, ia membuat ratusan kombinasi penyilangan. Tujuan utamanya adalah mencari varietas unggulan yang bisa bertahan hidup meskipun pasokan air kurang; tahan serangan hama; produktivitas tinggi dan umur panen pendek. Dalam kasus perubahan iklim, petani akan memerlukan benih padi yang bisa bertahan dalam lahan minim air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, mencari varietas unggul seperti orang Jawa mencari jodoh. Bobot, bibit, dan bebet benih sangat diperhitungkan. Seorang pemulia mesti memahami karakteristik tanaman. Ada padi yang tahan hama dan produktivitasnya tinggi, tapi rasanya tidak enak. Ada juga padi yang rasanya enak, tapi produktivitasnya rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengenali kelebihan dan kelemahan setiap jenis padi, jalan menuju penemuan varietas unggulan akan semakin terbuka. ”Tinggal nanti bagaimana hasil persilangannya. Kalau untuk lahan yang airnya kurang, varietas padi yang biasa ditanam di ladang seperti padi gogo bisa jadi indukan,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warsiyah menyilangkan jenis-jenis padi itu dan kemudian menanam hasilnya dalam lahan seluas 5.000 meter persegi. Akibatnya, bulir padi yang ia hasilkan saat panen tidak seragam, baik dari bentuk, sifat, maupun rasa. Untunglah hasil panen itu tetap diterima pedagang sehingga ia bisa mendapat pemasukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini Warsiyah sudah menghasilkan 104 varietas padi baru. Namun, hingga lebih dari lima tahun menjadi pemulia, varietas unggul yang diidam-idamkannya belum juga muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Membagi ilmu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Meski punya obsesi menemukan varietas unggulan, Warsiyah tidak lantas menyendiri dengan bunga-bunga padi. Ilmu yang ia peroleh dari pelatihan dan praktik langsung di sawah tidak dimanfaatkan sendiri. Ia aktif membagikan ilmu dan pengalamannya ke sejumlah kelompok petani di Indramayu serta daerah lain di Indonesia. Selain petani, dosen, dan mahasiswa, rombongan petani dari negara lain juga kerap datang ke tempatnya untuk melakukan studi banding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman bergelut dengan bunga padi juga membuat dia pandai menyilangkan jenis tanaman lain, terutama sayuran. Ilmu itu pun telah ia bagi setiap kali menjadi pemateri pelatihan di sejumlah tempat. Berdasarkan pengalamannya sendiri, ia percaya bahwa petani bisa diajak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Warsiyah, menjadi petani pemulia berarti memilih menjadi pemain. Dengan menjadi pemulia, petani lebih aktif sehingga bisa mengurangi ketergantungan kepada pihak lain. Kemandirian itulah yang dibutuhkan petani untuk menghadapi setiap perubahan yang terjadi di lingkungan mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;WARSIYAH&lt;br /&gt;• Lahir: Indramayu, 27 Juni 1957 • Pendidikan: Lulusan sekolah dasar • Istri: Amna • Anak: Ikhwan (38), Khumaiyah (35), Kadir (36), Nasuka (33), dan Taningsih (29) • Aktivitas: Koordinator Sains Petani pada Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) Kabupaten Indramayu, Jawa Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/01/03012345/warsiyah..benih.untuk.perubahan.iklim"&gt;Kompas&lt;/a&gt;, Selasa, 1 Desember 2009 | 03:01 WIB&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-3454017214432488814?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/3454017214432488814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/12/warsiyah-benih-untuk-perubahan-iklim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3454017214432488814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3454017214432488814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/12/warsiyah-benih-untuk-perubahan-iklim.html' title='Warsiyah, Benih untuk Perubahan Iklim'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-3517506577247811016</id><published>2009-11-18T09:12:00.000-08:00</published><updated>2009-11-18T09:12:10.044-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Perjuangkan Dana Desa</title><content type='html'>&lt;b&gt;15 Persen dari Anggaran Negara&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;   TRENGGALEK - Ini merupakan angin surga bagi kades, perangkat dan masyarakat desa. Sebab, jika wakil rakyat di Senayan benar-benar memperjuangkan UU Pedesaan, dipastikan desa di Indonesia termasuk di Trenggalek bisa makmur. Karena, salah satu pasal UU Pedesaan adalah 15 persen APBN untuk pengembangan desa. Hal itu diungkapkan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf atau lebih dikenal Gus Ipul saat ke Pendapa Trenggalek kemarin.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Ipul yang hadir dalam fasilitasi penyelenggaraan Pemdes dan Pemprov Jatim menyatakan, jika desa hanya mengandalkan dana dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten tidak akan bisa maju. Sebab dana pemprov untuk dana pengembangan desa tidak terlalu banyak. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   Menurut dia, selama menjadi materi pembangunan Negara dari hasil survey. Desa  bisa maju jika setiap  tahun masing-masing desa mendapat dana Rp 1 miliar. Itu pun harus berjalan selama 3 tahun berturut-turut. Untuk bisa mewujudkan hal tersebut, kini DPR harus memperjuangkan salah satu pasal di UU Pedesaan tentang anggaran  negara untuk  pengembangan desa. Dalam pasal tersebut setiap  tahun desa mendapatkan 15 persen dari anggaran negara. “Namun itu masih dalam proses perjuangan, maka sebagai perangkat desa silakan bersama-sama memperjuangkan program tersebut,” katanya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   Gus ipul menjelaskan, untuk itu diperlukan  langka dalam membangun desa ini. Yakni peningkatan pelayanan terhadap masyarakat desa terutama  administrasi desa. Selain itu peningkatan kinerja ekonomi, dengan cara mengurangi  jumlah warga desa yang miskin. Serta yang terakhir adalah melalui kinerja sosial. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   Sementara itu, Bupati Treggalek,Soeharto, saat ini Pemkab Trenggalek ini melakukan penguatan terhadap pemerintahan desa melalui  beberapa hal.   Seperti  kelembagaan  yakni dengan cara membentuk susunan pemerintahan desa yang kuat dan  sesuai dengan ketentuan  tanpa mengesampingkan asal uasul desa tesebut.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   Kedua yakni melaksanakan aspek kesejahteraan. Aspek ini yakni memperhatikan kesejahteraan dari  kepala desa dan perangkat  desa. Hal ini bisa di buktikan dari dan untuk kesehjateraan kades dan perangkat desa ini sebesar Rp 13 miliar. (c1/and)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.radartulungagung.co.id/pembangunan/1408-perjuangkan-dana-desa.html"&gt;RaTu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-3517506577247811016?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/3517506577247811016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/11/perjuangkan-dana-desa_18.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3517506577247811016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3517506577247811016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/11/perjuangkan-dana-desa_18.html' title='Perjuangkan Dana Desa'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-4210311475022363409</id><published>2009-11-17T09:07:00.000-08:00</published><updated>2009-11-17T09:11:45.471-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Genjot Bisnis Wisata Melalui FKSS</title><content type='html'>TRENGGALEK - Dinas Pemuda Olahraga, Pariwisata dan Budaya (Disporaparibud) Trenggalek terus mengenjot PAD dari beberapa objek wisata. Langkah yang dilakukan diantaranya, menjadi tuan rumah Festival Kesenian Kawasan Selatan  (FKKS) pada 20 sampai 22 november nanti. Sebagai tuan rumah FKKS selama tiga hari, moment ini dijadikan ajang promosi atau memperkenalkan objek wisata kepada peserta FKKS yang terdiri dari 8 kabupaten di wilayah selatan. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu objek wisata yang bakal dikenalkan kepada 8 kabupaten peserta FKSS adalah goa lowo. Bahkan, tidak menutup kemungkinan salah satu acara FKKS yakni dialog budaya bakal digelar di goa lowo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi itu masih rencana, belum final, kami berharap saat dialog nanti bisa dilaksanakan di sana,” ungkap Kepala Disporaparibud Kusprigianto melalui kasi promosi Ernanti saat ditemui RaTu kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Erna, FKSS yang dilaksanakan selama tiga hari ini digelar di sekitar alun-alun dan pendapa. Tujuan dilaksanakan FKKS adalah menginformasikan keindahan potensi dan keragaman budaya kawasan selatan Jatim, sarana komunikasi antar daerah kawasan selatan jatim dalam upaya meningkatkan kreatifitas dan mengembangkan budaya dan pariwisata, menciptakan peluang bisnis sector industri, parisiwata dan sector pendukungnya serta mendorong terciptanya industry kreatif di bidang seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam FKKS tersebut diikuti 8 kabupaten di kawasan selatan. Kedelapan kabuapten tersebut, Bayuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek dan Pacitan. Sebenarnya lanjut Erna, FKSS ini merupakan agenda tahunan dinas budaya dan pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim, dan untuk tahun ini Trenggalek sebagai tempat terselenggaranya FKKS. Sebelum di Trenggalek tahun lalu di laksanakan di Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena menjadi tuan rumah, Erna menyatakan, Pemkab Trenggalek akan menampilkan kesenian unggulan yakni tari turonggo yakso. Sedangkan kabupaten lain juga diwajibkan menampilkan kesenian unggulan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memeriahkan FKKS tersebut, Pemkab Trenggalek mengundang beberapa kabupaten lain seperti Ponorogo, Nganjuk, Kabupaten/Kota Kediri. “Kabupaten ini tidak wajib menampilkan kesenian unggulan, tapi mereka diberi kesempatan untuk naik panggung,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erna menambahkan, festival selama tiga hari tersebut ada beberapa materi yang harus diikuti peserta diantaranya, gelar kesenian daerah, pameran kerajinan, dialog budaya, dan arak-arakan seni. Untuk pameran kerajinan ini setiap peserta menampilkan berbagai ragam dari corak kerajinan di 8 daerah kawasan selatan. KErajinan unggulan yang dimaksud adalah kerajinan yang memiliki cirri khas dan saat ini menjadi ikon daerah yang bersangkutan. “Kalau Trenggalek tentu menampilkan berbagai asesoris tentang Turonggo Yakso, karena menjadi ikon Trenggalek,” ujarnya. (and)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.radartulungagung.co.id/headline-trenggalek/1846-genjot-bisnis-wisata-melalui-fkss.html"&gt;Radar Tulungagung&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-4210311475022363409?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/4210311475022363409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/11/genjot-bisnis-wisata-melalui-fkss.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4210311475022363409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4210311475022363409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/11/genjot-bisnis-wisata-melalui-fkss.html' title='Genjot Bisnis Wisata Melalui FKSS'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-8274886299104535474</id><published>2009-11-12T09:30:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T10:22:39.713-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bisnis'/><title type='text'>Jadi Pengusaha Bahan Bangunan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SwBGnfbLfxI/AAAAAAAAAjI/8qSzrOzgIcI/s1600-h/18-Boyamin-dan-istrinya.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SwBGnfbLfxI/AAAAAAAAAjI/8qSzrOzgIcI/s200/18-Boyamin-dan-istrinya.gif" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Sebagai  Batu Loncatan untuk Jadi Kontraktor?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Usaha pembuatan bahan-bahan bangunan tergolong bisnis yang cukup prospektif.  Peluangnya lumayan bagus. Disamping ada kaitannya dengan semakin banyaknya jumlah penduduk, usaha ini juga mengikuti perkembangan ekonomi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin baik tingkat ekonomi masyarakat, peluang usaha ini juga semakin lebar. Saat ini masyarakat tampaknya sudah mulai meninggalkan tradisi membuat rumah dari kayu, selain karena kayu sudah mulai mahal, membuat rumah dari batu-bata ataupun batako ternyata lebih praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah sendiri saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan pembagunan fisik untuk kepentingan masyarakat, mulai pembuatan jalan, jembatan, perumahan, perkantoran. Selain itu juga banyak sarana kepentingan umum yang sudah mulai minta direhab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program tersebut yang jelas semakin membuka pasar bagi bahan-bahan/produk bahan bangunan, dari pasir, semen, batu-bata, batako, genting, dan lain-lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang yang jukup jeli menangkap peluang tersebut adalah Boyamin (40) warga Desa Pandean, Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek yang mengawali usaha penyediaan bahan bangunan sejak 2003. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boyamin memang sudah tidak asing dengan hal-hal yang ada kaitannya dengan bangunan, karena sejak masih bujang ia sudah berkecimpung di pertukangan, baik pertukangan batu maupun peertukangan kayu. Bahkan, sempat merantau ke Jakarta selama 7 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Saat masih bujang saya bekerja di Jakarta cukup lama, yaitu sejak 1991 sampai 1998. Sebelum terjadi kerusuhan (Mei 1998, Red) saya sudah pulang. Yang saya kerjakan di sana ya sebagai tukang bangunan dan kadang-kadang kalau ada nasib cukup baik saya juga ikut mborong, tapi sebatas pekerjaan atau proyek yang kecil- kecil saja,’’tutur Boyamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat Nganggur&lt;br /&gt;Sepulang dari Jakarta Boyamin sempat nganggur. Sesekali saja ada orang yang menyuruh mengerjakan bangunan rumah. Hal itu ia jalani sampai ia menikah dengan Supatmi (29). Setelah menikah baru ia punya rencana untuk buka usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Sebenarnya usaha berawal dari pembuatan maesan, saat itu timbang nganggur saja jadi sama sekali hasilnya tidak dapat diharapkan karena belum pasti kalau sebulan sekali ada yang terjual,’’ ujar Supatmi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Kemudiaan saya dan suami punya pikiran bagaimana kalau kita coba membuat gorong-gorong, karena saat itu setiap musim kemarau banyak orang yang membutuhkan untuk membuat sumur dan buk (jembatan, Red), dan mereka biasanya banyak membeli dari kota karena saat itu selain di wilayah perkotaan belum ada yang membuat,’’ imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide tersebut menurut penuturannya diwujudkan pada Tahun 2003 dan secara pelan-pelan dikembangkan, yang semula hanya nisan dengan gorong-gorong kemudian ditambah dengan membuat batako dan risplang, itupun pembuatannya sebatas kalau ada yang pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertambah Tahun perkembanganya cukup lumayan bahkan untuk pembuatannya yang saat itu dilakukan sendiri hanya dibantu dengan seorang karyawan, mulai kuwalahan hingga sampai saat ini Boyamin memiliki 15 orang karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun saat ini dengan karyawan 15 orang, usaha Boyamin ini dalam hal produksinya sudah cukup lengkap, antara lain batako, paving, risplang, gorong-gorong, gibsum, dan masih banyak jenisnya. Yang jelas saat ini ia bisa melayani apa saja pesanan yang berhubungan dengan keperluan bangunan khususnya yang dari cetakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti Pasar&lt;br /&gt;Apa yan g diproduksi, lebih ditentukan oleh permintaan pasar atau pesanan. ’’Dalam hal produksi jenis apa yang ramai atau banyak permintaan yaitu yang banyak saya buat. Sampai saat ini saya belum berani untuk produksi secara masal. Masalahnya kalau lama tidak laku hitungannya bisa rugi. Namunm, biarpun ada pesanan yang mendadak saya tetap bisa mengusahakan,’’ ujar Boyamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemasaran hasil produksinya ternyata masih sebatas satu wilayah kecamatan saja. Namun demikian, menurut penuturannya, saat ini sudah mulai cukup kuwalahan melayani pelanggan. Pasalnya ada kendala dari pasokan bahan baku pasir yang agak kurang lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pasokan pasir tidak lancar kadang-kadang harga tinggi pun terpaksa ia beli hal ini mengingat pasir merupakan bahan utama untuk produksinya sehingga nantinya yang jelas pendapatan yang diperolehnya akan minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Kalau pasir sepi mas, yang jelas harganya mahal, namun terpaksa kita beli tapi yang jelas nanti hasilnya nipis banget,’’ tutur Boyamin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitung-hitungannya menurut Boyamin dari satu truk pasir antara lain untuk batako ukuran 30 x 15 cm bisa menghasilkan sebanyak 500 buah, sedangkan untuk gorong-gorong berkisar antara 20 sampai 30 buah, tergantung dari ukuran barangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi harga ternyata cukup terjangkau semisal batako per bijinya dilepas dengan harga Rp 1.700 sampai Rp 2.000, sedang gorong-gorong untuk ukuran diameter 20 Cm dilepas dengan harga Rp 25.000 dan ukuran diameter 80 cm dilepas Rp 50.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Tentang harga itu semua bisa diatur, tinggal permintaan pembeli tapi yang jelas bila minta yang murah kualitasnya pun juga agak rendah,’’ ujarnya. &lt;br /&gt;Saat ditannya berapa omzet perbulannya dengan tersenyum ia enggan untuk menjelaskan. ’’Bagaimana ya saya tidak bisa menjelaskan ibunya itu mungkin karena ia yang ngurus uangnya,’’ tutur Boyamin sambil melirik istrinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Saya sendiri kalau ditanya berapa, angkanya secara pasti tidak bisa, tapi yang jelas untuk bayaran karyawan setiap orangnya harus menyediakan Rp 20 000, namun itu pun tidak setiap hari semua bekerja, dan lagian tiap bulannya tidak pasti kalau selalu ramai. Bahkan pernah dalam sebulan karyawan hanya memproduksi saja dan untuk memenuhi kebutuhan hanya mengandalkan dari pembelian partai kecil saja,’’ tambah Supatmi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal Telaten&lt;br /&gt;’’Usaha seperti ini yang penting telaten apa lagi saat ini semakin banyak yang membuka usaha sejenis, makanya saya tidak berani untuk memproduksi secara massal. Tapi yang jelas bila ada pemasukan sedikit demi sedikit saya sisihkan untuk tambah modal,’’ tutur Boyamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Yang penting lagi kita jangan sampai patah semangat, biarpun hanya memiliki modal sedikit pokok telaten dan pandai-pandai mengatur uang akhirnya besar juga. Bila mengingat usaha saya ini yang dulunya hanya jual maesan, banyak yang menduga kalau saya dapat suntikan dana. Sama sekali tidak ya hasil dari penjualan itu yang saya buat mengembangkannya. Tapi yang jelas kita harus kuat puasa untuk pengeluaran di luar kepentingan usaha,’’ tambah Supatmi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala usaha ini menurut penuturan Boyamin saat ini semakin banyak saingan tapi baginya rezeki itu sudah ada yang mengatur. Tapi meskipun banyak yang membuka usaha sejenis ia tetap optimis bahwa usaha ini tetap memiliki prospek yang bagus karena semakin banyak pula yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Memang sekarang saingan semakin banyak tapi Alhamdullah permintaan sampai saat ini tidak ada penurunan, bahkan saat ini sudah ada pesanan 6000 buah batako yang belum selesai saya kerjakan. Hanya saja karena semakin banyak usaha sejenis, menjadikan kendala pasokan bahan baku pasir sering telat,’’ jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Selain itu bagi saya saat ini yang menjadi kendala justru lokasi produksi yang semakin sempit, tempatnya sudah tidak cukup lagi. Makanya sekitar 4 bulan yang lalu saya membuka cabang di wilayah lain sekaligus memperluas usaha,’’ tambah Boyamin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Supatmi usaha yang dirintis mulai dari nol sampai bisa berkembang sampai sekarang tidak terlepas dari kiat usaha yang dimilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Ya untungnya suami saya itu cukup menguasai tentang seluk beluk bangunan jadi tentang hitung-hitungan masalah bangunan mulai dari nol atau mulai dari material sampai jadi bangunan yang siap huni ia bisa memperkirakan berapa biaya yang diperlukan,’’ tutur Supatmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Sering ada pelanggan yang ingin memuat rumah minta tolong pada suami saya untuk menghitungkan berapa biasa yang harus disediakan, bahkan ada yang sekaligus minta tolong untuk membuatkan gambar,’’ tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Ya idep-idep promosi kan tidak rugi, untuk sekedar membuatkan gambar dan menghitung besaran biaya yang diperlukan tidak berat dan itu sama sekali saya tidak menarik biaya atau imbalan uang. Tapi yang jelas biasanya mereka mengambil bahan-bahannya dari sini terutama batako, tiang beton, dan risplang, ada juga yang pernah beli gibsum dan suruh masang sekalian. Itu pun tetap saya layani,’’ tutur Boyamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya kedepan Boyamin memiliki ancang-ancang untuk mulai mengembangkan usaha selain sebagai penyedia bahan bangunan sekaligus menjadi pemborong. Hal ini berdasar penuturannya bahwa ia telah beberapa kali bersama karyawannya mengerjakan pembuatan rumah dan sering melayani pembelian risplang, gibsum, beserta pemasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buka Cabang&lt;br /&gt;Karena terkendala luas lokasi produksinya sudah tidak mencukupi lagi Boyamin berusaha membuka cabangnya yang lokasinya justru dekat dengan kota kecamatan, dan notabene diwiyayah itubanyak terdapat usaha sejenis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut ternyata memang disengaja selain karena kebetulan adiknya bertempat tinggal didekat lokasi cabang usahanya itu sekaligus adiknyalah yang disuruh untuk mengurus cabang usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Kebetulan saya punya tanah di Dongko. Berhubung saya kekurangan tempat produksi, maka tanah tersebut saya jadikan lokasi produksi, sekaligus untuk menjajagi bagaimana bila usaha di tempat yang telah banyak berdiri usaha sejenis,’’ ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya di lokasi yang baru tersebut hanya memproduksi pesanan yang yang telah masuk di rumah produksinya yaitu Pandean. Karyawannya juga diambilkan dari lamanya dari 15 orang yang ada dirumahnya yang 3 orang dibawa ke cabangnya yang ada di Dongko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lama kelamaan di cabangnya-pun mulai mendapatkan pelanggan. Menurut penuturannya saat ini dengan 3 orang karyawan juga mulai kuwalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Ternyata biarpun didekat lokasi cabang saya itu banyak terdapat usaha sejenis dari segi pasar tidak menjadi soal buktinya saat ini seperti batako misalnya, seandainya mentolo masih belum kering-pun sudah ada yang mau ngangkut,’’ tutur Boyamin. [pur]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-8274886299104535474?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/8274886299104535474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/11/jadi-pengusaha-bahan-bangunan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8274886299104535474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8274886299104535474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/11/jadi-pengusaha-bahan-bangunan.html' title='Jadi Pengusaha Bahan Bangunan'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SwBGnfbLfxI/AAAAAAAAAjI/8qSzrOzgIcI/s72-c/18-Boyamin-dan-istrinya.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-6053971404487095831</id><published>2009-10-29T06:33:00.000-07:00</published><updated>2009-10-29T06:36:04.768-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>BUKU AJAR DAN BAHASA JAWA LISAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suparto Brata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Mas Cipto Dosen Uness Semarang ketika menghadiri Festival Sastra Jawa dan Desa Inovatif di Cakul Trenggalek 4 Agustus 2009 lalu, untuk menyemarakkan bahasa dan sastra Jawa jangan selalu mengharapkan uluran tangan dari pemerintah melulu. Ini kebutuhan kita, marilah kita berusaha memberdayakannya dengan penuh semangat, seperti halnya ketika para sastrawan dan pemeduli bahasa Jawa menghadiri Festival Sastra Jawa dan Desa Inovatif di Cakul ini.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya heran sekali. Kata orang sudah diselenggarakan Konggres Bahasa Jawa 4 kali, berjarak lima tahunan selang seli pada tiga propinsi, yaitu Jateng, Jatim, dan DIJ. Niatnya agar bahasa Jawa dan sastra Jawa bisa bersemarak kembali jadi bahasa harian orang Jawa di tiga propinsi itu. Sudah diselenggarakan empat kali, artinya niatan tadi kan sudah berlangsung 20 tahun. Ternyata keadaan bahasa Jawa maupun sastra Jawa sebelum dilaksanakan konggres-konggres dan saat ini sama saja. Bahasa Jawa zaman sekarang juga tidak semarak seperti zaman sebelum diselenggarakannya konggres-konggres. Sastra Jawa, siapapun yang ingin berkarya, maupun siapa pun yang ingin membaca sastra Jawa ya hanya pada majalah bahasa Jawa Penjebar Semangat, Jaya Baya dan Djaka Lodang. Tidak berkembang lagi, bahkan boleh dikatakan surut, karena jumlah pelenggan majalah-majalah tadi kian hari kian surut, sehingga jumlah yang beredar sebelum ada konggres bahasa Jawa lebih banyak daripada masa kini. Dengan begitu dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil konggres-konggres yang mestinya diikuti langkah-langkah peraturan pemerintah yang seharusnya dipatuhi di tiga propinsi itu, ternyata sangat minim dilakukan. Kalau pun ada Perdanya, juga tidak dipatuhi pelaksanaannya oleh masyarakatnya di tiga propinsi tadi. Sia-sia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran di sekolah kok katanya juga sudah ada. Tapi keluh-kesahnya para pelaksana Perda untuk mematuhi berkumandang jelas. Jam ajarnya terlalu sedikit. Guru bahasa Jawa kurang sekali. Buku ajar bahasa Jawa belum ada. Dilombakan menulis buku ajaran bahasa Jawa di Provinsi/Kabupaten/Kota konon tidak ada pesertanya. Atau ada, tetapi tidak cocok untuk dijadikan buku ajar bahasa Jawa. Kata Mas Ayu Sutarto, di Jember pelajaran bahasa Jawa di sekolahan sangat ditakuti oleh para murid, tetapi pelajaran bahasa Inggris sangat disenangi dan diminati. Sebab untuk bahasa Jawa harus menghafal anak kuda namanya belo, anak cecak namanya sawiyah. Padahal di sana yang biasa berbahasa Madura, menyebut anak kuda ya kuda kecil, anak cecak ya cecak kecil. Lalu kapan harus mengucapkan belo, karena sekarang kuda saja sulit sekali ditemui. Dan cecak sudah tidak pernah diperhatikan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, luar biasa sekali sulitnya bangsa Jawa belajar bahasa Jawa! Sudah diselenggarakan konggres bahasa Jawa yang biayanya ratusan juta rupiah, sudah berlangsung selama 20 tahun, pelajaran bahasa Jawa masih sulit dilaksanakan. Sastra Jawa masih tetap tidak semarak. Sulit sekalikah mengajari bahasa Jawa di sekolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dulu diajari bahasa Jawa di sekolah gampang sekali. Murid satu kelas 30 orang dibagi buku merata satu-satu. Murid Parto membaca keras-keras, murid lainnya menyemak. Kalau membacanya salah, murid lain berteriak, “Salah!”. Artinya cara membacanya harus diulang dibetulkan. Terkadang di tengah-tengah membaca, dihentikan oleh guru, guru ganti menyuruh murid Sumono melanjutkan membaca. Kalau Sumono tidak bisa meneruskan bacaannya, artinya dia tidak menyemak yang dibaca oleh Parto. Kena hukuman. Jam pelajaran bahasa Jawa selesai, buku dikumpulkan, dan disimpan di almari sekolah. Keesokan harinya, pelajaran bahasa Jawa dimulai dengan membagi buku yang kemarin, dan disuruh baca ganti-ganti seperti kemarin juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tiap hari cara mengajar bahasa Jawa zamanku dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau murid sekelas semua sudah mendapat giliran membaca keras-keras buku tadi Bab I, lalu jam pelajaran bahasa Jawa selanjutnya juga membagi buku yang itu juga. Tapi tidak disuruh membaca keras-keras dan yang lain menyemaknya. Selama 10 – 15 menit murid-murid disuruh membaca batin Bab II. Selesai, Pak Guru pun bertanya kepada murid-muridnya bergiliran satu per satu, apa saja cerita yang tertulis dalam Bab II. Yang tidak lancar atau bahkan tidak bisa bercerita, pastilah membacanya tidak lancar. Pak Guru lalu selalu membimbing memberi tuntunan, bagaimana caranya membaca buku itu. Misalnya, kalau membaca buku kepalanya jangan ikut geleng-geleng. Bola matanya saja yang bergerak. Dituntun oleh guru tiap kali terdapat kendala pada satu dua muridnya caranya membaca. Dituntun bagaimana membaca buku. Membaca batin, bibirnya jangan ikut bergerak. Bagaimana caranya membaca cepat dan lalu mengerti maknanya, karena membaca cepat juga sangat berguna bagi seorang pemimpin bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengajarkan bahasa Jawa seperti itu bukankah sangat mudah? Yang mengajar tidak usah orang yang titelnya S1 atau S2. Seorang kakak perempuan yang umurnya 3 tahun lebih tua, tapi sudah lancar membaca buku, sudah dapat mengajari adiknya membaca buku (ini saya alami sendiri, dan juga pernah saya lihat di siaran TV yang menyiarkan setelah tsunami di Aceh, seorang mbakyu dan adiknya sama-sama membaca buku di tenda pengungsian). Caranya, adiknya disuruh membaca buku keras-keras, si kakak mendengarkan, kalau salah ditegur dan dibetulkan. Gampang sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ajarnya sekarang tidak ada. Pemerintah belum menerbitkan buku ajar seperti itu meskipun konggres-konggres bahasa Jawa sudah berlangsung 20 tahun. Lalu, apakah pengajaran bahasa Jawa di sekolah menunggu diterbitkannya buku-buku ajar di sekolah? La kalau sudah 20 tahun berlangsung konggres-konggres, buku ajar bacaan bahasa Jawa belum ada, apa kira-kira 50 tahun kemudian baru diterbitkan bukunya setelah konggris yang ke 10? Atau, mengamati sudah diselenggarakan konggres 20 tahun tidak terjadi penerbitan buku ajar bahasa Jawa, mungkin akan selamanya konggres dilaksanakan sepanjang zaman tidak juga terbit buku ajar bahasa Jawa? Konggres hanyalah untuk Konggres?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Mas Cipto Dosen Uness Semarang ketika menghadiri Festival Sastra Jawa dan Desa Inovatif di Cakul Trenggalek 4 Agustus 2009 lalu, untuk menyemarakkan bahasa dan sastra Jawa jangan selalu mengharapkan uluran tangan dari pemerintah melulu. Ini kebutuhan kita, marilah kita berusaha memberdayakannya dengan penuh semangat, seperti halnya ketika para sastrawan dan pemeduli bahasa Jawa menghadiri Festival Sastra Jawa dan Desa Inovatif di Cakul ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, marilah pelajaran bahasa Jawa di sekolah kita lakukan seperti pada zaman saya dahulu. Yaitu membaca ganti-ganti murid satu kelas dengan menyemak apa yang dibaca temannya yang mendapat giliran membaca. Bukunya? Belum tersedia buku, ya cerita di Taman Putra yang dimuat di majalah bahasa Jawa Jaya Baya atau Panjebar Semangat difotocopy sebanyak jumlah murid di kelas, misalnya 30 orang. Dibagi selembar seorang (ongkos fotocopy ditanggung sekolah). Lalu disuruh baca yang keras berganti-ganti. Selesai jam pelajaran, fotocopy dikumpulkan. Keesokan harinya dibagi lagi, dibaca bergiliran lagi. Begitu hingga seluruh kelas sudah membacanya dengan lancar dan semua mengerti benar alur cerita maupun liding dongeng (the moral of the story). Baru ganti cerita Taman Putra (fotocopyan) yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah seharusnya pengajaran sastra Jawa di daerah tiga provinsi di Tanah Jawa sebelum buku ajar atau buku bacaan bahasa Jawa terbit. Yang memfotocopy dari Taman Putra (majalah bahasa Jawa) adalah sekolah-sekolah yang bahasa Jawanya cengkok Mataraman (cengkok Surakarta-Jogjakarta). Di daerah Banyumas apa bahasa Taman Putra majalah Jaya Baya bisa diikuti? Karena bahasa Banyumasan lain dengan bahasa Jawa Mataraman. Sulit bagi anak-anak Banyumas yang tiap hari berbicara bahasa Banyumasan disuruh membaca/berbicara bahasa Taman Putra majalah Jaya Baya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gampanglah. Ya gurunya saja disuruh mengarang cerita bahasa Banyumasan. Kalau tidak bisa mengarang cerita sendiri, ya minta tolong kepada orang lain. Mosok tidak ada seorang pun di Banyumas yang bisa mengarang cerita dalam bahasa Banyumasan? Sudah ada buku bahasa Banyumasan yang mendapat hadiah Sastra Rancagé kiblat bahasa Jawa, lo! Buku bahasa Banyumasan mendapat hadiah tertinggi buku bahasa Jawa yang diselenggarakan oleh Yayasan Sastra Rancagé pimpinan Ayip Rosidi. Apa ora hebat? Mosok hanya seorang itu yang bisa mengarang (menulis) cerita bahasa Banyumasan? Dan kalau yang seorang itu tidak lagi menulis bahasa Banyumasan, lalu bahasa Jawa Mbanyumasan kukut? Kan kasihan, Pak Ayip Rosidi sudah berjuang menghabiskan dana, enersi dan waktu bertahun-tahun lamanya, masyarakat Jawa Mbanyumasan tidak bisa mensyukuri dan tidak merasa sejahtera. Menunggu hasilnya para caleg pemilihan yang lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengarang cerita itu sulit, lo, Pak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah. Begini saja. Untuk bacaan di kelas bagi murid yang bahasanya Banyumasan, suruh saja Pak Guru menterjemahkan cerita anak dari majalah Bobo. Seperti halnya Taman Putra tadi, cerita anak di majalah Bobo setelah diterjemahkan dalam bahasa Banyumasan, diketik pada komputer, difotocopy sebanyak jumlah murid di klas, lalu dipakai sebagai pelajaran bahasa Jawa Banyumasan. Untuk bacaan di kelas mulai klas satu hingga klas tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang di Banyumas. Yang di Tegal juga begitu. Cerita kanak majalah Bobo (yang sudah jelas makna dan mutu pendidikannya) diterjemahkan dalam bahasa Tegalan. Yang Banyuwangi bahasa Osingan. Yang Madura bahasa Maduran. Dengan cara begitu, maka pengajaran sastra Jawa menurut daerahnya masing-masing akan lancar. Bukan saja murid dipaksa membaca bahasa daerahnya masing-masing, tetapi yang juga sangat penting, yaitu MEMBACA SASTRA. Bangsa Indonesia sudah sangat kehilangan pembacaan sastra sebagai kiat hidup modern. Bangsa Indonesia 90% tidak punya budaya membaca buku, hidup di zaman modern dengan mengandalkan kiat hidup primitif, bahasa lisan, yaitu melihat dan mendengar saja. Itu kiat hidup orang primitif sejak dulu kala. Oleh karena itu, kalau pelajaran membaca buku dituntun di sekolah seperti pembacaan fotocopy bahasa Banyumasan dan lain-lain tadi, maka MEMBACA SASTRA sudah dimulai lagi di sekolah Indonesia. Setidaknya di tiga provinsi daerah bahasa Jawa. Dengan cara tadi maka mula-mula sejak kelas satu diajari membaca sastra (Jawa), selanjutnya selama 12 tahun bersekolah putera bangsa terbiasa membaca sastra, akhirnya tentu berbudaya membaca sastra, berbudaya membaca (buku) sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fotocopy terjemahan Taman Putra dan Bobo dijadikan bacaan ajar bahasa Jawa di masing-masing daerah seperti itu hanya berlaku sampai di kelas tiga. Di kelas empat, yang difotocopy lain. Bukan Taman Putra, tapi dari rubrik Roman Sacuwil. Di Banyumas terjemahan diambil dari buku ciklit. Di SMP yang diterjemahkan dan difotocopy sudah crita cekak (cerita pendek bahasa Jawa). Setelah SMA yang jadi bacaan bahasa Jawa sudah buku roman (novel) bahasa Jawa, misalnya Trah atau Dokter Wulandari. Yang diterjemahkan bahasa Osingan, Maduran, Banyumasan sudah buku Ayat-ayat Cinta, atau Raja Minyak karangan Karl May.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kalau keadaan pembelajaran bahasa Jawa di sekolah sampai 12 tahun lagi buku ajar bacaannya belum juga ada. Kalau para sastrawan Jawa semangatnya untuk mengembangkan sastra Jawa seperti yang dijiwai pada Festival Sastra Jawa dan Desa Inovatif di Cakul Trenggalek tanggal 4 Agustus 2009, 12 tahun lagi sejak sekarang, saya kira para pemerhati dan pengelola sanggar-sanggar sastra Banyumasan, Osingan, Tegalan dan Mataraman sudah pada bersemangat menerbitkan buku-buku cerita bacaan untuk tingkat kelasnya masing-masing. Tidak perlu lagi bacaan fotocopyan. (Jangan melulu menunggu uluran Pemerintah saja, ujar Mas Cipto). Festival Sastra Jawa dan Desa Inovatif (FSJD) yang diselenggarakan di Desa Cakul 4 Agustus 2009 itu dipromotori oleh Ketua Perhimpunan Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Drs Bonari Nabonenar, berhasil menghimpun banyak sekali pengarang sastra Jawa, baik yang muda maupun yang usia lanjut, baik yang pemula maupun yang dedengkot, dari seluruh wilayah Jawa dari Jakarta (Diah Hadaning) sampai Banyuwangi (Drs.Suyanto,MPd), dari mahasiswa bahasa Jawa sampai dekan-dekannya, datang ke Cakul dengan beaya sendiri-sendiri, dan di sana diselenggarakan berbagai pentas tradisional budaya Jawa maupun yang inovatif, serta sidang-sidang diskusi di berbagai tempat dan berbagai waktu, para tamu menginap di rumah-rumah penduduk desa dengan konsumsi dan fasilitas penginapan seadanya. Sungguh-sungguh Jawa dan desa. Namun mereka semangat berdiskusi mengenai sastra Jawa umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyemarakan bahasa dan sastra Jawa kalau semangatnya seperti itu, pastilah akan berhasil. Kalau penyelenggaraan seperti konggres-konggres Bahasa Jawa yang mewah, tetapi tanpa diikuti pelaksanaan hasil konggres, ya 12 tahun lagi keadaan bahasa Jawa dan sastra Jawa ya tetap seperti sekarang ini. Hidupnya penutur dan sastrawan bahasa Jawa seperti hidupnya para petani di desa-desa. Menghasilkan sesuatu yang berguna untuk bangsa, tetapi tetap terbengkalai, dijauhkan dari kesejahteraannya.&lt;br /&gt;Menurut pendapatku, buku ajar bahasa Jawa Mataraman, Osing, Tegalan, Maduran, Banyumasan jangan buku linguistik, melainkan sastra. Jangan disuruh menghafalkan kembang jati itu namanya jangleng, anak babi itu namanya genjik. Jangan seperti itu. Tetapi suruhlah putera bangsa membudayakan membaca cerita: Kancil nyolong timun, Ali Baba karo 40 kecu, cerita-cerita seperti itu. Membaca cerita atau sastra sudah diyakini pasti bisa menyenangkan dan berguna (dulce et utile) untuk kiat hidup modern. Jika cara begini dilaksanakan, 12 tahun lagi putera bangsa yang lulus SMA pasti sudah punya budaya membaca buku sastra, Indonesia khususnya lulusan dari tiga provinsi Jawa, sudah tidak ketinggalan lagi membaca buku kesusastraan. Tidak bodoh, tidak miskin, tidak nelangsa, tetapi sanggup hidup mandiri, banyak kreasinya yang inovatif, membantu kesejahteraan rakyat, (membantu pemerintah, tidak hanya mengharapkan kebahagiaan dari pemerintah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada FSJD Cakul ada lagi yang perlu saya ceritakan. Mas Beni Setia (asal dari Sunda) mengemukakan bahwa sastra Jawa sebetulnya masih terasa hidup semarak sampai sekarang di desa-desa. Bisa dilacak dari masih digemarinya pagelaran (berbahasa Jawa) wayang, ketoprak, ludrug. Juga ketika memperingati sepasaran bayen (lima hari kelahiran bayi) diselenggarakan macapatan. Pada upacara pernikahan pengantin juga dikumandangkan bahasa Jawa yang luhur. Pada peristiwa seperti itu sastra Jawa masih disemarakkan oleh warga desa. Sastra Jawa modern jadi kurang melekat kepada masyarakat Jawa karena tidak berlandaskan suasana kedesaan Jawa. Sastra Jawa modern meninggalkan kejawaannya, kata Mas Beni Setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas R.M.Yunani terkejut mendengar uraian Mas Beni. Sastra itu ya ditulis. Tidak diucapkan lisan. Memang pada pagelaran yang disebut tadi mengandung bahasa yang adiluhung. Bahasa adiluhung memang jadi salah satu dari panutan wajib ditulis pada sastra. Jika sastra Jawa modern ingin berkembang, ya harus diciptakan secara modern, wacana sastra dunia harus jadi referensinya. Itu bukan berarti sastra Jawa modern meninggalkan asal-usul orang Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapatku, apabila kita bicara tentang menyemarakkan BAHASA (Jawa), yang paling penting bahasa itu harus sering didengar dan sering diucapkan. Jika Gubernur/Bupati/Kota ingin bahasa Jawa semarak di masyarakat (melaksanakan keputusan Konggres-konggres Bahasa Jawa) diatur saja lewat Peraturan Pemerintah Daerah (Perda), agar bahasa Jawa sering diperdengarkan dan diucapkan. Jadi pagelaran kotoprak atau drama bahasa Jawa sering dipentaskan (misalnya diselenggarakan lomba pentas antarsekolah SMP). Jam-jam siaran radio swasta di daerahnya harus berbahasa daerah, di Madura siaran radio harus bahasa Madura, dan sebagainya. Juga TV lokal, harus berbahasa daerah yang baik, bahasa daerah yang membangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti apa ada yang menyetel TV dan radio swasta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergantung acaranya, bisa menarik atau tidak. Andaikata TV lokal menyiarkan telenovela Brasil yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa. Misalnya Maria Marcedes yang pernah digilai oleh penonton Indonesia sehingga peranan utamanya didatangkan ke Indonesia disiarkan dalam bahasa Jawa. Pasti menarik perhatian baik orang yang di Tanah Jawa, maupun orang Jawa yang merantau di luar Jawa. Mengapa menarik perhatian? Sebab ceritanya memang bagus, tokohnya bule (penonton Indonesia/Jawa masih mengidolakan tokoh bule) tetapi lancar berbahasa Jawa, bahasa Jawa yang bersih, cerdas, terpelajar. Telenovela Brasil atau Meksiko, rata-rata alur ceritanya lebih banyak dituntun dengan bertutur kata (meskipun settingnya tetap di ruangan yang sama) daripada beraksi. Kalau tutur katanya itu dalam bahasa Jawa, maka ceritanya tetap akan menarik. Agak lain dari sinetron Indonesia yang lebih banyak beraksi kekerasan (suka sekali mentayangkan adegan menyiksa, klub malam, rumah sakit dan kuburan), tutur katanya kasar, tidak cerdas, melecehkan orang lain, penuh kebencian, dendam kesumat, cenderung banyak menimbulkan/mempromosikan konflik serta kekerasan dan perpecahan. Persoalannya, apakah TV lokal swasta sanggup menyelenggarakan dubbing bahasa Jawa sebaik itu? Sebab juga dibutuhkan orang Jawa yang pandai berbahasa Jawa. Dengan tutur kata terjemahan dari telenovela Brasil tadi (yang cerdas, bersih dan ceritanya modern) maka akan ternyata bahwa bahasa Jawa bukan bahasa kuna ataupun ndesa. Bahasa Jawa bisa digunakan untuk menampung kehidupan dan pemikiran modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hasrat semangat rakyat atau masyarakat di tiga provinsi Jawa itu seperti para sastrawan FSJD Cakul, pasti bisa terselenggara semaraknya bahasa Jawa yang modern dan terpelajar pascakonggres-konggres bahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan Sekolah Karmel Malang, dengan semangat ingin mencerahkan bahasa dan sastra Jawa, tidak saja untuk disiarkan pada murid-murid di sekolahnya, melainkan juga dikembangkan kepada masyarakat umum. Tahun 2006 dan 2008 pernah bekerja sama dengan majalah bahasa Jawa Jaya Baya (Surabaya) mengadakan lomba pengarang geguritan dan crita cekak untuk umum. Pesertanya cukup banyak dari berbagai daerah baik di Jawa Tengah, DIJ dan Jawa Timur. Namun, setelah hasil lomba diumumkan dengan disertai upacara penyerahan 6 pemenangnya yang terima hadiah dan diskusi tentang sastra Jawa (semua para peserta lomba diundang dengan diganti transportasi, konsumsi dan penginapannya ~ tentu saja mereka belum tahu siapa pemenangnya, maka mereka antusias untuk hadir di Malang), serta karya pemenang utama berturut-turut dimuat di majalah mingguan Jaya Baya, maka selesailah kegiatan penyiaran sastra Jawa tersebut. Tidak ada kumandangnya lagi sekarang. Yang paling berhasil dalam lomba itu adalah dibangkitkannya para sastrawan untuk ikut serta lomba menciptakan hasil karyanya. Akan lebih bermanfaat lagi kalau karya hasil lomba itu dihimpun diterbitkan jadi BUKU. Karena sastra adalah buku. Dengan adanya buku sastra Jawa, maka sastra Jawa akan selalu diingat tiap kali dibaca pada bukunya. Sedang kalau disiarkan di majalah atau suratkabar, akan tidak terbaca lagi setelah ada penerbitan majalah nomer yang baru. Nomer yang lama (yang memuat karya sastra) ikut hilang bersama nomer majalah yang lampau, tidak dibaca lagi. Lain kalau diterbitkan jadi buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Yayasan Sekolah Karmel di Malang ingin mengembangkan bahasa Jawa dengan hasil lomba-lombanya tadi, yang pertama mestinya hasil lomba tadi diterbitkan jadi buku. Yang kedua lomba dijadikan agenda dua tahunan, diselenggarakan terus tiap dua tahun sekali. Itu tadi tentang SASTRA Jawa. Yang ketiga, ini untuk menyiarkan agar BAHASA Jawa selalu didengar dan diucapkan, diselenggarakan lomba baca geguritan dan crita cekak antarsekolahnya secara periodik hasil lomba penulisan di majalah yang lalu. Syukur-syukur bisa dilombakan drama bahasa Jawa antarsekolahnya dengan cerita gubahan hasil cipta cerita pendek yang dilombakan di majalah Jaya Baya tahun-tahun lalu. Kalau lomba baca geguritan dan cerita cekak orang hanya mendengarkan sekejab bahasa Jawa, tetapi kalau dipentaskan sebagai drama (bahasa Jawa), penonton/pendengar lebih menjiwai tuturan bahasa Jawa tadi. Berbeda dengan pementasa ketoprak atau ludrug yang telah punya ikatan tradisional (sehingga penontonnya pasti orang yang mengenal pentas tradisional tadi), maka pementasan drama lebih memenuhi kreteria kehidupan masa kini atau bebas dan modern. Sesuai dengan tuntutan menyemarakkan bahasa Jawa saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya bukan hanya Yayasan Sekolah Karmel Malang saja yang harus menyelenggarakan lomba-lomba bahasa dan sastra Jawa seperti itu. Pemerintah Daerah Provinsi/Kota/Bupati, lembaga swadaya masyarakat seperti penerbitan suratkabar, penyiaran radio, televisi yang memiliki pasarannya dengan didengar dan dibaca, punya kewajiban menyelenggarakan lomba-lomba seperti itu kalau mereka berada di tiga propinsi yang menyelenggarakan Konggres Bahasa Jawa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin menyemarakkan BAHASA (Jawa), maka bahasa tadi harus sering diperdengarkan dan diucapkan. Jika ingin menyemarakkan SASTERA (Jawa), maka bahasa tadi harus banyak ditulis pada buku, dan dibaca pada buku. Mestinya itu yang harus diperbuat pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat di tiga propinsi pascakonggres-konggres bahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra Jawa tidak hanya berkumandang seperti ketika Yayasan Sekolah Karmel di Malang menyelenggarakan lomba mengarang geguritan dan crita cekak, setelah hasil lomba diumumkan bahasa dan sastra Jawa lenyap. Tidak hanya pada saat-saat diselenggarakan Konggres Bahasa Jawa pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra Jawa berkumandang, setelah selesai Konggres bahasa dan sastra Jawa sepi. Harus ada perkembangan pengetrapannya selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah harapan saya. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Oct 19th, 2009 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saka: &lt;a href="http://supartobrata.com/?p=387#more-387"&gt;Suparto Brata&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-6053971404487095831?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/6053971404487095831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/buku-ajar-dan-bahasa-jawa-lisan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/6053971404487095831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/6053971404487095831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/buku-ajar-dan-bahasa-jawa-lisan.html' title='BUKU AJAR DAN BAHASA JAWA LISAN'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-694103672484174004</id><published>2009-10-26T01:41:00.001-07:00</published><updated>2009-10-26T01:41:56.273-07:00</updated><title type='text'>detikcom : Pemasok 90% Bahan Baku Dunia, Tapi RI Masih Impor Parfum</title><content type='html'>title : Pemasok 90% Bahan Baku Dunia, Tapi RI Masih Impor Parfum&lt;br /&gt; summary : RI kini merupakan pemasok 90% bahan baku minyak atsiri yang digunakan untuk pembuat parfum. Tragisnya, RI justru tercatat sebagai salah satu pengimpor parfum. Sebuah potret carut marutnya industri dalam negeri. &lt;a href='http://www.detikfinance.com/read/2009/10/26/152238/1228775/4/pemasok-90-bahan-baku-dunia-tapi-ri-masih-impor-parfum'&gt;(read more)&lt;a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-694103672484174004?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/694103672484174004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/detikcom-pemasok-90-bahan-baku-dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/694103672484174004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/694103672484174004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/detikcom-pemasok-90-bahan-baku-dunia.html' title='detikcom : Pemasok 90% Bahan Baku Dunia, Tapi RI Masih Impor Parfum'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-1341712384455247515</id><published>2009-10-07T11:46:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T11:53:04.697-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>PANGGURIT DIAH HADANING</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SszjcOK4HHI/AAAAAAAAAiM/LryU0UTTiDE/s1600-h/diah-hadaning.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 186px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SszjcOK4HHI/AAAAAAAAAiM/LryU0UTTiDE/s200/diah-hadaning.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389932928035200114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MULIH MARANG “IBU” BUDAYANE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nganggo sandhang penganggo sarwo ireng, rambut dawa diore, Diah Hadaning macakake guritane “Paseksene Anake Ki Suta Kluthuk” ing acara pentas Festival Sastra Jawa (FSJ) wengi ing Cakul, Dongko, Trenggalek, 4 Agustus 2009. Sanajan penggurit sing yuswane wus 69 taun, nanging dheweke isih bisa nuduhake ekspresine lumantar guritane kasebut. Eyang putri Diah Hadaning keraya-raya teka ngestreni FSJ karana tresnane marang sastra Jawa. Wus ana sauntara kumpulan guritan sing diserat wiwit taun 1980 kayata  “Paseksen Anake Ki Suto Kluthuk”, “Kirab Gurit 53”, lsp.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diah Hadaning, nyemak saka guritan-guritane, sajak kepranan karo Kejawen sing melu ngrenggani sejarah uripe. Ing bukune “Paseksen Anake Ki Suto Kluthuk” ing kono malah dicethakake dening dheweke prakara mau mangkene: ‘Konjuk catur wanodya kang nengarani greget seni lan jatidhiriku: Raden Ayu Mardinah (Pertapa Goa Tabuhan, Tlatah wetan), Kanjeng Ratu Kalinyamat (penguasa Tlatah Lor), Raden Ajeng Kartini (Pejuang kemajuan wanita), Sakirah (Pengukir jiwa ragane penggurit)’. Yen maca sabrebetan, katrangan kaya mangkono mau pancen ora patiya ketara mungguh kepriye tlonjonge marang rasa-pangrasane Diah Hadaning marang Kejawen. Kabeh sing katuran konjuk iku wanita. Para wanodya mau banget gedhene anggone lelabuh marang lelakon uripe, mligine marang kelantipane anggone nulis guritan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasaja. Urip iku satemene prasaja. Mangkono manut Diah Hadaning kaya sing katulis ing guritane “Anake Ki Suta Kluthuk”: aku iki anake Ki Suta Kluthuk/lair bengi kairing swara suluk/tanpa piranti suci ama/ya mung welat lan empu kunir/aku ora wedi getir/yangisku sora/ngungkuli sambating sibu/wong-wong gumun takon mara/besuk arep dadi apa/aku iki anake Ki Suta Kluthuk/wiwit cilik wis mendem urip sara/saben bengi sibu mbisiki/ya gendhuk langit kae gambarana/pasuryan priya kang gawe mulya/sibu ora ngerti/aku iki angin gunung/kang ngiring swara suluk/aku iki ati kembara/ara-ara lan alang-alang kanggoku kanca/angin tlatah lor dadi nafasku/banyu tlatah lor dadi getihku/tanah gunung lor dadi dagingku/watu tlatah lor dadi balungku/langit lor ya bapakku/bumi lor ya ibuku/aja kemlungkung mring dunungku/aja gething mring sambatku/apa maneh merjaya aku//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gawe Rasa Kebal Lara&lt;br /&gt;Guritane mantan wartawan Swadesi Jakarta iku bisa dibabarake yen nggambarake kangene marang alam sing wus tau nglairake dheweke minangka wong Jawa sing prasaja. Coba disimak judhule iku “Anake Ki Suta Kluthuk”. Tembung kluthuk, ing madyaning masyarakat Jawa dianalogekake kanggo wong-wong ndesa utawa wong sing prasaja banget uripe. Ya ing kene iki (prasaja) sing bisa ditemokake maneh dening panggurit mungguhing alam Jawa, mligine Jawa pesisiran. Kekarepan/pepenginan bali marang sumber Jawa kaya mangkono mau ora maido dadi lumrah menawa ngumbarane rasa lan pengalaman wus njajah tekan ngendi-endi papan lan panggonan tumrap kawruh. Diah Hadaning, sajroning mapan ing Jakarta (sabanjure ing Bogor) mesthine wus tepung karo apa sing disebut “modheren”. Ananging, sing modheren mau ora bisa menehi “pangluaran” sing sejati kanggo jiwane. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab iki bisa dipetani saka guritan “Jakarta Kala Mangsa” ing antologi Kirab Gurit 53 (taun 2000): Jakarta/rembulane katon abang/ayang-ayangmu gemlewang/Jakarta/gambang kromong keprungu aneh/akeh wong omong nyleneh/Jakarta kala mangsa/gawe rasa kebak lara/Jakarta kala mangsa/eloke mung aneng kaca/Jakarta/dedongengan bocah saiki/ana kreteg tanpa kali/Jakarta/ujare wong melik maju/milih utang nadyan diguyu// Guritan mau nggambarake bab sing cengkah siji lan sijine, apus-apus, ora cetha tlonjonge, lan “gawe rasa kebak lara”. Sawernane prakara kasebut dadi pancadan mungguhing Diah Hadaning kanggo sinau lan tilik sarta mulih maneh marang “ibu” budayane: Jawa. Apus-apus utawa bab-bab sing mung ethok-ethok gebyare yen disawang sapandurat pancen kaya bisa gawe marem, ananging rasa iku ora bisa diapusi. Ibu sing biyen nglairake lan ngedhekake, sanajana ditinggal adoh tetep ora bisa ditinggal lan ora bakal ninggalake, jalaran ibu iku sajatine setya lan asih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laku Spritual”&lt;br /&gt;Awit saka iku, dheweke ngluru maneh nggoleki lan prasapa nuhoni karo garising naluri sing ginurit ing uripe. Kanggo nyapih marang kahanan mau, panggurit sing duwe komunitas Wrung Sastra Diha iki, tau kandha yen kepengin golek papan ing dhaerah salore Yogyakarta (ing sacedhake Kaliurang). Jarene, sauntara taun kepungkur marang JB, dheweke arep gawe dalem kaya dene padhepokan. Nanging, kekarepan mau ora sida kelakon. Embuh apa jalarane. Saiki dheweke dalah kluwargane mapan ing Cempaka, Blok D/14, Mekarsari Permai, Cimanggis 16952 (Jalan Raya Bogor Km. 30). Sing cetha, ora ing Jakarta maneh. Jumbuh karo kahanan kasebut, lungane Diah Hadaning menyang acara FSJ ing Cakul, Trenggalek sing papane ana desa pegunungan iku dadi sawijining “laku spritual” sastra apadene uripe. Duk samana, nalika para kawi (panggurit Jawa Kuna) ngasah lan nikelake rasa-pangrasane, padha munggah gunung dhuwur supaya bisa nggemblengake sakabehing jiwane. Apa Diah Hadaning mangkono persise, amung dheweke dhewe sing bisa njawab. Nanging, totalitase nalika maca guritan lan rong dina ngestreni FSJ saora-ora menehi tengara: pancen ngono ancase!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik menyang Kejawen sajake bisa menehi banyu bening marang ngoronging lakuning jiwa. Prasaja, salah sijine kuci urip Jawa, bisa dipigatekake saka tumindak, upamane gawe seneng. Kegawa saka yuswa lan wawasane, Diah Hadaning ora tau nuduhake sapa satemene dheweke yen ora ditakoni. Iku ora ateges angkuh utawa ngrahasiakake uripe, kabeh mau kegawa karep supaya aja nganti gawe seriking liyan. Guritan cuplikan ing ndhuwur mau aweh tengara tandha dunung menyang endi arah sing arep dilakoni. (Dhanu Priyo Prabowo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaya Baya Nomer 52 Tahun 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-1341712384455247515?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/1341712384455247515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/panggurit-diah-hadaning.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1341712384455247515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1341712384455247515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/panggurit-diah-hadaning.html' title='PANGGURIT DIAH HADANING'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SszjcOK4HHI/AAAAAAAAAiM/LryU0UTTiDE/s72-c/diah-hadaning.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-2265755250513699502</id><published>2009-10-07T11:41:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T11:44:34.703-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>NGLARAN, NABETE JRONING ATI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nggelak Optimisme Mekare Kasusastran Jawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRIKANCA pengarang sastra Jawa sarta aktivis olah tetanen saka njaban daerah kang dadi peserta Festival Sastra Jawa dan Desa (FSJD) 4-5 Agustus 2009,  wis nilarake Dhusun Nglaran, Desa Cakul, Kec Dongko, dhusun pucuk nggunung ing Kab Trenggalek. Rebo bengi bubar adicara penutupan kanthi nggelar wayang tobos, 18 anggota rombongan PSJB (Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro) pimpinane JFX Hoery, langsung bodholan senadyan mobile kudu ngliwati dalan rumpil menggak-menggok munggah-mudhun.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakbis rombongan wayang dongeng saka Universitas Negeri Semarang (Uness) uga tengah wengi iku uga mulih sabubare pentas ing aula SD/SMP Satu Atap ing Cakul. Adicara ditutup Wakil Bupati, Mahsun Ismail SAg MM diterusake pentas dhalang cilik Wuwus Nanang Galih Carita kang kasil ngrengkuh Lima Besar lomba pedalangan anak-anak ing Solo 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kari pengarang telu kang durung mulih kalebu Diah Hadaning saka Bogor sing gelak-gelik nunggu travel menyang Surabaya. Nedhenge nunggu ndadak Bonari Nabonenar, Ketua Penitia FSJD ya Ketua PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya) antuk telepon saka kabupaten martakake yen Bupati Trenggalek Drs H Soeharto ngantu-antu tekane peserta lan panitia. “Pira wae dijaluk tekane, Bupati adreng banget,” mangkono unine telepon saka kabupaten iku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pirsa regenge adicara pembukaan sarta akehe peserta Bupati rumangsa ngungun jalaran ora ngira jebul kaya ngono dadine. Rawuhe rombongan bupati Selasa awan, dipapag kiprahe jaranan “Turangga Yaksa” saka Dongko lan diregengake Grup Kentrung Moderen “Panji Wulung”. Durung maneh kiprahe grup kerawitan SD Cakul dalah panggerong bocahe sarta Tari Gambyong dening para Guru GTT Dongko kang mangayubagya rawuhe Bupati sarombongan. Krana kepranan, mahanani panjenengane kapiadreng nyugata para pengarang sastra Jawa ing pendhapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senadyan awak rasane lungkrah telung dina sarasehan, karen-karene peserta ngestokake sowan Bupati diombyongi Ketua lan Sekretaris Pantia FSJD (Bonari lan Sarwan S.Pd) sarta para panitia lokal liyane. “Sinten malih ingkang badhe nguri-uri basa, sastra, lan budaya Jawi kajawi kula panjenengan sami,” ngendikane Pak Bupati ing pringgitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saka kono, Bupati H Soeharto kang nampi gelar Kanjeng Haria Hadiningrat saka Kasunanan Surakarta iku banjur ngajak tamune menyang pendhapa mirsani lomba tembang macapat tingkat SLTP lan SMU sa-Kab Trenggalek. Dina Sabtu lan Senene bakal dianakake lomba geguritan kanggo murid-murid SD, SLTP lan SMU. “Lomba ngaten punika ajeg dipun-adani saben amangeti tanggap warsa Kab Trenggalek sarta HUT Proklamasi Kamardikan RI,” ngendikane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E, wis kaya ngono pangrengkuhe, rombongan mulih isih dioleh-olehi camilan khas Trenggalek sarta diajak kembul bojana andrawina dhahar sayur lodho ing warunge “Pak Yusuf”. Tumrap para peserta, dhusun Cakul Trenggalek ora mung nabet jroning ati krana endahing alam lan grapyak sumanake bebrayan padesan, ananging uga nuwuhake rasa optimisme marang mekar lan ngrembakane sastra Jawa ing bumi Nuswantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamun Kongres Basa Jawa (KBJ) utawa Festival Pedalangan Nasional tansah diadani ing hotel berbintang tengah kutha kanthi wragat milyaran rupiah, panitia optimistis lamun FSJD kang diadani ing perenge gunung iki bisa luwih sukses senadyan cumpen fasilitas. Adicara iki disengkuyung Pemkab Trenggalek kanthi  bantuan posko kesehatan, mobil, banyu resik, lan bantuan liyane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanthi dana mung puluhan yutan rupiah, festival bisa klakon luwih regeng lan marem. Ana 432 Guru SD lan SLTP melu seminar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Jawa kang diembani Guru Besar Unesa Surabaya, Prof Dr Setya Yuwana sakanca. Wondene 35 pemuda tani sa-Kec Dongko kang  melu sarasehan ing gedung Madrasah Tsanawiyah Dongko diembani Purwanto (Kelompok Tani Bangunrejo Godean, Sleman), Qobul SH (Kelompok Lelang Hasil Pertanian, Galur, Kulonprogo), lan  Siti Aminah (Pengarang, Pekerja Komunitas) saka Yogyakarta. Malah bubar sarasehan mengko, para among tani Trenggalek kepingin mertinjo kebon lomboke Pak Purwanto ing tlatah pesisir Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Banyu Bening&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cakul mono dumunung ana ing ruas dalan kang nyambungake Kec Panggul  karo Kec Dongko (Kab Trenggalek), watara 90 km saka Pacitan lan 45 km saka Trenggalek. Ewa semono FSJD bisa nekakake pengarang lan akademisi saka tlatah Pulo Jawa wiwit saka Jakarta nganti tekan Blambangan. Wiwit saka pengarang Gunawan TS (Jakarta), Sucipto Hadi Purnomo (Semarang), Widjang (Taman Budaya Surakarta), Dhani Priyo P lan Noor Singgih (Yogyakarta), Harmono Ks lan Suparto Brata (Surabaya), nganti para pengarang saka Sanggar Triwida Tulungagung lan Paguyuban Sastra Jawa Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajaba iku, sarasehan uga ditekani tamu mirunggan saka komunitas pengarang TKI Hongkong, Melur (Jombang) lan Sri Lestari (Blora)  E, ing Satengahe sarasehan lumaku isih kerawuhan rombongan 14 warga Paguyuban Pamarsudi Budaya Jawa ”Sedyatama” saka Madiun. “Kula sakanca rumaos katimbalan mriki sasampunipun ningali jagong budaya wonten ing TVRI dinten Ahad-ipun,” kandhane Agustinus Maryanto, pangarsane paguyuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adicara iki diliput media basa Jawa Jaya Baya (Surabaya) lan Jaka Lodang (Yogyakarta), media basa Inggris The Jakarta Post (Jakarta), Jawa Pos, JTV lan TVRI.  FSJD uga ditekani sastrawan nasional (basa Indonesia) kayadene D Zawawi Imron (Sumenep), Beni Setia (Madiun), lan Tjahjono Widarmato sakembaran saka Ngawi. Manut Zawawi, ing Sumenep isih ana 15 grup mamaca macapat kang tansah aktif lestarekake sastra Jawa. “Aku yakin, sastra Jawa ora bakal mati,” kandhane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara ngrembug bebana sastra Jawa khusus dening wong Jawa kaya bebana Rancage iku, peserta isih nyumenekake dhisik. Nanging peserta sarasehan sarujuk ngupadi penerbitan karya sastrane tanpa medulekake antuk bebana sastra apa ora. Para peserta uga sarujuk ngundhakake kawruh sastrane sarta komunikasi marang padha-padha pengarang sastra Jawane liwat internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing sarasehan kanthi cara lesehan mau, para peserta padha nuduhake ekspresi senine ing babagan tembang macapat lan geguritan, sejene padha nawakake karyane ing bursa buku sastra Jawa. Kaya pantomime Jemek Supardi saka Jogjakarta kang dipentasake ing wengi kapisan ngelikake marang pengarang sastra Jawa bisaa dadi banyu bening kang murakabi marang panguripane manungsa. Banyu bening dadia pencerahan tumrap manungsa murih optimistis ngadhepi urip lan nguripi sastra Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanthi pantomim gaya Mataraman lakon “Leb Banyu Butheg”, Jemek Supardi ngelikake marang kita kabeh aja nganti mengkone krisis banyu. “Krisis banyu wiwit dadi ancaman serius tumrap panguripane manungsa. Banyu bening wiwit dadi barang langka, sepuluh taun maneh saya angel digoleki,” welinge Jemek. Mesthine ora kaya mangkono nasibe karya sastra Jawa. [RM Yunani]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jaya Baya Nomer 52 Tahun 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-2265755250513699502?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/2265755250513699502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/nglaran-nabete-jroning-ati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2265755250513699502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2265755250513699502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/nglaran-nabete-jroning-ati.html' title='NGLARAN, NABETE JRONING ATI'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-1653412283550804112</id><published>2009-10-07T11:38:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T11:41:36.233-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>Penulis Sastra Jawa ngumpul ing Trenggalek:</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Senajan Mung Prasaja Acara Katon Semuwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wragad kanyatan isih kalah karo tekad. Bonari Nabonenar (45) seka Trenggalek kasil mbuktekake. Senajan kanthi prabeya cumpen mung Rp 50 yutan, kasil ngumpulake atusan penggiat Sastra Jawa saindenging tanah Jawa. Satemah desa klairane Bonari, Nglaran Kec. Dongko, katon regeng sajroning rong dina. Dalasan Bupati Trenggalek Soeharto uga kepareng ngestreni, saengga bawa rasa antarane para penulis Sastra Jawa iku katon semuwa najan kanthi papan prasaja.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORA ana upacara tradisi masonan ing mangsa ketiga, ora ana wong duwe gawe; nanging dhusun Nglaran Desa Cakul Kec. Dongko Kabupaten Trenggalek dina kuwi katon regeng. Warga desa kono lan sakiwa-tengene melu tumplek ing komplek gedung SMP Satu Atap 2 Dongko. Pancen ana kedadeyan menjila ing dina kuwi, sing  cukup bersejarah, kang durung nate dialami ing desa kuwi. Para penggiat Sastra/Budaya Jawa seka saindenging Tanah Jawa, wiwit Bogor, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Bojonegoro, Kediri, Tulungagung, Ponorogo, nganti Banyuwangi, kabeh ngumpul ing desa pegunungan sepi, 50 Km sakidul kulone kutha Trenggalek iku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iki kabeh merga seka kringet lan kertiyasane Bonari Nabonenar, kawula mudha klairan desa kono, sing sasuwene iki pancen dadi penggiat Sastra Jawa. Ora mung kanca lan komunitas Sastra Jawa wae, dalasan penggiat Sastra Indonesia kaya dene Beni Setia (Madiun) lan D. Zawawi Imron (Surabaya) uga rila adhem-adheman rong dina ing papan kuwi. Luwih hebat maneh, Bupati Trenggalek Soeharto, uga kepareng rawuh lan ngresmekake acara sing tetenger Festival Sastra Jawa &amp; Desa 2009 mau. “Bonari pancen hebat,” komentare para tamu. Iki sukses katelu tumrape Bonari, sawise nggelar Sarasehan Sastra Jawa ing Semarang dhek September 2006 ndhisik lan taun 2002 ing Taman Budaya Surakarta (TBS).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Beni Setia vs RM Yunani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Festival Sastra Jawa &amp; Desa 2009 (FSJD – 2009) ing sakawit bakal digelar dhek pertengahan Juni 2009. Nanging merga mbarengi mangsa ujian sekolah, banjur mundur rong sasi. Dr. George Quinn seka Universitas Nasioal Australia sing mesthine bisa melu nekani, dadi wurung merga mundure kegiatan iki.  Nanging ora dadi baya, jer kaya dene wong nyabetake pedhang saupamane, saya mundur malah dadi sangsaya antep tangguhe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cundhuk karo jenenge, FSJD -2009 pancen ora ngemungake ajange bawa rasa antarane para pengarang  Sastra Jawa, nanging uga dadi papan pameran home industri lan kerajinan asal desa Cakul. Ana pameran wedhus Etawa sing akeh dadi klangenane warga kono, uga ana kerajinan nggawe wayang. Ndalem pidhato sambutane Pak Bupati mratelakake yen, yen FSJD-2009 iki pancen luar biasa,  ingatase ing papan sing cukup “mencil” iki klakon ana pagelaran adi lan langka. Mula panjenengane ora mung paring sabiyantu dhuwit lan banyu nganti rong truk tengki, ananging uga kepareng ngundang para peserta FSJD-2009, sapatemon mligi ing kantor bupati. “Mbesuk yen ana kegiatan kaya ngene maneh, aku bakal mbantu sakatoge. Mangga, pendhapa kabupaten diagem saperlune,” ngendikane Pak Soeharto sadurunge nabuh gong tandha kawiwitane festival.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarasehan sastra Jawa kanthi topik “Mengembangkan model inovatif pada pembelajaran” diaturake dening Prof. Dr. Setya Juwana Sudikan guru besar Universitas Negeri Surabaya, kanthi moderator Sutjipto Hadi Purnomo M.Hum, dosen Universitas Negeri Semarang. Banjur bawarasa antarane para penggiat Sastra Jawa dumadi awan iku uga ana panggung terbuka kang dibangun dadakan ing plataran daleme Bonari, kanthi moderator Sumono Sandy Asmara, alumni Unesa, Surabaya. Ing kalodhangan iki, budayawan/sastrawan D. Zawawi Imron uga mratelakake, sepira gedhene Sastra Jawa anggone ndayani kasusastran Madura, mligine ing kalangan pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beni Setia sastrawan Sunda kang wis “njawani” merga manggon ing Caruban (Madiun), nate gugat: geneya para wong sugih Jawa ora darbe kawigaten marang kasusastrane? Ing kalodhangan kasebut wusana dheweke darbe panemu, yen Sastra Jawa iku ateges satra panggung, kang nembe krasa nalika ana ing tontonan wayang uwong, wayang kulit apadene kethoprak. Swasana iki dadi rada anget, jalaran enggal dibantah dening RM Yunani penggiat Sastra Jawa saka Surabaya. “Sastra Jawa iku ya sastra tulis kang tinemu ing buku-buku lan majalah. Dene yen kethoprak, wayang nggunakake Sastra Jawa, pancen iya....!” pratelane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eyang Suparto Brata bali ngunggar panemune, yen Sastra Jawa surem jalaran masarakat ketenta marang budaya ngrungokake lan nonton, sing mujudake kodrat. Kamangka sing jeneng maca, kabisan iku kudu disinaoni, kayadene wong bisa nyetir mobil sarana ajar dhisik. Luwih-luwih maca buku-buku sastra, kudu duwe kawigaten mirunggan. Mula manut panemune, bebrayan bakal luwih berbudaya samangsa rakyate padha nresnani kasusastran. Semono uga Arswendo Atmowiloto, ndalem sambutan tertulise pratela:  Sastra Jawa satemene wis lengser bareng aksara Jawa wis ora digunakake maneh ing bebrayan. Mula yen engga saiki isih ana wong kang ora ilang kasetyane marang Sastra Jawa, dheweke bisane mung atur sungkem lan kurmat marang priyayi kang mengkono iku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;JFX Hoery nggawa “pocong”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sajroning rong dina FSJD-2009 digelar, masarakat Desa Cakul antuk hiburan mirungan. Kejaba demo guritane Sumono seka Ponorogo, uga ana pasugatane Bu Diah Hadaning seka Bogor. Nursinggih seka Ngayogya ngaturake guritan kombinasi tembang Jawa kang digawe dadakan ing sela-selane festival. Pantomim kondhang Jemek Supardi seka Ngayogya uga atur pasugatan “wong golek kodhok” ing tengah wengi. Kejaba iku para tamu uga dilipur dening Kentrung Panjiwulung. Lan ing acara penutupan Rebo sore, ana pagelaran wayang kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sacara umum, ora muspra Bonari sakanca nganti adus kringet kanggo ngadani lan ngajangi FSJD-2009 kuwi. Mula RM Yunani ngendikakake, lekase arek Tenggalek iki mbuktekake yen kegiatan nguri-uri kasusastran Jawa iku tetep bisa katon greget lan regeng senajan kanthi wragad sing cumpen. Tandhingna karo Konggres Basa Jawa limang taunan kang wragade nganti milyaran nanging mung kandheg tekan makalah. Senajan wragade mung Rp 50 yutan kayadene pratelane Bonari, setting panggung bisa digawe kanthi bregas, lan para tamu kopen kabeh, mangan wareg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonari dhewe nganti ngondhok-ondhok nalika aweh sambutan minangka Ketua Panitia. Ora ngira nganti tekan semono kawigatene masarakat lan pejabat Kab. Trenggalek. Dheweke nekad nggelar FSJD-2009 pancen ora mung kepengin kangen-kangenan para penggiat Sastra Jawa, nanging yen bisa sabanjure dadi agenda taunan sing munggahe bisa dadi Festival Etnik Sastra. “Dadi awake dhewe ora cukup mung nggresula lan nangisi nasibe Sastra Jawa”, pratelane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penggiat Sastra Jawa kang rawuh pancen atusan. Fx Subroto sak balane saka Jaka Lodang (Yogyakarta) nggawa mobil dhewe, semono uga Kicuk Parta Pemred Jaya Baya, ngajak balane bangsane Sriyono lan Wuwuh Rahayu. FX Huri saka Bojonegoro nggawa bala sakbis klebu “pocong” lima cacahe. Malah seka Banyuwangi, ana sing nekad numpak motor tekan Dongko. Sajroning rong bengi para tamu diinepake ana daleme Pak Abdul Hasyim, Suparman Spd, Abdul Mungin, sarta daleme Bonari dhewe sing cukup bawera. Pasugatane uga khas karang padesan, ana punten, godhogan tales nganti kacang rebus. Prasaja pancene, ning tetep semuwa. (Gunarso TS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jaya Baya Nomer 51 Tahun 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-1653412283550804112?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/1653412283550804112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/penulis-sastra-jawa-ngumpul-ing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1653412283550804112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1653412283550804112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/penulis-sastra-jawa-ngumpul-ing.html' title='Penulis Sastra Jawa ngumpul ing Trenggalek:'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-5578834433925081995</id><published>2009-10-07T11:37:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T11:38:11.948-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>BONARI NABONENAR</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Obsesine,  Balik Kandhang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur ing sajroning minggu iki banget “sibuk”merga  dadi pusat kawigatene wong akeh. Ing desa iki, Bonari Nabonenar sastrawan klairan Dhusun Nglaran, Cakul bakal nggelar “pesta” awujud Festival Sastra Jawa dan Desa (FSJD) tingkat nasional.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BONARI asli klairan desa kono tanggal 1 Januari 1964. Obsesi, kepingin ngramut “kandhange” iku diwujudake kanthi ada-ada ngadani adicara kang ora baen-baen. Nggelar festival tingkat nasional kanthi tajuk Festival Sastra Jawa dan Desa (FSJD) 2009 kang dipunjerake ing dhusun klairane tanggal 4-5 Agustus 2009. Ibarat jaran ngono, Bonari kang weton SMP Berbantuan Panggul (1979) lan SPG Sore Trenggalek (1982) iki ora kepingin lali karo gedhogane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geguritane  kang kapisanan diemot ing Majalah Siswa terbitan Taman Siswa, Yogyakarta, nalika isih lungguh ing bangku SPG (1981). Sepisanan nulis cerkak diemot ing rubrik Roman Sacuwil Majalah JB sesirah  Sawijining Dina ing Pesisir Karanggangsa (1985). Tamat saka Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Surabaya (1987) taun candhake mlebu Sanggar Sastra Jawa Triwida Tulungagung. Ketua Sangar Triwida wektu itu (Tamsir AS) ngajak gabung dadi staf redaksi tabloid Jawa Anyar (1992–1993). Taun 1991 dadi Juara II Lomba Cipta Cerkak Taman Budaya lan Diknas Jogjakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumrap Cak Bonari kang kadhung katrem mbelani sastra Jawa iki, semangat hambelani sastra Jawa mbedhal kaya jaran ucul. Dipalangana mlumpat, didhadhungana mberot, kamangka prasaja wae, wonge gak gablek dhuwit. Bonek alias bandha nekat. Bebasane bandha cupet ati karep. Taun 2001 bareng Keliek Eswe (Surabaya) lan Daniel Tito (Jawa Tengah) nggagas nggelar Kongres Sastra Jawa (KSJ) I ing Taman Budaya Surakarta. Kok ya bisa. Ya krana prestasi iki, Bonari sakanca ing KSJ I, diundang dadi peserta Kongres Bahasa Jawa (KBJ) III ing DIY. ’’Nanging merga dianggep mbangkang, nalika  KBJ IV ing Semarang dicekal, krana ing taun kang padha aku ngadani KSJ II uga ing Semarang,’’ kandhane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EDAN-EDANAN &lt;br /&gt;Gagasan Cak Bonari ngadani KSJD ing Nglaran iki kalebu edan-edanan. Lha piye ta, KBJ IV ing Semarang wae ngentekake prabeya nganti Rp 5 milyar, lha FSJD 2009 iki njur wragate pira? Festival mau ditekani 100 sastrawan lan pandhemen sastra Jawa saindenging Nuswantara. Kamangka kabeh peserta diangkah bisa lelahanan sauger gelem nginep ing omahe warga kanthi mangan cara ndesa. Durung maneh peserta sarasehan desa tumrap 100 pemuda desa sa-Kecamatan Dongko, lan seminar basa Jawa kanggo 500 guru-guru basa Jawa ing SD lan SMP. ’’Filsafate wong ndesa mono sauger gelem kumpul mesthi bisa mangane. Wiwit karang taruna, pamong desa, camat, bupati, SD/SMP Satu atap, lan Sanggar Triwida saiyeg padha mbiyantu. Mulane aku optimistis FSJD bakal sukses diadani ing dhusun Nglaran,’’ kandhane optimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FSJD dirancang wiwit meh setaun kepungkur. Taun 2003 Cak Bonari dadi pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) ing Komite Sastra, nanging mundur sadurunge masa baktine entek taun 2008. Bola-bali dheweke nawakake gagasan ngadani  Festival Sastra Etnik Jawa Timur minangka embrio program kang luwih gedhe yaiku Festival Sastra Etnik Nuswantara. ’’Nanging gagasanku mau tansah ditanggapi kanthi ucapan ‘Gagasan mau apik’, ning ora ana jebul  kawusanane,’’ kandhane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulane, ya ing masa jabatan Ketua PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya) kang kapindho iki, dheweke atekad mujudake gagasan kang dianggep para mitrane lan para sesepuh PPSJS minangka utang kang kudu dibayar. Sanggan mau dadi krasa entheng krana gagasan mau disengkuyung para mitrane antarane Siti Aminah (pengarang, pekerja komunitas Yoyakarta), Sucipto Hadi Purnomo MHum (Ketua OPSJ lan Dosen Uness Semarang), Prof.  Dr. Setya Yuwana Sudikan (Guru Besar Unesa Surabaya), Kadis Pertanian Kabupaten Trenggalek, lan isih akeh maneh. ’’Ana wae kanca-kanca sing gelem nyengkuyung. Pancen dhuwite ora ubru,’’ kandhane Bonari nalika bebarengan Pimred JB Kicuk Parta arep sowan Pakdhe Karwo, Gubernur Jatim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MBANGUN DESA&lt;br /&gt;Selawase iki, Cak Bonari ngumbara ing Surabaya. Dheweke tansah repot ambyur ing jagade pers. Taun 1996 nggabung  JPNN (Jawa Pos News Network), taun 2001 – 2004 dadi Redaktur Tabloid X-file. Taun 2005 dadi editor JP-BOOKS, ngiras dadi kontributor tabloid HeLPer kanggo komunitas TKI- Hong Kong. Taun 2004, melu Temu Sastrawan Nusantara XII ing Singapura. Juli 2005 diundang komunitas TKI-Hongkong menehi workshop kilat carane nulis. Tahun 2006 nganti saprene, dipercaya dadi Pimred Majalah Peduli, kanggo warga TKI- Hongkong. Taun 2007 melu rombongan Pemda Jatim menyang Hongkong kanggo program Penyuluhan Mental/Spiritual kanggo TKI-Hongkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ewo semono, obsesine ndandani desa saya ndedel, kalebu FSJD. Kenapa kok FSJ 2009 ditambahi D (desa) kang ateges ora mung fokus marang SJ (Sastra Jawa) wae? Manut Cak Bonari, PP No.57 tahun 2005 nyebutake manawa desa mono kalebu unik krana darbe wewenang ngatur lan ngurus kepentingan masyarakate wewaton asal-usul lan adat-istiadate kang diakoni lan dihurmati ing sistem Pemerintahan NKRI. Ewa semono desa tansah dilirwakake, uga dening para sastrawan Jawa. Murih kacang aja nganti lali karo lanjarane, para sastrawan Jawa perlu cancut mbangun masyarakat karang padesane lan saya cedhak karo masyarakat pembacane. ’’Kanggo njaga wutuhe NKRI, FSJD ora mung forum kangen-kangenan nanging bisa didadekake agenda taunan tumuju marang forum silaturahmi budaya kang luwih gedhe aran Festival Sastra Etnik Nusantara,’’ ngono tekade Cak Bonari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanging sing luwih penting, seminar lan sarasehan desa ing Nglaran iki, kandhane Cak Bonari, kepriye amrih para pemuda desa bisa bali mongkog marang desane. Statistik nyebutake manawa 40% - 45% penduduk Indonesia kang 235 yuta iku dumadi saka etnis Jawa lan sawetara gedhe dedunung ana ing karang padesan lan olah tetanen minangka penggaotane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi Hijau kandhane Cak Bonari, minangka conto kepriye mesin ekonomi-politik global nggiles pertanian ing Indonesia, kalebu Tanah Jawa. Minangka perangan paham modernisasi, Revolusi Hijau dudu mung sadrema program pertanian nanging program strategi lumawan tradisionalisme. “Akibat program iki, ewon varietas tanduran tradisional ing padesan dadi kegusur. Petani  malih gumantung marang industri winih lan ora kuwawa ngontrol sarta ngasilake bibit dhewe. Bibit wis malih dadi sumber gantungan krana ing  tangan lembaga penelitian lan perusahan transnasional bibit dianggep komoditi komersial.” [RM Yunani]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jaya Baya No 49 Tahun 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-5578834433925081995?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/5578834433925081995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/bonari-nabonenar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/5578834433925081995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/5578834433925081995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/bonari-nabonenar.html' title='BONARI NABONENAR'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-1793760852894156947</id><published>2009-10-05T00:01:00.001-07:00</published><updated>2009-10-05T00:09:35.594-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Sastra Jawa Tanpa Desa</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Haris Firdaus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah paradoks yang saya rasakan saat menghadiri Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 pada 4-5 Agustus lalu. Berhasrat mendekatkan sastra Jawa dengan masyarakat pedesaan, yang selama ini diasumsikan sebagai habitat tersuburnya, acara itu, bagi saya, justru membuktikan bahwa sastra Jawa belum bisa benar-benar dekat dengan orang-orang desa.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan pengantar acara itu, panitia festival menyebutkan bahwa masyarakat pedesaan adalah pendukung utama eksistensi sastra Jawa. Merekalah yang selama ini membaca majalah berbahasa Jawa dan mengonsumsi pelbagai bentuk karya sastra berbahasa Jawa. Sayangnya, menurut panitia festival, hal itu tidak diimbangi oleh keberpihakan sastrawan terhadap masyarakat desa dan pelbagai variasi masalahnya. Peran dan posisi sastrawan Jawa selama ini tak pernah jelas dalam konteks persoalan masyarakat desa. Kebanyakan problem pedesaan justru lebih banyak direspon oleh lembaga swadaya masyarakat yang kebanyakan berasal dari kota, maupun mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang persoalan itu, Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 kemudian diadakan sebagai upaya menjawab persoalan keberjarakan masyarakat desa dengan sastra Jawa. Ini adalah tujuan luhur nan mulia tentu saja. Dalam konteks wacana sastra Jawa, isu ini juga cukup jarang disinggung. Selama ini, isu seputar sastra Jawa hampir selalu berkisar pada tak adanya perhatian yang luas pada karya-karya sastra berbahasa Jawa yang diasumsikan punya faedah luas. Kadangkala, tanpa pernah membuktikan dengan konkret apa faedah yang diasumsikan ada itu, para pelaku sastra Jawa mengeluarkan kecaman terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas miskinnya apresiasi terhadap sastra Jawa. Itu soal klise dan untunglah festival ini secara konseptual tak ingin terjebak pada kelaziman tak berguna semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih mengecam pihak lain, semisal pemerintah, kaum pendidik, atau masyarakat, secara konseptual Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 sebenarnya ingin mengajukan gugatan pada para sastrawan itu sendiri. Di sini, ada semacam pembalikan sudut pandang yang cukup ekstrem. Hipotesis yang diajukan adalah: penyebab miskinnya apresiasi terhadap sastra Jawa itu tidak berasal dari pihak-pihak di luar pelaku sastra Jawa, tapi justru dari internal sastrawan itu sendiri. Ketakjelasan peran para sastrawan Jawa dalam konstelasi persoalan masyarakat pedesaan adalah faktor yang dituding sebagai biang keladi sepinya tanggapan publik atas karya-karya sastra Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara konseptual, festival itu kemudian mempunyai hasrat mencairkan jarak antara para penulis sastra Jawa, juga produk-produk yang mereka hasilkan, dengan masyarakat pedesaan. Ketiadaan komunikasi yang intens barangkali merupakan penyebab ketakjelasan posisi sastrawan dalam gelimang persoalan desa. Tidak adanya dialog itulah yang diasumsikan menjadi titik awal tak tumbuhnya perhatian para sastrawan terhadap desa—dalam proses yang lebih kemudian, hal sebaliknya juga lalu menyusul. Jadi, kedekatan sastrawan dengan desa adalah ihwal yang berusaha ditumbuhkan melalui festival ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, pelbagai pemikiran itulah yang menyebabkan festival mengambil tempat di sebuah dusun pelosok bernama Nglaran yang terletak di salah satu sudut Kota Trenggalek, Jawa Timur. Dari sudut geografis, lokasi acara itu, meminjam bahasa gaul anak muda sekarang, memang “desa banget”. Berjarak lebih 40 km dari pusat kota Trenggalek, Nglaran adalah sebuah kampung yang dikelilingi perbukitan, dengan jalan meliuk-liuk yang mirip jalur roaller coaster. Di dusun ini, hanya satu operator seluler yang bisa mengantarkan signal handphone sehingga kebanyakan peserta festival kelimpungan karena komunikasi mereka dengan dunia luar seolah tiba-tiba terenggut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengambil lokasi yang “desa banget”, panitia festival mungkin berharap para sastrawan akan kembali menghirup suasana pedesaan, menyerap pelbagai soal yang terjadi di sana, dan menjalin komunikasi yang intens dengan masyarakat setempat. Tapi pertanyaannya, bisakah semua itu terjadi hanya dengan mencairkan jarak geografis? Bisakah kedekatan lokasi menjadi jaminan akan tumbuhnya kesadaran baru mengenai problem masyarakat desa? Jawabannya tentu saja: tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks festival kemarin, pencairan jarak geografi menjadi tidak berarti karena dua hal. Pertama, tak tersedianya waktu yang memadai bagi proses sosialisasi. Kedua, tidak adanya forum bersama yang bisa menjadi sarana dialog. Dua faktor inilah yang menyebabkan festival kemarin jauh panggang dari api. Waktu penyelenggaraan yang hanya dua hari, juga tak adanya forum dialog yang mempertemukan masyarakat dengan para sastrawan, menyebabkan tidak adanya komunikasi yang intens di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebatas komunikasi antara para sastrawan dengan masyarakat sih memang ada, tapi komunikasi intens saya kira tidak terjadi. Kebanyakan penduduk desa, saya lihat, lebih diposisikan sebagai pembantu teknis acara, semisal penyedia penginapan, tukang masak makanan, atau petugas antar-jemput peserta. Tidak lebih dari itu. Tak ada sebuah sesi yang mencoba membuat dua pihak itu bisa saling menjalin dialog yang baik. Memang pada malam hari masyarakat dan para peserta festival berbaur tatkala menonton seni pertunjukan, seperti sajian pantomim dan pentas kentrung modern. Tapi pembauran itu sama sekali tak menghasilkan apa-apa sebab keberadaan mereka secara bersama-sama pada acara malam itu hanya sebagai penonton yang pasif dan tak bisa berbuat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih saya sayangkan adalah ketidakefektifan acara Sarasehan Sastra Jawa dalam membahas persoalan yang telah ditetapkan panitia. Dalam sesi sarasehan pertama yang menghadirkan sastrawan Beni Setia dan penyair Zawai Imron sebagai pembicara, persoalan itu hanya separo dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, hanya Beni Setia yang secara konsisten dan serius mencoba membahas pencairan hubungan antara sastra Jawa dengan masyarakat desa. Pokok pembicaraan Beni berpusat pada strategi “memasyarakakan sastra Jawa” melalui seni pertunjukan. Bagi Beni, sastra Jawa tradisional di masa lampau selalu hadir dalam seni pertunjukan, baik semisal pentas wayang atau kethoprak. Dalam bentuk demikianlah sastra Jawa hadir sebagai sesuatu yang dekat dengan masyarakat Jawa tradisional di pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Jawa yang sekarang hadir dalam bentuk tertulis, berupa cerita cerkak, geguritan, ataupun novel berbahasa Jawa, merupakan produk yang tak bisa cepat akrab dengan masyarakat pedesaan. Masih belum mengakarnya budaya baca, juga ketaktersediaan bacaan yang mudah diakses, plus mahalnya harga buku dalam ukuran masyarakat desa, membuat bentuk sastra Jawa yang tertulis menjauh dari masyarakat desa. Sebenarnya, kehadiran bentuk sastra Jawa tertulis yang lumrah dijumpai sekarang merupakan hal yang sah dan wajar dalam perkembangan sastra Jawa. Meski bentuk-bentuk teks tertulis itu kini banyak dipengaruhi sastra modern barat, kehadiran mereka adalah bukti bahwa kebudayaan Jawa juga memiliki sifat dinamis dan adaptif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, dalam konteks masyarakat pedesaan Jawa, bacaan tertulis itu belum banyak diakses sehingga mau tak mau produk-produk itu menjadi terasing dari masyarakatnya—nasib sastra Jawa tertulis ini, nyatanya, mirip dengan sastra modern Indonesia yang memang selalu terpencil dari masyarakat secara umum. Keterpencilan inilah yang menurut Beni Setia bisa diatasi dengan memperkenalkan sastra melalui seni pertunjukan. Dalam seni pertunjukan tradisional Jawa, penonton dari lapisan masyarakat manapun bisa dan sah hadir sebagai penikmat tanpa harus memiliki batas referensial tertentu. Oleh karena itulah, ada hubungan yang intim antara seni pertunjukan dengan masyarakat desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan Beni itu barangkali bukan hal baru, tapi sebenarnya tetap merupakan gugus ide yang menarik. Sayangnya, forum sarasehan pertama tak cukup mampu mengeksplorasinya dengan telaten sehingga penajaman-penajaman atas soal itu tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pada saresehan kedua, kondisinya justru makin susah diharapkan. Ketiadaan pembicara utama dalam forum itu menyebabkan pokok pembicaraan bisa berganti dengan sangat cepat dan bisa sangat melenceng jauhnya. Beberapa orang yang didaulat bicara tentang topik-topik yang tak semuanya nyambung, kebanyakan hanya berisi kisah pengalaman pribadi, atau curhat masa lalu yang sama sekali tak ada hubungannya dengan niatan konseptual panitia festival. Seingat saya, hanya Siti Aminah, penulis novel berbahasa Jawa berjudul Singkar, yang pokok pembicaraanya berhubungan, atau malah sama persis, dengan konsep Festival Sastra Jawa dan Desa 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siti Aminah berbicara mengenai ketakpedulian para pengarang Jawa terhadap kondisi zaman yang berubah, terutama persoalan-persoalan di desa-desa Jawa yang makin kompleks. Menyebut sejumlah masalah, seperti banyaknya kaum muda desa yang pindah ke kota, pelbagai kebijakan pemerintah yang tak memihak orang-orang desa, dan gempuran teknologi yang tak selalu berakibat baik, Aminah bagi saya merupakan pembicara yang mampu menyegarkan suasana. Ia barangkali merupakan potret sastrawan Jawa masa kini yang ideal: masih muda, modis dandanannya, progresif pemikirannya, dan berani. Sayang seribu sayang, pemikiran-pemikirannya juga tak menemui bandingan yang cukup berarti dari para peserta lain. Jadi, apa daya, semua gugatan Aminah kemudian redam dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua analisis yang saya hadirkan bermuara pada satu kesimpulan: bahwa Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 ternyata belum mampu memenuhi niatan konseptualnya yang luhur. Harus diakui bahwa festival itu sebenarnya diadakan dengan tujuan dan konsep yang bagus dan jauh dari klise. Sayangnya, penyelenggaraan festival itu menurut saya tak berhasil memenuhi kebutuhan awal penyelenggaraannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhnya kedekatan antara sastra Jawa dengan masyarakat pedesaan, yang diharapkan bisa terjadi melalui penyelenggaraan festival, nyatanya hanya merupakan retorika yang gagal digubah jadi kenyataan. Tentu saja, kedekatan semacam itu memang bukan perkara yang gampang diwujudkan. Namun, seandainya festival itu tak mampu secara sempurna menumbuhkan kedekatan sastra Jawa dengan masyarakat karena pelbagai keterbatasan, paling tidak festival itu seharusnya berkonsentrasi sepenuhnya pada eksplorasi gagasan tentang bagaimana menumbuhkan keintiman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksplorasi ide yang terfokus itulah yang tak terjadi dalam festival kemarin sehingga saya kuatir bahwa sastra Jawa yang sedang kita hidupi sekarang ternyata merupakan sastra Jawa tanpa desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukoharjo, 9 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haris Firdaus&lt;br /&gt;(Tulisan ini dimuat di Buletin Sastra Littera Edisi September-Oktober 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikopipaste dari &lt;a href="http://rumahmimpi.net/2009/09/sastra-jawa-tanpa-desa/"&gt;s i n i&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-1793760852894156947?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/1793760852894156947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/sastra-jawa-tanpa-desa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1793760852894156947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1793760852894156947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/10/sastra-jawa-tanpa-desa.html' title='Sastra Jawa Tanpa Desa'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-4898517790216741729</id><published>2009-09-15T10:50:00.000-07:00</published><updated>2009-09-15T10:53:30.305-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='potensi'/><title type='text'>Mengangkat Ketela dari ’’Kelas Dua’’</title><content type='html'>Sebelum tahun 1970-an ketela merupakan salah satu makanan pokok masyarakat Indonesia, terutama mereka yang tinggal di daerah kering. Tanaman ini dikenal mudah dibudidayakan karena tidak memerlukan perawatan dan jenis lahan khusus. Jika dilihat dari kandungan energinya, ketela memang lebih rendah (338 kal/100 gr) dibanding beras (360 gr/100 gr). Namun ketela memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi (81,3 gr/100 gr) dibanding beras (79,9 gr/100 gr). Sementara kadungan lemak kedua bahan tersebut sama.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kandungan gizi seperti itu, sebenarnya ketela tidaklah terlalu berbeda dengan beras. Artinya nasi tiwul seperti yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di daerah kering, tak serta-merta dapat dinilai tidak memenuhi kebutuhan gizi. ’’Kalau lauknya bagus, itu sudah sama dengan nasi (beras)’’, kata Khudori. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar makanan pokok, ketela selama ini dikenal sebagai bahan baku tepung tapioka. Belakangan ketika krisis energi merebak, ketela menjadi salah satu bahan energi alternatif yang paling dicari. Di luar itu ketela ternyata memiliki kemanfaatan dalam dunia industri yang demikian besar. Sektor industri non-pangan membutuhkan ketela sebagai bahan dasar untuk pasta gigi, kosmetik, pemutih kertas, serta campuran kertas. Sementara industri pangan menjadikan ketela sebagai bahan gula rendah kalori, gula-gula, susu bubuk, maupun pakan ternak. Belum lagi berbagai jenis makanan baik yang diproduksi oleh industri besar maupun rumahan yang berbahan ketela maupun turunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragamnya kebutuhan industri terhadap ketela semestinya menjadikan nilai jual komoditas tersebut meningkat. Ternyata tidak demikian. Ketela tetap menjadi koditas yang terpuruk harganya, sehingga petani hanya membudidayakannya sebagai sambilan saja. Jika digarap secara serius, ketela sebenarnya dapat menjadi jawaban terhadap ketergantungan tepung terigu yang selama ini hampir 100% diimpor oleh pemerintah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bentuk tepung, ketela lebih fleksibel. Selain dapat diolah menjadi berbagai bentuk makanan, tepung ketela juga akan lebih mudah disimpan dan tahan lama. Khudori menambahkan, pemasyarakatan ketela sebagai bahan pangan andalan ini juga sangat tergantung terhadap kemauan politik pemerintah. Ia mencontohkan bagaimana tepung terigu, membutuhkan proses dan waktu cukup lama hingga menjadi bahan pangan yang dibutuhkan banyak orang di Indonesia seperti saat ini. Bahkan sebagian telah menjadikan bahan pangan yang tak dapat tumbuh dengan baik di iklim tropis seperti Indonesia ini, sebagai bahan pangan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diupayakan dengan sungguh-sungguh, tentunya ketela mampu menjadi bahan alternatif terigu. Sehingga pemerintah tak perlu mengimpor lagi dan anggaran negara dapat dihemat. Syaratnya bahan itu harus tersedia secara cukup, ada di setiap tempat, dan bisa didapatkan setiap saat. Itu juga yang menjadi kunci keberhasilan kampanye terigu nasional. &lt;a href="www.aminyk.wordpress.com"&gt;[sta]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-4898517790216741729?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/4898517790216741729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/mengangkat-ketela-dari-kelas-dua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4898517790216741729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4898517790216741729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/mengangkat-ketela-dari-kelas-dua.html' title='Mengangkat Ketela dari ’’Kelas Dua’’'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-4837384317924788992</id><published>2009-09-15T10:43:00.002-07:00</published><updated>2009-09-15T10:49:42.013-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='potensi'/><title type='text'>Apa yang Salah dengan Ketela?</title><content type='html'>Ketela pohon atau kasava merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang cukup dikenal dan mudah didapatkan di negeri kita. Tanaman ini dapat hidup di berbagai tempat, bahkan di daerah kering sekalipun. Itulah sebabnya di kawasan pegunungan kapur dimana air sulit didapat, ketela pohon menjadi tanaman yang banyak dibudidayakan. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trenggalek, sebuah kabupaten di Propinsi Jawa Timur yang 70 persen wilayahnya terdiri dari pegunungan, ketela pohon adalah komoditas yang sangat dikenal. Bagi sebagian besar masyarakat Trenggalek yang tinggal di pedesaan dan menggantungkan hidup dari sektor pertanian, ketela pohon menjadi makanan andalan. Dapat dikatakan, para pegawai dan pengusaha saja yang dalam kesehariannya mengkonsumsi nasi beras. Sedangkan para petani, sehari-hari lebih akrab dengan nasi tiwul (dari bahan ketela pohon). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini disebabkan kondisi alam di daerah tersebut yang bergunung-gunung tidak memungkinkan padi tumbuh dengan baik. Hanya pada puncak musim penghujan saja padi dibudidayakan di sini. Itu pun tidak di semua lahan. Sehingga padi yang mereka hasilkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paeran, warga Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek menuturkan, nasi tiwul merupakan makanan pokok bagi keluarganya dan sebagian besar keluarga lain di desanya. Sebab ketela pohon lebih mudah didapatkan di tempat tinggalnya. Sementara untuk dapat mengkonsumsi nasi beras, ia harus menukarkan terlebih dahulu hasil bumi yang dimiliki. ’’Lima puluh kilo ketela, mendapat tiga kilo beras,’’ katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pun jika harga beras Rp 5.000 per kilogram, sebab setiap kilogram ketela pohon hanya dihargai Rp 300 rupiah dari para petani. Saat harga rata-rata beras mencapai Rp 5.500 per kilonya seperti saat ini, harga ketela ternyata tak juga beranjak. Sehingga nilai tukar ketela terhadap beras semakin rendah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini mencerminkan bahwa petani tidak memiliki posisi tawar terhadap harga komoditas yang mereka hasilkan. Terlebih komoditas tersebut selama ini mendapat label sebagai komoditas ’pinggiran’. Tak hanya di daerah perkotaan atau daerah penghasil beras saja ketela dianggap makanan kelas dua. Masyarakat yang tinggal di daerah kering dimana padi tidak dimungkinkan tumbuh dengan baik pun memiliki perasaan serupa. Tak heran jika sering dijumpai masyarakat di daerah ini merasa malu mengakui nasi tiwul sebagai makanan pokok sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat sosial ekonomi pertanian, Khudori, mengemukakan bahwa hal itu disebabkan oleh rekayasa negara lewat pembangunan pertanian dan adopsi Revolusi Hijau. Akibatnya pola makan masyarakat Indonesia yang unik dan beragam, tergantung dari potensi alam masing-masing, secara perlahan bergeser ke satu jenis pangan: beras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran dari berbagai jenis bahan pangan menjadi satu jenis saja yaitu beras pada akhirnya menimbulkan berbagai masalah. Salah satunya kerawanan pangan yang berkali-kali terjadi di negeri kita. Permasalahan ini muncul karena saat ini hampir 100% masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras. Sementara tidak di semua daerah padi cocok untuk dibudidayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh Khudori menandaskan, perubahan ini merupakan warisan Orde Baru yang menyandera pemerintah yang tengah berkuasa. Warisan tersebut memaksa pemerintah selalu siap menyediakan beras dalam jumlah yang cukup sepanjang tahun, di seluruh pelosok negeri dengan harga yang terjangkau oleh semua orang. Termasuk orang miskin sekali pun. Ini memunculkan berbagai persoalan ikutan. Ketika harga beras melonjak, pemerintah dianggap tak mampu menstabilkan harga kebutuhan pangan pokok. Sebaliknya jika harga beras anjlok, pemerintah dinilai tidak memiliki keberpihakan terhadap petani. Keduanya sama-sama berpotensi mengancam kestabilan negeri ini. &lt;a href="www.aminyk.wordpress.com"&gt;[sta]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-4837384317924788992?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/4837384317924788992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/apa-yang-salah-dengan-ketela_15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4837384317924788992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4837384317924788992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/apa-yang-salah-dengan-ketela_15.html' title='Apa yang Salah dengan Ketela?'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-1310722489324923776</id><published>2009-09-15T10:38:00.000-07:00</published><updated>2009-09-15T10:40:02.822-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Air, antara Kebutuhan dan Ancaman</title><content type='html'>Hari Air Sedunia diperingati tanggal 22 Maret. Tema peringatan tahun ini (2009), Berbagi Air, Berbagi Peluang untuk Hidup meneguhkan betapa sangat pentingnya air untuk kehidupan makhluk di bumi ini. Dapat dikatakan air merupakan sumber kehidupan, karena segenap makhluk hidup tidak mungkin melepaskan ketergantungan mereka terhadap air.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tingginya ketergantungan hidup makhluk di bumi ini terhadap air, sehingga krisis air yang sekarang terjadi, menjadi perhatian banyak negara di dunia ini. Dalam Forum Air Sedunia yang dilangsungkan di Istanbul, Turki, 16 Maret 2009, dipaparkan bahwa populasi dunia saat ini lebih dari 6,5 miliar jiwa. Diperkirakan jumlah ini meningkat menjadi 9 miliar pada pertengahan abad ke-21. Dengan jumlah populasi sebesar itu kemungkinan jumlah penduduk dunia yang mengalami kekurangan air akan meningkat menjadi 3,9 miliar jiwa pada 2030 (Koran Tempo, 23/3/09).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan laju pertambahan penduduk dan peningkatan konsumsi, krisis air tak dapat dihindari. Terlebih persediaan air bersih semakin berkurang akibat pencemaran lingkungan. Berkurangnya daerah resapan juga turut memperparah keadaan. Tak hanya kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya saja yang mengalami masalah dengan air. Kota-kota kecil seperti Puncak dan Trawas, yang merupakan tempat peristirahatan masyarakat perkotaan menghadapi masalah serupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdirinya hotel atau vila dan tempat-tempat hiburan lain menjadikan kebutuhan air bersih meningkat. Bahkan di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur, perebutan air dari sumber Dlundung terjadi secara terbuka (Kompas, 16/3/09). Dalam kondisi demikian, masyarakat setempat menjadi pihak pertama yang merasakan dampak krisis karena kalah oleh pengusaha hotel maupun tempat hiburan yang memiliki modal kuat untuk mengakses sumber-sumber air yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pembicaraan tentang krisis air serta berbagi air untuk kehidupan hangat bergulir, bangsa Indonesia dikejutkan oleh sebuah musibah. Tanggul Situ Gintung, Tangerang Selatan, Banten, jebol Jumat 27 Maret 2009 lalu dan menewaskan 100 warga yang bertempat tinggal di sekitar situ. Musibah ini begitu menyentak terlebih segenap bangsa Indonesia tengah memusatkan perhatiannya pada pemilu legislatif  9 April 2009 nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun Indonesia dikenal sebagai negeri bencana karena kondisi alam dan perilaku masyarakatnya, kejadian ini di luar dugaan banyak kalangan. Apalagi puncak musim hujan yang biasanya jatuh pada bulan Desember-Januari telah berlalu. Ini semakin menguatkan catatan bahwa di samping sebagai sumber kehidupan, air juga ancaman terhadap kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah tersebut segera saja menggiring perhatian masyarakat pada persoalan-persoalan air di negeri ini. Utamanya daerah resapan dan penampungan air di Jakarta dan sekitarnya yang semakin lama semakin merana. Menurut siaran pers Wahana Lingkungan Hidup Indonesia-Walhi (28/3/09), dari 193 situ di wilayah Jabodetabek 68% di antaranya dalam keadaan rusak. Sebagian bahkan telah beralih fungsi menjadi kawasan perumahan, kawasan bisnis, dan tempat pembuangan sampah. Tentu saja ini dapat mengancam keamaan warga sekitar. Mengingat fungsi situ adalah sebagai tempat penampungan dan persediaan air, sehingga daerah tersebut akan terbebas dari banjir ketika musim penghujan datang dan menjadi cadangan air bersih saat kemarau tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan jiwa hilang. Saatnya kita, semua pihak, menjadi lebih peduli, mengambil pelajaran dari peristiwa yang menelan ratusan jiwa itu. Lalu berbuat, melakukan apa yang seharusnya dilakukan, termasuk, terutama, yang selama ini seolah atau memang terlupakan. &lt;a href="http://aminyk.wordpress.com"&gt;[am]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-1310722489324923776?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/1310722489324923776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/air-antara-kebutuhan-dan-ancaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1310722489324923776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1310722489324923776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/air-antara-kebutuhan-dan-ancaman.html' title='Air, antara Kebutuhan dan Ancaman'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-7373526758192093528</id><published>2009-09-07T03:51:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T03:52:37.069-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Menuju Kedaulatan Pangan</title><content type='html'>Seperti halnya data kependudukan umumnya, tidak ada data pasti mengenai jumlah orang Jawa saat ini. Namun, beberapa sumber menyebut 40% - 45% penduduk Indonesia yang berjumlah kurang lebih 235 juta ini adalah etnis Jawa. Sebagian besar dari mereka tinggal di pedesaan dan menjadikan pertanian sebagai tumpuan hidup utama.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berbeda dengan sektor lain, sektor pertanian juga tak lepas dari agenda ekonomi-politik global. Revolusi Hijau merupakan sebuah contoh bagaimana mesin ekonomi-politik globabal menggilas pertanian di Indonesia, termasuk Jawa. Sebagai bagian dari paham modernisasi, Revolusi Hijau yang masuk ke Indonesia sebagai pelaksana teknis developmentalisme ini bukanlah program pertanian semata, melainkan sebuah strategi melawan tradisionalisme. Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah, beragam pengetahuan pertanian manusia di muka bumi mengalami penggusuran besar-besaran dan dijadikan satu pola pertanian saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program modernisasi pertanian didukung oleh lembaga-lembaga penelitian besar seperti International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina dan International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT) di Mexico. Saat ini di dunia terdapat 13 lembaga riset sejenis yang dikelola dan dikembangkan oleh The Consultative Group for International Agricultural Research (CGIAR) yang merupakan tulang Revolusi Hijau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat program ini ribuan varietas tanaman tradisional tergusur. Lebih parah lagi, petani menjadi tergantung pada industri benih dan tak lagi mampu mengontrol serta mereproduksi benihnya sendiri. Benih telah berubah menjadi sumber kentungan dan kontrol karena di tangan lembaga penelitian dan perusahan-perusahaan transnasional benih merupakan komoditi komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu saja. Revolusi Hijau ternyata juga menjadi sebuah program untuk menyingkirkan atau melemahkan pengetahuan rakyat. Budaya pemuliaan benih dibabat habis sebagai bentuk kontrol penguasaan pasar. Bahkan, tak jarang petani yang dengan pengetahuan tradisionalnya melakukan pemuliaan benih sendiri dituntut ke pengadilan dengan tuduhan melakukan pembenihan ilegal (kasus Mbah Suko Magelang, Suprapto dan Tukirin). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Revolusi Hijau juga telah menggusur perempuan dari aktivitas mereka di sektor pertanian. Tipe padi dan teknologi baru yang dikenalkan secara sistematik mengabaikan dan menggusur peran perempuan. Dengan demikian budaya pertanian Jawa sebenarnya telah dimatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuh Ironi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal pangan, negeri kita penuh ironi. Sebagai sebuah negeri dengan tanah yang subur, kaya keragaman hayati, serta sebagian besar rakyatnya hidup dari pertanian, mestinya pangan tidak menjadi masalah di sini. Namun, kenyataannya setiap tahun ada saja persoalan kelangkaan pangan dan kelaparan. Bahkan, ketergantungan Indonesia terhadap produksi pangan impor, terigu, berbagai jenis buah, dan bahkan beras masih cukup tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya, biang kelaparan bukan semata kelangkaan sumberdaya dan teknologi, melainkan sebuah pilihan politik baik nasional maupun global. Negara dapat mengambil keputusan politik untuk memastikan warga negaranya tidak lapar dengan menghidupkan kembali keberagaman dan pengembangan pangan berdasarkan keunggulan lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kasus kerawanan pangan di Indonesia mengacu pada tercukupinya persediaan beras di suatu wilayah. Jika acuan kecukupan pangan tetap saja digantungkan pada beras, mungkin bangsa Indonesia akan terus dihantui kerawanan pangan karena tidak semua wilayah di Indonesia menghasilkan beras. Bahkan, di Jawa yang memiliki produktivitas padi tertinggi di Indonesia (5,2 ton/Ha) tidak semua daerahnya dapat ditanami padi sepanjang tahun. Sementara kecukupan pangan telanjur ditambatkan pada satu komoditas saja: beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berasisasi yang berjalan seiring dengan Revolusi Hijau bukan saja memunculkan kerawanan pangan, melainkan juga menghabisi kekayaan hayati negeri ini. Berbagai tanaman pangan lokal (umbi-umbian) punah karena dihakimi sebagai sumber pangan yang tidak bergizi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kerawanan pangan berkali-kali menjadi ancaman, wacana kembali ke pangan lokal baru mulai dimunculkan. Telanjur rakyat terbiasa dengan beras, sehingga gerakan kembali ke pangan lokal ini tidak cukup mendapat tempat. Apalagi gerakan ini hanya dilakukan setengah hati karena beras sudah menjadi komoditas baik pengadaan benih maupun perdagangannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain merupakan tawaran bisnis yang prospektif, kali ini kita turunkan laporan mengenai upaya mengembalikan harkat bahan pangan lokal (ketela), sebagai salah satu upaya mempercepat langkah menuju kedaulatan pangan itu. &lt;a href="http://aminyk.wordpress.com"&gt;[siti aminah]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-7373526758192093528?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/7373526758192093528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/menuju-kedaulatan-pangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7373526758192093528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7373526758192093528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/menuju-kedaulatan-pangan.html' title='Menuju Kedaulatan Pangan'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-5543439799693118531</id><published>2009-09-07T03:34:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T04:01:07.788-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bisnis'/><title type='text'>Kadiyem: 42 Tahun Menjaga Warung Nasi (3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beli Tanah&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya selain membantu istrinya jualan di warung nasinya kegiatan lain yang dilakukan oleh Sumardi ini adalah petani. Saat ini lahan pertaniannya cukup luas,dan menurut penuturannya semua itu awalnya dia beli dari hasil usaha warungnya. ’’Ya saya akui memang apa yang saya miliki sekeluarga awalnya dari hasil yang saya sisihkan sedikit demi sedikit. Kalau ingat kadang saya tertawa sendiri tapi kadang trenyuh juga. Ceritanya setiap hari pasaran saya sisihkan selembar uang kertas entah nilainya berapa saya lupa. Tapi yang jelas saya linting sampai kecil dan saya masukkan dalam stagen yang telah saya jarum seperti dompet, jadi seperti itu cara nabung saya yang paling aman, karena tidak pernah lepas dari badan kecuali saat mandi,’’ tutur Kadiyem sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut penuturannya saat ada orang yang menjual sebidang tanah yang telah ada tanaman cengkehnya maka Kadiyem bersama suaminya membuka tabungan yang tak pernah lepas dari tubuhnya tersebut dan ternyata tabungannya masih kurang untuk membayar harga tanah tersebut. Maka mau tak mau Kadiyem terpaksa menjual satu-satunya cincin miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dari hasil ladang tersebut ditambah dengan hasil warung nasinya setiap ada orang yang menawari tanah selama harganya masih terjangkau Sumardi maka ia membelinya sampai saat ini telah 7 bidang tanah yang telah dibelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini setelah ketiga anaknya telah berkeluarga semua dan telah memiliki usaha sendiri-sendiri, ia hanya berdua  dengan istrinya masih setia mengelola rumah sekaligus warung nasi ramesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja berhubung tenaganya tidak seperti waktu masih muda ia tidak lagi menggunakan daging kambing sebagai lauk nasi ramesnya, namun beralih dengan daging ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Memang, sejak 1990 saya tidak menyembelih kambing lagi mengingat tenaga mulai berkurang maka lebih praktis menggunakan daging ayam. Dan alhamdulillah pembeli tidak ada penyusutan bahkan sampai saat ini tetap lumayan,’’ tutur Sumardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditanya siapa nanti yangb meneruskan usahanya Kadiyem menjelaskan bahwa kemungkinan tidak ada karena anak perempuannya kelihatannya tidak berminat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Entah nanti lha wong Sufat anak perempuan saya, kelihatannya enggan karena melihat bagaimana repotnya saya ketika mempersiapkan dagangan dari mulai awal memasak sampai menyajikan pada pembeli,’’ tutur kadiyem. ’’Tapi nggak tahu lagi setelah saya tak lagi kuat untuk mengelola warung ia tergerak untuk meneruskan,’’ tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Telaten &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya apa kiatnya sehingga ia tetap setia pada usahanya dan mampu bertahan sampai saat ini justru semakin ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Apa kiatnya tidak ada, tapi yang penting kita telaten dan tahan godaan, tidak gampang menyerah. Usaha seperti ini harus tahan banting. Ibunya itu (istrinya- Red) orangnya tak pernah mengeluh, memang kelihatanya kalau sudah diniati apa pun resikonya harus tabah menghadapi,’’ tutur Sumardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Jualan makanan itu banyak resikonya kalau pas ramai dagangan habis yang jangan terlalu senang tapi kalau tidak laku ya jangan lekas patah arang, Lha wong rezeki sudah ada yang ngatur,’’ tambah Kadiyem menimpali suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Tapi, yang pasti karena yang kita jual adalah makanan yang jelas harus bersih, baik makanannya maupun tempatnya. Cara melayani pembeli harus supel, setiap pembeli harus kita layani dengan ramah, harga yang kita buat jangan mahal-mahal yang penting kita masih ada sedikit untung. Dan yang tidak kalah penting adalah jangan sekali-kali membedakan pembeli baik pegawai, orang kaya maupung, orang miskin harus kita layani dengan sama,’’ pungkas kadiyem. Perempuan itu beranjak melayani pembeli yang baru datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Sumardi setelah membantu istrinya segera menghampiri dan asyik merawat burung perkutut peliharaannya.[pur&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-5543439799693118531?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/5543439799693118531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/kadiyem-46-tahun-menjaga-warung-nasi-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/5543439799693118531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/5543439799693118531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/kadiyem-46-tahun-menjaga-warung-nasi-3.html' title='Kadiyem: 42 Tahun Menjaga Warung Nasi (3)'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-1277575885885655294</id><published>2009-09-07T03:31:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T03:58:55.492-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bisnis'/><title type='text'>Kadiyem: 42 Tahun Menjaga Warung Nasi (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SqThvwxx-qI/AAAAAAAAAiE/Lim586o3Fvs/s1600-h/kadiyem-sdng-mdi-dapur.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SqThvwxx-qI/AAAAAAAAAiE/Lim586o3Fvs/s200/kadiyem-sdng-mdi-dapur.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378672065651014306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mula-mula hanya Lodeh Tewel&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturannya ia sebetulnya sejak masih bujang sudah biasa berjualan makanan mulai dari singkong rebus sampai ikut membantu ibunya jualan nasi lodeh (nasi dengan sayur lodeh yang tempe lamtara). ’’Saya jualan nasi ini sejak tahun 1966 setelah saya menikah. Jalan raya depan rumah ini masih berupa jalan batu. Kendaraan belum ada, paling-paling seminggu sekali ada satu dua yang lewat.  Jadi, para pedagang yang perempuan sambil menggedong dan yang laki-laki memikul dagangannya semua jalan kaki dari Panggul sampai Pasar Kampak sejauh 35 km. Sampai di sini (Pasar Talun), dulu masih pasar templek, mereka istirahat sambil sarapan. Yang tidak membawa bekal sendiri mereka sarapan di warung saya,’’ tutur Kadiyem.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Saat itu yang saya jual adalah nasi dengan sayur lodeh tewel, rebung, dan tempe gabus (tempe dari biji lamtara, Red). Itulah permulaan saya buka warung,’’ lanjut Kadiyem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut penuturannya jualan nasi lodeh tersebut dijalani sampai tahun 1975. Baru setelah pembeli semakin ramai dan ekonomi masyarakat mengalami perkembangan ia menambah menunya dengan nasi rames. Namun, lauknya masih berupa tempe kedelai dan rempeyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1980 ia mulai jualan nasi rames dengan lauk daging kambing dengan cara ia mengambil daging kambing dari pedagang daging dengan cara bayar belakangan (setelah habis terjual).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dihitung-hitung hasilnya cukup lumayan, kemudian menyembelih kambing sendiri. Sang suami kebagian tugas menyembelih kambing itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila dilihat dari cukup ramainnya pembeli pastilah penghasilan dari buka warungnya cukup lumayan besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Saya ini kok tidak pernah menghitung penghasilan atau pemasukan dari warung. Tapi, yang jelas bisa saya makan sekeluarga, sedikit-sedikit nicil membuat rumah, yang dulunya masih berdinding gedhek sekarang ya seperti ini,’’ tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ’’Untuk ragat (biaya) sekolah ketiga anak saya ya cukup dari warung bahkan sekarang sudah mentas semua dan masing-masing sudah saya kasih sedikit modal bila mau buka usaha,’’ tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat ketekunan dan kesabaran yang dilakukan Kadiyem ternyata dipetik pada masa tuanya. Meskipun sampai saat ini ia masih setia menggeluti usahanya namun dibanding saat masih dalam masa perjuangannya sangat jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Kebanyakan orang itu kalau melihat hanya suksesnya saja, tanpa melihat bagaimana susahnya untuk menuju kesuksesan tersebut. Banyak contohnya sekarang kan banyak yang mencoba buka usaha tanpa dipikirkan lebih dahulu kendala terburuknya. Maunya yang penting punya modal, buka usaha dan dalam bayangan mereka cepat besar, kadang mereka lupa pada apa itu? Sikon? Jelasnya kalau saya amati kebanyakan sama latah. Satu buka usaha dan kelihatan jalan maka baramai-ramai buka usaha yang sejenis,’’ tutur Sumardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Saya dulu saat masih manten anyar tidak punya apa-apa. Bahkan, saat jualan nasi lodeh modalnya dari orang lain tapi berupa barang. Seperti beras saya ambil dari orang lain kemudian karena berasnya dari hasil tumbukan tangan dan masih kotor maka oleh istri saya dibersihkan sendiri. Setelah, setelah nasi lodeh habis terjual, baru kami bayar. Itu saya alami hampir 10 tahunan,’’ lanjut Sumardi mengenang masa lalunya.[pur]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-1277575885885655294?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/1277575885885655294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/kadiyem-46-tahun-menjaga-warung-nasi-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1277575885885655294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1277575885885655294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/kadiyem-46-tahun-menjaga-warung-nasi-2.html' title='Kadiyem: 42 Tahun Menjaga Warung Nasi (2)'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SqThvwxx-qI/AAAAAAAAAiE/Lim586o3Fvs/s72-c/kadiyem-sdng-mdi-dapur.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-4186583639385164512</id><published>2009-09-07T03:25:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T03:38:37.504-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bisnis'/><title type='text'>Kadiyem: 42 Tahun Menjaga Warung Nasi [1]</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SqTgrs2C5mI/AAAAAAAAAh8/C8SDe4eXU5s/s1600-h/kadiyem-dengan-nasi-rames.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SqTgrs2C5mI/AAAAAAAAAh8/C8SDe4eXU5s/s200/kadiyem-dengan-nasi-rames.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378670896364054114" /&gt;&lt;/a&gt;Ini kisah tentang bagaimana sebuah ketekunan, ketelatenan, membuahkan hasil. Hasil yang tak harus diukur dengan berapa omzet sebuah usaha atau berapa besar keuntungannya. Menu yang disajikan di warung makan milik pasangan Sumardi (60) dengan Kadiyem (56) ini termasuk sederhana, yaitu nasi rames dengan lauk ayam goreng. Namun, karena hanya menyediakan satu jenis menu tersebut warung ini justru menjadi jujugan para pelanngannya. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hanya mengandalkan menu nasi rames tersebut ternyata setiap harinya bisa menghabiskan rata-rata 25 kg daging ayam. Itu angka yang fantastis untuk sebuah warung, walau di tepi jalan raya terbilang jauh dari kota (7 km dari Kantor Kecamatan, sekitar 40 km dari kota kabupaten). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menguntungkan adalah letaknya yang, selain di tepi jalan raya, berada di dekat  pasar desa yaitu Pasar Talun, Desa Pandean, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Tepatnya di km 41 jalan raya Trenggalek - Pacitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarpun statusnya hanya pasar desa, setiap lima hari sekali yaitu setiap Pahing pasar tersebut penggunjungnya cukup ramai, didatangijuga oleh para pedagannya dari berbagai daerah seperti TulungAgung dan Trenggalek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lokasi yang strategis itulah tampaknya yang membuat warung ini cukup ramai. Selain itu warung ini dari segi harga termasuk murah. Satu porsi nasi rames dengan lauk ikan ayam beserta minuman baik kopi atau teh cukup dengan Rp 5.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi rasa juga cukup lumayan serta pelayanannya pun cukup memuaskan. Setiap harinya mulai dari memasak nasi hingga lauknya sampai masakan siap disajikan pada pembeli Kadiyem dibantu suami dan dua orang perempuan yang khusus dibayar untuk itu. Warung dibuka setiap hari mulai pukul 7 pagi sampai pukul 17.00 dan setiap hari buka kecuali hari Jumat ia tidak membuka warungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melayani pembeli ia juga sering menerima pesanan untuk berbagai acara yang diadakan baik oleh desa maupun instansi pemerintah, yang biasanya berupa nasi kotak/bungkus.[pur]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-4186583639385164512?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/4186583639385164512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/kadiyem-42-tahun-menjaga-warung-nasi-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4186583639385164512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4186583639385164512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/kadiyem-42-tahun-menjaga-warung-nasi-1.html' title='Kadiyem: 42 Tahun Menjaga Warung Nasi [1]'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SqTgrs2C5mI/AAAAAAAAAh8/C8SDe4eXU5s/s72-c/kadiyem-dengan-nasi-rames.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-2557009600536986051</id><published>2009-09-02T02:30:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T02:31:08.624-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>Aturipun Ketua Panitia FSJ-D 2009</title><content type='html'>Panjenenganipun Bupati Trenggalek, Kanjeng Raden Harya H Soeharto Hadiningrat ingkang dhahat kinurmatan. Para nayakaning praja ing tataran Kabupaten Trenggalek, Kecamatan Dongko, lan Dhusun Cakul, para sesepuh, pinisepuh, para rawuh sedaya ingkang dhahat kinurmatan. Para sastrawan, seniman, akademisi ingkang kawula tresnani, ingkang tansah ngudi amrih lestari lan tumangkaripun sastra Jawi.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur alhamdulillah, dinten menika…. kula panjenengan sami nampi kanugrahaning Gusti arupi kekiyatan, kalodhangan, kepanggih ing tlatah pareden ingkang bebasan cedhak watu adoh ratu menika, kangge amiwiti kajat andrawina Sastra Jawa lan Desa, utawi Festival Sastra Jawa lan Desa Taun 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival Sastra Jawa lan Desa Taun 2009 ingkang kagelar ing Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek menika dipunpadhegani dening Organisasi Pengarang Sastra Jawa kaliyan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, makarya sesarengan kaliyan Sanggar Triwida, Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro, Sanggar Sastra Jawa Banyuwangi, sinengkuyung dening Pamarentah Provinsi Jawa Timur, Pamarentah Kabupaten Trenggalek, Fakultas Bahasa lan Seni Unesa, Jurusan Bahasa Jawa Uneversitas Negeri Semarang, SMP Satu Atap 2 Dongko, Komunitas Pemuda Nglaran Kita, sarta para warga Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bupati, lan para priyagung ingkang tansah paring panjurung dhumateng sedaya pakarti anggayuh kasaenaning bebrayan agung. Upamia winastanan andrawina utawi kembul suka, Festival menika boten ngungalaken raos suka ingkang tlonjongipun dhumateng pegating kaprayitnan, ananging suka ingkang mijil saking raos syukur dhumateng kanugrahaning Gusti. Saestu, para warga ingkang mapan ing tlatah pareden menika, para warga Desa Cakul, Kecamatan Dongko, sumrambahipun dhumateng Kabupaten Trengalek sakukuban, bebasan kabanjiran samodra madu, kajugrugan gunung menyan. Rawuhipun para pangembating praja ing dhusun menika lajeng ngemutaken dhumateng lekasipun Prabu Hayam Wuruk ing Jaman Majapahit duking uni, ingkang angrawuhi dhusun-dhusun kadosdene ingkang lajeng sinerat ing Kitab Negara Kertagama. Boten kok ngemungaken titah ingkang winastan jalma manungsa, wit-witan sami tumiyung, rerambatan sami amanglung, sesekaran sami mekar ambabar arum sajak asung pakurmatan dhumateng para pangarsaning praja ingkang saweg jengkar saking pandhapa agung saperlu angluberaken sih dhumateng para kawula dasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para rawuh ingkang dahat kinurmatan&lt;br /&gt;Ing Festival Sastra Jawa lan Desa Taun 2009 menika kagelar: Sarasehan Pamulangan Basa Jawa ingkang suwau kaangkah kangge para guru ing tlatah Kabupaten Trenggalek sakanan-keringipun, nanging pranyata wonten ingkang purun keraya-raya rawuh saking Surabaya, Banyuwangi, menapadene Bojonegoro. Wonten malih Sarasehan Desa kangge para kadang tani ingkang adreng angenipun badhe nyinau kadospundi cak-cakanipun ulah tetanen ingkang langkung sae, ingkang saget nanem menapa ingkang saget dipunsade lan boten namung nyade ingkang saget dipuntanem. Boten kantun Sarasehan Sastra ingkang dipunrawuhi para pengarang, sastrawan Jawa, boten ngemungaken saking wewengkon Jawa Timur, nanging ugi saking Surakarta, Ngayogyakarta, Jakarta, Semarang, lan kitha-kitha sanesipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing swasana suka ingkang mijil saking raos syukur menika mangke ugi badhe kagelar manekawarni kesenian tradisional ingkang kalebet ing kukubanipun kabudayan Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival Sastra Jawa lan Desa menika sanes kalih bab ingkang waton dipungandhengaken. Panitia percados mbokbilih lunturing kabudayan Jawa boten namung saget katitik saking sangsaya sudanipun kasagetanipun para kawula wawan-gunem ngginakaken basa Jawa, ananging ugi saget katitik saking kanyatan: para taruna wekdal menika sami rumaos onjo mbokbilih saget angrahapi tetedhan utawi inuman merek manca nagari sanadyan ta tetadhan lan inuman wedalan dhusun langkung sae daya pangaribawanipun tumrap kasantosaning jiwa-raga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bapak Bupati lan para rawuh ingkang kinurmatan, kadospundia kemawon kawontenanipun, Festival Sastra Jawa lan Desa Taun 2009 menika mletik saking adrenging kekajengan tumtut-tumut anggayuh lestarinipun kabudayan Jawa minangka salah satunggaling adeg-adeg kangge angluhuraken kawibawanipun Negari Indonesia. Syukur bage mbokbilih mangke saget dados agendha tahunan, saget dipunsengkakaken dados Festival Sastra Etnik Nusantara minangka sarana silaturahmi budaya ing tataran ingkang langkung omber tebanipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wusana, Panitia namung saget ngaturaken agunging panuwun dhumateng:&lt;br /&gt;Bapak Gubernur Jawa Timur&lt;br /&gt;Bapak Bupati Trenggalek&lt;br /&gt;Kepala Dinas Poraparibud Kab Trenggalek&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pendidikan Kab Trenggalek&lt;br /&gt;Dekan FBS Unesa Prof DR Setya Yuwana Sudikan&lt;br /&gt;Ketua Jurusan Bahasa Jawa Unnes&lt;br /&gt;Bapak Camat Dongko&lt;br /&gt;Bapak Arswendo Atmowiloto&lt;br /&gt;Bapak Kepala Desa sarta para pamong Desa Cakul &lt;br /&gt;Kepala SMP Satu Atap 2 Dongko&lt;br /&gt;Komunitas Pemuda Nglaran Kita&lt;br /&gt;Warga Masyarakat lan para paraga ingkang boten cekap wekdalipun bilih kula sebat mbaka setunggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peparing biyantu ingkang arupi beya, tenaga, pamanggih, lan sanes-sanesipun ingkang sampun dipuntampi Panitia mugi kacatheta lan ugi katampi dening Gusti Allah kadidene amal sae panjenengan sami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wusana, mbokbilih pranyata kirang gupuh, kirang suguh, lan sarwa cingkrang ing samukawisipun kalebet anggenipun saget caos papan inggih namung sawontenipun, Panitia nyuwun lumunturing sih samodra pangaksami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mugia Gusti Allah tansah paring karahayon dhumateng kula panjenengan. Rahayu!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Cakul, 4 Agustus 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-2557009600536986051?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/2557009600536986051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/aturipun-ketua-panitia-fsj-d-2009.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2557009600536986051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2557009600536986051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/aturipun-ketua-panitia-fsj-d-2009.html' title='Aturipun Ketua Panitia FSJ-D 2009'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-4477135587685598054</id><published>2009-09-01T01:30:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T01:31:36.398-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>FSJ-D 2009: Dari Juni ke Agustus</title><content type='html'>Pada awalnya, FSJ-D 2009 dijadwalkan 17 – 18 Juni 2009. Tetapi, kemudian ternyata hari itu bertepatan dengan pelaksanaan ujian sekolah. Padahal, salah satu tempat (utama) pelaksanaan FSJ-D adalah sekolah (SMP Negeri Satu Atap 2 Dongko di Desa Cakul). Selain itu, sebagian besar personal yang terlibat di dalam kepanitiaan adalah para guru termasuk kepala sekolahnya. Maka, setelah melalui pencarian yang cukup a lot ditetapkanlah pengunduran pelaksanaan festival ke tanggal 4 – 5 Agustus 2009.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pengunduran itu, seorang wartawan mengajukan pertanyaan yang agak sinis. Kira-kira begini, ’’Saya mengikuti perkembangan informasi mengenai festival ini dari blog Nglarankita (www.nglarankita.blogspot.com, Bon). Dan terkait pengunduran jadwalnya itu saya punya pertanyaan, apakah hanya karena tunduk kepada kemauan birokrasi, sehingga Panitia FSJ-D 2009 yang mestinya independent itu masih mau didikte, bahkan untuk urusan tanggal pelaksanaannya?’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah saya bisa bertemu muka dengan wartawan ini, dan kemudian saya klarifikasi soal pengunduran jadwal festival itu. Saya katakan, tidak ada pihak yang mendikte ataupun didikte dalam hal itu. Bahkan, Panitia merasa diuntungkan dengan pengunduran itu, terkait kesiapan dan banyak hal lain. Bahkan, mundurnya pun terbilang cukup jauh, dari Juni ke Agustus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya paparkan pula bahwa Panitia tidak bisa memutuskan sendiri hari pelaksanaan itu. Ada banyak komunitas pendukung di berbagai wilayah: Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bojonegoro, Tulungagung, dan lain-lain yang harus didengar suara mereka. Bahkan, juga pertimbangan warga. Karena dilaksanakan di desa dengan segenap adat-istiadatnya, Panitia harus juga mendengarkan suara warga. Festival tidak mungkin dilaksanakan, misalnya, ketika ada warga di sekitar lokasi yang sedang punya hajat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa ada yang mengatur selain Panitia sendiri. Mengapa? Seandainya tidak ada benturan waktu itu, seandainya tidak ada pengunduran jadwal, tidak bisa dibayangkan betapa akan kalang-kabutnya Panitia karena banyak hal belum benar-benar siap, dari joglo yang belum selesai pengerjaannya hingga --dan ini yang terutama-- persoalan dana. Bahkan, soal dana itu ternyata kemudian belum bisa benar-benar tuntas setelah acara yang sangat membanggakan itu terlaksana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya Panitia harus mengakui bahwa ternyata telah menggelar acara yang boleh disebut kegedhen empyak kurang cagak. Terlalu bonek. Mengangankan sesuatu yang jauh lebih besar dari kapasitasnya. Sangat berisiko, itu pasti. Tetapi, kami bersyukur semuanya berlalu. Ada kritik memang, yang justru menambah kebanggaan kami. FSJD 2009 memang telah diberi sangat banyak oleh para tamu, dan ampun beribu ampun, panitia sebegitu demam panggung. []&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-4477135587685598054?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/4477135587685598054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/fsj-d-2009-dari-juni-ke-agustus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4477135587685598054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4477135587685598054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/09/fsj-d-2009-dari-juni-ke-agustus.html' title='FSJ-D 2009: Dari Juni ke Agustus'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-480899752219456881</id><published>2009-08-31T22:18:00.000-07:00</published><updated>2009-08-31T22:21:41.468-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>Joglo Nglaran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SpyvPWVJKOI/AAAAAAAAAhA/he7uFsbb8Ho/s1600-h/DSC06652.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SpyvPWVJKOI/AAAAAAAAAhA/he7uFsbb8Ho/s200/DSC06652.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376364733400688866" /&gt;&lt;/a&gt;Yang saya gagas pada mulanya adalah Festival Sastra Jawa, berisi kegiatan: pergelaran sastra Jawa (baca guritan, crita cekak, dan teatrikalisasi guritan/crita cekak), sarasehan, dan bursa buku. Lalu timbullah pemikiran untuk mengintegrasikannya dengan Festival  Desa. Seminar Pembelajaran Bahasa Jawa adalah rangkaian acara yang terakhir ditambahkan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya juga tidak terbayang akan menggelar acara secara paralel, bahkan di 3 tempat. Maka, yang terbayang adalah: cukuplah kalau disediakan sebuah joglo sederhana yang akan bisa menampung sekitar 100 orang. Dan itulah yang jauh-jauh hari bisa disiapkan, walau pada akhirnya penyelesaian joglo beratap alang-alang seluas 7 x 8 meter itu pun sangat mepet dengan pelaksanaan festival. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjanganya waktu penyelesaian itu disebabkan oleh tenaganya yang hanya pocokan dari tukang yang sebenarnya masih terikat kerja dengan warga yang sedang membangun rumah. Sementara tenaga lainnya, yang juga tenaga sukarela sejak meratakan tanah landasannya hingga membuatkan pagarnya, mesti sering absen karena ada tetangga yang punya hajat. Sejak Juni hingga Agustus 2009 jadwal orang punya hajat di desa sangatlah padat, bahkan dalam sehari kadang ada 3 atau lebih orang punya hajat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat joglo sesederhana itu pun ternyata adalah pekerjaan besar. Karena, selain harus meratakan bidang tanahnya terlebih dahulu, jalan masuknya yang sepanjang 30-an meter pun mesti diperluas. Pernah dalam sehari sekitar 100 orang datang dari berbagai dusun yang ada di Desa Cakul untuk menyelesaikan pembangunan joglo Nglaran (dibangun di Dusun Nglaran) ini. Itulah antara lain kegotongroyongan ala desa yang masih dapat kita banggakan. Tampaknya, pekerjaan semacam itu tak akan bisa berjalan di kota-kota, tanpa dikomandani uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau bentuknya sederhana, diharapkan joglo Nglaran masih bisa digunakan untuk menyelenggarakan sarasehan atau latihan kesenian bagi komunitas pemuda dan warga di sekitarnya. Terpikir pula untuk menyematkan perpustakaan kecil di salah satu sudut joglo ini, untuk melayani warga sekitar yang suka membaca. Jika kota-kota memiliki gedung kesenian, gedung taman budaya dan semacamnya, Nglaran pun kini sudah punya joglo.[bon]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-480899752219456881?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/480899752219456881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/joglo-nglaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/480899752219456881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/480899752219456881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/joglo-nglaran.html' title='Joglo Nglaran'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SpyvPWVJKOI/AAAAAAAAAhA/he7uFsbb8Ho/s72-c/DSC06652.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-6898088107713771778</id><published>2009-08-20T10:11:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T10:13:01.660-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>Sandyakalaning sastra Jawa</title><content type='html'>Pahargyan tumrap sastra Jawa kang kawengku dening nostalgia lan impen nembe wae diadani, dina Slasa nganti Rebo (4-5/8), mapan ing Dhukuh Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Sastra Jawa dirembug, didhudhah, kepara diperkarakake, ing sawijining padhukuhan sing kapetung adoh saka kutha. Festival Sastra Jawa 2009 digelar linambaran militansi kanggo nuduhake yen sastra Jawa isih ana, ing kaanan “sekarat”. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi Pengarang Sastra Jawa, Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya lan Sanggar Triwida minangka panitya acara festival iki sengaja nuduhake wasiyat menawa sastra Jawa kuwi wargane sastra Indonesia lan warga sastra donya kang kudu nampa kalodhangan kanggo urip, tuwuh lan ngrembaka jumbuh pepenginane bebrayan panyengkuyunge. Wasiyat iki ngandhut rasa ora mantep utawa inferiorisasi lan marginalisasi tumrap sastra Jawa. Hak urip ana nanging nasib sastra Jawa isih apes. Sewu pitakonan bisa tuwuh, nanging angel nemokake pawangsulan kang gumathok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival iki ditekani wong-wong saka maneka kutha, acarane kaya lumrahe yakuwi seminar, ngudarasa, maca guritan, dol tinuku buku-buku sastra Jawa lan kangen-kangenan. Tumpukan perkara lawas didhudhah maneh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanyatan dina iki ndadekakake para panganggit sastra Jawa goreh, jalaran sastra Jawa meh dadi bab kang ora wigati ing dialektika kultural bebrayan agung Jawa. Sastra Jawa kasingkur dening bebrayan agung Jawa minangka warga sing cacahe akeh dhewe ing negara iki. Mesakake temen! Sastra Jawa iku fosil! Panutuh mangkene iki lumrah nalika niti priksa mundure lan rendhete sastra Jawa modheren ing bab ndhudhah estetika lan pilihan underan. Babaran cerita cekak (Cerkak), geguritan lan novel ing sastra Jawa isih panggah mbabar kahanan jaman biyen, crita asmara murahan, detektif, kriminalitas lan alaming lelembut. Underan sing ora akeh ndadekake sastra Jawa modheren kelangan semangat kanggo ngrembaka minangka pahargyan tumrap kompleksitas perkara urip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kahanan iki kosok balen kalawan kawitan tuwuhe sastra Jawa modheren nalika gelem nampa perbawane wacan sastra kulonan ndalem kawitan abad XX. Padmasusastra (1843-1926) dening George Quinn dijuluki Bapak Sastra Jawa Modern jalaran lumantar Serat Rangsang Tuban mbuktekake ditampane cakrik sastra kulonan minangka landhesan tapsiran sastra tradhisional. Serat Rangsang Tuban dadi kawitan novel abasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tansah owah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Padmasusastra kanthi temen-temen nyinau sastra kulonan kanggo nganyarake sastra Jawa. Karya estetis diwujudake ing pilihan cakrik gancaran minangka tandhingan sastra tembang sing ditindhihi dening Ki Ranggawarsita. Sastra Jawa modheren lair lan ngrembaka ing titi wanci kuwi kanthi manjing ajur-ajer lan tansan owah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babaran sastra Jawa ing jaman kawitan Balai Pustaka kapetung luwih akeh tinimbang sastra Indonesia lan sastra Sunda. Kahanan kuwi saiki wus tanpa tilas lan malah sastra Jawa modheren wiwit kelangan penerbit lan medhia. Sastra Jawa lan sastra etnis banjur lumebu ing kurungan lan diingoni dening negara kanthi wates-wates cetha kang kawengku ing sumbar nasionalisme. Sastra Jawa dadi bangkrut jalaran kuwasaning negara lan godhan saka pasar. Kanyatan basa Indonesia minangka basa nasional, ing petungan politik lan kabudayan ndadekake panganggit sastra Jawa dadi bingung.&lt;br /&gt;Panyengkuyung budaya ing kuwasa basa Indonesia dadi reridhu jalaran sikep mehak kang asipat konstitusional lan institusional. Basa Indonesia njedhul ing sesambungan politik, pendhidhikan, ekonomi, seni lan budaya. Basa Jawa minangka ubarampe sastra Jawa dipinggirake tanpa sikep nulak kanggo nylametake dhirine saka panutuh primordialisme utawa separatisme kultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Jawa modheren minangka sastra tulis wiwit kelangan pondhasi lan mundur ing wewengkon jayane sastra klasik lisan lan tulisan. Panitisastra, Centhini, Wedhatama, Wulangreh didadekake panutan ing pakaryan sastra Jawa. Tradhisi lisan uga didadekake pawadan gegayutan kabutuhan bebrayan marang babaran estetika. Kupiya nylametake lelandhesan nostalgia kuwi tanpa kairing sikep gelem mriksa owah gingsire sastra Jawa modheren wiwit taun 1930-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Jawa modheren pancen isih diurip-urip dening panganggit Jawa kanthi cacahe pamaos sing sansaya suda. Sastra Jawa uga ditinggalake dening penerbitan koran, majalah, jurnal, lan industri buku. Sastra Jawa modheren tanpa pepesthen bakal lestari. Kanyatan ilange pamaos arang banget didadekake landhesan otokritik. Pamaos pancen duwe hak kanggo rumangsa urip lumantar kuwasaning basa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basa Indonesia wus mrasuk ing jagad pamikire wong Jawa wiwit isih bocah lumantar giyaran tivi, sekolahan lan medhia massa. Kanyatan iki angel ditandhingi dening sastra Jawa modheren lumantar wangunan basa sing adoh saka wacan lan laku modernitas. Sastra Jawa modheren mandheg lan “sekarat” kadidene kodrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggitan Cerkak, geguritan lan novel pancen isih ana lumantar industri buku, koran dhaerah utawa majalah. Apa iki sandyakalaning sastra Jawa? Kahanan iki uga ditemtokake dening ora anane kritikus ing tradhisi panulisan esai sastra Jawa. Suripan Sadi Hutomo lan Poer Adhi Prawoto wus almarhum lan ninggalake warisan buku-buku kritik sastra Jawa modheren. Dina iki ora ana kritikus sing niti priksa babaran sastra Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Jawa minangka sastra etnis pancen durung tamat, nanging sakehing kanyatan wus dadi bukti nasib apese sastra-sastra etnis Indonesia. Sastra etnis kaya-kaya sengaja dijarke mati kanggo njembarake kalodhangan menjilane kuwasa negara lan globalisasi.  - Bandung Mawardi, pangarsa Ngudarasa Sastra ing Balai Soedjatmoko Solo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.solopos.net/sp_search_detail_tamu.asp?id=281536"&gt;Solopos&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-6898088107713771778?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/6898088107713771778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/sandyakalaning-sastra-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/6898088107713771778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/6898088107713771778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/sandyakalaning-sastra-jawa.html' title='Sandyakalaning sastra Jawa'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-7812189003327908400</id><published>2009-08-20T09:15:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T09:16:56.266-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>FSJ 2009 ndudut rasa mongkog</title><content type='html'>Festival Sastra Jawa 2009 utawa FSJ 2009 sing mapan ing Dhusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, dina Slasa nganti Rebo (4-5/8) kapungkur nuwuhake rasa mongkog dene sastra Jawa isih kuwawa urip ing tlatah cengkar. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangkono pratelane Pangarsa Panitya FSJ 2009, Bonari Nabonenar, nalika wawangunem kalawan Espos ing Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, dina Slasa (11/8) wengi.&lt;br /&gt;”FSJ 2009 antuk kawigaten mligi saka Pamarentah Kabupaten Trenggalek. Katitik Bupati Trenggalek kersa mbukak acarane lan Wakil Bupati Trenggalek kersa nutup acarane. Sakorane iki bisa dadi pawitan kanggo ngracik sesambungan antarane pamarentah lan para paraga kang sasuwene iki panggah ora mingkuh saka upaya ngurip-urip sastra Jawa,” pratelane Bonari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FSJ 2009 ditekani para sastrawan Jawa lan pandhemen sastra Jawa saka Jawa Timur, Jawa Tengah lan Yogyakarta. Antarane sastrawan Jawa sing kapetung senior lan sing enom bisa sapatemon ing kahanan kang egaliter. Para pandhemen sastra Jawa uga bisa sapatemon lan pirembugan kalawan para sastrawane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lan sing kapetung luwih ndudut rasa mongkog, miturut Bonari, ing FSJ 2009 ana acara mligi sing katumrapake para guru basa Jawa ing tlatah Kabupaten Trenggalek. Lan kanyata acara sing mapan ing desa cedhak watu adoh ratu kuwi kuwawa narik kawigatene para guru. Katitik akeh guru sing kanthi gumregut nekani acara workshop lan seminar basa lan sastra Jawa kuwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku pribadi duwe pangajab acara mangkene iki bisa diadani saben taun, papane ora kudu ing Trenggalek. Lan aku uga duwe pangarep-arep ing taun-taun kang bakal teka acara iki bisa dikrembakakake dadi festival sastra etnik Nusantara,” Bonari nambahake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara kasebut njupuk underan Desa dan Sastra Jawa. Werdine ora uwal saka kanyatan yen ing titi wanci pungkasan iki pandhemen sastra Jawa akeh-akehe dumunung ing tlatah padesan. Werdi liyane, kaajab sastra Jawa bisa urun kridha kanggo ndayakake lan ngrembakakake desa murih ora tansah dadi papan kang dianggep kuna lan tansah dikalahake kalawan kutha ing pangracike kawicaksanan pembangunan.&lt;br /&gt;Saliyane kuwi, underan Desa dan Sastra Jawa kaajab uga bisa dadi pancatan kanggo ngrembakakake kalodhangan mangun jagad intelektual ing wewengkon sastra Jawa saka tlatah karang pradesan. Werden iki sing gampang dhewe bisa didhudhah saka acara seminar lan workshop tumrap guru-guru basa Jawa ing Trenggalek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saka acara sing mligi katumrapake para guru, ana dudutan yen acara kang asipat ndayakake intelektual-e para guru kuwi ora kudu mapan ing kutha. Acara kaya mangkono bisa diadani ing desa. Lan kacihna mapan ing desa tetep dipepaki sertifikat sing pangaji banget tumrap para guru. Dadi ngoyak kredit tumrap para guru ora kudu adoh-adoh menyang kutha jalaran ing desa wae uga bisa,” Bonari nandhesake.  – pra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.solopos.net/sp_search_detail_tamu.asp?id=280746"&gt;Solopos&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-7812189003327908400?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/7812189003327908400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/fsj-2009-ndudut-rasa-mongkog.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7812189003327908400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7812189003327908400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/fsj-2009-ndudut-rasa-mongkog.html' title='FSJ 2009 ndudut rasa mongkog'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-620612441842337933</id><published>2009-08-19T18:55:00.000-07:00</published><updated>2009-08-19T18:59:15.292-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Dihibur Pantomim Jemek</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Soyth5VD07I/AAAAAAAAAc4/4ZUNGRezZa0/s1600-h/jemek.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 174px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Soyth5VD07I/AAAAAAAAAc4/4ZUNGRezZa0/s200/jemek.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371859253382599602" /&gt;&lt;/a&gt;TRENGGALEK – Para sastrawan Jawa be¬ker¬ja¬sa¬ma dengan Dinas Pendidikan–(Dindik)–Treng¬galek bakal menggelar Festival Sastra Jawa dan Desa. Event nasional ini rencananya digelar di Desa Ca¬kul Kecamatan Dongko pada 4 dan 5 Agustus men¬datang. Dalam acara tersebut, dipastikan diikuti para gu-ru, sastrawan dan seniman. Untuk persiapan acara ini, dua hari lalu panitia mem¬pre¬sen¬ta¬si¬kan rencana acara mereka pada ang¬go¬ta komisi D DPRD Treng¬ga¬lek.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu panitia acara, Bonari Na¬bo¬nenar mengatakan, even ini ti¬dak akan disia-siakan. Se¬ti¬dak-nya panitia telah berkoordinasi de¬ngan seniman dan sastrawan un¬tuk berbagai pertunjukan pada aca¬ra tersebut. Dia meng¬gam¬bar¬kan setelah dibuka pada 4 Agus¬tus pagi, yang kemungkinan oleh Gu¬ber¬nur Jatim Soekarwo, ke¬mu¬di¬an dilanjutkan dengan seminar Bahasa Jawa.&lt;br /&gt;Malam harinya, ada per¬tun¬jukan pantomim dari Jemek Su¬par¬di, seniman pantomim asal Yog-yakarta. Seniman satu ini ba¬kal bisa memukau semua peserta dan  undangan. “Seniman sekelas Je¬mek ini mau mengisi acara fes¬ti¬¬val nanti, menjadi sesuatu yang luar biasa,” ujar Bonari.&lt;br /&gt;Nantinya juga akan ada sanggar sa¬stra dari beberapa daerah yang ha¬dir dengan menyiapkan per-tun¬jukan sastra. Misalnya saja per¬tunjukan wayang trobos dari Bo¬jo¬negoro. Rencananya juga ba¬kal ada lomba dolanan anak. Pa¬da kesempatan tersebut  juga akan dimanfaatkan untuk pesta de¬sa, memamerkan berbagai po¬tensi yang ada di Desa Cakul.&lt;br /&gt;Bahkan, direncanakan juga akan datang sastrawan kondang Za¬wa¬wi Imron dan Arswendo At¬mo-wilata. “Ada pengarang ja¬wa dari Jawa Tengah, Jogja, Ja¬tim dan Jakarta,” ucap Bonari. (tin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.radartulungagung.co.id/jepret/dihibur-pantomim-jemek.html"&gt;Ratu, 24 Juli 2009 11:10&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-620612441842337933?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/620612441842337933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/dihibur-pantomim-jemek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/620612441842337933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/620612441842337933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/dihibur-pantomim-jemek.html' title='Dihibur Pantomim Jemek'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Soyth5VD07I/AAAAAAAAAc4/4ZUNGRezZa0/s72-c/jemek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-2811529923490548629</id><published>2009-08-09T10:41:00.000-07:00</published><updated>2009-08-09T10:43:23.424-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>Lampahipun Nyi Roro Kidul ing Kabudayan Jawi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kaaturaken dening arswendo atmowiloto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kagem sutresna basa tuwin sastra Jawi, keparenga kawula sumela atur sawetawis. Nyuwun ngunging samodra pangaksami menawi wonten atur kawula ingkang mboten mranani penggalih, utawi natoni manah panjenengan sedaya. Sejatosipun sastra Jawi sampun  lengser duk nalika,aksara Jawi mboten dipun ginaaken malih, lan kasalin aksara Latin. Ing mriku, dados wonten ingkang ewah, ingkang ical. Kadosta ungelipun “o”, “-a”, “a”, dados kisruh. Luntur ugi, filosofi ingkang ngrengku aksara kalawau. Mboten wonten pangku ingkang mateni.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalika samanten tasih wonten pangajeng-ajeng bilih sastra Jawi mawi aksara Latin bakal ngrembaka. Lumintu saking lan dening majalah, buku, tuwin sesrawungan utawi piwulang ing sekolahan. Nanging saya dangu kahananipun inggih saya nglangut kadidene “susuhing angin”, kadidene “dog amun-amun.” Katon wonten ing panyawang, nanging ilang sak nalika dipun cedaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manawi sakpunika tasih sutresna ingkang prihatos, ingkang nandang luh cintraka, inggih punika priyantun ingkang ngugemi saestu dhateng sastra Jawi, inggih punika priyantun ingkang linuwih ing kasetyan. Pejah gesang ndherek sastra Jawi. Kawula ngaturaken sungkem, ngurmati panjenengan ingkang linangkung ing zaman. Kedah wonten ingkang makaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panci mrihatosaken, nanging sejatosipun “Kabudayan Jawi” mboten namung wonten ing basa, ing aksara, ing pocapan kemawon. “Kabudayan Jawi” langkung ageng, langkung wiyar tebanipun, langkung sekti mandraguna,  langkung ajur-ajer tinimbang kaliyan basa utawi sastra, utawi keris, utawi keris, utawi blangkon tuwin selop, utawi gebyog, utawi kembang setaman. Sedaya kalawau punika namung woh, ron, utawi kembang. Ingkang saged ngrembaka ing sajroning zaman kelakone. Ingkang dados wos, ingkang ndadosaken sedaya ron, woh tuwin kembang  punika inggih punika oyod kabudayan Jawi. Inggih punika ingkang katelah Kejawen, dening mbah buyut. Sejatosipun kejawen punika ingkang dados suksma sejati. Suksma ingkang bade ngrembaka, tuwuh lan tuwuh malih, najan to ketinggalipun malih rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Manuk Gusti”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keparenga kawula ngunggak kabudayan sanes, ingkang dipun tengeri  Kabudayan Semit. Punika budaya ingkang dipun agem bangsa-bangsa Semit wonten Timur Tengah. Sareng kaliyan wolak-waliking jaman sarta kasrambahan budaya sanes, budaya Semit katelah budaya Yahudi, lan salajengipun budaya Kristen, kalayan Islam.Kapitadosan—antawisipun—dateng Gusti Panguwasa Jagat ikang dipun wastani YHWH (amargi mboten kepareng dipun sebat, najan wonten ingkang nyebat Yahweh)—ingkang satunggal, dados kapitadosan meh sedaya umat ing donya. Kita nampi agami, nabi, Gusti, kitabipun, lumantar budaya Semit kala wau, ingkang mathok paugeran agami pinangka syarat-syaratipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing babagan punika, budaya Jawi gadhah paradigma ingkang benten, inggih punika ingkang kasebat “Manuk Gusti”, utawi “Manunggaling Kawula Gusti.”  Punika konsep, filosofis, jejer, ingkang saestu benten—najan to mboten kedah dredrah lan mungsuhan. Benten, nanging mboten sulaya. Sedaya kala wau sampun dados sesanggeman, dados jejer ingkang ajur ajer, nalika srawung kaliyan agami utawi budaya Hindu, Buddha, utawi sanes-sanesipun, wiwit jaman ja-mbejuja ngantos dinten punika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawula nginten bilih konsep agung “Manuk Gusti”, wewujudan Kedjawen ingkang jenius, ingkang kampiun, ingkang “mbrojol sela-selaning garu”, ingkang waskita , ingkang saged nggathukaken bab-bab ingkang suci, sakral, kalian kahanan urip saben dina. Kula kinten, dereng nate mireng, panyandra Gusti Kang Murbeng Jagad tuwin umat kadosdene , “curiga manjing warangka”, ingkang sumanak, enak, ruwin ngangeni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jumat Kliwon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suksma sejati saking Kejawen punika sampun wiwit kina-makina, mawujud rikala paraga Panakawan melebet ing pawayangan. Saknalika, wayang—kathah ingkang mastani saking India—dados benten. Panakawan—saged Semar, Gareng, Petruk, Bagong, utawi Togog, Mbilung utawi katambahan Limbuk, Cangik, -- ndadosaken rakyat pidak pedarakan dados mulya. Ngungkuli para dewa-dewa ing Kahyangan Jonggring Saloka. Malah kepara lakung gecul, amargi dewaning-dewa Hindu, kenger dening—nuwun sewu—entutipun (ana jenenge ora ana rupane) Semar (ora lanang ora wadon).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punika sanggit ingkang linangkung agung. Ingkang tasih “tumimbal lair” rikala Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusuma “ngrabekaken” petangan kalender Hindu, Jawi, Islam dados setunggal ing tanggal 1 Suro. Pananggalan sakdonya remek ical dening petungan pananggalan Masehi, nanging etungan pasaran Pon, (Wage, Kliwon, Paing,Legi) tasih sanget dipun ginaaken. Malah kepara pinunjul, amargi saged mbedakaken wigatinipun dinten Jumat setunggal kaliyan sanesipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punika saestu sanggit ingkang nggegirisi, jer petungan Jawi tasih kasebat, saged urip bebarengan kalian pananggalan Masehi utawi petungan sanesipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panginten kawula, sanggit ingkang sami maujud mbotenipun selop—sepatu Walanda ingkang iris wingkingipun, gampil dicopot kangge mlebet Keraton, surjan—jas ingkang krowok kangge ngetingalen keris, lan sapanunggalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nyi Roro Kidul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manawi yektos makaten, punapa sejatinipun suksma sejati Kejawen punika?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benten kaliyan pamanggih manca ingkang sarwa pratitis damel definisi, Kejawen mboten saged dipun watesi, mboten saged kinunjara : o, kuwi ngene, ora ngono. Amargi Kejawen punika suksma, ingkah tasih gesang. Ingkang tansah tumimbal lair, ingkang nitis lan nitis malih, ingkang tansah maujud malih lan malih lan malih. Ing pocapan, inggih punika ingkang kawastanan” ngono, ning ya aja ngono”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonten conto ingkang nglegena. Upaminipun wonten—utawi mboten wontenipun,-- Nyi Roro Kidul, punapa kemawon sebabatanipun. Meh sedaya tlatah ing pinggir seganten, wonten mithos lan cariyos Nyi Roro Kidul. Nanging rumaos kawula, namung cariyos Nyi Roro Kidul ing Jawi ingkang  luhur wiwit mula buka. Sawijining putri ingkang nedya lestantun, ngrewangi para raja kangge kamakmuran bangsa, malih rupi dados “lelembut”, dados “paraga lembut.” Amargi namung punika margi supados lestantun, salami-lamipun, sareng umuring jagad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punapa Nyi Roro Kidul, yektos wonten?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utawi namung carios ngayawara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedaya kalawau mboten wigatos malih, mboten kedah wonten wangsulan ingkang baku, utawi namung setunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semanten ugi Kejawen. Wonten utawi mboten wonten sastra utawi basa Jawi, keris, blangkon, selop, kembang setaman, macapatan, mboten wigatos malih. Sauger tasih wonten manungsa ingkang kempal sareng, ngrembag, nguri-uri, ngembakaken, tasih wonten ingkang saged nyawang wontenipun “dog amun-amun”. Saged ngraosaken wonten “susuhing angin”, saged ngraita “sangkan paraning dumadi”,  saged “keplok tangan kiwa”, saged ngudarasa kaliyan sesame.&lt;br /&gt;Nuwun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) cathetan mirunggan punika, jan-janipun kangge sederek ing Trenggalek, Kediri ingkang ngawontenaken Festival Sastra Jawa, utawi patemon ing Bale Sudjatmoko, Solo, ing wulan Agustus 2009..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-2811529923490548629?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/2811529923490548629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/lampahipun-nyi-roro-kidul-ing-kabudayan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2811529923490548629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2811529923490548629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/lampahipun-nyi-roro-kidul-ing-kabudayan.html' title='Lampahipun Nyi Roro Kidul ing Kabudayan Jawi'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-513973634381548685</id><published>2009-08-02T18:31:00.000-07:00</published><updated>2009-08-02T18:32:46.610-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>FSJ 2009 dan Subversi Budaya</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Beni Setia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama diimpikan, bahkan menjadi duri friksi dalam Kongres Basa Jawa di Semarang, akhirnya perfoming sastra Jawa yang sama sekali bebas dari dominasi basa Jawa bisa dilaksanakan. Setelah ditangguhkan dari rencana awal, 17-18 Juni 2009, Festival Sastra Jawa 2009 positif akan diselenggarakan pada 4-5 Agustus 2009 di Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah undangan, yang secara sadar menekankan peta dan petunjuk teknis rute untuk mencapai lokasi acara dari segala arah, secara surealistis mengingatkan saya pada teks revolusi kebudayaan model Mao di China. Faktanya, para intelektual dan budayawan kota, yang dianggap Mao terlalu teoretis berdasarkan buku teks, dipaksa meninggalkan kota dan hidup praktis sebagai petani desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival Sastra Jawa (FSJ) 2009 akan menyelenggarakan seminar dan penampilan sastra, workshop untuk guru, dan sarasehan (antar) desa yang merupakan pendekatan penyuluhan untuk semua kerajinan serta hasil bumi yang akan dipamerkan selama acara itu menohokkan referensi tersirat itu. Pengakuan akan sastra Jawa modern, yang sifatnya tertulis di media massa dan didukung sastrawan yang rata-rata masuk kelas menengah dan hidup dalam tradisi budaya tulis. Kini para dosen dan guru, yang secara teknis harus berjenjang DIV atau S1, serta wartawan harus datang dan menginap di rumah petani Trenggalek yang secara budaya masih di taraf lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu merupakan tonjokan buat melakukan retreat sekaligus retrospeksi: fakta bahwa mereka berkesenian secara tertulis dengan memanfaatkan khazanah sastra dunia dan minimal sastra Indonesia, sementara itu kebanyakan orang Jawa yang diandaikan akan menjadi apresiator karya mereka tidak pernah benar-benar beranjak dari budaya lisan, yakni menyimak TV, radio, kaset/VCD, kabar burung, petuah sesepuh, dan taklimat dari pamong rendahan. Karena itu, mereka mirip sang intelektual yang hidup dengan buku dengan angan-angan dan asumsi eksklusifnya, yang menyebabkan sastra Jawa modern tulis terpisah dari komunitasnya yang masih berbudaya lisan. Meski demikian, tradisi lisan itu pada dasarnya lebih disebabkan fakta mereka adalah petani marginal subsistensial pedesaan, yang tidak punya sisa uang untuk berbuat mewah membeli majalah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, hilangnya guru pelanggan setia di pedesaan itu tidak bisa diganti atau tergantikan kaum terdidik kota, baik yang terbiasa membaca karena suntuk dalam budaya tulis maupun yang sok modern tetapi tidak terbiasa membaca dan hidup dalam budaya lisan. Bagi sebagian kaum terdidik kota, pilihan tidak berlangganan media massa Jawa lebih disebabkan fakta pragmatik informasi lebih cepat didapat di media massa Indonesia atau Inggris ketimbang media massa Jawa. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua paket informasi itu sudah dikemas dan siap dikomunikasikan dalam bahasa Indonesia atau Inggris sehingga harus diterjemahkan dahulu ke bahasa Jawa. Ada rantai penyampaian yang menyebabkan informasi itu terlambat, selain tidak banyak intelektual Jawa yang mau bekerja sebagai penerjemah di media massa Jawa sehingga terpaksa memakai penerjemah otodidak atau yang tidak menguasai kaidah bahasa Jawa dan menerjemahkan teks secara harfiah. Fakta yang bertriwikrawa menjadi hujatan sekaligus gugatan agar intelektual Jawa, minimal sastrawan Jawa, kembali ke desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali eling kang weruh bahwa komunitas Jawa di pedesaan masih ada dan hidup dengan tradisi budaya lisan dengan bahasa Jawa yang mungkin teramat ngoko pinggiran-egaliter tidak perlu menekankan tata hegemoni bahasa yang mengutamakan klan priayi-pangagung-pinisepuh, yang menurut Antonio Gramsci merupakan cara halus untuk mengekalkan kekuasaan dan penguasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ajakan untuk kembali ke tradisi lisan untuk menciptakan teks sastra yang media publikasinya adalah radio, TV, kaset/VCD, dan perjalanan keliling membaca sastra lisan, yang di Jawa Barat sudah lama dirintis Lembaga Basa Jeung Sastra Sunda dengan biaya pribadi. Maka pada masa depan, sastra Jawa tidak sepenuhnya terletak di PS atau JB, yang seharusnya resmi dilanggan setiap sekolah dengan dana BOS, tetapi dalam pasemon bulanan yang amat intim, seperti komunitas macapat klasik pedesaan yang menghidupkan sastra (lisan) Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beni Setia Pengarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/31/15445252/fsj.2009.dan.subversi.budaya."&gt;Kompas -Jarim, Jumat, 31 Juli 2009 | 15:44 WIB&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-513973634381548685?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/513973634381548685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/fsj-2009-dan-subversi-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/513973634381548685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/513973634381548685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/fsj-2009-dan-subversi-budaya.html' title='FSJ 2009 dan Subversi Budaya'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-6936572412930434549</id><published>2009-08-02T17:54:00.001-07:00</published><updated>2009-08-02T17:54:59.184-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>Pergelaran</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh: Beni Setia&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA peta dengan skala 1:10.000.000, Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, yang terletak di jalur antara Trenggalek-Pacitan, mungkin hanya titik seukuran mikron -tak perlu diterakan- tak terlihat ada. Tapi, dalam Festival Sastra Jawa (FSJ) 2009 yang akan diselenggarakan pada 3-4 Agustus besok, tempat itu akan menjadi sumber pembuktian bahwa sastra Jawa masih ada dan bisa bertriwikrama menyatakan diri sehat setelah selama ini hanya diam di majalah bahasa Jawa dan tradisi tutur macapat atau wayang kulit.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma menunjukkan masih ada kemauan buat meneruskan energi kreatif dengan melakukan eksplorasi demi pencapaian estetika serta ekspresi baru, seperti yang ditunjukkan banyak sastrawan Jawa modern di ranah sastra Jawa tulis. Yang lebih diakui dan dianggap sebagai representasi sastra Jawa adalah hadirnya geguritan, cerkak, dan roman di majalah bahasa Jawa dan buku sastra yang dianugerahi Rancage Award dan dipergelarkan di forum FSJ 2009. Tetapi, juga upaya sadar untuk melihat dan menghadirkan lagi sastra lama Jawa, sastra tradisional lisan, yang selama bertahun-tahun selalu dihadirkan dalam wujud pergelaran macapat atau pentas wayang kulit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, akan menjadi tetenger dari upaya untuk menunjukkan bahwa sastra Jawa masih layak ditengok dan sekaligus mempunyai pendukung yang menikmati, tapi tak pernah menyuarakan pengamatannya. Mereka adalah para kritikus bisu di pedesaan. Yang bukan priayi baru, para pangreh praja, yang mengasah budi pekerti dengan membaca sastra di majalah atau dalam wujud buku, tapi wong desa yang diam-diam ambil bagian, meski hanya dengan menyimak pergelaran wayang kulit di panggung, live di TV, atau dalam kemasan audio kaset atau audiovisual VCD dan DVD. Mereka masih nguri-nguri dan mengapresiasi sastra Jawa. Sayang, FSJ 2009 tak melangkah lebih jauh dengan menghadirkan revitalisasi wayang -yang versi teksnya selalu hadir di Jawa Pos Minggu dan kemudian dibukukan itu- yang dikolaborasikan dengan disiplin kesenian lain dalam wujud pentas wayang suket Slamet Gundono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat terpikir: alangkah indahnya kalau launching buku dan pentas wayang suket Slamet Gundono itu tak dilakukan di Taman Budaya Surakarta, 26 Juli lalu, melainkan dalam FSJ 2009 di Trenggalek, 3-4 Agustus besok. Kenapa? Sebab, ada kesan wayang suket itu pergelaran sastra pertunjukan yang dirancang sebagai eksplorasi personal dan cuma diperuntukkan bagi kalangan terdidik, yang terlatih menikmati ekspresi kreatif orisinal, tampilan alternatif yang untuk mengapresiasinya dibutuhkan limit referensi sastra dan seni tertentu. Dan wong desa, yang hanya pasif partisipatif menikmati sajian sastra pergelaran, tak akan mampu memaknai kehadiran yang menyimpang dari yang baku -''cakrawala harapan'' dalam termin estetika resepsi- dan karena itu tak boleh atau belum waktunya untuk diberi sajian eksperimental. Ini pendekatan yang muncul dari sindrom priayi anyar (kaum terdidik), yang menulis sastra Jawa baru dan dipublikasikan dalam bentuk teks di majalah atau buku, yang harus diapresiasi secara personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyepelean yang muncul dari fakta: sastra Jawa bagi wong desa dan seperti yang tampak dalam fenomena sastra Jawa tradisional, senantiasa tampil dalam wujud pergelaran sastra pertunjukan -macapat, wayang, atau dongeng/babad/hikayat- meski ada yang berbentuk teks dan disimpan sebagai pusaka keraton. Ketika sastra hanya tampil dalam pergelaran, penontonnya cukup datang untuk duduk manis tanpa harus membayar karcis atau membeli teks, tanpa perlu membawa referensi seni dan sastra apa pun karena semua penafsiran dan kelihaian untuk menghidupkannya menjadi tanggung jawab si penampil, dalang atau the story teller. Modalnya cuma ada waktu senggang atau berani menyisihkan kegiatan lain demi untuk menonton dan terhibur. Tertawa, keplok-keplok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra modern tertulis tak bisa mengambil alih fungsi inklusif sastra tradisional lisan (Jawa). Karena itu, mereka jadi pekerjaan serius di antara kelompok eksklusif kaum terdidik, yang malah minoritas di tengah kaum terdidik lain yang lebih peduli pada lifestyle hidup konsumtif perkotaan. Lantas, mereka menafsirkan sastra tradisional Jawa dan menganggapnya bukan pencapaian personal. Secara penulisan teks, memang tak ada eksplorasi. Tapi dalam penampilannya sebagai sastra pergelaran, para dalang atau the story teller itu -seperti Slamert Gundono atau Jayus Pete- adalah eksplorator yang gigih dan terbukti bisa menemukan alternatif pementasan dan sangat peka-lihai saat memanipulasi suasana dengan improvisasi genial yang menyebabkan pergelaran lebih memikat-orisinal dari tampilan teks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada faktanya, para sastrawan Jawa modern yang rancak melakukan eksplorasi fantasi dan imajinasi teks selalu terbata-bata bila menampilkan teks itu dalam disiplin happening art, kecuali Slamet Gundono atau Jayus Pete. Bagi saya, itu merupakan indikasi bahwa sastra Jawa hadir dalam dua wajah. Pertama, yang tekstual di media massa cetak dan karena itu menuntut kemampuan membelinya dan mengapresiasinya dengan referensi yang cocok dengan niat menulis si kreator. Kedua, yang live bersifat pergelaran (happening art), bergantung pada kemampuan si dalang untuk menghidupkan teks di panggung supaya memuaskan penonton yang datang tanpa beli karcis dan perlengkapan apresiasi referensi dakik-dakik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana kita fokus pada yang pertama. Mulai subsidi menerbitkan buku sastra, hadiah buku sastra tahunan, hingga gerakan resmi menyebarkan ke daerah dengan mendirikan banyak perpustakaan daerah dan sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kenapa tidak ada yang tertarik menyelenggarakan lomba macapat tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, nasional, dan internasional, seperti Festival Gamelan Internasional yang dirintis almarhum Sapto Rahardjo di Jogjakarta? Sementara itu, festival wayang disederhanakan jadi lomba mendalang, cenderung dipadatkan dan direduksi jadi hanya penilaian pada aspek-aspek elementer dari mendalang. Sehingga, hakikat pergelaran wayang sebagai sebuah pergelaran sastra pertunjukan yang sangat mengandalkan kemampuan seni pertunjukan sesuai kaidah happening art dilupakan. Aspek kenyamanan menonton, keterikatan penonton pada pergelaran, serta derajat keterhiburan menonton jadi acuan. Kita jadi tidak bisa fokus menilai sampai sejauh mana penonton (baca: kritikus, juri) mengapresiasi dan menarik makna dari pergelaran, yang bermula dari disiplin sastra tertulis yang butuh derajat keterdidikan tinggi dan inisiatif meluaskan wawasan personal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, menghidupkan sastra Jawa itu bermakna berusaha agar kita menyadari adanya proporsi, menjadi bijak, dan proporsional dengan tidak memakai kaidah sastra tertulis -yang diakomodasi dan diadaptasi dari sastra modern Barat dan Indonesia- untuk menghakimi representasi sastra tradisional lisan Jawa yang selalu tampil dan ditampilkan dalam kaidah happening art seni pertunjukan. Dengan itu, kita menjadikan sastra tradisional lisan Jawa terpinggirkan, dimarginalkan sebagai yang tidak menantang, yang tak memungkinkan eksplorasi kreatif demi sesuatu yang orisinal. Dengan kaidah seni pertunjukan yang menghadirkan teks sastra sebagai sastra pertunjukan, tantangan untuk melakukan eksplorasi tetap ada. Celakanya, kita abai sejak memilih menghadirkan sastra Jawa modern tertulis. Memang. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Beni Setia, pengarang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Jawa Pos, Minggu, 02 Agustus 2009 ]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-6936572412930434549?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/6936572412930434549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/pergelaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/6936572412930434549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/6936572412930434549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/08/pergelaran.html' title='Pergelaran'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-8243678886950800145</id><published>2009-07-24T19:55:00.000-07:00</published><updated>2009-07-24T19:56:50.061-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Bonari Nabonenar, Ndayakake sastra Jawa</title><content type='html'>Festival Sastra Jawa dan Desa kapisan bakal digelar tanggal 4-5 Agustus 2009 mapan ing Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Trenggalek, Jawa Timur. &lt;br /&gt;Salah siji paraga sing keraya-raya nyumadhiyakake kabeh ubarampe murih acara sing satemene arep digelar sasi Juni iki, nanging kepeksa diundur, yakuwi Bonari Nabonenar.&lt;br /&gt;Bonari dhewe pancen wus mataun-taun tanpa kendhat ngudi gumregahe sastra Jawa ing bebadan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). Lan saiki Bonari kapatah mangarsani bebadan iki.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalika wawangunem kalawan Espos ing Pendhapa Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, durung let suwe iki, Bonari nelakake duwe pangarep-arep murih acara Festival Sastra Jawa dan Desa bisa dadi acara taunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Acara iki diracik kanggo nyedhakake antarane sastrawan Jawa lan bebrayan agung Jawa. Miturut panemuku, wus mataun-taun pungkasan iki antarane sastrawan Jawa lan bebrayan agung Jawa ora gathuk. Iki ndadekake sastra Jawa panggah urip ing tlatah cengkar, ora mati nanging ya ora urip kanthi becik,” piterange Bonari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumantar acara sing nembe sepisan digelar iki, kaajab samengkone bisa ndudut krentege sastrawan Jawa, pandhemen sastra Jawa lan bebrayan agung Jawa kanggo ndayakaka sastra Jawa. Ing tembene, kaajab sastra Jawa bisa gumregah maneh ing madyaning bebrayan agung bangsa Indonesia. ::pra:: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.solopos.co.id/jajawa/keluaran.asp?id=11671"&gt;© Copyright Solopos.net on Kamis, 18 Juni 2009&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-8243678886950800145?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/8243678886950800145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/07/bonari-nabonenar-ndayakake-sastra-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8243678886950800145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8243678886950800145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/07/bonari-nabonenar-ndayakake-sastra-jawa.html' title='Bonari Nabonenar, Ndayakake sastra Jawa'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-1922999243138376813</id><published>2009-05-25T04:58:00.001-07:00</published><updated>2009-05-25T18:23:36.470-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>Rapat Panitia memutuskan FSJ-D 2009: 04 – 05 Agustus 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/ShtEg5jF60I/AAAAAAAAAV4/YJJnTXHe0B8/s1600-h/KOP-BARU.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 64px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/ShtEg5jF60I/AAAAAAAAAV4/YJJnTXHe0B8/s200/KOP-BARU.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339937115172367170" /&gt;&lt;/a&gt;Festival Sastra Jawa dan Desa yang semula akan digelar 17 – 18 Juni 2009, karena mbarengi Ujian Sekolah, ditunda ke: 04 – 05 Agustus 2009. Mengapa begitu jauhnya rentang penundaan itu? Sungguh susah mencari “hari baik”, maksudnya yang benar-benar leluasa. Ini pekerjaan bersama, melibatkan beberapa sanggar sastra Jawa dan setidaknya dua Jurusan Bahasa Jawa (Unesa dan Uness). &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni ini Pak Tiwiek SA (Tulungagung) punya hajat menikahkan putrinya. Juli ganti Daniel Tito (Sragen) yang punya hajat dan mengharap pula kehadiran kawan-kawan pengarang sastra Jawa. Kawan-kawan di Jogja juga ada sibuk terkait FKY. Nggoleki dina longgar dadi sangsaya angil tenan! Njuk ketemulah lagi ing Agustus 2009. Muga-muga ora mengkeretke semangate sing padha arep rawuh. Nuwun. []&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-1922999243138376813?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/1922999243138376813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/05/rapat-panitia-memutuskan-fsj-d-2009-04.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1922999243138376813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1922999243138376813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/05/rapat-panitia-memutuskan-fsj-d-2009-04.html' title='Rapat Panitia memutuskan FSJ-D 2009: 04 – 05 Agustus 2009'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/ShtEg5jF60I/AAAAAAAAAV4/YJJnTXHe0B8/s72-c/KOP-BARU.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-2681634230551309372</id><published>2009-05-21T00:38:00.000-07:00</published><updated>2009-05-21T00:39:00.777-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agenda'/><title type='text'>FSJ-D 2009 DIUNDUR PELAKSANAANNYA</title><content type='html'>Mohon maaf, baru ketahuan bahwa tgl 17 -18 Juni di Trenggalek sedang dilakukan Ujian Sekolah SD/SMP dan karena tim repotnya adalah Dinas Pendidikan dan Dinas Poraparibud, Trenggalek, dengan ini diputuskan untuk mengundur waktu pelaksanaan Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 (sekalian ke bulan Agustus), setelah selesai gawe nasional pilpres. (Slengekan: Jadi, kalau ada capres/cawapres mau urun sumbangan tidak tampak rame pamrihe, hehe).&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal mengenai tetek-bengek berkait penundaan ini akan diselesaikan dengan LEBIH CEPAT LEBIH BAIK serta api semangat, grengseng, dan tekad untuk menggelar FSJ-D 2009 tetap LANJUTKAN!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon pesereta akan segera dikirimi undangan lengkap dengan tanggal/waktu yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon dimaklumi,dimaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANITIA&lt;br /&gt;FSJ-D 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.nglarankita.blogspot.com&lt;br /&gt;www.ppsjs.blogspot.com&lt;br /&gt;sastrajawa@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-2681634230551309372?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/2681634230551309372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/05/fsj-d-2009-diundur-pelaksanaannya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2681634230551309372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2681634230551309372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/05/fsj-d-2009-diundur-pelaksanaannya.html' title='FSJ-D 2009 DIUNDUR PELAKSANAANNYA'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-1630571527994338370</id><published>2009-05-20T21:16:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T21:19:08.395-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Pangaji-aji kanggo ngawekani cengkare sastra Jawa</title><content type='html'>Sastra Jawa urip ing tlatah cengkar. Ukara mangkono kuwi asring kaprungu ing patemon para sastrawan Jawa lan pandhemen sastra Jawa. Kepara wus wiwit taun 1970-an ana pambiji yen sastra Jawa kuwi wus mati. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cengkare tlatah uripe sastra Jawa, miturut Khoirul Soleh, panggurit sing dedunung ing Donohudan, Boyolali lan Sriyana, panganggit sastra Jawa lan pandhemen sastra Jawa sing dedunung ing Klaten, pancen ora bisa diselaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cengkare tlatah uripe sastra Jawa bisa kadulu saka kanyatan yen makarya ing jagad sastra Jawa kuwi nganti saiki ora bisa dijagakake kanggo cagak urip. Beda kalawan jagad sastra Indonesia. Saliyane kuwi, pananggape bebrayan agung marang sastra Jawa uga kurang greget. Kaya-kaya sastra Jawa kuwi mung wates duweke wong-wong karang pradesan, wong-wong pinggiran,” pratelane Khoirul, nalika wawangunem kalawan Espos ing sawijining acara ruwatan ing tlatah Sumber, Solo, durung suwe iki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dene miturut Sriyana, cengkare wewengkon uripe sastra Jawa uga bisa kadulu saka kanyatan yen sithik banget penerbit sing gelem nyithak buku-buku sastra abasa Jawa. Lan yen ta dicithak cacahe uga ora sepiraa. Kamangka sing aran buku kuwi dibutuhake banget tumrap upaya ndayakake sastra Jawa ing jaman global iki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku sarujuk marang panemune Suparto Brata nalika medhar andharan ing Pendhapa Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, sawetara wektu kapungkur. Panjenengane nelakake yen sastra Jawa pengin oncat saka tlatah cengkar lan bisa ngrembaka ing tlatah loh kudu disengkuyung kanthi industri buku sastra Jawa,” pratelane Sriyana nalika wawangunem kalawan Espos ing griyane, sawetara dina kapungkur.&lt;br /&gt;Kalorone uga sarujuk yen cengkare sastra Jawa kuwi uga jalaran sasuwene iki ora ana pangaji-aji kang murwat tumrap sastrawan asil karya sastra Jawa. Pangaji-aji tumrap sastra Jawa sing kapetung onja utawa dhuwur gengsi-ne hamung pangaji-aji Rancage. Kamangka Yayasan Rancage kuwi dudu yayasan duweke wong Jawa, nanging yayasan sing dikemonah dening wong Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rancage&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrawan Jawa saka Trenggalek, Jawa Timur, Bonari Nabonenar, lumantar tulisan ing blog-e lan uga lumantar cathetan sing diunggahake ing facebook, mbiji yen pangaji-aji Rancage tumrap sastra Jawa kuwi kudune kuwawa ndudut rasa isine bebrayan agung Jawa dhewe.&lt;br /&gt;Pangaji-aji sing dhuwur gengsi-ne tumrap sastra Jawa, yakuwi pangaji-aji Rancage, kanyata diwenehake dening wong Sunda. Tegese, wong sanjabane Jawa luwih mehak Jawa tinimbang wong Jawa dhewe. Pangaji-aji Rancage tansah dienteni minangka acara kang pinuji, ora mung tumrap para sastrawan Sunda, nanging uga sastrawan Jawa, Bali lan Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miturut Bonari, yektine wong Jawa dhewe ora kangelan yen pengin suka pangaji-aji kang murwat, kayadene Rancage, tumrap sastrawan lan asil karya sastra Jawa. Emane, sasuwene iki ora ana pehak ing madyaning bebrayan agung Jawa sing duwe krenteg kanggo suka pangaji-aji kasebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamula kuwi, para sastrawan Jawa dhewe, uga para pandhemen sastra Jawa, prelu rembugan lan nemtokake apa bebrayan agung Jawa dhewe prelu suka pangaji-aji kayadene Rancage kuwi tumrap sastra Jawa. Yen kanyata saperangan gedhe duwe panemu yen prelu, kudu ana upaya kanggo nggandheng pamarentah Jawa Tengah, Jawa Timur lan Daerah Istimewa Yogyakarta sing mujudake paprentahan sing mbawahi tlatah uripe sastra Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yen pamarentah ing telung wewengkon propinsi kuwi kanyata ora duwe greget kanggo mujudake pangaji-aji sing dhuwur gengsi-ne tumrap sastra Jawa, para sastrawan lan pandhemen sastra Jawa, uga pehak sing preduli marang sastra Jawa, prelu mangun bebadan utawa komunitas kanggo ngimpun daya lan prabeya murih bisa mujudake pangaji-aji kang murwat tumrap sastra Jawa. Lan ing taun 1990-an, upaya iki wus nate diawiti dening Suparto Brata, Tamsir AS lan swargi Esmiet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing andharan tinulise, Bonari uga nelakake yen wiwit taun 1991 pamarentah propinsi Jateng, Jatim lan DIY tansah nyengkuyung acara Kongres Bahasa Jawa (KBJ). Miturut gotheking wong akeh, acara KBJ taun 2006 ing Semarang disengkuyung prabeya Rp 5 milyar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saka prabeya pangaji sakmono kuwi prayoga banget yen bisa nyisihake saperangan kanggo pangaji-aji tumrap karya sastra lan sastrawan Jawa. Yen saben taun bisa dibiji lima sastrawan lan pandhemen sastra Jawa sing nuduhake kridha nyata ing jagad kabudayan Jawa lan diparingi pangaji-aji Rp 10 yuta saben wong (pangaji-aji Rancage jarene Rp 5 yuta saben wong) ateges mung prelu nyepakake prabeya Rp 50 yuta saben taun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yen telu pamarentah propinsi mau gelem nanggung, ateges saben pamarentah mung cukup nyedhiyakake prabeya Rp 20 yuta saben taun utawa Rp 100 yuta ing limang taun. Prabeya sakmene iki kapetung ora mingsra tumrap pamarentah, nanging gedhe pangajine tumrap upaya ndayakake lan ngrembakakake sastra Jawa ing jaman global iki. [pra]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.solopos.co.id/jajawa/keluaran.asp?id=11595"&gt;Jagad Jawa Solopos&lt;br /&gt;Edisi : Kamis, 14 Mei 2009 , Kaca : D&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-1630571527994338370?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/1630571527994338370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/05/pangaji-aji-kanggo-ngawekani-cengkare.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1630571527994338370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1630571527994338370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/05/pangaji-aji-kanggo-ngawekani-cengkare.html' title='Pangaji-aji kanggo ngawekani cengkare sastra Jawa'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-2462217818549265891</id><published>2009-05-18T19:32:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T19:37:13.681-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Ketika Globalisasi Mengancam</title><content type='html'>Globalisasi sesungguhnya bukanlah sekadar kemajuan teknologi (terutama teknologi komunikasi) yang menjadikan bumi seolah hanya segenggaman, melainkan juga peningkatan potensi ancaman terhadap budaya dan kearifan lokal. Oleh karenanya, Globalisasi mengancam, merongrong berbagai-bagai kearifan lokal, termasuk nilai-nilai kebersamaan dan kegotongroyongan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerangka upaya meredam dampak negatif globalisasi itu, kami menggagas Festival Sastra Jawa dan Desa di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, 17 – 18 Juni 2009. Kegiatan tersebut diharapkan juga menjadi silaturahmi budaya antar-sastrawan dan para pemerhati Kebudayaan Jawa. Peserta kegiatan adalah sastrawan, akademisi, redaktur media cetak berbahasa Jawa terutama dari 3 daerah pendukung utamanya: Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jumlah undangan (sastrawan) sekitar 100 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pilih desa sebagai tempat pelaksanaan acara ini sebagai bentuk perhatian, bahkan penghormatan, karena desa bisa dipandang sebagai benteng terakhir pertahanan budaya Jawa. Selain itu, di Trenggalek terdapat cukup banyak penulis/pangarang sastra Jawa, berbagai kesenian tradisional, bahkan di desa tempat penyelenggaraan FSJ-D 2009 ini tinggal seorang dalang cilik yang berprestasi di tingkat nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, semoga Pemerintah dan para pemangku kebudayaan termasuk seni dan sastra Jawa, dapat memberikan dukungan demi kelancaran kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANITIA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-2462217818549265891?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/2462217818549265891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/05/ketika-globalisasi-mengancam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2462217818549265891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2462217818549265891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/05/ketika-globalisasi-mengancam.html' title='Ketika Globalisasi Mengancam'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-7622245118532815845</id><published>2009-05-11T23:58:00.000-07:00</published><updated>2009-05-12T00:09:31.977-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FSJ 2009'/><title type='text'>Festival Sastra Jawa dan Desa: Trenggalek, 17 – 18 Juni 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Sgkgmr_37YI/AAAAAAAAAVo/FeIT_-UHr8c/s1600-h/kop-copy.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 94px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Sgkgmr_37YI/AAAAAAAAAVo/FeIT_-UHr8c/s400/kop-copy.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334831082614812034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[I] DASAR PEMIKIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Jawa adalah warga sastra Indonesia dan juga sastra dunia, yang layak diberi ruang hidup, tumbuh dan berkembang sesuai keinginan masyarakat pendukungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawa Timur memiliki tokoh-tokoh yang disegani di jagad sastra Jawa. Di Surabaya ada Dr. Suripan Sadi Hutomo [alm.], Suparto Brata, Satim Kadaryono, Drs. Moechtar, Suharmono Kasiyun, Widodo Basuki, di Tulungagung ada Tamsir AS (alm.), Tiwiek SA, di Bojonegoro ada Djayus Pete, JFX Hoery, di Banyuwangi ada Esmiet [alm.], di Mojokerto ada ST Iesmaniasita [alm.] sekedar menyebut mereka yang pernah mendapatkan Hadiah Rancage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Jawa Timur juga memiliki Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Dua buah majalah berbahasa Jawa dengan kesejarahan panjang yang hingga saat ini masih memiliki pembaca setia, yang sebagian besar adalah masyarakat desa. Hal itu menunjukkan bahwa sebagian besar pendukung sastra Jawa modern adalah masyarakat daerah pinggiran maupun pedesaan. Sayangnya kenyataan tersebut tidak serta-merta memunculkan keberpihakan para sastrawan terhadap masyarakat desa dengan segala persoalannya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2005, desa adalah suatu kesatuan masyarakat undang-undang yang memiliki batas-batas wilayah yang berupaya untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada batasan tersebut, desa dapat diartikan sebagai sebuah wilayah dengan segela keunikannya yang dilindungi oleh negara. Namun dalam berbagai wacana, ternyata terminologi desa lebih sering dikaitkan dengan persoalan kemiskinan, kebodohan, serta ketertinggalan-ketertinggalan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dalam kenyataannya, desa identik dengan segala ketertinggalan. Terlebih dalam hal pertumbuhan ekonomi yang merupakan titik berat Program Pembangunan Nasional di negri ini. Pembangunan serta investasi yang lebih banyak terfokus di kota menjadikan kondisi desa tidak berubah dari masa ke masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa hanya difungsikan sebagai wilayah penghisapan pusat pembangunan di kota-kota. Bukan hanya kota-kota di wilayah terdekatnya, melainkan juga di tingkat nasional, maupun internasional. Bahkan kota-kota di negara berkembang dapat dikatakan sebagai perantara sumber daya ke negara maju saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski telah terjadi pergantian pemimpin berkali-kali, secara umum kondisi desa-desa di wilayah Indonesia tidak banyak mengalami perbaikan. Paradigma pembangunan menjadikan sumber daya terpusat di sektor dan kawasan yang potensial menyumbang pertumbuhan ekonomi. Hal ini menyebabkan perpindahan sumber daya secara besar-besaran ke pusat-pusat pertumbuhan. Akibatnya terjadi penurunan kualitas lingkungan serta kelangkaan individu potensial di pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trenggalek, sebuah kabupaten yang sebagian besar wilayahnya merupakan pedesaan mengalami permasalahan yang sama. Selain sumber daya alam yang terus mengalir ke kota-kota lain, potensi warga kabupaten ini juga lebih banyak memberikan sumbangan pada kota-kota di sekitarnya, termasuk kota provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan potensi sastrawannya. Nama-nama seperti: Widodo Basuki (Munjungan/Redaktur Jaya Baya), St Sri Purnanto (Panggul), Jarot Setiyono, Nanang Windradi (Trenggalek), Edy Santosa (Durenan), Sita T Sita (Pogalan), dipandang cukup mewarnai perkembangan dunia sastra Jawa modern. Mereka adalah sastrawan Jawa asal Trenggalek, namun selama ini kurang berkontribusi secara optimal terhadap daerah asal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya perlu dipertegas peran apa yang harus dilakukan oleh para pengarang/sastrawan Jawa dalam rangka berpartisipasi pada pembangunan masyarakat pedesaan, terlebih di Era Global seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival Sastra Jawa yang rencananya digelar di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trengalek, Jawa Timur, diharapkan dapat menjawab persoalan di atas sehingga mampu menumbuhkan kembali kebanggaan masyarakat akan desanya. Dengan demikian, sastra tidak lagi menjadi karya yang berjarak dengan pendukungnya, karena mampu menyuarakan persoalan masyarakat. Termasuk di antaranya masyarakat pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, Festival Sastra Jawa bisa dijadikan agenda tahunan, sebagai upaya untuk menuju forum ’’silaturahmi budaya’’ yang lebih besar (berskala nasional) yang kelak bisa dinamakan Festival Sastra Etnik Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[II] NAMA KEGIATAN&lt;br /&gt;Nama kegiatan yang direncanakan ini adalah Festival Sastra Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[III] TEMA&lt;br /&gt;Tema Festival Sastra Jawa 2009 adalah: Desa dan Sastra Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[IV] WAKTU DAN TEMPAT&lt;br /&gt;Waktu: 17 – 18 Juni 2009&lt;br /&gt;Tempat: Desa Cakul, Kec. Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[V] TUJUAN&lt;br /&gt;[1] Terbukanya ruang ekspresi alternatif bagi sastrawan Jawa.&lt;br /&gt;[2] Tergalinya informasi melalui ’’dokumen kebudayaan’’ yang berupa karya-karya sastra [novel, cerpen, puisi] berbahasa Jawa.&lt;br /&gt;[3] Terbangunnya kesadaran pengarang/sastrawan Jawa akan peran dan tanggung jawab sosial mereka terhadap masyarakat.&lt;br /&gt;[5] Tumbuhnya generasi yang menghormati kebudayaan sendiri untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, bergaul secara damai, saling menghormati, sehingga menjadi generasi bangsa yang bisa dengan luwes bergaul dengan bangsa-bangsa lain di dunia.&lt;br /&gt;[6] Terbangunnya kebanggaan masyarakat akan desanya.&lt;br /&gt;[7] Termotivasinya masyarakat untuk berkarya bagi dan di desanya.&lt;br /&gt;[8] Terbukanya akses informasi warga desa ke sumber-sumber informasi terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[VI] BENTUK KEGIATAN (jadwal terlampir)&lt;br /&gt;[1] Sarasehan dan Sastra Jawa&lt;br /&gt;[2] Sarasehan Desa&lt;br /&gt;[3] Seminar Pembelajaran Bahasan dan Sastra Jawa untuk guru SD dan SMP&lt;br /&gt;[4] Pentas Seni&lt;br /&gt;[5] Pameran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[VII] PESERTA&lt;br /&gt;[A] Sarasehan Sastra diikuti oleh sastrawan (Jawa), pemerhati, akademisi, semuanya berjumlah sekitar 100 orang.&lt;br /&gt;[B] Sarasehan Desa diikuti oleh warga Desa Cakul dan perwakilan dari 10 desa di Kecamatan Dongko, seluruhnya berjumlah sekitar 100 orang.&lt;br /&gt;[C] Seminar Nasional untuk Guru (SD-SMP) Bahasa Jawa sekitar 500 orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[VIII] NARASUMBER&lt;br /&gt;A Sarasehan Sastra&lt;br /&gt;[1] Arswendo Atmowiloto [Budayawan]*&lt;br /&gt;[2] Drs. Amir Machmud, M.Hum [Kepala Balai Bahasa Jawa Timur]&lt;br /&gt;[3] Sri Widati Pradopo, M Hum [Balai Bahasa Yogyakarta]&lt;br /&gt;[4] Sucipto Hadi Purnomo, M.Hum [Dosen Uness]&lt;br /&gt;[5] Siti Aminah [Pengarang, Pekerja Komunitas]&lt;br /&gt;[6] Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan [Guru Besar Unesa]*&lt;br /&gt;[7] D Zawawi Imron [Budayawan]&lt;br /&gt;B Sarasehan Desa&lt;br /&gt;[8] Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Trenggalek*&lt;br /&gt;[9] Purwanto [Kelompok Tani Bangunrejo Godean, Sleman]&lt;br /&gt;[10] Tugiman [Penggerak Kampung Seni, Piyungan, Bantul]&lt;br /&gt;[11] Qobul, S.H. [Kelompok Lelang Hasil Pertanian, Galur, Kulonprogo]&lt;br /&gt;C. Seminar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Jawa&lt;br /&gt;[12] Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Trenggalek*&lt;br /&gt;[13] Drs. Agus Yuwono, M.Si., M.Pd. (Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang )&lt;br /&gt;[14] Drs Sugeng Wiyadi (Dosen Jurusan Bahasa Jawa Unesa)&lt;br /&gt;[15] Sugeng Adipitoyo, M.Hum (Dosen Jurusan Bahasa Jawa Unesa)&lt;br /&gt;*) dalam konfirmasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[IX] PENYELENGGARA&lt;br /&gt;Penyelenggara kegiatan ini adalah Organisasi Pengarang Sastra Jawa, Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya [PPSJS], dan Sanggar Triwida, bekerja sama dengan SD/SMP Satu Atap dan Karang Taruna Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[X] PANITIA&lt;br /&gt;Pelindung: [1] Gubernur Jawa Timur, [2] Bupati Trenggalek&lt;br /&gt;Penasihat: [1] Kepala Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek, [2] Drs. Agus Yuwono, M.Si., M.Pd. (Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang ), [3] Arswendo Atmowiloto, [3] Suparto Brata, [4] RM Yunani Prawiranagara, [5] Drs.Sunarko Budiman, M.Pd. (Ketua Sanggar Triwida), [6] Sucipto Hadi Purnomo, M Hum (Ketua Oraganisasi Pengarang Sastra Jawa)&lt;br /&gt;Ketua: Bonari Nabonenar (Sekretaris OPSJ)&lt;br /&gt;Sekretaris: Sarwan, SPd (Kepala SD/SMPN Satu Atap Desa Cakul, Kec. Dongko, Trengalek)&lt;br /&gt;Penggalian Dana: Kicuk Parta (Pemimpin Redaksi Jaya Baya), R Djoko Prakosa M.Hum. (STKW Surabaya),&lt;br /&gt;Humas: Leres Budi Santosa (Eksekutif Produser JTV)&lt;br /&gt;Sarasehan: We Haryanto (Balai Bahasa Jawa Timur), Edi Santosa, SPd&lt;br /&gt;Panggung: Sumono Sandiasmoro, SPd&lt;br /&gt;Pentas: Aming Amonoedhin (Balai Bahasa Jawa Timur), R. Giryadi (Surabaya Post)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[XI] ALAMAT PANITIA&lt;br /&gt;[1] Dusun Nglaran Desa Cakul, Kec. Dongko, Kab. Trenggalek, Jawa Timur&lt;br /&gt;[2] Kontak Person: +62818374138 [Bonari]&lt;br /&gt;[3] email: sastrajawa@yahoo.com&lt;br /&gt;[4] blog: www.nglarankita.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[XII] MEDIA PENDUKUNG&lt;br /&gt;Panitia berharap mendapatkan dukungan publikasi dan/atau sponsor dari media cetak maupun elektronik, antara lain: Jaya Baya, Panjebar Semangat, Kantor Berita Antara Biro Jatim, Jawa Pos, Radar Tulungagung, SoloPos, Suara Merdeka, Tabloid Intermezo (Hong Kong), dan Radar Taiwan (Taiwan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[XIII] PENDANAAN (rincian terlampir)&lt;br /&gt;[1] Kebutuhan: Rp 57.582.500 (lima puluh tujuh juta lima ratus delapan puluh dua ribu lima ratus rupiah)&lt;br /&gt;[2] Rencana Pemasukan dari kas OPSJ, kontribusi warga desa, kontribusi peserta seminar dan sarasehan, kontribusi peserta pameran: Rp 36.750.000 (tiga puluh enam juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah)&lt;br /&gt;[3] Kekurangan sebesar Rp 20.832.500 (dua puluh juta delapan ratus tiga puluh dua ribu lima ratus rupiah) diharap tertutup oleh subsidi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Instansi Terkait, dan donator perorangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris                                               Ketua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarwan, M.Pd                                              Bonari Nabonenar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Organisasi Pengarang Sastra Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sucipto Hadi Purnomo, M.Hum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-7622245118532815845?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/7622245118532815845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/05/festival-sastra-jawa-dan-desa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7622245118532815845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7622245118532815845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/05/festival-sastra-jawa-dan-desa.html' title='Festival Sastra Jawa dan Desa: Trenggalek, 17 – 18 Juni 2009'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Sgkgmr_37YI/AAAAAAAAAVo/FeIT_-UHr8c/s72-c/kop-copy.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-5647125400344309806</id><published>2009-05-09T08:54:00.000-07:00</published><updated>2009-05-09T08:56:35.689-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Pemprov Jatim Targetkan 2009 Serap Anggaran 80 Persen</title><content type='html'>Tak tanggung-tanggung, untuk tahun 2009 Pemrov Jatim menargetkan serapan anggaran Jatim harus mencapai target sebesar 80%. Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur, Setia Purwaka SIP MM mengatakan, target serapan 80%, itu harus dilakukan karena anggaran di Jatim merupakan anggaran berbasis kinerja, artinya jika jika daya serapnya rendah, maka kinerja juga rendah. “Karena itu, menyusun anggaran jangan hanya menyusun yang tanpa dasar dan tujuan, namun harus melalui penelaahan yang komprehensif serta asas musyawarah untuk pembangunan Jatim,” ujarnya &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang terserapnya dana yang tersedia, menurut Setia selain adanya krisis finansial juga karena adanya beberapa kali revisi anggaran, sehingga menjadi kecepatan penyerapan terganggu. Karena itu, ia berharap agar dengan sisa waktu yang ada dapat menyerap APBD dengan baik. Jika APBD terserap berarti ada konsumsi dan belanja sehingga roda ekonomi berputar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara berdasarkan hasil rekapitulasi penyerapan anggaran dari dana APBN sebesar Rp 20,55 triliun, berhasil diserap Rp 14,92 triliun sehingga tersisa Rp 5,6 triliun atau terserap 72,63%. Dari dana APBD Propinsi sebesar Rp 7,31 triliun, berhasil diserap Rp 5,25 triliun sehingga tersisa Rp 2,06 triliun atau terserap 71,79%, sedang dari dana APBD kabupaten/Kota sebesar Rp 32,22 triliun, berhasil diserap Rp 21,66 triliun sehingga tersisa Rp 10,55 triliun atau terserap 67,24%. Secara keseluruhan dana anggaran yang diperoleh sebesar Rp 60,09 triliun, berhasil diserap Rp 41,84 triliun sehingga tersisa Rp 18,25 triliun atau terserap 69,64%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu rekapitulasi penyerapan anggaran per Kabupaten/Kota, Jombang berhasil menyerap 65%, Pacitan 77%, Pamekasan 68%, Tulungagung 80%, Bondowoso 73%, Situbondo 60%, Kabupaten Probolinggo 75%, Lamongan 78%, Kabupaten Mojokerto 64%, Kota Blitar 56%, Kota Malang 76%, Kota Batu 54%, Kota Madiun 75%, Sumenep 68%, Banyuwangi 57%, Tuban 63%, Nganjuk 72%, Kota Mojokerto 64%, Kabupaten Blitar 70%, Kabupaten Kediri 60%, Sidoarjo 70%, Kabupaten Malang 80%, Kabupaten Pasuruan 67%, Sampang 58%, Magetan 69%, Jember 67%, Ponorogo 69%, Bangkalan 79%, Kota Pasuruan 48%, Kota Kediri 47%, Gresik 65%,&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Trenggalek 52%,&lt;/span&gt; Kota Probolinggo 74%, Bojonegoro 66%, Kabupaten Madiun 75%, Kota Surabaya 47%, Lumajang 77%, dan Ngawi sebesar 83%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain serapan bagi pendapatan daerah kabupaten /kota, beberapa dinas atau badan dilingkungan Pemprov Jatim juga dibebani target serapan anggaran, antara lain berdasarkan rekapitulasi penyerapan anggaran per satker dlingkungan badan/dinas/kantor dilingkungan Propinsi Jatim, Badan Arsip 76%, Kesbang 89%, Ketahanan Pangan 89%, Pemberdayaan Masyarakat 72%, Badan Penanaman Modal 76%, Diklat 68%, Balitbang 77%, Badan Pengawasan 68%, Bapedalda 64%, BPDE 83%, Bappeprop 71%, Badan Perpustakaan 87%, Bakorwil Madiun 67%, Bakorwil Bojonegoro 78%, Bakorwil Malang 81%, Bakorwil Pameksan 67%, Biro Administrasi Pembangunan 86%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biro Hukum 63%, Biro Kepegawaian 56%, Biro Kerjasama 80%, Biro Kesra 66%, Biro Keuangan 75%, Biro Mental Spiritual 81%, Biro Organisasi 70%, Biro Pemerintahan 62%, Biro Otonomi 48%, Biro Perlengkapan 50%, Biro Umum 70%, DPRD 89%, Dinas ESDM 76%, Dinas Infokom 78%, Dinas Kehutanan 75%, Dispora 75%, Dispenduk 78%, Dinas Kesehatan 60%, Dinas Koperasi 79%, Dinas LLAJ 60%, Dinas Pariwisata 87%, Dinas PU Bina Marga 78%, Dinas Pengairan 73%, Dinas Permukiman 70%, Dispenda 78%, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan 68%, Dinas Perhubungan 65%, Dinas Perikanan dan Kelautan 65%, Dinas Perindustrian 74%, Dinas Perkebunan 76%, Dinas Pertanian 61%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinas Peternakan 69%, Dinas Sosial 82%, Dinas Tenaga kerja 85%, Kantor Kas Daerah 84%, Kantor Perwakilan Jatim 81%, Satpol PP 78%, RSU Haji Surabaya 48%, RS Jiwa Menur 68%, RS Kota Kediri 61%, RS Kota Mojokerto 44%, RS Paru Paru Batu 55%, RS Paru Paru Madiun 65%, RS Paru Paru Jember 45%, RS Soedono Madiun 39%, RS Dr Soetomo Surabaya 43%, RS Syaiful Anwar Malang 40%, dan Sekretariat DPRD berhasil menyerap 70%. (Three)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 30 November 2008, 00:22 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.berita8.com/news.php?tgl=2008-11-30&amp;cat=3&amp;id=6196"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-5647125400344309806?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/5647125400344309806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/05/pemprov-jatim-targetkan-2009-serap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/5647125400344309806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/5647125400344309806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/05/pemprov-jatim-targetkan-2009-serap.html' title='Pemprov Jatim Targetkan 2009 Serap Anggaran 80 Persen'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-4389843770945012181</id><published>2009-04-25T02:00:00.000-07:00</published><updated>2009-04-25T02:01:17.401-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>PSJB akan Pentaskan Wayang Trobos: Poli Tikus</title><content type='html'>Mendukung/berpartisipasi untuk FSJ-2009 di DesaCakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (17 – 18 Juni 2009) Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro di bawah komandan Pak JFX Hoery akan mementaskan wayang trobos (pakeliran teatrikal) dengan lakon Poli Tikus, berdurasi 45 menit. Pemilik buku guritan Pagelaran itu melalui SMS mengatakan bahwa rombongan PSJB kira-kira berkekuatan 15 – 20 orang, termasuk pemilik situs www.babungeblog.blogspot.com (Sri Lestari) dari Blora.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-4389843770945012181?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/4389843770945012181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/psjb-akan-pentaskan-wayang-trobos-poli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4389843770945012181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/4389843770945012181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/psjb-akan-pentaskan-wayang-trobos-poli.html' title='PSJB akan Pentaskan Wayang Trobos: Poli Tikus'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-763067593899400230</id><published>2009-04-19T17:14:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T17:17:14.480-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Teater Garasi di Desa Cakul, Kec. Dongko, Trenggalek, 3 Mei 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Seu-5UHg6zI/AAAAAAAAAVY/ZHOwnMbf520/s1600-h/Sum.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Seu-5UHg6zI/AAAAAAAAAVY/ZHOwnMbf520/s200/Sum.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326560876157791026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sum, Sebuah Cerita dari Rantau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fragmen Getir Para Pekerja Migran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegetiran menjadi nafas yang seketika terhirup begitu Very memulai pementasan ini. Sum, Sebuah Cerita dari Rantau, adalah monolog produksi Teater Garasi yang menceritakan empat fragmen kisah buruh migran yang terhubung satu sama lain oleh ’aku’ yang diceritakan tengah melakukan studi tentang buruh migran. Keempat buruh migran perempuan tersebut bekerja di empat negara berbeda, namun semuanya memiliki cerita yang relatif sama. Perih, getir. Walaupun pada beberapa bagian, penonton diajak tertawa oleh keluguan tokoh yang diceritakan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adengan dibuka dengan keriangan Sum, seorang calon buruh migran dari Indramayu yang hendak berangkat ke Saudi. Keriangan yang bercampur kebingungan dan ketidakpastian mengingat tempat kerja yang akan dituju begitu jauhnya dari kampung kelahirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh lain yang dihadirkan dalam monolog ini adalah seorang mantan pekerja migran di Malaysia. Tokoh ini diceritakan demikian kuat harga dirinya, tak hanya harkat diri yang coba ia pertahankan di Negri Jiran, tetapi juga harga diri bangsanya. Dalam cerita tersebut, ditampilkan betapa marah ia disebut sebagai ’Indon’ karena dalam kata tersebut terkandung perendahan terhadap martabat bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya penonton yang diajak merenung untuk akhirnya diajak membuka mata terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Very sendiri, selaku pemain dan penggagas cerita merasa bahwa lakon ini sebegitu kuat mempengaruhi pikirannya. Ia yang selama 15 tahun berproses bersama Garasi mengaku, dalam lakon inilah segenap pikiran, perasaan, dan tenaganya ’habis-habisan’ ia curahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monolog sendiri sebenarnya merupakan program baru dari Teater Garasi. Berawal dari kegelisahan tenggelamnya individu dalam kelompok, pada tahun 2006 dimunculkanlah program bernama Solo Project. Dalam program ini, setiap pekerja kreatif difasilitasi sehingga, ’’Masing-masing bisa tumbuh, mandiri, tidak tertutup oleh Garasi,’’ jelas Very. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon Sum yang diangkat Very, terinspirasi oleh pementasan monolog seorang aktris monolog yang menggelar pertunjukan di Jakarta. Menonton pertunjukan tersebut, membuat Very membulatkan tekad, ’’Aku harus bermain bagus.’’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruh migran menarik perhatiannya karena ia melihat sebegitu besar dan rumitnya persoalan mereka. Tak hanya kemiskinan, tiadanya lapangan pekerjaan, serta perbedaan budaya saja yang harus dihadapi para buruh migran ini. Lebih dari itu, hal yang demikian besar, terkait dengan kebijakan pemerintah, politik antarnegara, hingga jaringan perdagangan manusia menyatu di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih setahun lamanya, Very melakukan observasi dan pengumpulan data untuk lakon ini. Kenyataan yang ia temukan dalam setahun tersebut justru membuatnya ingin melakukan studi lebih lanjut lagi. ’’Ini lingkaran setan. Aku sempat merasa marah,’’ komentarnya terhadap fakta yang ia dapatkan. ’’Tidak fair bagi mereka.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas monolog ini digelar pertama kali bulan November 2008, di sebuah desa di wilayah DI Yogyakarta yang sebagian warganya menjadi buruh migran. Bulan Mei 2009 ini, rencananya Very akan kembali mementaskan monolognya di di desa-desa di wilayah Jombang, Tulungagung, dan Trenggalek. [am]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-763067593899400230?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/763067593899400230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/teater-garasi-di-desa-cakul-kec-dongko.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/763067593899400230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/763067593899400230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/teater-garasi-di-desa-cakul-kec-dongko.html' title='Teater Garasi di Desa Cakul, Kec. Dongko, Trenggalek, 3 Mei 2009'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Seu-5UHg6zI/AAAAAAAAAVY/ZHOwnMbf520/s72-c/Sum.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-3959730208672420776</id><published>2009-04-17T05:24:00.000-07:00</published><updated>2009-04-17T05:29:09.737-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Tumbuhkan Kebanggaan Warga akan Desanya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Seh17VJ9U9I/AAAAAAAAAUo/Jtw3qOJ8-KI/s1600-h/0415tulungagung.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 181px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Seh17VJ9U9I/AAAAAAAAAUo/Jtw3qOJ8-KI/s200/0415tulungagung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325636221517255634" /&gt;&lt;/a&gt;Jika tak ada aral, Festival Sastra Jawa dan De¬sa (FSJD) 2009 bakal di¬gelar di Desa Cakul, Ke¬¬camatan Dongko, Kabu¬paten Trenggalek, Jawa Timur (17 – 18 Juni). Se¬ta¬hu saya, sejauh ini be¬lum pernah digelar festival untuk sastra Jawa. Yang sering digelar ada¬lah sarasehan. Dari sisi kuantitatif ini akan me¬nam¬bah agenda dalam sastra Jawa. Kongres sas¬tra Jawa (KSJ) sudah digelar untuk kedua kalinya (Semarang, September 2006). Kongres Bahasa Ja¬wa sudah digelar 4 kali sejak 1991.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu agenda lagi yang mewarnai perkembangan sastra Jawa (modern) yakni pemberian penghargaan tahunan untuk buku dan tokoh sastra Jawa (bersama buku dan tokoh dari jagad sastra Sunda, Lampung, Bali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongres Bahasa Jawa (KBJ) adalah hajat bersama tiga daerah (Jawa Tengah, Daerah Isti¬mewa Yogyakarta, dan Jawa Timur). Biayanya pun ditanggung oleh ketiga pemerintah daerah tersebut. Sekitar Rp 5 miliar dihabiskan untuk penyelenggaraan KBJ IV (Semarang 2006). Ada ironi di sini. Dana bermiliar-miliar bisa dikelu¬arkan untuk kongres 5 tahunan itu, sedangkan pemberian hadiah tahunan untuk 2 orang (de¬ngan nilai Rp 5 juta/orang) selama ini baru bisa diberikan oleh pihak ’’luar Jawa’’, yakni Yaya¬san Rancage yang semula didirikan sastrawan Ayip Rosidi untuk Sastra Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FSJD 2009, mengapa perlu ditambahkan unsur D (desa) dan tidak fokus pada SJ (Sastra Jawa) saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Jawa (di Jawa Timur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Jawa adalah warga sastra Indonesia dan juga sastra dunia, yang layak diberi ruang hi¬dup, tumbuh dan berkembang sesuai keinginan masyarakat pendukungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawa Timur memiliki tokoh-tokoh yang dise¬gani di jagad sastra Jawa. Di Surabaya ada Dr. Suripan Sadi Hutomo [alm.], Suparto Brata, Satim Kadaryono, Drs. Moechtar, Suharmono Kasiyun, Widodo Basuki, di Tulungagung ada Tam¬sir AS (alm.), Tiwiek SA, di Bojonegoro ada Djayus Pete, JFX Hoery, di Banyuwangi ada Esmiet [alm.], di Mojokerto ada ST Ies¬mani¬asita [alm.] sekedar menyebut mereka yang per¬nah mendapatkan Hadiah Rancage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Jawa Timur juga memiliki Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Dua buah majalah berba¬hasa Jawa dengan kesejarahan panjang yang hingga saat ini masih memiliki pembaca setia, yang sebagian besar adalah masyarakat desa. Hal itu menunjukkan bahwa sebagian besar pendu¬kung sastra Jawa modern adalah masyarakat daerah pinggiran maupun pedesaan. Sayangnya kenyataan tersebut tidak serta-merta memuncul¬kan keberpihakan para sastrawan terhadap ma¬syarakat desa dengan segala persoalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2005, desa adalah suatu kesatuan masyarakat un¬dang-undang yang memiliki batas-batas wilayah yang berupaya untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada batasan tersebut, desa dapat diar¬tikan sebagai sebuah wilayah dengan segela keunikannya yang dilindungi oleh negara. Na¬mun dalam berbagai wacana, ternyata termino¬logi desa lebih sering dikaitkan dengan perso¬alan kemiskinan, kebodohan, serta keterting¬galan-ketertinggalan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dalam kenyataannya, desa identik dengan segala ketertinggalan. Terlebih dalam hal pertumbuhan ekonomi yang merupakan titik berat Program Pembangunan Nasional di negri ini. Pembangunan serta investasi yang lebih banyak terfokus di kota menjadikan kon¬disi desa tidak berubah dari masa ke masa.&lt;br /&gt;Desa hanya difungsikan sebagai wilayah penghisapan pusat pembangunan di kota-kota. Bukan hanya kota-kota di wilayah terdekatnya, melainkan juga di tingkat nasional, maupun internasional. Bahkan, kota-kota di negara berkembang dapat dikatakan sebagai perantara sumber daya ke negara maju saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski telah terjadi pergantian pemimpin berka¬li-kali, secara umum kondisi desa-desa di wila¬yah Indonesia tidak banyak mengalami perbai¬kan. Paradigma pembangunan menjadikan sum¬ber daya terpusat di sektor dan kawasan yang potensial menyumbang pertumbuhan ekonomi. Hal ini menyebabkan perpindahan sumber daya secara besar-besaran ke pusat-pusat pertum¬bu¬han. Akibatnya terjadi penurunan kualitas ling¬kungan serta kelangkaan individu potensial di pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trenggalek, sebuah kabupaten yang sebagian besar wilayahnya merupakan pedesaan meng¬alami permasalahan yang sama. Selain sumber daya alam yang terus mengalir ke kota-kota lain, potensi warga kabupaten ini juga lebih banyak memberikan sumbangan pada kota-kota di sekitarnya, termasuk kota provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Jawa dan Desa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan potensi sastrawannya. Nama-nama seperti: Widodo Basuki (Munju¬ngan/Redaktur Jaya Baya), St Sri Purnanto (Panggul), Jarot Setiyono, Nanang Windradi (Trenggalek), Edy Santosa (Durenan), Sita T Sita (Pogalan), dipandang cukup mewarnai perkem¬bangan dunia sastra Jawa modern. Mereka adalah sastrawan Jawa asal Trenggalek, namun selama ini kurang berkontribusi secara optimal terhadap daerah asal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya perlu dipertegas peran apa yang harus dilakukan oleh para pengarang/sastrawan Jawa dalam rangka berpartisipasi pada pembangunan masyarakat pedesaan, terlebih di Era Global seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival Sastra Jawa yang rencananya digelar di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Treng¬galek, Jawa Timur, diharapkan dapat menjawab persoalan di atas sehingga mampu menumbuhkan kembali kebanggaan masyarakat akan desanya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, sastra tidak lagi menjadi karya yang berjarak dengan pendukungnya, ka¬rena mampu menyuarakan persoalan masyarakat. Termasuk di antaranya masyarakat pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, Festival Sastra Jawa bisa dijadikan agenda tahunan, sebagai upaya untuk menuju forum ’’silaturahmi budaya’’ yang le¬bih besar (berskala nasional) yang kelak bisa di¬namakan Festival Sastra Etnik Nusantara. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonari Nabonenar, Ketua Panitia Festival Sastra Jawa 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.radartulungagung.co.id/in/kolom/rabu/850-tumbuhkan-kebanggaan-warga-akan-desanya.html"&gt;Radar Tulungagung,&lt;/a&gt; Rabu 15 April 2009 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-3959730208672420776?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/3959730208672420776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/tumbuhkan-kebanggaan-warga-akan-desanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3959730208672420776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3959730208672420776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/tumbuhkan-kebanggaan-warga-akan-desanya.html' title='Tumbuhkan Kebanggaan Warga akan Desanya'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Seh17VJ9U9I/AAAAAAAAAUo/Jtw3qOJ8-KI/s72-c/0415tulungagung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-5588499900345007225</id><published>2009-04-09T04:29:00.000-07:00</published><updated>2009-04-09T04:32:30.846-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>KOPI DAN MARTABAT BANGSA</title><content type='html'>Saya penyuka kopi. Sejak zaman kakek-nenek buyut saya minum kopi terutama di pagi hari adalah "ritual" harian di dalam keluarga besar kami. Di bangku sekolah dasar saya kemudian tahu, bahwa kopi adalah salah satu produk pertanian yang merangsang bangsa penjajah untuk menjarah negeri ini. Terutama di negeri-negeri dingin, di Barat, kopi tidak bisa tumbuh/berkembang dengan baik.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia, seharusnya lebih kenal, lebih tahu, lebih paham soal kopi. Daripada bangsa-bangsa lain yang bukan produsen kopi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini, saya sering memergoki tayangan iklan di televise, untuk produk kopi, yang sangat menganggu perasaan saya. Inilah, menurut saya, iklan yang secara gamblang merendahkan martabat bangsa Indonesia. ’’Tuh, bule aja doyan!’’ kata perempuan dalam tayangan itu. Lhah! Kalau bule doyan, lalu kita tidak doyan, apakah ada salahnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah ada pepatah bilang bahwa derajat seseorang bisa diketahui dari seleranya, saya bisa setuju untuk urusan lain selain makanan. Bukankah makanan yang sering dikonotasikan dengan kemewahan hidup, kegagahan, gengsi tinggi, kemudian ternyata adalah sumber penyakit yang potensial memperpendek umur atau setidaknya menggerogoti kualitas kehidupan itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kembali ke soal kopi lagi, saya kira seharusnya justru para bule itu yang melihat kita, dan berseru, ’’Tuh lihat orang Jawa/Indonesia pun (yang mengenal kopi sejak di dalam kandungan) suka kopi jenis ini!’’ &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka, iklan yang mengganggu perasaan saya itu benar-benar menunjukkan mental inlander, dan sekaligus, sekali lagi, merendahkan martabat bangsa Indonesia. Bagaimana pendapat Anda?[Bonari Nabonenar]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-5588499900345007225?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/5588499900345007225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/kopi-dan-martabat-bangsa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/5588499900345007225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/5588499900345007225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/kopi-dan-martabat-bangsa.html' title='KOPI DAN MARTABAT BANGSA'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-1806945272454800652</id><published>2009-04-07T06:09:00.000-07:00</published><updated>2009-04-07T06:10:09.035-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>PPSJS Gelar Festival Sastra Jawa dan Desa</title><content type='html'>By Republika Newsroom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURABAYA -- Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) akan menggelar festival Sastra Jawa yang digabung dengan festival desa di sebuah kampung di Kabupaten Trenggalek, Jatim, 17 - 18 Juni 2009.&lt;br /&gt;"Festival ini akan digelar di Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko agar peserta lebih dekat dengan masyarakat bawah. Selama ini kan acara-acara festival selalu digelar di kota," kata Ketua PPSJS, Bonari Nabonenar di Surabaya, Rabu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival yang juga didukung oleh Sanggar Triwida Tulungagung dan Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) itu diharapkan bisa memberdayakan masyarakat desa. Masyarakat Cakul dan sekitarnya juga akan dilibatkan dalam kegiatan festival desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan dalam festival tersebut, antara lain, pentas cerpen atau cerita "cekak", pembacaan puisi (geguritan), teatrikal cerita cekak, lokakarya pembacaan cerita dan puisi yang dikhususkan untuk siswa-siswa SD dan SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami juga akan melibatkan guru-guru agar terlibat dalam seminar mengenai Sastra Jawa. Pesertanya adalah guru-guru Bahasa Jawa yang ada di Trenggalek dan sekitarnya," kata penulis novel dan cerpen berbahasa Jawa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga akan digelar sarasehan pengarang Sastra Jawa dengan tema "Sastra Jawa dan Desa". Sarasehan itu akan diikuti pengarang Sastra Jawa dari Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Solo dan Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para peserta itu akan menginap di rumah-rumah warga sehingga juga bisa berinteraksi dengan mereka. Pada festival itu, warga desa juga diharapkan menampilkan hasil kerajinan lokal dan mementaskan kesenian lokal untuk diapresiasi masyarakat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihaknya juga akan mengadakan lokakarya pertanian untuk masyarakat desa dengan mengundang sejumlah pakar pertanian. Diharapkan masyarakat bisa banyak belajar mengenai pertanian yang baik dari pakar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami berharap festival Sastra Jawa ini bisa menjadi embrio dari festival sastra etnik nusantara yang tujuannya untuk ikut melestarikan kekayaan seni budaya bangsa," ujarnya.ant/taq &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/38223/PPSJS_Gelar_Festival_Sastra_Jawa_dan_Desa"&gt;Republika &lt;/a&gt;[Rabu, 18 Maret 2009 pukul 12:21:00]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-1806945272454800652?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/1806945272454800652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/ppsjs-gelar-festival-sastra-jawa-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1806945272454800652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1806945272454800652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/ppsjs-gelar-festival-sastra-jawa-dan.html' title='PPSJS Gelar Festival Sastra Jawa dan Desa'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-1146509365506894895</id><published>2009-04-06T09:35:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T09:37:11.320-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Festival Sastra Jawa di Trenggalek</title><content type='html'>Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya akan menggelar kegiatan sastra bertajuk "Festival Sastra Jawa", 17-18 Juni mendatang, di Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) Bonari Nabonenar, Selasa (17/3), mengatakan, kegiatan dalam Festival Sastra Jawa ini meliputi seminar, pentas sastra, dan pembacaan cerita pendek berbahasa Jawa. "Dalam festival nanti kami melibatkan masyarakat desa, selain dari kalangan pelajar dan guru," katanya. (TIF)&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="Kompas JAtim Prasasti Rabu, 18 Maret 2009 | 16:40 WIB"&gt;Kompas JAtim&lt;br /&gt;Prasasti Rabu, 18 Maret 2009 | 16:40 WIB&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-1146509365506894895?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/1146509365506894895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/festival-sastra-jawa-di-trenggalek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1146509365506894895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/1146509365506894895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/festival-sastra-jawa-di-trenggalek.html' title='Festival Sastra Jawa di Trenggalek'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-8125314460926212209</id><published>2009-04-05T22:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-05T22:21:07.474-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='potensi'/><title type='text'>NGLARAN</title><content type='html'>Nglaran adalah sebuah dusun di wilayah Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Pedusunan yang terletak 45 kilometer arah barat daya Kota Trenggalek ini dihuni oleh kurang lebih 1600 jiwa. Mereka tersebar di 10 RT dalam 11 satuan pemukiman yaitu Nglaran, Ledokan, Poko, Gedhangkluthuk, Judelan, Donosari, Tumpak Salam, Gempol, Temon, Tumpak Kangkung, dan Menggeng.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah dusun yang terletak di jajaran pegunungan kapur, Nglaran memiliki berbagai keunikan yang tidak ditemukan di dusun lain di wilayah dataran rendah maupun dataran tinggi di kawasan gunung berapi. Keunikan dan daya tarik karst, seperti gua, mata air bawah tanah, sungai buta, permukaan tanah yang tidak rata, dapat dijumpai tersebar di dusun ini. Tentu daya tarik tersebut juga berpadu dengan segala ciri lain yaitu kelangkaan air, baik air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari maupun air untuk irigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada dokumen tertulis mengenai kesejarahan dusun ini. Tokoh masyarakat setempat juga tidak mengetahui secara pasti bagaimana awal mula berdirinya Nglaran. Namun tradisi-tradisi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber air bersih seperti masonan dapat sedikit memberi petunjuk bagaimana pemukiman mulai berkembang di Nglaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya sejarah peradaban manusia pada umumnya, keberadaan sumber air menjadi penanda adanya kehidupan di sekitarnya. Dalam kebudayaan Nglaran, kelompok pengguna air (mason) kemudian menjadi ikatan sosial-emosional warga, baik yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber air maupun dalam hal lain. Ikatan berdasar mason itu tampak dari ritual warga yang diselenggarakan berdasarkan masonan, seperti bersih desa, atau ritual lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti desa-desa lain di Trenggalek, cengkih merupakan komoditas utama dari dusun ini pada Era 1980-an. Tingginya harga cengkih serta pertumbuhannya yang cukup bagus di daerah ini menjadikan lahan pertanian warga kemudian juga dialihfungsikan menjadi lahan cengkih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada tahun 1990-an, kejayaan ini mulai meredup. Pohon yang mulai menua, teknik pemupukan yang keliru, serta menyebarnya wabah bakteri pembuluh kayu menjadikan tanaman cengkih tidak produktif lagi. Bahkan banyak di antaranya yang mati. Kini kejayaan cengkih di dusun ini tinggal sisa-sisanya saja. Meski sebagian besar masyarakat Nglaran masih memiliki pohon cengkih, tetapi produksinya sudah merosot jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak nyata dari merosotnya produksi andalan ini adalah menurunnya kesejahteraan warga. Terutama para petaninya. Terlebih hingga saat ini belum ditemukan komoditas pertanian lain yang dapat menggantikan posisi cengkih sebagai komoditas pertanian andalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut pada akhirnya memicu tingginya jumlah warga yang keluar dari desanya untuk mencari pekerjaan di kota. Surabaya, Malang, Tulungagung, bahkan kota-kota di Kalimantan menjadi tujuan kerja warga Nglaran. Tenaga kerja ini sebagian besar terserap di sektor industri, konstruksi, dan perkebunan. Sementara tenaga kerja perempuannya terlibat di sektor rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbatasnya pilihan sektor pekerjaan warga Nglaran tersebut juga disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan warga. Rata-rata anak muda dusun ini hanya menyelesaikan pendidikan setingkat sekolah menengah pertama. Sebagian kecil saja yang mampu menyelesaikan pendidikan hingga sekolah menengah atas, dan beberapa orang menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan besar lain yang dihadapi oleh masyarakat Nglaran adalah keterbatasan air bersih, terutama pada musim kemarau. Dari sebelas mata air yang ada, saat ini tinggal lima buah mata air yang dapat diandalkan warga pada musim kemarau. Itu pun dengan debit yang sangat kecil, sehingga tak jarang warga harus mengantri hingga berjam-jam untuk mendapatkannya. [sa]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-8125314460926212209?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/8125314460926212209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/nglaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8125314460926212209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8125314460926212209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/04/nglaran.html' title='NGLARAN'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-8459985813262710544</id><published>2009-03-24T23:20:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T23:22:45.309-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Pengarang Itu seperti Tuhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari Ini Bedah Buku Perempuan Berkalung Surban &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURABAYA - Penyair Zawawi Imron mengatakan, pengarang itu seperti ''Tuhan''. Dia mempunyai kuasa untuk menentukan warna dan jalan cerita. ''Dia bisa membunuh atau menghidupkan tokoh-tokohnya sekehendak dirinya,'' ujar Zawawi pada bedah buku Karti Kledek Ngrajek dalam rangkaian acara Gebyar Buku Murah 2009 di DBL Arena kemarin.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Zawawi, novel karya S.W. Warsito itu juga dibahas sastrawan Banyumas Ahmad Tohari, dengan moderator budayawan muda, Bonari Nabonenar. Acara dihadiri sekitar 200 peserta, di antaranya sastrawan Jawa Suparto Brata dan cerpenis Lan Fang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus Zawawi memang tidak membedah novel karya pengarang asal Nganjuk itu. Dia lebih banyak mendedahkan peran pengarang dalam menghidupkan suasana dan menentukan jalan cerita. ''Ending novel ini memang khusnul khotimah. Itu karena tokoh utamanya, Karti, mau bertobat dan bahkan kemudian menunaikan ibadah haji,'' tandas Zawawi yang menyayangkan tidak tergarapnya dialog dalam novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Ahmad Tohari mengatakan, Karti Kledek Ngrajek merupakan novel antropologi. Ia, seperti halnya Zawawi, seolah menghindari untuk menimbang kadar susastra novel ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berpendapat, novel tersebut banyak memberikan informasi tentang budaya lokal yang selama ini tidak banyak diketahui orang. Menurutnya, selama ini masyarakat tidak mempunyai banyak informasi tentang budaya yang ada di daerah. Ia berharap dengan munculnya novel ini bisa merangsang penulis-penulis lain untuk menulis tema budaya lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ia mengakui bahwa karya tersebut ditulis dengan gaya 60-an, karena yang menulis sudah sepuh. ''Seleranya seperti saya, karena umurnya sama,'' ucap penulis novel Rogeng Dukuh Paruk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, mulai pukul 18.30 di tempat yang sama akan digelar bedah buku Perempuan Berkalung Surban dengan menghadirkan pengarangnya, Abidah El Khalieqy. Sedangkan bagi para siswa yang ingin tahu kiat-kiat sukses menempuh UAN dan UASBN bisa menghadiri diskusi pada pukul 14.30.(lum/ari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawa Pos, Metropolis, Rabu, 25 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-8459985813262710544?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/8459985813262710544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/03/pengarang-itu-seperti-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8459985813262710544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/8459985813262710544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/03/pengarang-itu-seperti-tuhan.html' title='Pengarang Itu seperti Tuhan'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-7649120381988939745</id><published>2009-03-23T02:35:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T02:36:54.009-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>PPSJS Gelar Festival Sastra Jawa dan Desa</title><content type='html'>Surabaya - Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) akan menggelar festival Sastra Jawa yang digabung dengan festival desa di sebuah kampung di Kabupaten Trenggalek, Jatim, 17 - 18 Juni 2009. "Festival ini akan digelar di Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko agar peserta lebih dekat dengan masyarakat bawah. Selama ini kan acara-acara festival selalu digelar di kota," kata Ketua PPSJS, Bonari Nabonenar di Surabaya, Rabu.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival yang juga didukung oleh Sanggar Triwida Tulungagung dan Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) itu diharapkan bisa memberdayakan masyarakat desa. Masyarakat Cakul dan sekitarnya juga akan dilibatkan dalam kegiatan festival desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan dalam festival tersebut, antara lain, pentas cerpen atau cerita "cekak", pembacaan puisi (geguritan), teatrikal cerita cekak, lokakarya pembacaan cerita dan puisi yang dikhususkan untuk siswa-siswa SD dan SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami juga akan melibatkan guru-guru agar terlibat dalam seminar mengenai Sastra Jawa. Pesertanya adalah guru-guru Bahasa Jawa yang ada di Trenggalek dan sekitarnya," kata penulis novel dan cerpen berbahasa Jawa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga akan digelar sarasehan pengarang Sastra Jawa dengan tema "Sastra Jawa dan Desa". Sarasehan itu akan diikuti pengarang Sastra Jawa dari Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Solo dan Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para peserta itu akan menginap di rumah-rumah warga sehingga juga bisa berinteraksi dengan mereka. Pada festival itu, warga desa juga diharapkan menampilkan hasil kerajinan lokal dan mementaskan kesenian lokal untuk diapresiasi masyarakat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihaknya juga akan mengadakan lokakarya pertanian untuk masyarakat desa dengan mengundang sejumlah pakar pertanian. Diharapkan masyarakat bisa banyak belajar mengenai pertanian yang baik dari pakar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami berharap festival Sastra Jawa ini bisa menjadi embrio dari festival sastra etnik nusantara yang tujuannya untuk ikut melestarikan kekayaan seni budaya bangsa," ujarnya. [Masuki M. Astro]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.antarajatim.com/?ref=disp&amp;id=8940"&gt;Antara Jatim, Rabu, 18 Mar 2009 12:02:09&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-7649120381988939745?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/7649120381988939745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/03/ppsjs-gelar-festival-sastra-jawa-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7649120381988939745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/7649120381988939745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/03/ppsjs-gelar-festival-sastra-jawa-dan.html' title='PPSJS Gelar Festival Sastra Jawa dan Desa'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-2086369739984757778</id><published>2009-03-15T07:36:00.000-07:00</published><updated>2009-03-15T07:39:45.417-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='potensi'/><title type='text'>Nglaran Menuju Perubahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Sb0S5o4oIzI/AAAAAAAAAUg/imbqiAWaVwo/s1600-h/5-menggali-masalah.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 149px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Sb0S5o4oIzI/AAAAAAAAAUg/imbqiAWaVwo/s200/5-menggali-masalah.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313423916803826482" /&gt;&lt;/a&gt;Secara umum pemuda Nglaran tak berbeda dengan pemuda di tempat lainnya. Mereka senang berkumpul dengan sesamanya di suatu tempat, bermain gitar, mendengarkan musik keras-keras hingga jauh malam. Tentu saja kegiatan-kegiatan demikian kemudian memunculkan berbagai prasangka, utamanya dari kaum tua. Para muda dianggap sebagai biang keributan dan sumber keonaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://aminyk.wordpress.com/nglaran-menuju-perubahan/"&gt;selanjutnya...&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-2086369739984757778?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/2086369739984757778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/03/nglaran-menuju-perubahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2086369739984757778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/2086369739984757778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/03/nglaran-menuju-perubahan.html' title='Nglaran Menuju Perubahan'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/Sb0S5o4oIzI/AAAAAAAAAUg/imbqiAWaVwo/s72-c/5-menggali-masalah.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-3729991955756929519</id><published>2009-03-07T12:33:00.000-08:00</published><updated>2009-03-07T12:35:27.683-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>’’Menanam Nyamlung di Desa Kita’’</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SbLaen1uo0I/AAAAAAAAASo/GxBYFT2G0xE/s1600-h/Ayo-menanam-nyamlung.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 151px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SbLaen1uo0I/AAAAAAAAASo/GxBYFT2G0xE/s200/Ayo-menanam-nyamlung.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310547130248504130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada baris lagu yang tampaknya dihafal oleh siapa pun yang pernah menikmati bangku sekolah, ’’…. Menanam jagung di kebun kita.’’ Nah, kali ini yang ditanam bukan jagung, melainkan nyamlung. Bukan di kebun, melainkan di tutup sumber.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, walau sedemikian sederhana bentuknya, koran dinding kita ini suaranya sudah di dengar bahkan sampai Amerika, lho! Itu karena Nglaran Kita sudah online. Maksudnya, sudah diterbitlan pula dalam jaringan internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, edisi templek-nya pun sempat dibaca seorang anggota dewan (DPRD Kab. Trenggalek) Joko Among Mitro, yang kemudian berbincang-bincang dengan kawan-kawan dari komunitas Nglaran Kita ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, tawaran sumbangan bibit tanaman dari Pak Joko pun disambut dengan senang hati. Tak sekadar tawa-tawa ula, bahkan setelah 2.000 bibit tanaman nyamlung dikirim, Wabub Mahsun Ismail beserta Rombongan pemuda-pemudi Ansor, dan jajaran pejabat Perhutani di wilayah Trenggalek datang untuk bersama-sama menanam bibit nyamlung tersebut di beberapa kawasan tutup sumber di sekitar Nglaran (Sabtu, 21 Februari 2009). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir pula dalam kegiatan tanam nyamlung tersebut, Camat Dongko beserta stafnya, Nurwito, S.Pd, Kepala Desa Cakul beserta perangkatnya, pengurus LMDH, sesepuh Desa Cakul, Abdoel Hasyim, Kepala MTS beserta para siswanya, juga siswa dan pengajar SMP Satu Atap (Juron). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Mudah mudahan dengan adanya bantuan bibit di Desa Cakul beberapa tahun lagi sumber airnya bisa kembali seperti semula, menjadi besar, tidak seperti sekarang ini. Hal ini asal kayunya tidak habis. Yang sudah biasanya kayunya habis bukan karena putting beliung tapi karena gorok beliung. Gorok beliung kuwi gorok sing muter-muter , gorok sing munyer,’’ demikian ungkap Abdoel Hasyim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sambutannya, Camat Dongko antara lain mengatakan, ’’Bagi kami yang ada di pemerintahan juga bertanggung jawab atas adaanya LMDH, dan kami berharap sekali kerja samanya.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambutan Wabub&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berterima kasih sekali pada adanya komunitas Pemuda Nglaran, murid-murid MTs, SMP Satu Atap dan semua unsur. Kami Cabang Pemuda Ansor berbahagia sekali bisa silaturahmi dan sedikit-sedikit apa yang kami punyai dalam bentuk urun bahu dalam rangka ikut membangun utamanya Desa Cakul. Semoga apa yang kita lakukan hari ini bisa menjadi bagian dari ibadah kita. Hari ini kita bisa menanam  tanaman penghijauan di Cakul bila dilambari dengan niat iklas insya-Allah akan banyak manfaatnya.  Kami dari GP Ansor setiap tahunnya selalu mengadakan program seperti ini. Pada tahu 2007-2008 telah tertanam sekitar 80 ribu bibit tanaman. Sedang tahun ini, entah nanti bisa ternanam berapa. Kebetulan Desa Cakul mendapatkan 2.000 bibit tanaman nyamlung.’’  [tim]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8762483651851711048-3729991955756929519?l=nglarankita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nglarankita.blogspot.com/feeds/3729991955756929519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/03/menanam-nyamlung-di-desa-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3729991955756929519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8762483651851711048/posts/default/3729991955756929519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nglarankita.blogspot.com/2009/03/menanam-nyamlung-di-desa-kita.html' title='’’Menanam Nyamlung di Desa Kita’’'/><author><name>DUSUN NGLARN | DESA CAKUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05472626509948470824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='17' src='http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SVj0zmRa46I/AAAAAAAAABA/ht7I2V6Tnc0/S220/Nglaran-Kita.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SbLaen1uo0I/AAAAAAAAASo/GxBYFT2G0xE/s72-c/Ayo-menanam-nyamlung.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8762483651851711048.post-1504361709463435383</id><published>2009-02-19T20:53:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T20:56:55.590-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='potensi'/><title type='text'>Tanam Bambu, Hasilkan Rebung Rasa Ayam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SZ43-fC5dqI/AAAAAAAAASg/wRZV8v77LJ4/s1600-h/bambu-ayam.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tPny24zpz9Y/SZ43-fC5dqI/AAAAAAAAASg/wRZV8v77LJ4/s200/bambu-ayam.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304738957714093730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda memiliki lahan pertanian yang kosong  ada baiknya untuk membudidayakan tanaman bambu. Tidak memerlukan perawatan njlimet sebagaimana tanaman produksi lainnya, dan hasilnya sudah jelas. Apalagi jenis bambu tertentu, selain bisa dijual batangnya yang sudah tua, tunas [rebung]-nya pun banyak yang menyu
